<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Indrayaksa&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://indrayaksa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indrayaksa.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Oct 2009 15:23:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='indrayaksa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Indrayaksa&#039;s Blog</title>
		<link>http://indrayaksa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://indrayaksa.wordpress.com/osd.xml" title="Indrayaksa&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://indrayaksa.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>pengertian sedimen (pettijohn75)-4</title>
		<link>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/10/20/pengertian-sedimen-pettijohn75-4/</link>
		<comments>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/10/20/pengertian-sedimen-pettijohn75-4/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 15:23:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>garong...</dc:creator>
				<category><![CDATA[geologi]]></category>
		<category><![CDATA[pettijohn]]></category>
		<category><![CDATA[sedimen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indrayaksa.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[BAB 4 SUSUNAN INTERNAL DAN STRUKTUR SEDIMEN 4.1 TINJAUAN UMUM DAN KLASIFIKASI Berbeda dengan tekstur yang sebaiknya diamati pada sampel genggam atau sayatan tipis, struktur sedimen merupakan gejala yang sebaiknya diamati atau dipelajari pada singkapan. Tekstur berkaitan dengan hubungan antar butir dan akan terlihat dengan jelas di bawah mikroskop; struktur berkaitan dengan satuan-satuan yang lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indrayaksa.wordpress.com&amp;blog=9475331&amp;post=75&amp;subd=indrayaksa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>BAB 4</strong></p>
<p align="center"><strong>SUSUNAN INTERNAL DAN STRUKTUR SEDIMEN</strong></p>
<p><strong>4.1 TINJAUAN UMUM DAN KLASIFIKASI</strong></p>
<p>Berbeda dengan tekstur yang sebaiknya diamati pada sampel genggam atau sayatan tipis, struktur sedimen merupakan gejala yang sebaiknya diamati atau dipelajari pada singkapan. Tekstur berkaitan dengan hubungan antar butir dan akan terlihat dengan jelas di bawah mikroskop; struktur berkaitan dengan satuan-satuan yang lebih besar dan lebih jelas terlihat di lapangan. Dengan demikian, pemelajaran struktur sama tuanya dengan penelitian geologi. Struktur seperti lapisan silang-siur, gelembur, dan lekang kerut telah dijelaskan dalam tulisan-tulisan lama yang dibuat oleh para ahli geologi.<span id="more-75"></span></p>
<p>Struktur sedimen primer <em>(primary sedimentary structure)</em> digunakan sebagai indikator agen dan/atau lingkungan pengendap-an. Struktur sedimen tertentu seperti <em>graded bedding</em> dan lapisan silang-siur digunakan untuk menentukan urut-urutan stratigrafi dalam strata yang miring, vertikal, atau strata yang telah terbalik (Shrock, 1948). Akhir-akhir ini, struktur terarah <em>(directional structure)</em> dipakai untuk memetakan arus purba serta untuk menentukan kelerengan purba <em>(paleoslope)</em> dan jurus sedimentasi <em>(sedimentary strike)</em> (Pettijohn, 1962; Pettijohn &amp; Potter, 1963). Para ahli juga memberi perhatian khusus pada struktur biogenik (iknofosil) yang dapat berperan sebagai indikator lingkungan pengendapan. Berbeda dengan fosil tubuh <em>(body fossil)</em>, struktur biogenik <em>(biogenic structure)</em> tidak rentan terhadap perombakan atau pengangkutan (Seilacher, 1964a). Terakhir, para ahli untuk kesekian kalinya menelaah kembali struktur arus dan kondisi-kondisi aliran yang membentuknya (Middleton, 1965).</p>
<p>Meningkatnya kembali ketertarikan para ahli terhadap struktur sedimen muncul sebagai efek samping dari pemelajaran sedimen modern dan pemetaan arus purba. Penelitian-penelitian itu telah mendorong diterbitkannya sejumlah monograf mengenai berbagai aspek struktur sedimen, misalnya atlas struktur sedimen (Khabakov, 1962; Potter &amp; Pettijohn, 1964; Ricci Lucchi, 1970), manual struktur sedimen (Conybeare &amp; Cook, 1968), serta monograf tentang struktur sedimen (Gubler dkk, 1966). Selain itu ada pula karya tulis yang khusus membahas kategori struktur sedimen tertentu, terutama struktur bidang perlapisan bawah <em>(sole marks)</em> (Vassovich, 1953; Dzulynski &amp; Sanders, 1962; Dzulynski, 1963; Dzulynski &amp; Walton, 1965) serta mengenai iknofosil dan struktur biogenik (Abel, 1935; Lessertisseur, 1955; Seilacher, 1964b). Perlu juga diketahui bahwa telah terbit berbagai proceedings simposium mengenai struktur sedimen primer dan tafsiran hidrodinamikanya (Middleton, 1965). Selain itu, tidak sedikit pula makalah yang membahas tentang struktur sedimen tertentu serta perlapisan (Andrée, 1915; Zhemchuzhnikov, 1940; Bruns, 1954; Birkenmajer, 1959; Botvinkina, 1959, 1962). Bahkan, sekarang telah terbit pula sebuah manual untuk mempelajari struktur sedimen, terutama sedimen yang ditemukan dalam sedimen bahari modern (Bouma, 1969).</p>
<p>Sejalan dengan makin meluasnya ketertarikan pada terhadap struktur sedimen, ada beberapa ahli yang mencoba untuk menyusun sistem tatanama dan skema klasifikasi struktur sedimen. Ada dua ancangan yang dapat digunakan untuk meng-golongkan struktur sedimen: (1) ancangan morfologi; dan (2) ancangan genetik. Dengan ancangan pertama, para ahli mencoba untuk menggolongkan struktur sedimen berdasarkan bentuk atau geometrinya serta tempatnya dalam lapisan sedimen (pada bidang perlapisan atau dalam lapisan). Klasifikasi genetik mengelompokkan struktur sedimen berdasarkan proses-proses yang terlibat dalam pembentukannya, misalnya menjadi kelompok sedimen biogenik, hidrodinamik, dan rheologi (Nachtegaal, 1965; Elliott, 1966). Klasifikasi genetik didasarkan pada satu asumsi bahwa kita telah mengetahui secara pasti asal-usul setiap struktur sedimen. Asumsi seperti itu sudah barang tentu tidak selalu dapat terpenuhi. Selain itu, sebagian struktur sedimen demikian kompleks sehingga tidak mudah untuk menentukan asal-usulnya. Ada pula struktur sedimen yang pembentukannya melibatkan lebih dari satu proses. Contohnya adalah sidik seruling <em>(flute cast)</em> dan gelembur pasir <em>(sand ripple)</em> yang dikenai oleh deformasi pembebanan tidak lama setelah struktur itu terbentuk. Di lain pihak, penggolongan yang murni didasarkan pada morfologi bukan tidak mengandung masalah. Gelembur dapat dianggap sebagai struktur pada bidang perlapisan, namun gelembur juga dapat memunculkan diri sebagai laminasi silang-siur mikro yang terletak pada tubuh lapisan. Bahkan lekang kerut sekalipun dapat berperan sebagai struktur pada bidang perlapisan atas, struktur pada bidang perlapisan bawah, maupun struktur dalam tubuh lapisan. Penggolongan yang murni bersifat morfologi (Conybeare &amp; Crook, 1968) agak artifisial dan dapat menyebabkan termasukkannya sejumlah struktur yang asal-usulnya beragam ke dalam satu kategori yang sama. Skema penggolongan yang murni bersifat morfologi dapat membantu kita dalam mengenal struktur sedimen, namun skema seperti itu tidak memberikan tambahan apapun pada pengetahuan kita.</p>
<p>Sebenarnya, akan lebih bermanfaat apabila kita menggunakan skema klasifikasi gabungan: genetik sekaligus morfologi. Mungkin akan lebih baik apabila kategori utama dari struktur sedimen merupakan kategori genetik, sedangkan kategori sekunder merupakan kategori morfologi. Dengan pemikiran seperti itu, struktur sedimen dapat dibedakan menjadi tiga kategori utama: yakni struktur sedimen fisik <em>(mechanical sedimentary structures; physical sedimentary structures)</em>, struktur sedimen kimia <em>(chemical sedimentary structures)</em>, dan struktur sedimen biogenik <em>(biogenic sedimentary structures; organic sedimentary structures)</em>. Struktur fisik pada dasarnya merupakan struktur sedimen primer yang terbentuk pada saat pengendapan. Struktur fisik dapat merupakan struktur hidrodinamik <em>(hydrodynamic sedimentary structures)</em> yang terbentuk oleh arus atau struktur reologi <em>(rheologic sedimentary structures)</em> yang terbentuk akibat <em>hydroplastic synsedimentary deformation</em>. Struktur kimia terbentuk akibat proses-proses diagenetik pasca-pengendapan. Struktur biogenik terbentuk oleh organisme pada saat sedimennya diendapkan. Karena struktur kimia terbentuk setelah pengendapan dan karena umumnya tidak berkaitan dengan proses-proses sedimentasi, maka pembahasan mengenai struktur kimia akan disajikan pada Bab 12.</p>
<p>Secara umum, struktur sedimen tidak berkaitan dengan komposisi batuan atau litologi. Lapisan silang-siur dapat terbentuk dalam setiap material granuler yang tidak kohesif, tanpa tergantung pada apakah material itu berupa pasir kuarsa atau pasir karbonat. <em>Graded bedding</em> dan struktur bidang perlapisan bawah sering ditemukan bukan saja dalam beberapa kategori batupasir, namun juga dalam beberapa kategori batugamping. Lapisan silang-siur dan gelembur hanya terbentuk dalam material granuler non-kohesif, sedangkan lekang kerut hanya terbentuk dalam lumpur kohesif. Stromatolit, dengan beberapa pengecuali-an istimewa, hanya muncul dalam batuan karbonat. Walau demikian, preservasi struktur sedimen sangat tergantung pada komposisi batuan. Struktur sedimen yang terbentuk pada permukaan lumpur argilit biasanya akan terekam sebagai cetakan di bagian bawah batupasir yang menindihnya. Walau demikian, apabila lumpur itu merupakan lumpur karbonat, struktur tersebut akan dipertahankan dan akan terlihat pada perlapisan atas lumpur karbonat itu. Karena itulah mengapa sebagian besar foto lekang kerut yang dipublikasikan selama ini menyajikan lekang kerut modern dalam lumpur argilit modern, sedangkan foto fosil lekang kerut biasanya berasal dari batugamping.</p>
<p><strong>4.2  PERLAPISAN</strong></p>
<p>Struktur sedimen primer yang hampir universal adalah perlapisan <em>(bedding)</em> atau stratifikasi <em>(stratification)</em>. Bahkan, istilah “batuan berlapis” <em>(stratified rocks)</em> sebenarnya hampir sinonim dengan istilah “batuan sedimen” <em>(sedimentary rocks)</em>, meskipun beberapa jenis sedimen tertentu seperti <em>tillite</em>, tidak memiliki stratifikasi internal dan meskipun beberapa jenis batuan beku tertentu, misalnya aliran lava, memperlihatkan gejala stratifikasi.</p>
<p>Perlapisan atau stratifikasi ditampilkan oleh satuan-satuan batuan yang secara umum berbentuk tabuler atau lentikuler. Setiap satuan batuan itu memiliki keseragaman litologi atau struktur sedemikian rupa sehingga berbeda dengan satuan lain yang berdampingan dengannya. Payne (1942) menggunakan istilah stratum untuk menamakan suatu <em>layer</em> “yang tebalnya lebih dari 1 cm… [dan] dapat dibedakan secara visual dari lapisan lain yang terletak di atas dan dibawahnya berdasarkan litologi, adanya bidang fisik yang secara tegas memisahkan keduanya, atau oleh keduanya.” Istilah laminasi <em>(lamination)</em> digunakan untuk satuan strata yang mirip dengan stratum, namun ketebalannya kurang dari 1 cm. Payne (1942) lebih jauh mendefinisikan beberapa istilah yang sering digunakan untuk mencandra strata—yakni <em>fissile</em>, <em>shaly</em>, <em>flaggy</em>, dan <em>massive</em>—serta menyatakan limit-limit ketebalan untuk setiap istilah tersebut. McKee &amp; Weir (1953) mencoba untuk memisahkan istilah-istilah yang dipakai untuk menyatakan ketebalan strata dengan istilah-istilah yang dipakai untuk menyatakan sifat penyubanan <em>(splitting properties)</em>. Sebagaimana Payne (1942), McKee &amp; Weir (1953) menamakan semua satuan strata yang ketebalannya kurang dari 1 cm sebagai laminasi, sedangkan satuan strata yang lebih tebal dari 1 cm disebut lapisan <em>(bed)</em>. Lapisan yang ketebalannya 1–5 cm disebut lapisan sangat tipis; lapisan yang tebalnya 5–60 cm disebut lapisan tipis; lapisan yang ketebalannya 60–120 cm disebut lapisan tebal, sedangkan lapisan yang tebalnya lebih dari 120 cm disebut lapisan sangat tebal. Jika lapisan-lapisan itu terpecah-pecah ke dalam beberapa satuan yang ketebalnnya lebih kurang sama, maka lapisan-lapisan itu berturut-turut dikatakan <em>flaggy</em>, <em>slabby</em>, <em>blocky</em>, dan <em>massive</em>. Apabila pecah, strata yang lebih tipis dari lapisan dikatakan berlaminasi <em>(laminated)</em> atau, jika setiap pecahan itu ketebalannya kurang dari 2 mm disebut berlaminasi halus <em>(thinly laminated)</em>.</p>
<p>Otto (1938) mencoba untuk mendefinisikan dua satuan yang memiliki kebenaan genetik, yakni satuan sedimentasi <em>(sedimentation unit)</em> dan laminasi. Satuan sedimentasi didefinisikannya sebagai “ketebalan sedimen yang diendapkan di bawah kondisi-kondisi fisik yang relatif konstan”. Aliran arus di alam tidak pernah benar-benar seragam. Karena itu, misalnya saja, tidak ada satupun sedimen yang disusun oleh partikel-partikel yang ukurannya persis seragam. Sebenarnya ada arus yang meng-endapkan ukuran partikel tertentu. Arus itu memiliki kecepatan rata-rata tertentu dan mengendapkan partikel dengan ukuran rata-rata tertentu untuk selang waktu tertentu. Satuan sedimentasi terbentuk pada selang waktu itu. Ketika arus berubah secara radikal, dan terbentuk suatu kondisi aliran baru, maka akan terbentuk satu satuan sedimentasi baru. Sudah barang tentu ada fluktuasi kecepatan arus dalam waktu singkat dan arus itulah yang bertanggungjawab terhadap pembentukan laminasi atau “fasa” (Apfel, 1938) yang sedikit berbeda dengan laminasi lain yang berdampingan dengannya. Suatu <em>layer</em> pasir berlapisan silang-siur, misalnya saja, merupakan suatu satuan sedimentasi. <em>Layer</em> itu diendapkan pada kondisi yang pada dasarnya seragam. Arus pengendap <em>layer</em> itu memiliki kecepatan dan arah yang relatif seragam untuk satu selang waktu tertentu. Laminasi silang-siur merupakan rekaman fluktuasi kecepatan arus secara lokal dalam waktu singkat. Satuan lapisan silang-siur kedua yang terletak di atas lapisan silang-siur pertama, baik yang orientasinya sama maupun berbeda dengan lapisan silang-siur pertama, merupakan satuan sedimentasi lain yang terpisah dari satuan lapisan silang-siur pertama serta merekam suatu episode pengendapan baru yang berbeda dengan sebelumnya.</p>
<p>Menurut Otto (1938), pembedaan antara satuan sedimentasi dengan laminasi bukan terletak pada ketebalannya. Lapisan tahunan atau warwa pada danau <em>proglacial</em> Plistosen, meskipun umumnya memiliki ketebalan lebih dari 1 cm, namun sebagian diantaranya memiliki ketebalan kurang dari 1 cm. Karena itu, mungkin kurang logis apabila kita menggolongkan sebagian warwa sebagai lapisan dan sebagian lain sebagai laminasi. Padahal, semuanya itu merupakan satuan sedimentasi. Karena bagian warwa yang relatif tebal dan terutama disusun oleh lanau dan pasir umumnya berlaminasi, agaknya kita perlu membedakan laminasi dengan warwa dan, oleh karena itu, antara lapisan dengan laminasi berdasarkan aspek lain selain ketebalan arbitrer yang telah ditentukan sebelumnya.</p>
<p>Meskipun satuan sedimentasi merupakan sebuah konsep yang bermanfaat, namun konsep itu sukar untuk diterapkan pada beberapa tipe batuan. Demikian pula, konsep itu sukar untuk diterapkan pada banyak situasi. Konsep itu lebih tepat diterapkan pada batuan klastika berbutir kasar, bukan pada batuan yang terbentuk secara kimiawi atau biologi.</p>
<p>Para ahli telah memberikan perhatian yang cukup banyak terhadap geometri <em>bedding units</em> serta pada karakter dan kebena-an bidang perlapisan yang memisahkan satuan-satuan itu. Lapisan dicandra sebagai lapisan planar jika bidang pembatasnya sejajar dengan limit-limit singkapan dan disebut lentikuler <em>(lenticular)</em> apabila bidang-bidang pembatasnya konvergen. Bidang pembatas lapisan juga bisa tidak beraturan <em>(irregular)</em>. Istilah-istilah seperti <em>wavy</em>, bahkan <em>lumpy</em> dan noduler <em>(nodular)</em>, dipakai untuk menamakan lapisan-lapisan yang menebal di suatu tempat dan menipis di tempat lain, bahkan pada lapisan-lapisan yang terdisintegrasi menjadi beberapa lensa atau nodul. Keteraturan suatu sekuen berlapis dapat dicandra berdasarkan keseragaman ketebalan lapisan-lapisan penyusunnya serta berdasarkan kesinambungan lateral dan keseragaman ketebalan individu-individu lapisan itu. Dengan dasar pemikiran itu, kita mengenal adanya empat tipe sekuen berlapis:</p>
<ol>
<li>Sekuen yang disusun oleh lapisan-lapisan yang ketebalannya sama atau hampir sama; berkesinambungan secara lateral dengan ketebalan yang lebih kurang tetap.</li>
<li>Sekuen yang disusun oleh lapisan-lapisan yang ketebalannya tidak sama, namun berkesinambungan secara lateral dengan ketebalan yang lebih kurang tetap.</li>
<li>Sekuen yang disusun oleh lapisan-lapisan yang ketebalannya tidak sama, namun berkesinambungan secara lateral dengan ketebalan yang bervariasi.</li>
<li>Sekuen yang disusun oleh lapisan-lapisan yang ketebalannya tidak sama, tidak berkesinambungan secara lateral, dan memiliki ketebalan yang bervariasi.</li>
</ol>
<p>Perlapisan dapat diukur. Karena itu, hingga tingkat tertentu, aspek-aspek umum dari lapisan dapat dikuantitikasikan. Schwarzacher (1953) dan Fiege (1937) menunjukkan bahwa ketebalan individu-individu lapisan pada banyak sekuen, khusus-nya turbidit dan endapan piroklastik jatuhan yang berukuran halus (debu), secara logaritmik bersifat normal (lihat gambar 4-1 dan 4-2). Secara umum, meskipun tidak berarti universal, kekasaran partikel penyusun batuan memiliki kaitan dengan ketebalan lapisan (gambar 4-3). Hubungan seperti itu terlihat juga dalam strata silang-siur (Schwarzacher, 1953) serta dalam turbidit pasir (Fiege, 1937; Potter &amp; Scheidegger, 1966). Pada kasus pasir turbidit dan endapan piroklastik jatuhan berukuran halus, baik partikel kasar maupun ketebalan lapisan sama-sama berkurang ke arah hilir (Scheidegger &amp; Potter, 1971). Dengan demikian, geometri perlapisan merupakan sebuah sarana penting untuk membedakan fasies proksimal dengan fasies distal dalam endapan-endapan itu. Log normal ataupun tidak, ketebalan lapisan sangat menceng ke arah lapisan tipis. Bokman (1957) mengusulkan suatu skala geometris, yang disebut skala theta, yang cenderung menormalisasikan distribusi ketebalan yang semula menceng dengan cara yang lebih kurang analog dengan peranan skala phi pada kasus distribusi besar butir.</p>
<p>Para ahli telah sejak lama mengetahui bahwa bidang perlapisan mungkin merekam suatu interval non-pengendapan, bahkan pada kasus tertentu mungkin merekam erosi. Rumpang seperti itu disebut diastem (Barrell, 1917). Diastem mungkin merekam rentang waktu yang lebih panjang dibanding batuan yang diapitnya.</p>
<p><strong>4.3  SUSUNAN INTERNAL DAN STRUKTUR LAPISAN</strong></p>
<p><strong>4.3.1  Perlapisan Masif</strong></p>
<p>Lapisan jarang yang tidak mengandung struktur atau kemas internal. Batuan yang tampak tidak mengandung struktur seperti itu disebut lapisan masif <em>(massive beds)</em>. Foto-foto sinar-X dari batuan yang tampak masif menunjukkan bahwa sebagian besar dari apa yang disebut sebagai batuan masif itu sebenarnya mengandung laminasi internal (Hamblin, 1965). Karena itu, batuan yang benar-benar masif mungkin sangat jarang ditemukan di alam.</p>
<p><strong>4.3.2  Laminasi</strong></p>
<p>Banyak lapisan memperlihatkan laminasi internal. Dalam banyak lapisan, laminasi itu sejajar dengan bidang pembatasnya. Pada lapisan lain, laminasi itu miring ke arah bidang pembatas. Sudut kemiringan laminasi itu pada beberapa kasus sangat landai (1–10<sup>o</sup>), sedangkan dalam kasus lain cukup curam (10–35<sup>o</sup>, bahkan lebih). Laminasi yang disebut  terakhir ini dinamakan lapisan silang-siur dan merupakan salah satu ciri khas dari pasir. Laminasi pada material itu hanya merekam fasa-fasa transisi atau fluktuasi minor dalam kecepatan arus pengendap.</p>
<p>Laminasi merupakan satu karakter paling khas dari sedimen berbutir halus, terutama batulanau dan serpih. Laminasi muncul sebagai perselingan material yang berbeda besar butir atau komposisinya. Laminasi pada umumnya memiliki ketebalan 0,5–1,0 mm. Laminasi dapat menerus maupun tidak menerus, serta dapat jelas maupun samar. Contoh-contoh laminasi adalah laminasi yang terbentuk oleh perselingan material kasar dengan material halus (lanau atau pasir halus dengan lempung), perselingan lapisan-lapisan lanau yang berwarna terang dengan lapisan-lapisan lanau yang berwarna gelap akibat perbedaan material penyusun lanau itu, serta perselingan kalsium karbonat dengan lanau.</p>
<p>Laminasi terbentuk akibat adanya variasi laju pasokan atau laju pengendapan material yang berbeda-beda. Variasi itu sendiri dinisbahkan pada pergeseran arus pengendap secara kebetulan, pada iklim (khususnya perubahan mendaur yang berkaitan dengan ritme harian atau tahunan), serta pada banjir atau badai yang tidak bersifat periodik. Pembaca yang ingin mengetahui lebih jauh kondisi-kondisi yang diperlukan untuk pembentukan dan preservasi lapisan tahunan serta kriteria untuk mengenalnya dapat membaca karya tulis Bradley (1929) dan Rubey (1930).</p>
<p>Sebagian serpih memperlihatkan laminasi yang sangat baik; sebagian lain justru tidak mengandung laminasi. Contoh paling sempurna dari serpih berlaminasi baik adalah serpih endapan danau. Laminasi yang juga terlihat cukup jelas, meskipun tidak sejelas seperti yang terlihat dalam endapan danau, dapat ditemukan dalam batulumpur yang terpecah-pecah serta dalam sedimen terestrial lainnnya. Karbonat endapan dataran pasut juga berlaminasi baik. Sedimen-sedimen seperti itu, apabila telah kompak, disebut laminit <em>(laminite)</em>.</p>
<p>Kesempurnaan dan derajat preservasi laminasi merupakan ukuran dari ketenangan massa air dimana endapan itu ter-akumulasi. Adanya arus dasar, meskipun sedikit, dapat menghancurkan laminasi yang telah terbentuk dalam endapan. Karena itu, laminasi seringkali merekam pengendapan di bawah alas gelombang <em>(wave base)</em>. Kesempurnaan laminasi dalam lempung juga berkaitan dengan salinitas air. Elektrolit tertentu, terutama natrium klorida, memicu terjadinya flokulasi <em>(flocculation)</em> atau <em>symmixis</em>. Flokulasi menyebabkan terjadinya pencampuran partikel-partikel lanau dan lempung dan, pada gilirannya, tidak memungkinkan terbentuknya laminasi sedemikian rupa sehingga endapan yang dihasilkannya relatif homogen. Stratifikasi dalam suatu batuan juga dapat terhancurkan oleh organisme pemakan material organik yang ada dalam lumpur. Proses pemakanan yang berulang-ulang dapat menyebabkan terubahnya endapan serta terhancurkannya sebagian atau semua laminasi. Karena hal itu hampir universal, maka preservasi laminasi mengindikasikan laju pengendapan yang sangat tinggi atau kondisi dasar yang beracun dan menghambat perkembangan fauna bentos. Di bawah kondisi-kondisi yang disebut terakhir ini, individu-individu laminasi yang setipis kertas dapat terawetkan dan dapat ditelusuri keberadaannya hingga jarak beberapa kilometer (Anderson dkk, 1972).</p>
<p>Secara umum, makin tipis laminasi, makin lambat laju akumulasinya. Hal itu jelas terlihat dalam laminasi berpasangan <em>(paired laminations)</em> yang terbentuk pada interval waktu yang sama, misalnya dalam satu tahun.</p>
<p><strong>4.3.3  Susunan dan Struktur Internal</strong></p>
<p>Setelah dimensi umum—ketebalan dan penyebaran—struktur internal suatu lapisan merupakan sifat terpenting dari lapisan (gambar 4-4). Ada dua tipe utama struktur internal: (1) lapisan silang-siur; (2) <em>graded bedding</em>. Meskipun struktur-struktur itu terutama berkembang baik dalam lapisan batupasir, namun keduanya dapat muncul pula dalam batuan yang lebih kasar dan lebih halus dari batupasir, termasuk dalam batugamping yang diendapkan secara mekanik. Bailey (1930) menyatakan bahwa struktur-struktur itu praktis tidak dapat muncul dalam satu lapisan yang sama karena keduanya mencirikan dua fasies peng-endapan yang berbeda sama sekali.</p>
<p><strong>4.3.4  Lapisan Silang-Siur dan Gelembur</strong></p>
<p>Lapisan silang-siur <em>(cross-bedding)</em> dan gelembur <em>(ripple mark)</em> umumnya dipandang sebagai dua fenomena yang tidak berkaitan. Lapisan silang-siur dianggap sebagai gejala internal suatu lapisan, sedangkan gelembur dianggap sebagai struktur yang berkembang pada bidang perlapisan. Sebenarnya, kedua struktur itu memiliki kaitan yang erat dan keduanya merupakan dua aspek yang berbeda dari satu hal yang sama. Lapisan silang-siur merupakan produk migrasi gelembur besar <em>(megaripple)</em> atau <em>sand wave</em>; lapisan silang-siur berskala kecil <em>(ripple bedding)</em> merupakan produk migrasi gelembur.</p>
<p>Secara umum, gelembur merupakan sebuah struktur berskala kecil. Panjang gelombang gelembur hanya beberapa centi-meter dan tingginya hanya beberapa milimeter. Walau demikian, pada lingkungan-lingkungan tertentu, dapat berkembang gelembur raksasa <em>(giant ripple)</em>. Gelembur besar itu memiliki panjang gelombang beberapa meter atau lebih—pada beberapa kasus panjang gelombangnya beberapa puluh meter—dengan amplitudo beberapa puluh centimeter. Gelembur dengan ukuran sepertii tu pernah ditemukan dalam alur pasut (van Straaten, 1950; Off, 1963) dan sungai (Sunborg, 1956). Masih dipertanyakan apakah struktur terbesar yang bentuknya mirip dengan gelembur merupakan gelembur atau bukan. Benda seperti itu sering disebut gumuk <em>(dune)</em> atau <em>sand wave</em> (Carey &amp; Keller, 1957). Gumuk memiliki sisi hulu yang sangat landai (biasanya hanya 1<sup>o</sup> atau 2<sup>o</sup>) dan permukaannya sering ditutupi oleh gelembur arus <em>(current ripple)</em> yang berukuran relatif kecil.</p>
<p>Meskipun gelembur skala kecil memiliki banyak kemiripan dengan <em>sand wave</em> atau gumuk, dan meskipun migrasi struktur-struktur menghasilkan lapisan silang-siur yang juga banyak memperlihatkan kemiripan, namun pembahasan gelembur dalam buku ini dipisahkan dari pembahasan <em>sand wave</em> atau gumuk. Hal itu dilakukan antara lain karena gelembur merupakan struktur berskala kecil yang umumnya terlihat pada bidang perlapisan, sedangkan <em>sand wave</em> tidak seperti itu. Selain itu, pemisahan tersebut juga didasarkan pada adanya perbedaan mendasar dalam proses-proses fisik pembentukan kedua tipe struktur itu (Allen, 1963). Untuk menekankan adanya perbedaan-perbedaan tersebut, istilah gelembur digunakan untuk menamakan <em>bed-form</em> berskala kecil, sedangkan istilah <em>sand wave</em> atau gumuk digunakan untuk menamakan <em>bedform</em> berskala besar. Selain itu, istilah <em>ripple bedding</em> digunakan untuk menamakan laminasi silang-siur mikro <em>(micro-cross-lamination)</em> yang dihasilkan oleh migrasi gelembur, sedangkan istilah lapisan silang-siur digunakan untuk menamakan struktur yang terbentuk sebagai hasil migrasi gumuk.</p>
<p>Laminasi silang-siur atau lapisan silang-siur telah mendapatkan perhatian yang demikian besar dari para ahli geologi. Struktur itu memungkinkan dilakukannya analisis kuantitatif. Laminasi silang-siur dan lapisan silang-siur juga sangat bermanfaat dalam analisis arus purba.</p>
<p>Lapisan silang-siur merupakan struktur khas dari pasir—material granuler non-kohesif, apapun komposisinya. Lapisan silang-siur—yang disebut juga laminasi silang-siur <em>(cross-lamination)</em>, <em>current bedding</em>, perlapisan diagonal <em>(diagonal bedding)</em>, atau perlapisan palsu <em>(false bedding)</em>—merupakan satu tipe struktur yang sukar untuk didefinisikan. Bagi sebagian ahli, struktur itu hanya berarti perlapisan yang miring—perlapisan dengan <em>initial dip</em> yang tinggi. Walau demikian, istilah lapisan silang-siur dalam buku ini digunakan secara terbatas untuk menamakan perlapisan internal yang disebut perlapisan perenggan <em>(foreset bedding)</em> yang miring, relatif terhadap bidang akumulasi utama, di dalam satu satuan sedimentasi. Definisi itu, yang membatasi lapisan silang-siur sebagai struktur internal dari suatu lapisan, menyebabkan perlapisan miring yang terbentuk dengan cara lain—misalnya perlapisan gisik <em>(beach bedding)</em>, perenggan-perenggan delta <em>(delta foresets)</em>, dan perlapisan akresi lateral <em>(lateral accretion bedding)</em>—tidak termasuk ke dalam kategori lapisan silang-siur. Definisi di atas tidak tergantung pada skala. Suatu lapisan silang-siur dapat memiliki ketebalan mulai dari 3 mm hingga lebih dari 30 m.</p>
<p>Definisi di atas banyak digunakan oleh para ahli dan dapat diterapkan pada kebanyakan dari apa yang selama ini disebut sebagai lapisan silang-siur. McKee &amp; Weir (1953) mendefinisikan lapisan perenggan <em>(foreset bed)</em> sebagai suatu “stratum silang-siur” <em>(“cross-stratum”)</em> dan mendefinisikan satuan lapisan silang-siur <em>(cross-bedding unit)</em> sebagai suatu “himpunan strata silang-siur” <em>(“a set of cross-strata”)</em>. Mereka membedakan lapisan silang-siur, yang memiliki perenggan dengan ketebalan lebih dari 1 cm, dengan “laminasi silang-siur” <em>(“cross-lamination”)</em> yang memiliki perenggan dengan ketebalan kurang dari 1 cm.</p>
<p>Penggolongan lapisan silang-siur sukar untuk dilakukan. Hal itu terjadi karena (1) lapisan silang-siur memiliki ukuran dan bentuk yang sangat beragam; dan (2) banyak singkapan lapisan silang-siur relatif terbatas sedemikian rupa sehingga skema pengggolongan tertentu tidak dapat diterapkan kepadanya. Ada dua tipe umum dari lapisan silang-siur (gambar 4-5). Pertama, himpunan lapisan silang-siur tabuler sederhana <em>(simple tabular set)</em> dengan perenggan yang lebih kurang datar. Kedua, himpunan lapisan silang-siur mangkok <em>(a trough-shaped set of cross-strata)</em> dengan perenggan yang biasanya merupakan bidang lengkung. Kita mungkin akan menemukan kesukaran untuk membedakan kedua tipe lapisan silang-siur itu dalam singkapan berukuran kecil, dalam singkapan yang tidak lengkap, atau dalam singkapan yang menjurus pada arah yang kurang sesuai. Perbedaan diantara kedua tipe lapisan silang-siur itu paling jelas terlihat pada singkapan yang terletak lebih kurang sejajar dengan bidang perlapisan. Pada singkapan seperti itu, jejak perenggan dari lapisan silang-siur tabuler sederhana akan tampak sebagai garis lurus, sedangkan jejak perenggan dari lapisan silang-siur mangkok akan tampak cekung ke hilir. Garis yang menghubungkan titik-titik tengah jejak perenggan pada lapisan silang-siur mangkok mengindikasikan arah aliran yang membentuknya. McKee &amp; Weir (1953) serta Allen (1963) mengembangkan suatu skema penggolongan lapisan silang-siur yang merupakan variasi dari kedua tipe umum tersebut di atas.</p>
<p>Lapisan silang-siur tabuler sederhana memiliki skala, kemiringan, dan azimuth. Skala berkaitan dengan ketebalan satuan lapisan silang-siur yang dapat bervariasi mulai dari 1 atau 2 cm hingga beberapa puluh meter. Sebagian besar himpunan lapisan silang-siur memiliki ketebalan kurang dari 1 m. Inklinasi menyatakan sudut kemiringan laminasi perenggan. Sudut itu merupakan sudut yang dibentuk oleh perenggan dengan bidang perlapisan utama atau sudut yang dibentuk oleh garis singgung perenggan yang memiliki kemiringan paling tinggi dengan bidang perlapisan utama. Bidang perlapisan utama diasumsikan merupakan bidang horizontal ketika lapisan silang-siur terbentuk. Asumsi itu hampir benar, namun tidak sepenuhnya benar. Inklinasi biasanya disamakan dengan “sudut henti” dan memang keduanya hampir persis sama. Meskipun sudut henti umumnya dikatakan berharga 33-34<sup>o</sup>, namun inklinasi rata-rata dari himpunan lapisan silang-siur kemungkinan besar berkisar mulai dari 15<sup>o</sup> hingga 20<sup>o</sup>. Pada beberapa kasus, inklinasi sangat tegak, bahkan dalam kasus istimewa dapat terbalik (gambar 4-6). Jelas bahwa hal itu terjadi akibat deformasi pasca-pengendapan. Azimuth adalah sudut horizontal yang dibentuk oleh meridian dengan proyeksi horizontal dari garis kemiringan yang ada pada perenggan. Pendeknya, azimuth itu menyatakan arah hilir. Jika satuan lapisan silang-siur yang kita teliti merupakan lapisan silang-siur mangkok, definisi-definisi itu perlu sedikit dirubah. Geometri pada lapisan silang-siur seperti itu paling baik dicandra dengan menyatakan lebar dan kedalaman perenggan yang bentuknya seperti bidang kerukan itu. Nisbah lebar terhadap kedalaman perenggan cenderung untuk berharga tetap, meskipun nilai-nilai aktual dari kedua aspek itu sangat bervariasi (Allen, 1963). Lihat gambar 4-7. Perenggan memiliki lebar mulai dari beberapa centimeter hingga lebih dari 30 meter, sedangkan kedalamannya mulai dari satu per sekian centimeter hingga lebih dari 10 meter. Perenggan umumnya melengkung dan cekung ke hilir (gambar 4-5).</p>
<p>Pola yang diperlihatkan oleh stratifikasi silang-siur berskala kecil pada bidang perlapisan disebut <em>“rib-and-furrow”</em> oleh Stokes (1953), disebut <em>“Schrägschichtungsbögen”</em> oleh Gürich (1933), dan disebut “laminasi silang-siur mikro” <em>(“micro cross-lamination”)</em> oleh Hamblin (1961).</p>
<p>Meskipun banyak perenggan mendekati bentuk bidang datar, dan berakhir pada bidang perlapisan bawah dan bidang perlapisan atas dengan membentuk sudut lancip yang lebih kurang sama, namun sebagian perenggan melengkung ke bawah dan kemudian berakhir secara tangensial pada bidang perlapisan bawah.</p>
<p>Meskipun istilah <em>topset</em> dan <em>bottomset</em> sering diterapkan pada strata yang berturut-turut terletak di atas dan di bawah strata silang-siur tabuler, namun pemakaian istilah-istilah tersebut sebenarnya tidak tepat. Perenggan pada strata silang-siur umumnya tidak menembus strata lain yang terletak di atas atau di bawah strata itu. Strata silang-siur bukan merupakan produk per-tumbuhan mikrodelta. Ungkapan yang menyatakan bahwa perenggan “terpancung”, yang mengimplikasikan terjadinya peng-erosian, juga merupakan konsep yang keliru.</p>
<p>Asal-usul lapisan silang-siur dikatakan sangat beragam. Untuk lapisan silang-siur sebagaimana telah didefinisikan pada bagian ini, jelas bahwa lapisan silang-siur itu terbentuk sebagai hasil migrasi <em>sand wave</em>. Ukuran <em>sand wave</em> menentukan skala lapisan silang-siur yang dihasilkannya. Migrasi gumuk menghasilkan strata silang-siur berskala besar, sedangkan migrasi gelembur menghasilkan stratifikasi silang-siur berskala kecil. Asal-usul lapisan silang-siur planar-tabuler akan mudah dipahami dengan merujuk pada gambar 4-8. Pada kasus itu, satuan strata silang-siur itu sendiri memiliki <em>initial dip</em> ke hulu, sedangkan perenggan pada satuan strata silang-siur itu miring ke hilir. <em>Initial dip</em> pada satuan strata silang-siur biasanya kecil, paling hanya 1 atau 2 derajat, dan seringkali tidak terlihat pada satu singkapan tunggal. Ukuran lapisan silang-siur ditentukan oleh ketinggian gumuk, sedangkan morfologinya ditentukan oleh morfologi gelembur (jika berskala kecil) atau oleh morfologi gumuk dan <em>sand wave</em> (apabila berskala besar) (Allen, 1963). Gelembur atau <em>sand wave</em> yang linier dan teratur akan menghasilkan stratifikasi silang-siur planar-tabuler sederhana. Gelembur atau <em>sand wave linguloid</em> akan menghasilkan stratifikasi silang-siur mangkok.</p>
<p>Kebenaan lapisan silang-siur telah diperdebatkan oleh para ahli sejak lama. Lapisan silang-siur yang ada dalam suatu formasi tidak menyebar secara random, melainkan memperlihatkan <em>preferred orientation</em> (gambar 4-9). Dalam endapan aluvial, lapisan silang-siur rata-rata mengarah ke hilir. Dalam endapan bahari, kebenaan lapisan silang-siur tidak terlalu jelas, meskipun lapisan itu tetap memperlihatkan <em>preferred orientation</em>. Azimuth yang berlawanan pada suatu satuan lapisan silang-siur meng-indikasikan arus pasut. Lapisan silang-siur seperti itu sering muncul dalam beberapa singkapan dalam bentuk struktur “tulang ikan” <em>(“herringbone” structure)</em>. Lapisan silang-siur eolus lebih mencerminkan angin yang bekerja untuk suatu rentang waktu yang relatif lama di permukaan bumi atau angin yang paling efektif bekerja di permukaan bumi; bukan mencerminkan sistem angin dengan sirkulasi global. Hingga sejauh ini belum ada satupun jenis atau skala lapisan silang-siur yang khas untuk agen atau lingkungan pengendapan tertentu. Walau demikian, lapisan siang-siur yang sangat besar kemungkin terbentuk pada lingkungan eolus atau bahari; bukan pada lingkungan fluvial.</p>
<p>Skala lapisan silang-siur (dan <em>sand wave</em> yang menjadi “bahan” pembentukannya) dalam endapan akuatis tampaknya berkaitan dengan kedalaman (Allen, 1963). Lihat gambar 4-10. Sebagaimana dikemukakan oleh Carey &amp; Keller (1957), ukuran gumuk atau <em>sand wave</em> di Sungai Mississippi bertambah sejalan dengan meningkatnya luah (dan, oleh karena itu, kedalaman) pada saat banjir. Pengamatan lapangan biasa saja sudah cukup untuk memperlihatkan adanya <em>sand wave</em> berukuran besar dan, oleh karena itu, lapisan silang-siur yang lebih tebal pada sungai besar. Allen (1963) menyajikan sebuah hasil kompilasi yang memperlihatkan bahwa ketinggian <em>sand wave</em> memiliki hubungan yang linier dengan kedalaman. Hubungan itu memungkinkan kita untuk memperkirakan kedalaman dari skala lapisan silang-siur dalam endapan purba (Allen, 1963).</p>
<p>4.3.4.1  <span style="text-decoration:underline;">Gelembur</span></p>
<p>Sebagai suatu gejala yang sangat sering ditemukan, baik pada <em>sand flat</em> masa kini maupun pada bidang perlapisan batupasir purba, gelembur <em>(ripple mark)</em> telah menarik perhatian tidak saja para ahli geologi, namun juga para ahli fisika yang mempelajari fenomena geleombang. Karena itu, tidak mengherankan apabila literatur gelembur saat ini demikian banyak.</p>
<p>Banyak perhatian ditujukan pada gelembur sebagai sebuah fenomenon bidang batas. Ketika suatu aliran yang bergerak di atas dasar yang disusun oleh pasir mencapai nilai kecepatan tertentu, partikel-partikel pasir mulai bergerak dan gelembur mulai terlihat pada permukaan pasir itu. Banyak penelitian awal mengenai gelembur ditujukan untuk memahami proses tersebut serta pola gelembur yang dihasilkannya. Diantara sekian banyak penelitian geologi di masa lalu, makalah-makalah karya Bucher (1919) dan Kindle (1917) merupakan makalah yang paling lengkap. Makalah-makalah itu juga membahas tentang batupasir purba yang mengandung gelembur.</p>
<p>Ada dua aspek penelitian gelembur yang mendapat perhatian khusus dari para ahli. Pertama, kebenaan geografi dari gelembur, khususnya orientasi gelembur. Aspek itulah yang dulu menjadi tujuan penelitian Hyde (1911) ketika dia meneliti gelembur yang ada dalam Berea Sandstone (Mississippi) di Ohio. Kedua, struktur internal batupasir dan batulanau yang dihasilkan oleh pertindihan dan migrasi gelembur. Struktur yang dimaksud adalah apa yang disebut sebagai laminasi silang-siur mikro oleh Hamblin (1961) atau <em>ripple bedding</em>. Struktur itu sering terlihat pada penampang vertikal batuan. Pada bidang per-lapisan, <em>ripple bedding</em> menampakkan diri sebagai <em>“rib-and-furrow”</em>. Makalah-makalah karya Walker (1963, 1969), Allen (1963), dan McKee (1966) membahas tentang <em>ripple bedding</em> dan tentang fenomena yang disebut sebagai <em>climbing ripple</em>. Karya tulis paling komprehensif mengenai gelembur ditinjau dari semua sudut pandang adalah karya Allen (1963, 1969). Ketika suatu arus bergerak di atas massa pasir mencapai nilai kecepatan tertentu, butiran-butiran pasir mulai bergerak dan pada permukaan massa pasir itu akan terbentuk serangkaian gelembur. Gelembur-gelembur arus itu terdiri dari sejumlah punggungan yang lebih kurang lurus, dan satu sama lain terpisahkan oleh suatu jarak yang lebih kurang sama, dimana arah yang ditunjukkan oleh punggungan itu lebih kurang tegak lurus terhadap arah arus. Di bawah kondisi-kondisi aliran tertentu, pola gelembur arus menjadi makin tidak beraturan dan puncak gelembur akhirnya pecah menjadi sederetan struktur berbentuk seperti huruf-U. Sebagian struktur itu berupa gelembur <em>barchanoid</em> atau <em>lunate</em> jika cembung ke hulu; sebagian lain berupa gelembur <em>linguloid</em> atau gelembur yang berbentuk seperti lidah jika cembung ke hilir. Gelembur <em>linguloid</em> agaknya lebih umum ditemukan di alam. Sejalan dengan makin tingginya kecepatan, gelembur hilang dan pada massa pasir itu akan terbentuk bidang datar mulus, di atas bidang mana pasir tersapu.</p>
<p>Jika pasir diangkut di atas dasar yang tidak disusun oleh pasir (misalnya saja dasar yang disusun oleh lumpur), dan jika pasokan pasir tidak memadai untuk dapat membentuk suatu lapisan menerus, pasir itu akan terakumulasi dalam tonjolan-tonjolan terisolasi. Tonjolan-tonjolan itu disebut <em>starved ripples</em> oleh sebagian ahli dan tampak pada penampang melintang sebagai lensa-lensa pasir datar-cembung yang tertanam dalam batulumpur. Istilah perlapisan lentikuler <em>(lenticular bedding)</em> dipakai oleh Reineck &amp; Wunderlich (1968) untuk menamakan struktur itu, sedangkan Conybeare &amp; Crook (1968) menamakan-nya perlapisan flaser <em>(flaser bedding)</em>.</p>
<p>Dasar pasir yang ada di daerah perairan-dangkal umumnya ditutupi oleh gelembur osilasi <em>(oscillation ripple mark)</em> yang dihasilkan oleh pergerakan maju-mundur partikel-partikel air di bawah pengaruh gelombang. Apabila dilihat dari atas, kenampak-an gelembur osilasi itu mirip dengan—mungkin sedikit lebih teratur dibanding—gelembur arus. Apabila dilihat pada penampang melintang, gelembur osilasi memiliki bentuk yang simetris. Kesimetrian bentuk gelembur, serta bentuk puncak gelembur yang tajam dan bentuk lembah yang lebar, menjadi faktor yang membedakan gelembur osilasi dari gelembur arus. Kenampakan yang khas dari bentuk asli gelembur osilasi, dan <em>cast</em>-nya, menyebabkan struktur ini sangat bermanfaat sebagai kriterion untuk menentukan posisi stratigrafi (Cox &amp; Dake, 1916; Shrock, 1948).</p>
<p>Tata peristilahan yang digunakan pada gelembur osilasi diperlihatkan pada gambar 4-11. Panjang <em>(length)</em> adalah jarak antara dua titik yang berkorespondensi dan terletak pada dua gelembur yang berdampingan. Tinggi <em>(height)</em>—kadang-kadang disebut juga amplitudo <em>(amplitude)</em> pada literatur lama—adalah jarak vertikal antara puncak dengan lembah gelembur. Indeks gelembur <em>(ripple index)</em> adalah nisbah panjang terhadap tinggi gelembur. Tatanama yang sama juga dapat diterapkan pada gelembur arus, namun istilah-istilah itu lebih sukar untuk diterapkan pada gelembur <em>lunate</em> atau <em>linguloid</em> yang bentuknya lebih tidak beraturan dibanding gelembur berpuncak lurus. Selain itu, gelembur arus berbeda dengan gelembur osilasi karena bentuknya tidak simetris. Gelembur arus memiliki sisi hulu yang landai dan sisi hilir yang curam. Karena itu, gelembur arus merupakan sebuah kriterion yang baik dari arus purba.</p>
<p>Selain gelembur arus dan gelembur osilasi, para ahli juga mengenal tipe-tipe gelembur yang lain. Dua gelembur yang bertumpuk dapat menghasilkan “gelembur interferensi” yang disebut <em>“tadpole nest”</em>. Sebuah struktur yang agak aneh ditemukan dalam lumpur. Struktur yang disebut gelembur dan telah dicandra oleh van Straaten itu terdiri dari gelembur yang terpisahkan oleh jarak yang relatif beraturan, bentuknya lebih kurang simetris, serta memiliki puncak menerus yang sejajar dengan arah arus. Struktur lain yang aneh adalah apa yang disebut sebagai gelembur rhomboid <em>(rhomboid ripple)</em> (Hoyt &amp; Henry, 1963). Gelembur yang disebut terakhir ini agaknya hanya terbentuk pada <em>swash face</em> dari gisik.</p>
<p>Pola gelembur tertentu mungkin kompleks karena merupakan produk kombinasi dari gelombang dan arus. Berbagai bentuk hibrid itu telah dipaparkan oleh van Straaten.</p>
<p>4.3.4.2  <em><span style="text-decoration:underline;">Ripple Bedding</span></em></p>
<p>Aspek paling penting dari gelembur pasir adalah struktur internalnya dan laminasi silang-siur berskala kecil (dan seringkali kompleks) yang merupakan produk migrasi gelembur itu. Pada penampang melintang, migrasi gelembur menghasilkan lapisan silang-siur berskala kecil atau apa yang disebut sebagai laminasi silang-siur mikro oleh Hamblin (1961). Bentuk laminasi silang-siur mikro yang paling sederhana memiliki ketebalan sekitar 1 cm atau kurang dari itu. Jika proses pembentukan dan migrasi gelembur itu berlangsung dalam suatu rentang waktu yang relatif lama, maka dapat terjadi penumpukan beberapa lapisan dan dalam banyak kasus pada akhirnya akan terbentuk lapisan komposit yang sangat kompleks. Andersen (1931) meneliti bentuk-bentuk lapisan silang-siur kompleks (yang dia sebut sebagai <em>“rolling strata”</em>) dalam sedimen fluvioglasial di Denmark. McKee (1938, 1939) melaporkan adanya perlapisan gelembur yang kompleks dalam endapan banjir Sungai Colorado, Grand Canyon. Ada beberapa kemungkinan penumpukan gelembur. Gelembur dapat mengalami penumpukan sefasa <em>(in phase superimposed)</em> sehingga gelembur tidak tampak bermigrasi sama sekali, melainkan seolah-olah tumbuh ke atas sejalan dengan terus ber-langsungnya pengendapan. Hubungan penumpukan yang biasa ditemukan adalah migrasi progresif puncak gelembur sedemikian rupa sehingga setiap gelembur tampak “mengapung” dan “naik” ke atas sisi hulu gelembur yang ditindihnya. Struktur yang kurang beraturan dihasilkan oleh penumpukan tidak sefasa beberapa himpunan gelembur. Hasilnya adalah suatu pola perlapisan yang agak “aneh” dan kadang-kadang disebut perlapisan flaser (gambar 4-12).</p>
<p>Gelembur naik <em>(climbing ripple)</em> dan endapan laminasi silang-siurnya—yang disebut struktur gelembur naik <em>(climbing ripple structure)</em> oleh McKee (1966) atau disebut laminasi gelembur-mengembara <em>(ripple-drift lamination)</em> atau laminasi silang-siur gelembur-mengembara <em>(ripple-drift cross-lamination)</em> oleh Walker (1963, 1969)—memperlihatkan bentuk yang beragam. Pada beberapa kasus, laminasi gelembur naik itu merupakan bentuk transisi dari satu tipe laminasi kepada tipe laminasi lain. Pada kasus lain, laminasi gelembur naik dibatasi secara tajam oleh <em>backset bedding planes</em>. Pada kasus pertama, laminasi sisi hulu terawetkan, meskipun laminasi itu lebih tipis dibanding laminasi sisi hilir. Pada kasus kedua, laminasi sisi hulu tidak terawetkan atau tererosi. Sebuah bentuk khusus dari kasus pertama adalah laminasi gelembur naik yang ditandai dengan akumulasi lumpur pada lembah gelembur serta akumulasi lanau dan pasir pada lereng hulu. Segregasi material itu menghasilkan sederetan perselingan lapisan-lapisan lumpur dan lanau dengan kemiringan yang curam ke arah hulu dan sekilas tampak sebagai lapisan silang-siur yang skalanya lebih besar. Karena itu, pengamatan yang kurang cermat terhadap laminasi silang-siur seperti itu dapat membawa kita untuk sampai pada kesimpulan yang keliru dengan menganggapnya sebagai lapisan silang-siur berskala besar. Laminasi silang-siur seperti itu agaknya merupakan ciri paket turbidit yang paling khas (Walker, 1963). Faktor-faktor hidrolika, yang menentukan tipe dan sudut-naik <em>(climb angle)</em> dari gelembur naik, telah dibahas oleh Allen (1970).</p>
<p>Pola tumpukan <em>ripple bedding</em> yang kurang beraturan akan menghasilkan laminasi internal yang kompleks. Struktur seperti itu jelas dihasilkan oleh proses pembentukan gelembur, namun tidak memperlihatkan pola tumpukan yang tetap dan teratur. Lapisan-lapisan batupasir atau batulanau seperti itu disebut <em>wavy bedding</em>.</p>
<p>Jika lumpur hadir, bentuk satuan bergelembur akan menjadi lebih jelas terlihat. Lumpur yang berselingan mungkin muncul sebagai lensa-lensa atau flaser akibat terakumulasinya lumpur secara terbatas pada lembah-lembah gelembur. Secara keseluruhan, struktur itu dinamakan perlapisan flaser <em>(flaser bedding)</em>. Jika lensa-lensa lumpur saling bergabung, struktur yang terbentuk disebut <em>wavy bedding</em>. Jika lumpur merupakan material dominan, maka satuan bergelembur itu akan terisolasi dan tertutup dalam matriks lumpur. Secara keseluruhan, satuan itu dinamakan perlapisan lentikuler <em>(lenticular bedding)</em> atau <em>starved ripple</em> (Reineck &amp; Wunderlich, 1968). Lihat gambar 4-12.</p>
<p>Aspek lain dari struktur internal dari batupasir, yang diperkirakan memiliki kaitan dengan <em>ripple bedding</em>, adalah apa yang disebut sebagai <em>“rib-and-furrow”</em> oleh Stokes (1953). Struktur yang disebut terakhir ini pernah ditemukan oleh Gurich (1933) dalam flagstones dari Maulborn monastery, bagian tengah Jerman, dan dinamakannya <em>“Schrägschichtungsbögen”</em>. Ketika terlihat pada bidang perlapisan, struktur itu terdiri dari jejak-jejak melengkung, transversal, berukuran kecil, dan muncul dalam himpunan-himpunan yang relatif terbatas pada <em>narrow furrow</em> yang relatif panjang dan dipisahkan dari himpunan lain oleh <em>ribs</em> yang sangat sempit dan tidak menerus. <em>Longitudinal furrow</em> pada dasarnya sejajar satu sama lain dan sejajar dengan arah aliran. <em>Furrows</em> itu lebarnya beberapa centimeter dengan panjang hingga sektiar 1 meter. Jejak-jejak transversal berukuran kecil itu melengkung, dengan sisi cembung mengarah ke hulu, sedangkan garis yang menghubungkan titik tengah jejak-jejak itu sejajar dengan arah aliran. Jejak-jejak transversal itu merupakan sisi-sisi struktur imbrikasi yang tererosi—laminasi melengkung yang mengarah ke atas.</p>
<p>Struktur <em>rib-and-furrow</em> agaknya merupakan satu spesies lapisan silang-siur mangkok yang terletak pada bidang perlapisan dan dihasilkan oleh migrasi sistem gelembur <em>linguloid</em>. Struktur itu pernah ditemukan oleh Stokes dalam Moenkopi Formation (Trias) dan Saltwash Sandstone Member dari Morrison Formation (Jura) di Utah. Struktur itu juga pernah ditemukan dalam flagstones Devon di Pennsylvania. <em>Ripple bedding</em> dapat dikenai oleh <em>synsedimentary deformation</em>. Deformasi itu paling sering ditampilkan sebagai laminasi gelembur yang sangat curam. Apabila deformasinya relatif kuat, maka sudut kemiringan laminasi gelembur tampak sangat curam, bahkan terbalik. Produk deformasi gelembur yang mungkin paling ekstrim adalah perlapisan konvolut <em>(convolute bedding)</em>. Ketika gelembur terakumulasi sebagai satuan-satuan terisolasi di atas suatu massa lumpur, gelembur itu dapat mengalami deformasi pembebanan dan tenggelam atau melesak ke dalam lumpur yang terletak dibawahnya. Struktur itu disebut <em>“load-casted” ripple</em> (Dzulynski, 1962).</p>
<p>Gelembur, sebagaimana lapisan silang-siur, terbukti sangat bermanfaat sebagai indikator posisi stratigrafi, indikator arah arus purba, dan indikator kondisi-kondisi aliran. Struktur itu juga merupakan indikator lingkungan pengendapan yang bermanfaat karena terbentuk pada kondisi yang sangat beragam, pada kedalaman yang juga beragam, selama di tempat itu ada arus yang bergerak di atas massa pasir. Gelembur hasil aktivitas gelombang berbeda dengan gelembur hasil aktivitas arus searah. Gelembur angin <em>(wind ripple)</em> juga jauh berbeda dari gelembur akuatis <em>(aqueous ripple)</em>. Sayang sekali, gelembur angin jarang ditemukan dalam rekaman geologi. Gelembur terbukti sangat bermanfaat dalam analisis paleogeografi.</p>
<p>4.3.4.3  <em><span style="text-decoration:underline;">Graded bedding</span></em></p>
<p><em>Graded bedding</em>, suatu tipe struktur yang sering ditemukan dalam paket batuan sedimen, telah menarik perhatian para ahli geologi lapangan karena struktur itu sangat bermanfaat dalam menentukan urut-urutan superposisi pada lipatan isoklin dan batuan yang telah mengalami pembalikan. Kebenaan geologi dari <em>graded bedding</em> serta pengenalan <em>graded bedding</em> dan lapisan silang-siur sebagai penciri dua fasies pengendapan pasir yang berbeda dijelaskan pertama kali oleh Bailey (1930, 1936). Dewasa ini para ahli mengakui bahwa <em>graded bedding</em> mungkin merupakan ciri paling khas dari pengendapan turbidit yang umumnya berlangsung di wilayah perairan-dalam.</p>
<p><em>Graded bed</em> merupakan satuan sedimentasi yang ditandai oleh perubahan ukuran partikel penyusun secara berangsur dari bawah ke atas, dimana partikel paling kasar terletak di bawah dan partikel paling halus terletak di atas. <em>Graded bed</em> diendapkan dari arus yang sudah kehilangan kemampuannya untuk mengangkut partikel. <em>Graded bed</em> memiliki ketebalan yang bervariasi, mulai dari sekitar 1 cm hingga sekitar 1 meter. Partikel-partikel penyusun <em>graded bed</em> dapat berupa lanau, pasir, atau pada kasus-kasus tertentu juga gravel. Kebanyakan <em>graded bed</em> merupakan batupasir (biasanya berupa <em>greywacke</em> dalam paket endapan purba). Ketebalan <em>graded bedded sandstone</em> itu berkisar mulai dari beberapa centimeter hingga sekitar 1 meter. Secara umum, makin tebal suatu <em>graded unit</em>, makin kasar material penyusunnya (Potter &amp; Scheidegger, 1966). <em>Graded bed</em> memperlihatkan distribusi ketebalan log normal (gambar 4-2).</p>
<p>Ada beberapa tipe <em>grading</em>. Sebagian <em>graded bed</em> merupakan lapisan komposit yang kemungkinan besar terbentuk ketika <em>surge</em> kedua tiba sebelum <em>surge</em> pertama terendapkan seluruhnya. Cara lain yang menyebabkan terbentuknya lapisan komposit adalah terpancungnya <em>graded unit</em> pertama sebelum diendapkan <em>graded bed</em> kedua.</p>
<p>Meskipun ragam <em>grading</em> yang terlihat di lapangan sangat bervariasi, namun jelas ada suatu urut-urutan struktur ideal yang dapat ditemukan dalam suatu <em>graded unit</em> lengkap. Daur ideal itu disebut daur Bouma <em>(Bouma cycle)</em> karena daur itu dipaparkan secara eksplisit untuk pertama kalinya oleh Bouma (1962). Sekuen ideal yang diajukan oleh Bouma (gambar 4-13) terdiri dari lima bagian atau “interval”. Interval paling bawah, yakni <em>graded interval</em> (a), memperlihatkan <em>grading</em> dan biasanya merupakan bagian paling tebal dari lapisan itu. Pada beberapa kasus, <em>grading</em> tidak terlihat jelas bahkan tidak terbentuk sama sekali apabila pasir yang terangkut dan terendapkan sebagai lapisan itu memiliki pemilahan yang sangat baik. Pada bebeapa kasus, <em>graded interval</em> ditindih oleh interval pasir berlaminasi (b) dan, kemudian, oleh interval yang memperlihatkan <em>ripple cross-lamination</em> (c). Menurut Bouma, Interval (c) kemudian ditindih oleh pelit pasiran atau lanauan yang berlaminasi (d). Interval (d) itu umumnya tersingkap buruk dan seringkali tidak dapat teramati. Interval paling atas (e) adalah interval pelit (serpih atau sabak).</p>
<p>Sebagaimana dikemukakan oleh Bouma, kita jarang menemukan lapisan yang memperlihatkan keseluruhan sekuen Bouma. Kebanyakan memperlihatkan terjadinya pemancungan bagian atas sekuen <em>(top truncation)</em>. Maksudnya, daur itu tidak lengkap dan dimulai dengan <em>graded interval</em>, namun tidak mengandung satu atau lebih interval-interval lain yang “seharusnya” terletak di atas <em>graded interval</em>. Sekuen yang mungkin lebih sering ditemukan adalah sekuen yang memperlihatkan “pemancungan” bawah. Maksudnya, lapisan itu dimulai dengan suatu interval yang bukan <em>graded interval</em>. Walau demikian, sebagaimana dikemukakan oleh Bouma, meskipun terjadi pemancungan, namun interval-interval itu selalu berada dalam urut-urutan yang tetap.</p>
<p>Sekuen yang tidak lengkap mungkin dapat dinisbahkan pada pelemahan arus pembentuk sekuen ketika menyebar di lantai cekungan. Ketika pasokan material kasar berkurang dan arus melemah, tidak akan terbentuk <em>graded interval</em> dan pengendapan akan dimulai dengan interval (b). Ketika arus lebih lemah lagi, endapan yang pertama kali terbentuk adalah interval (c).</p>
<p>Perubahan lateral dari <em>graded bed</em> itu disertai dengan penurunan ketebalan lapisan. Pola penurunan ketebalan dan besar butir <em>graded bed</em> ideal ke arah hilir adalah eksponensial negatif (Scheidegger &amp; Potter, 1971). Fakta tidak ditemukannya interval-interval terbawah dari sekuen Bouma, apabila berlangsung secara sistematis, dapat menjadi petunjuk “proksimalitas” <em>(“proximality”)</em> endapan. Lapisan-lapisan proksimal, yang dekat dengan daerah sumber, memperlihatkan sekuen yang lengkap. Lapisan-lapisan distal cenderung memperlihatkan pemancungan bawah. Berdasarkan hubungan itu, Walker (1967) menghitung indeks proksimalitas <em>(proximality index)</em>, <em>P</em>, yang didefinisikannya sebagai <em>P = A + <sup>1</sup>/<sub>2</sub>B</em>, dimana <em>A</em> dan <em>B</em> adalah persentase lapisan-lapisan dalam suatu sekuen yang berturut-turut dimulai oleh interval <em>a</em> dan <em>b</em>.</p>
<p>Sebagaimana telah dikemukakan di atas, <em>graded bedding</em> dan lapisan silang-siur menandai dua fasies pengendapan pasir yang jauh berbeda. Karena itu, kedua struktur tersebut tidak pernah ditemukan dalam satu sekuen sedimen yang sama. Namun, seperti telah ditunjukkan di atas, lapisan silang-siur berskala kecil atau <em>ripple cross-lamination</em>, merupakan bagian integral dari <em>graded bed</em> ideal. Lapisan silang-siur berskala besar, yang melibatkan keseluruhan satuan sedimentasi, tidak pernah ditemukan dalam <em>graded sequence</em>.</p>
<p><em>Graded bedding</em> ditemukan di banyak tempat dan dalam endapan yang umurnya bervariasi. <em>Graded bedding</em> merupakan jenis struktur yang boleh dikatakan dapat ditemukan pada semua sekuen Prakambrium awal (Temiskaming) di Perisai Canada (Pettijohn, 1943; Walker &amp; Pettijohn, 1971). <em>Graded bedding</em> seperti itu juga dilaporkan ada dalam batuan Prakambrium awal (Bothnian) di Finlandia (Simonen &amp; Kuovo, 1951), dalam batuan Arkean di Afrika Selatan dan Australia (Dunbar &amp; McCall, 1971). <em>Graded bedding</em> yang sangat baik ditemukan dalam endapan Silur di Aberysthwith, Wales, (Rich, 1950; Kuenen, 1953b; Wood &amp; Smith, 1953), dalam endapan Miosen di Appenines (Kuenen &amp; Migliorini, 1950; ten Haaf, 1959), dalam endapan Kambrium di Harlech Dome, Wales, (Kopstein, 1954), dalam endapan Pliosen di Santa Paula Creek, California, (Natland &amp; Kuenen, 1951), dalam endapan Karbon Kulm, bagian tengah Jerman (Kuenen &amp; Sanders, 1956), dalam flysch di Pegunungan Carpathia (Dzulynski dkk, 1959), dalam endapan Ordovisium di Martinsburg, bagian tengah Appalachia (McBride, 1962), endapan Devon akhir di bagian tengah Appalachia (McIver, 1970), dalam endapan Paleozoikum Akhir di Ouachita Mountains, Arkansas dan Oklahoma (Cline, 1966) serta dalam endapan Kapur di Sacramento Valley, California (Ojakangas, 1968). <em>Graded bedding</em> mungkin merupakan struktur khas dalam semua endapan geosinklin yang disusun oleh perselingan <em>greywacke</em> dengan serpih atau sabak. <em>Graded bedding</em> juga banyak ditemukan dalam inti bor pasir laut-dalam masa kini (Nesteroff, 1961; Kuenen, 1964).</p>
<p><em>Graded bedding</em> terutama ditemukan dalam batupasir, khususnya <em>greywacke</em> Paleozoikum atau endapan yang lebih tua dari itu. Walau demikian, <em>graded bedding</em> tidak hanya ditemukan dalam tipe pasir itu. <em>Graded bedding</em> bahkan dapat ditemukan dalam batugamping yang sebenarnya diendapkan sebagai pasir. Batugamping itu disebut batugamping alodap <em>(allodapic limestone)</em> oleh Meischner (1964). <em>Graded bedding</em> kadang-kadang ditemukan dalam kuarsit, baik kuarsit masa kini maupun kuarsit purba. <em>Graded bedding</em> relatif jarang ditemukan dalam kuarsit karena kuarsit biasanya bukan merupakan endapan wilayah perairan-dalam yang dicirikan oleh kehadiran sekuen Bouma. Pada kasus yang disebut terakhir ini, <em>graded bedding</em> umumnya bersifat soliter dan muncul secara sporadik.</p>
<p>Asal-usul <em>graded bed</em> dijelaskan dengan beberapa teori. Bailey (1930) menisbahkannya pada gempabumi yang berperan sebagai “distributor <em>intermittent</em> untuk pasir dan lumpur”. Dia mengasumsikan <em>graded bed</em> “dihasilkan oleh proses penenggelam-an melalui massa air yang relatif tenang, yang memungkinkan pasir dan lumpur untuk diendapkan pada satu tempat yang sama; sisa dari proses pengendapan ini berupa lumpur yang bertekstur paling halus”. Menurut Bailey, “pasir dan lumpur, yang membentuk akumulasi-akumulasi tidak stabil pada tepi geosinklin, secara periodik diguncang oleh gempabumi bawahlaut dan kemudian terangkat ke dalam suspensi dan akhirnya diendapkan di wilayah perairan yang dalam dan tenang”.</p>
<p>Kuenen &amp; Migliorini (1950) pertama kali menyatakan bahwa arus turbid mungkin merupakan penyebab terbentuknya <em>graded bedding</em>. Kuenen (1953a) menyajikan sebuah tinjauan yang mendetil terhadap berbagai bukti yang mendukung bahwa <em>graded bed</em> terbentuk oleh arus turbid. Bukti yang paling meyakinkan terletak pada struktur itu sendiri, yakni <em>grading</em>. <em>Grading</em> dapat direproduksikan secara eksperimental dari arus turbid (Kuenen &amp; Migliorini, 1950; Kuenen &amp; Menard, 1952). Bukti lain yang juga penting adalah ketebalan <em>graded bed</em> yang seragam, termasuk dalam <em>graded unit</em> yang paling tebal (arus normal akan menghasilkan satuan-satuan silang-siur yang berbentuk lentikuler), tidak adanya lapisan silang-siur, ditemukannya bukti-bukti endapan wilayah perairan-dalam (mikrofauna perairan-dalam dalam serpih yang berselingan dengan <em>graded bed</em>), serta pengendapan material rombakan kasar dalam lumpur yang terletak di atas <em>graded bed</em> tanpa disertai dengan adanya gangguan pada permukaan lumpur itu (jejak-jejak cacing yang halus terawetkan sebagai <em>cast</em> ada bidang perlapisan bawah dari lapisan pasir yang menindihnya). Jelas sudah bahwa setiap <em>graded bed</em> merekam episode pengendapan tunggal yang berumur pendek dan merupakan produk sedimentasi perairan-dalam yang berada di luar jangkauan arus dasar dan gelombang. Bukti-bukti yang dapat dikumpulkan sampai sekarang hampir pasti mengindikasikan pengendapan dari aliran turbid pekat. Arus turbid itu sendiri mungkin merupakan produk nendatan bawahlaut yang pembentukannya mungkin dipicu oleh gempabumi. Meskipun sebagian besar ahli geologi menyetujui konsep arus turbid, namun ada juga ahli-ahli yang tidak menyetujuinya (van der Lingen, 1969; Hubert, 1966). Untuk merngetahui dua pandangan yang bertentangan itu, para pembaca dipersilahkan untuk menelaah makalah-makalah tersebut serta pembahasan terhadap pandangan-pandangan tersebut oleh Kuenen (1967, 1970).</p>
<p><em>Graded bed</em> mungkin terbentuk dengan cara lain. Sangat miripnya <em>graded bed</em> tipis dengan lanau dan pasir warwa dalam danau <em>proglacial</em> Plistosen mendorong sebagian ahli untuk berpendapat bahwa influks musiman material sedimen yang dikontrol oleh pelelehan musiman suatu gletser bertanggungjawab terhadap pembentukan <em>graded bed</em>. Pendapat seperti itu digunakan untuk menjelaskan <em>graded bed</em> yang ada dalam Sudbury Series di Ontario, Canada (Coleman, 1926), <em>graded bed</em> Arkean di Tempere, Finlandia (Simonen &amp; Kuovo, 1951), serta <em>graded bed</em> Arkean di Danau Minnitaki, Ontario (Pettijohn, 1936). Penjelasan itu hampir dapat dipastikan tidak benar adanya dan gagasan itu diajukan sebelum dikembangkannya konsep arus turbid. Jika <em>graded bed</em> merupakan endapan musiman, maka ketebalannya akan mengimplikasikan laju pengendapan yang sangat tinggi. Padahal implikasi seperti itu kurang masuk nalar. Meskipun sebagian sedimen danau Plistosen diketahui mengandung warwa pasir yang tebal, namun <em>graded bed</em> tua tidak mungkin diendapkan dengan cara itu. Satu hal yang memperlemah penjelasan itu adalah tidak ditemukannya <em>dropstone</em> yang merupakan indikator paling kuat dari endapan <em>glaciolacustrine</em> atau <em>glaciomarine</em>.</p>
<p>Kuenen (1953) dan Sujkowski (1957) memperkirakan bahwa suatu <em>graded bed</em> dipisahkan dari <em>graded bed</em> lain yang terletak di atas atau dibawahnya oleh rentang waktu beberapa ratus tahun hingga beberapa ribu tahun. <em>Graded bed</em> merekam peristiwa yang sangat singkat. Lapisan-lapisan pelit yang berselingan dengan <em>graded bed</em> merupakan endapan “asli” dari cekungan dan terakumulasi dengan laju yang sangat lambat.</p>
<p>Meskipun sebagian <em>graded bed</em> yang terisolasi dan sporadik dapat dihasilkan oleh letusan gunungapi, banjir besar, atau badai, namun sebagian besar <em>graded bed</em> bahari yang repetitif hampir dapat dipastikan merupakan produk aliran turbid. <em>Graded bed</em> yang dihasilkan oleh proses-proses lain agaknya relatif jarang, dan kemungkinan besar bersifat soliter, serta berbeda dalam strukturnya atau gejala-gejala lain yang berasosiasi dengannya sedemikian rupa sehingga kemungkinan besar kita tidak akan tertukar dengan <em>grading</em> yang dihasilkan oleh arus turbid. Pengecualian untuk itu adalah batulanau tipis, berlapis rata, dan berbutir halus. Pembedaan antara endapan-endapan itu dengan sedimen musiman mungkin tidak begitu mudah.</p>
<p>Asal-usul <em>graded bed</em> sangat erat kaitannya dengan masalah turbidit. Karena itu, untuk mendapatkan pembahasan yang lebih mendetil mengenai <em>graded bedding</em>, para pembaca disarankan untuk membaca karya-karya tulis yang lebih komprehensif mengenai turbidit (Bouma, 1962; Bouma &amp; Brouwer, 1964; Walker, 1970).</p>
<p>4.3.4.4  <em><span style="text-decoration:underline;">Growth bedding</span></em></p>
<p>Istilah <em>growth bedding</em> disini diterapkan pada stratifikasi yang dihasilkan oleh aktivitas organisme secara <em>in situ</em> atau presipitasi kimia <em>in situ</em> pada bidang akumulasi. <em>Growth bedding</em> berbeda dengan tipe-tipe perlapisan yang telah dijelaskan di atas, karena semua tipe perlapisan yang telah dijelaskan di atas dibentuk akibat ditempatkannya partikel-partikel komponen lapisan pada rangka batuan oleh aksi arus. Dengan demikian, <em>growth bedding</em> boleh dikatakan merupakan lawan dari <em>current bedding</em>. <em>Growth bedding</em> secara khusus mencirikan batugamping serta banyak endapan travertin dan tufa.</p>
<p>Tipe <em>growth bedding</em> yang agaknya paling penting adalah perlapisan stromatolit <em>(stromatolitic bedding)</em>. Perlapisan stromatolit banyak ditemukan dalam batugamping Paleozoikum awal dan Prakambrium. Karena tipe perlapisan ini berkaitan dengan pembentukan dan sifat-sifat algamat <em>(algal mat)</em>, maka perlapisan itu sebagian mengandung sifat-sifat struktur sedimen dan sebagian lain mengandung sifat-sifat fosil. Hal itu mirip dengan lubang galian <em>(burrow)</em>, <em>trail</em>, dan <em>track</em>. Karena itu, pem-bahasan yang lebih mendalam mengenai perlapisan stromatolit akan disajikan dalam struktur biogenik (sub bab 4.6).</p>
<p>Banyak material presipitasi—travertin, oniks <em>(onyx)</em>, berbagai tipe tufa, dan <em>caliche</em>—memperlihatkan <em>banding</em> atau stratifi-kasi. Sebagian diantaranya mirip dengan perlapisan stromatolit (Westphal, 1957). Tipe perlapisan ini umumnya berkaitan dengan kemas kristal dan dengan beberapa tipe perlapisan diagenetik <em>(diagenetic bedding)</em>, khususnya untuk beberapa tipe <em>caliche</em> (Multer &amp; Hoffmeister, 1968). Hal itu akan dibahas lebih jauh pada Bab 12.</p>
<p><strong>4.4  STRUKTUR BIDANG PERLAPISAN</strong></p>
<p>Banyak struktur terbentuk pada bidang akumulasi sedimen. Walau demikian, banyak (kalau bukan sebagian besar) struktur itu tidak terawetkan sebagai struktur pada bidang perlapisan atas, melainkan sebagai <em>cast</em> pada bidang perlapisan bawah dari batuan yang terletak diatasnya. Hal itu terutama terjadi apabila material yang mengandung struktur itu berupa lumpur, sedangkan batuan yang terletak diatasnya berupa pasir. Jejak hujan <em>(rain print)</em>, lekang kerut <em>(mud crack)</em>, <em>flute</em>, dan <em>groove</em> terawetkan sebagai <em>“cast”</em> pada bidang perlapisan bawah batupasir. Di lain pihak, sebagian struktur dapat ditemukan baik pada bidang perlapisan bawah maupun bidang perlapisan atas. Gelembur, misalnya saja, dapat muncul sebagai struktur asli maupun sebagai <em>cast</em> pada bidang perlapisan bawah batupasir. Demikian pula dengan <em>parting lineation</em>. Struktur yang biasanya terbentuk pada bidang perlapisan atas lumpur umumnya hanya muncul sebagai struktur bidang perlapisan bawah <em>(sole marks).</em></p>
<p><strong>4.4.1  Struktur Bidang Perlapisan Bawah</strong></p>
<p>Struktur bidang perlapisan bawah merupakan gejala yang menandai bidang perlapisan bawah pada beberapa lapisan batupasir dan, kadang-kadang, beberapa batugamping yang terletak di atas serpih. Struktur itu merupakan tonjolan-tonjolan yang terbentuk akibat terisinya lekukan-lekukan pada permukaan lumpur di atas mana lapisan batupasir itu diendapkan. Meskipun telah diketahui keberadaannya sejak lama (lihat Hall, 1843), namun asal-usulnya tidak banyak dipahami. Struktur itu benar-benar merupakan hieroglif dan baru-baru ini saja dipahami (Vassaevich, 1953; Kuenen, 1957; Dzulynski, 1963; Dzulynski &amp; Sanders, 1962; Dzulynski &amp; Walton, 1965). Penelitian-penelitian pertama terhadap struktur bidang perlapisan bawah diarah-kan pada pemerian, penggolongan, dan manfaatnya sebagai indikator arus purba. Usaha-usaha untuk memahami asal-usulnya membawa para ahli untuk sampai pada penelitian eksperimental (Dzulynski, 1966; Dzulynski &amp; Walton, 1963; Allen, 1971).</p>
<p>Struktur bidang perlapisan bawah terbentuk akibat aksi arus, akibat deformasi yang dipicu oleh pembebanan, dan oleh organisme (tabel 4-1). Disini kita akan menujukan perhatian pada struktur yang terbentuk oleh arus. Struktur itu bisa dikelompok-kan ke dalam dua kategori: (1) struktur yang terbentuk akibat kerukan oleh arus; (2) struktur yang terbentuk akibat aksi material rombakan yang diangkut oleh arus. Kategori kedua ini biasa disebut sebagai <em>tool marks</em>.</p>
<p>4.4.1.1  <span style="text-decoration:underline;">Struktur Kerukan dan <em>Tool marks</em></span></p>
<p>Kekukan arus menghasilkan <em>flute</em> yang, ketika terisi oleh pasir dan ketika material isian itu bergabung dengan lapisan pasir yang terletak diatasnya, disebut <em>flute cast</em>. Dengan demikian, <em>flute cast</em> akan muncul sebagai tonjolan pada bidang perlapisan bawah batupasir yang terletak di atas lapisan serpih. Tonjolan itu memiliki bentuk, ukuran, dan susunan yang beragam. Tonjolan itu memanjang, dimana salah satu ujungnya membonggol dan mengarah ke hulu, sedangkan ujung yang lain meruncing dan mengarah ke hilir. Tonjolan hilir makin lama makin landai dan akhirnya menghilang bersatu dengan bidang perlapisan. <em>Flute cast </em>memiliki panjang mulai dari sekitar 1 cm hingga sekitar 1 meter, dengan ketinggian mulai dari beberapa milimeter hingga beberapa centimeter. Sebagian <em>flute cast</em> demikian panjang; sebagian lain bentuknya cenderung segitiga. Ujung yang mem-bonggol kadang-kadang berbentuk seperti ujung hidung. <em>Flute cast</em> biasanya berkelompok; jarang ditemukan <em>flute cast</em> soliter. Setiap <em>flute cast</em> dalam kelompok itu dapat dipisahkan oleh jarak yang relatif lebar, namun dapat pula demikian rapat, bahkan dapat saling berpotongan (Kuenen, 1957).</p>
<p>Material pengisi <em>flute</em> adalah pasir. Dalam banyak kasus, material pengisi <em>flute</em> lebih kasar dibanding material lain yang penyusun lapisan dimana <em>flute cast</em> berada. <em>Flute cast</em> yang bentuknya kurang beraturan dapat mirip dengan struktur beban <em>(load cast)</em>. Walau demikian, <em>flute cast</em> akan tampak memotong laminasi-laminasi pada lapisan yang terletak dibawahnya. Laminasi di sekeliling struktur beban, di lain pihak, terdeformasi dan tidak akan berakhir secara tajam pada sisi-sisi struktur beban. Sebagian <em>flute cast</em> memperlihatkan adanya bentuk-bentuk seperti teras. Hal itu mengindikasikan bahwa <em>flute</em> tersebut terbentuk oleh beberapa fasa erosi.</p>
<p><em>Flute</em> agaknya terbentuk oleh <em>eddy scour</em>. Ketika kondisi aliran memungkinkan, terbentuk sejumlah <em>eddy</em> dan arus itu kemudian mengeruk permukaan lapisan lumpur yang terletak dibawahnya. Ukuran <em>flute</em> agaknya tergantung pada kondisi aliran. Ukuran <em>flute</em> juga agaknya berkaitan dengan kekasaran material itu dan, oleh karena itu, berkaitan dengan kekuatan arus. <em>Flute cast</em> sangat bermanfaat dalam penelitian arus purba. Meskipun <em>flute</em> dapat terbentuk pada lingkungan yang beragam, namun <em>flute cast</em> paling sering ditemukan di bagian bawah batupasir (dan batugamping) turbidit. Karena itu, <em>flute</em> seringkali menjadi salah satu penciri fasies flysch.</p>
<p>Struktur lain yang dihasilkan oleh kerukan arus (dan, oleh karena itu, berasosiasi dengan <em>flute</em>) adalah <em>current crescent</em> (Bahasa Jerman: <em>Hufeisenwülste</em>), yakni suatu lekukan berbentuk tapal kuda. Kerukan itu terbentuk akibat pengerukan di seputar partikel stasioner berukuran relatif besar (suatu <em>“obstacle”</em>), misalnya sebuah kerikil, yang terletak di permukaan pasir. Kerukan itu cembung ke hulu dengan kedalaman maksimum di sisi hulu partikel penghalang, kemudian kedalamannya makin berkurang ke hilir. Pada banyak kasus, partikel penghalang itu berupa gumpalan serpih yang kemudian tersapu sehingga tidak terawetkan.</p>
<p>Arus juga menggerakkan berbagai benda—butiran pasir, rangka binatang, gumpalan lumpur, dsb. Jika benda-benda itu terangkut di atas dasar lumpur, menggelundung, atau kadang-kadang terangkat dari permukaan, maka akan terbentuk jejak pergerakan yang kemudian terawetkan sebagai struktur positif lemah pada dasar batupasir yang menindih lumpur. Struktur seperti itu secara umum dinamakan <em>tool marks</em>.</p>
<p>Salah satu tipe <em>tool mark</em> adalah <em>groove cast</em> yang tampak sebagai tonjolan rektilinier, membundar hingga berpuncak tajam, serta terletak pada bidang perlapisan bawah batupasir. Sebagian <em>groove cast</em> berkelompok dan memperlihatkan adanya himpunan tonjolan dan lekukan yang dapat dipandang sebagai <em>groove cast</em> orde-2. Sebagian himpunan <em>groove cast</em> orde-2 itu memperlihatkan pola divergen dan tersebar secara simetris di kedua sisi <em>groove cast</em> utama. Struktur itu diperkirakan terbentuk akibat terjadinya pengisian lekukan-lekukan yang terbentuk pada lumpur keras oleh berbagai benda yang bergerak. Struktur seperti itu disebut juga struktur seretan <em>(“drag mark”; “drag cast”)</em> (Kuenen, 1957).</p>
<p><em>Groove cast</em> umumnya muncul berkelompok. Lebih dari satu himpunan <em>groove cast</em> biasanya terlihat pada bidang yang sama, dimana himpunan kedua memotong himpunan pertama dengan sudut pemotongan yang lancip. Sebagian himpunan <em>groove cast</em> biasanya terhapuskan oleh himpunan <em>groove cast</em> kedua. Dalam satu himpunan <em>groove cast</em>, hanya akan ada sedikit bahkan mungkin tidak ada deviasi azimuth. <em>Groove cast</em> jarang muncul secara bersama-sama dengan <em>flute cast</em>; kedua struktur itu agaknya bersifat ekslusif satu terhadap yang lain. Individu-individu <em>groove cast</em> memperlihatkan relief hanya sekitar 1 atau 2 mm, sangat lurus, dan dalam kebanyakan singkapan tidak memperlihatkan titik awal maupun titik akhir. Karena itu, kita jarang menemukan “alat” yang bertanggungjawab terhadap pembentukan suatu <em>groove cast</em>.</p>
<p><em>Groove cast</em> hendaknya dibedakan dari struktur geseran <em>(slide mark; slide cast)</em> yang terbentuk akibat bergeraknya suatu benda berukuran besar atau suatu massa benda berukuran relatif besar, misalnya rakit serpih <em>(shale raft)</em>. Massa yang bergeser itu cenderung berputar baik pada arah vertikal maupun lateral sehingga jejak yang dihasilkannya melengkung dan mencermin-kan putaran itu. <em>Groove cast</em> tidak memperlihatkan sifat seperti itu; <em>groove</em> berasosiasi dengan <em>tool mark</em> lain seperti <em>prod cast</em> dan <em>skip cast</em>. Sebagaimana <em>flute cast</em>, <em>groove cast</em> paling sering ditemukan dalam bidang perlapisan bawah turbidit. <em>Groove cast</em> mungkin merupakan tipe struktur bidang perlapisan bawah yang paling sering ditemukan dalam fasies flysch.</p>
<p>Asal-usul <em>groove cast</em> telah menjadi teka-teki selama beberapa lama. <em>Groove cast</em> merupakan struktur yang dihasilkan oleh arus. Orientasi <em>groove cast</em> berkorelasi sangat baik dengan arah arus sebagaimana yang diindikasikan oleh struktur lain. Selain itu, bukti bahwa <em>groove cast</em> merupakan suatu <em>tool mark</em> terbukti dari fakta yang sangat jarang ditemukan, yaitu adanya partikel pasir atau fragmen rangka binatang pada ujung hilir dari <em>groove cast</em>. Walau demikian, detil-detil dinamika pembentukan <em>groove cast</em> masih belum jelas. Sebagian besar benda yang diangkut oleh arus bergerak dengan cara menggelundung atau melonjak-lonjak, sebagaimana yang diindikasikan oleh berbagai tipe jejak tumbukan. Pembentukan <em>groove cast</em>, di lain pihak, memerlukan adanya kontak menerus antara “alat” dengan dasar, bahkan memerlukan adanya tekanan. Selain itu, sebagaimana diindikasikan oleh <em>groove</em> berornamen, “alat” itu tidak melakukan pergerakan rotasional. <em>Eddy</em> menghasilkan <em>flute</em>, bukan <em>groove</em>. Dengan demikian, mekanisme pembentukan <em>groove</em> belum dipahami sepenuhnya.</p>
<p>Adanya himpunan-himpunan <em>groove cast</em> yang saling memotong juga merupakan sebuah masalah tersendiri. <em>Groove</em> diasumsikan terbentuk oleh arus turbid yang bergerak sebagai aliran pekat menuju bagian bawah lereng. Namun, jika suatu himpunan <em>groove</em> merekam pergerakan ke bagian bawah lereng, maka himpunan yang lain tidak akan merekam pergerakan ke arah bagian bawah lereng [karena arah kemiringan hanya satu; tidak mungkin bermacam-macam—pent.] Apakah himpunan-himpunan itu terbentuk oleh arus yang sama atau oleh arus yang berbeda-beda?</p>
<p>Karena sering ditemukan, <em>groove</em> merupakan salah satu indikator arus purba yang sangat bermanfaat. Walau demikian, <em>groove</em> hendaknya digunakan bersama-sama dengan struktur lain; <em>groove</em> hanya memberikan informasi mengenai azimuth, namun tidak memberikan informasi mengenai arah aliran.</p>
<p>Selain <em>groove</em>, ada pula kategori <em>tool mark</em> yang lain. Sebagian <em>tool mark</em> itu terbentuk oleh benda yang menumbuk dasar secara tidak menerus; <em>tool mark</em> lain menggelundung di dasar dan meninggalkan jejak yang khas. <em>Tool mark</em> yang terbentuk oleh tumbukan benda secara tidak menerus mencakup <em>bounce cast</em>, <em>brush cast</em>, dan <em>prod cast</em>. <em>Bounce cast</em>—yang disebut juga <em>skip cast</em>—merekam pergerakan saltasi suatu benda. Struktur itu tampak sebagai tonjolan-tonjolan kecil yang masing-masing dipisahkan oleh suatu jarak yang relatif teratur. <em>Brush mark</em> atau <em>brush cast</em> adalah istilah yang digunakan untuk menamakan struktur yang mirip dengan <em>bounce cast</em>, namun jarak antar tonjolannya tidak beraturan. <em>Brush cast</em> juga dicirikan oleh sedikit tonjolan material yang terangkat pada sisi hilir. <em>Prod cast</em> dicirikan oleh penetrasi dasar lumpur oleh suatu benda. Setelah menumbuk, benda itu berputar ke hilir. Karena itu, <em>prod cast</em> akan tampak sebagai suatu <em>groove cast</em> yang sangat pendek dengan ujung hilir yang lebih jelas dan berakhir secara tiba-tiba.</p>
<p><em>Roll mark</em> merekam benda yang menggelundung. <em>Roll mark</em> yang sering ditemukan pada paket flysch adalah <em>roll mark</em> yang dihasilkan oleh rangka berulir planar yang agaknya berputar seperti roda dan, sebagaimana kembang pada ban mobil, menghasilkan jejak yang sangat khas (Seilacher, 1963).</p>
<p>4.4.1.2  <em><span style="text-decoration:underline;">Cast</span></em><span style="text-decoration:underline;"> dari Lekang Kerut</span></p>
<p>Tipe struktur bidang perlapisan bawah lain, yang tidak berkaitan dengan aksi arus, adalah <em>cast</em> lekang kerut <em>(mud crack cast)</em>. Lekang kerut berkembang dalam material kohesif, misalnya lumpur, akibat pengeringan dan pengerutan. Proses itu meng-hasilkan sistem retakan poligonal; retakan paling lebar terletak di permukaan dan ukuran retakan itu makin berkurang ke arah dalam sehingga apabila dilihat pada penampang melintang, retakan itu tampak membaji. Jika permukaan lumpur yang telah terlekang-kerutkan kemudian tertutup secara tiba-tiba dan terkubur di bawah pasir, maka pasir itu akan mengisi retakan-retakan yang ada dan akhirnya akan bersatu dengan lapisan pasir yang terletak di atas lumpur itu selama berlangsungnya litifikasi. Ketika paket serpih-batupasir itu kemudian terlapukkan, maka serpih yang ada di bawah lapisan batupasir itu akan tererosi dan jejak yang ditinggalkannya adalah suatu sistem tonjolan berbentuk poligonal pada bidang perlapisan bawah batupasir. Tonjolan-tonjolan itu memiliki puncak yang tajam. Sistem tonjolan itulah yang disebut <em>cast</em> lekang kerut.</p>
<p>4.4.1.3  <span style="text-decoration:underline;">Struktur Beban</span></p>
<p>Deformasi sedimen lunak <em>(soft-sediment deformation)</em> menghasilkan struktur yang beragam dan sebagian diantaranya berukuran relatif besar. Sebagian diantara struktur itu merupakan struktur bidang perlapisan bawah yang terbentuk akibat pembebanan tidak merata atau akibat stratifikasi densitas yang tidak stabil. Struktur yang dinamakan struktur beban (<em>load cast</em> atau, lebih tepat lagi, <em>load pocket</em>) itu akan dibahas pada bagian ini karena berasosiasi erat dengan strutkur bidang perlapisan bawah lain. Sebagian besar perlapisan deformasi, serta struktur yang dihasilkannya, akan dibahas pada sub bab 4.3.</p>
<p>Struktur beban adalah tonjolan yang bentuknya agak tidak beraturan dan ditemukan pada bidang perlapisan bawah batu-pasir yang terletak di atas lapisan serpih. Dilihat dari ukuran dan reliefnya, struktur beban mirip dengan <em>flute cast</em>. Walau demikian, struktur beban lebih tidak beraturan, tidak memperlihatkan kesetangkupan, dan tidak memperllihatkan orientasi sebagaimana <em>flute cast</em>. Struktur beban bukan merupakan “<em>cast</em>” karena tonjolan pasir ke bawah itu bukan merupakan produk pengisian suatu kerukan, melainkan akibat deformasi laminasi-laminasi pada tubuh lumpur yang terletak dibawahnya. Agaknya struktur ini merupakan produk pembebanan yang tidak merata terhadap lumpur hidroplastis yang terletak di bawah lapisan pasir, dimana struktur itu sendiri merupakan perwujudan <em>vertical readjustment</em>, dimana pasir melesak ke dalam sebagai tanggapan pergerakan lumpur ke atas. Pada kasus ekstrim, struktur ini mirip dengan karung yang digantung, dimana massa pasir yang melesak dihubungkan dengan lapisan pasir oleh suatu “tali gantungan” yang berupa kolom pasir berukuran kecil. Bahkan, pada kasus lain, kantung-kantung pasir menjadi terlepas dari lapisan induknya dan kemudian tenggelam ke dalam massa lumpur yang ada dibawahnya. Massa pasir seperti itu disebut <em>load pouche</em> dan, jika lepas, disebut <em>load ball</em>.</p>
<p>Proses pembentukan struktur beban kadang-kadang diawali oleh pembebanan tidak merata yang tidak berkaitan dengan proses sedimentasi. Jika sifat-sifat lumpur yang terletak dibawahnya sesuai, <em>flute</em> dan <em>groove</em> yang terbentuk di permukaan lumpur itu dapat tenggelam dan menghasilkan jejak-jejak yang dapat dianggap sebagai struktur beban. Bahkan, gelembur terisolasi <em>(“starved” ripple; isolated ripple)</em> dapat berperan sebagai beban yang tidak merata dan, di bawah kondisi yang sesuai, akan melesak ke dalam lapisan lumpur yang terletak dibawahnya (Dzulynski, 1962). Pada kasus yang disebut terakhir ini, ada pola yang teratur dan kita masih akan dapat melihat struktur internal yang semula merupakan bagian dari gelembur itu.</p>
<p>Struktur beban dapat terbentuk dalam setiap lingkungan dimana pasir diendapkan di atas lumpur hidroplastis yang dijenuhi air. Struktur beban sering ditemukan dalam paket turbidit. Meskipun demikian, dalam paket turbidit sekalipun, hanya sebagian saja yang memperlihatkan struktur beban. Ketika suatu massa turbid mengalir tidak lama setelah arus turbid sebelumnya berhenti, maka lumpur yang terletak dibawahnya tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengeluarkan semua air yang ada didalamnya. Karena itu, efek-efek pembebanan akan terlihat jelas. Jika rentang waktu yang memisahkan beberapa aliran relatif panjang, maka kompaksi alami akan memperkecil kemungkinan terbentuknya struktur beban.</p>
<p><strong>4.4.2  Struktur Bidang Perlapisan Atas</strong></p>
<p>Struktur bidang pelapisan atas <em>(surface marks)</em> mencakup berbagai tipe <em>rill mark</em>, struktur arus <em>(current mark)</em>, dan struktur lain. Sebagian besar struktur itu terbentuk pada bidang perlapisan atas dari pasir. Struktur itu sendiri dapat muncul sebagai struktur normal yang terletak pada bidang perlapisan atas suatu batuan, atau sebagai struktur “negatif” atau sebagai “<em>cast</em>” yang terletak pada bidang perlapisan bawah endapan lain yang terletak di atas pasir. Gelembur, yang merupakan salah satu tipe struktur bidang perlapisan atas yang paling sering ditemukan, telah dibahas di atas. Struktur biogenik yang terletak pada bidang perlapisan atas akan dibahas pada sub bab 4.6. Lekang kerut juga akan dibahas pada bagian ini, meskipun cara pembahasan seperti itu mungkin agak kurang logis.</p>
<p>4.4.2.1  <em><span style="text-decoration:underline;">Parting lineation</span></em></p>
<p>Suatu jenis struktur yang sering ditemukan, namun kurang dikenal, adalah suatu struktur yang halus namun jelas terlihat pada bidang perlapisan beberapa batupasir yang berlapis tipis. Struktur itu terutama sangat jelas terlihat pada batupasir yang menjadi sumber <em>flagstone</em>. Struktur itu dinamakan <em>primary current lineation</em> oleh Stokes (1947). Cloos (1938) menyatakan bahwa struktur itu sejajar dengan arah arus pengendap. Karena paling jelas terlihat pada bidang-bidang yang menyuban, maka struktur itu kemudian dinamakan <em>parting lineation</em> oleh Crowell (1955).</p>
<p>Struktur itu terlihat sebagai sederetan lekukan dan tonjolan halus dengan relief yang sangat rendah serta terletak pada bidang perlapisan-penyubanan. Pada kasus lain, <em>parting lineation</em> kurang sempurna dan agak tidak beraturan, dimana sisa-sisa laminasi yang seperti plaster menempel pada bidang penyubanan. Istilah <em>parting-step lineation</em> digunakan oleh McBride &amp; Yeakel (1963) untuk menamakan struktur pada kasus seperti itu untuk membedakannya dengan <em>parting-plane lineation</em> yang terlihat pada bidang yang lebih mulus. Kedua ahli itu menunjukkan bahwa arah rata-rata yang diperlihatkan oleh sumbu panjang partikel sejajar dengan arah lineasi. Stokes (1953) mengasumsikan bahwa struktur itu mengindikasikan “pembentukan dalam lingkungan sungai atau paling tidak pada aliran dangkal.” Sebenarnya, <em>parting lineation</em> juga dapat ditemukan dalam batupasir turbidit yang diendapkan di wilayah perairan-dalam.</p>
<p>4.4.2.2  <em><span style="text-decoration:underline;">Rill mark</span></em><span style="text-decoration:underline;">, <em>Swash Mark</em>, dan Struktur Lain yang Berasosiasi Dengannya</span></p>
<p>Permukaan pasir dapat memperlihatkan berbagai macam jejak kerja arus, namun banyak diantara jejak itu jarang terawetkan.  <em>Rill mark</em> adalah lekukan-lekukan kecil yang bercabang-cabang ke arah hulu dengan pola dendritik. Struktur itu umumnya ditemukan dalam <em>swash zone</em> pada gisik, meskipun dapat ditemukan pula pada gosong pasir dan <em>sandflat</em>. Struktur itu agaknya terbentuk oleh aliran air yang relatif tipis. <em>Swash mark</em> adalah garis-garis tipis, bergelombang, serta terbentuk pada gisik di dekat limit atas dari <em>swash</em> gelombang (Shrock, 1948).    “Gelembur” rhomboid <em>(rhomboid “ripple” mark)</em> adalah relief rendah dengan pola seperti jaring (Hoyt &amp; Henry, 1963; Otvos, 1965) dan agaknya merupakan produk <em>backwash</em> pada gisik. Secara umum, <em>rill mark</em>, <em>swash mark</em>, dan “gelembur” rhomboid sangat jarang terawetkan dalam sedimen purba.</p>
<p>4.4.2.3  <em><span style="text-decoration:underline;">Rail Pit</span></em><span style="text-decoration:underline;">, <em>Hail Pit</em>, dan <em>Spray Pit</em></span></p>
<p>Jejak hujan <em>(rain impression; rain print)</em>, jejak tetesan air <em>(drip impression)</em>, dan jejak percikan air <em>(spray impression)</em> adalah lekukan kecil berbentuk lingkaran atau elips yang terbentuk dalam lumpur basah oleh hujan, tetesan air, dan percikan air. Jejak hujan pernah ditemukan dalam endapan purba, umumnya sebagai <em>cast</em> pada bidang perlapisan bawah batupasir dan batulanau. Sebagaimana lekang kerut, jejak hujan, jejak tetesan air, dan jejak percikan air mengindikasikan penyingkapan di permukaan dan kemudian besar akan terawetkan dalam endapan terestrial. Jejak gelembung gas <em>(bubble impression)</em> mirip, dan oleh karena itu, dapat tertukar dengan jejak hujan.</p>
<p>4.4.2.4  <span style="text-decoration:underline;">Lekang Kerut</span></p>
<p>Sebagian bidang perlapisan ditandai oleh retakan-retakan poligonal yang kemudian terisi oleh pasir atau lanau. Batuan yang menjadi tempat pembentukan retakan itu semula berupa lumpur dan sistem retakan itu sendiri berkembang akibat pengerutan. Pengerutan lumpur itu sendiri pada umumnya terjadi akibat lepasnya air yang semula ada dalam lumpur akibat pengeringan. Dengan demikian, pembentukan lekang kerut mengimplikasikan penyingkapan di permukaan. Karena itu, retakan-retakan tersebut dinamakan retakan pengeringan <em>(desiccation crack)</em> atau <em>sun crack</em>. Tidak semua sedimen yang mengalami pengerutan merupakan sedimen argilit. Lekang kerut juga dapat ditemukan dalam batugamping mikrit <em>(micritic limestone)</em> dan mungkin dapat terisi oleh lanau gamping, bahkan oleh lanau dan pasir dolomit. Lekang kerut yang terbentuk pada lumpur argilit kemungkinan besar akan terlihat sebagai <em>cast</em> pada bidang perlapisan bawah batupasir yang menindihnya; lekang kerut dalam lumpur gamping kemungkinan besar akan terawetkan sebagai struktur bidang perlapisan atas.</p>
<p>Ukuran poligon, lebar retakan, dan kedalaman retakan sangat bervariasi. Poligon retakan itu dapat memiliki lebar mulai dari beberapa milimeter hingga lebih dari 30 cm, sedangkan lebar retakan berkisar mulai dari 1 mm hingga sekitar 5 cm. Kedalaman retakan itu sendiri dapat berkisar mulai dari sekitar 1 cm hingga beberapa puluh centimeter. Pola jaringan retakan (apakah membentuk pola yang “kasar” atau “halus”) mungkin berkaitan dengan ketebalan lapisan yang mengalami pengeringan.</p>
<p>Retakan itu biasanya membaji ke bawah dan umumnya diisi oleh pasir atau material lain yang relatif kasar. Jika lapisan yang mengalami pengeringan relatif tipis (beberapa milimeter), retakan itu mungkin dapat menembus lapisan lain yang terletak di bawah lapisan itu. Dengan demikian, pada kasus itu, poligon-poligon lekang kerut dapat terlepas, sedikit terpindahkan, terotasi, bahkan terbalik dan kemudian terangkat oleh aliran yang mengendapkan pasir yang terletak di atas lapisan lumpur itu untuk akhirnya diendapkan bersama-sama dengan lapisan pasir tersebut. Hal itulah yang kemudian menyebabkan terbentuknya <em>shale-pebble conglomerate</em> dengan matriks berupa pasir.</p>
<p>Pada banyak kasus, menampang melintang pasir yang menjadi material pengisi retakan memperlihatkan bahwa baji-baji pasir itu terdeformasi sedemikian rupa sehingga terkontorsi. Sisi atas dari baji-baji pasir itu bahkan tampak menembus lapisan lain yang terletak diatasnya. Kontorsi itu terbentuk ketika material pengisi yang tidak dapat terkompaksi mencoba untuk mengakomodasi dirinya sendiri terhadap kompaksi dan pengurangan ketebalan material dimana baji material pengisi itu berada. Kontorsi itu dapat digunakan untuk melakukan taksiran kuantatif terhadap kompaksi (Shelton, 1962).</p>
<p>Karena terbentuk akibat pengeringan, lekang kerut tidak dapat terbentuk pada pasir murni. Pasir murni tidak mengalami pengurangan volume ketika mengering. Lekang kerut tidak dapat terawetkan; apa yang dapat terawetkan adalah material pengisinya. Karena itu, apa yang sebenarnya terawetkan adalah <em>cast</em> dari lekang kerut. Batuan lempungan yang terlekang-kerutkan biasanya hancur dan hilang, namun keseluruhan sistem retakan dapat terawetkan dalam batupasir yang terletak diatasnya sebagai tonjolan-tonjolan berpuncak lurus yang membentuk suatu sistem jaringan berpola poligonal. Dengan demikian, <em>cast</em> dari lekang kerut itu akan ditemukan pada bidang perlapisan bawah dari batupasir.</p>
<p>Sistem retakan poligonal dinisbahkan pada pengeringan sejalan dengan hilangnya air dari massa lumpur. Secara umum, hal itu mengimplikasikan penyingkapan di permukaan. Walau demikian, sebagian sistem retakan dinisbahkan pada dehidrasi spontan material yang mirip dengan gel. Hal itu dapat terjadi pada lingkungan akuatis. Proses itulah yang digunakan untuk menjelaskan sistem retakan dalam septaria dan nodul rijang (Taliaferro, 1934). Sistem retakan seperti itu disebut <em>synaeresis crack</em>. <em>Synaeresis</em> digunakan untuk menjelaskan retakan-retakan dalam batulumpur tertentu, khususnya batulumpur dengan komposisi yang luar biasa, misalnya batulumpur dolomit <em>(dolomitic mudstone)</em>. Secara umum, retakan seperti itu diyakini merupakan gejala khas yang hanya dapat terbentuk pada material yang bentuknya mirip dengan gel (White, 1961; Burst, 1965). Kriteria untuk membedakan lekang kerut biasa dengan <em>synaeresis crack</em> tidak terlalu jelas. Walau demikian, jelas bahwa sistem retakan radial dalam benda noduler memiliki asal-usul yang jauh berbeda dengan jaringan poligonal yang terisi oleh pasir sebagaimana yang dapat ditemukan dalam batulumpur biasa.</p>
<p>Lingkungan yang paling sesuai untuk pembentukan lekang kerut adalah zona interpasut <em>(intertidal zone)</em>, danau playa efemeral, dan <em>mud flat</em> di dataran limpah banjir. Barrell (1906) berkeyakinan bahwa kemungkinan terawetkannya lekang kerut yang terbentuk pada <em>tidal flat</em> relatif rendah dan, oleh karena itu, “… lekang kerut mengimplikasikan indikasi satu-satunya dan yang paling meyakinkan asal-usul terestrial untuk sedimen argilit.”</p>
<p><strong>4.5  PERLAPISAN DEFORMASI DAN PERLAPISAN TERGANGGU</strong></p>
<p>Perpindahan massa batuan yang dipicu oleh gaya gravitasi dapat terjadi selama berlangsungnya sedimentasi atau tidak lama setelah sedimentasi berakhir. Deformasi itu mengubah atau menyebabkan terdeformasinya struktur pengendapan. Perlapisan secara khusus dapat terganggu, bahkan terhancurkan akibat proses-proses tersebut. Banyak efek deformasi itu menyebabkan ketidakstabilan yang, pada gilirannya, memicu terjadinya pergerakan di bawah pengaruh gaya gravitasi. Ada tiga situasi yang mungkin muncul. Pada situasi pertama, pergerakan pada dasarnya vertikal, dimana terjadi perpindahan material dengan pola yang mirip dengan konveksi. Proses itu diawali dengan adanya stratifikasi densitas yang tidak stabil dari material penyusun batuan, misalnya saja, akibat diendapkannya lapisan pasir di atas lapisan lumpur atau lanau yang jenuh air. Jika material yang terletak di bawah itu kemudian mengalami transformasi tiksotrofi <em>(thixotrophic transformation)</em>, yang disertai penghilangan kekuatan material itu, maka akan terbentuk sederetan sel konveksi yang pada gilirannya menyebabkan terjadinya pergerakan pasir ke arah bawah dan pergerakan lanau atau lempung ke atas (Artyushkov, 1960a, 1960b; Anketell dkk, 1970). Perlu diketahui bahwa pergerakan lanau atau lempung ke atas itu merupakan bentuk reaksi terhadap pergerakan pasir ke arah bawah. Pergerakan-pergerakan vertikal tersebut dapat terjadi dengan lambat, namun dapat pula cepat dan katastrofis.</p>
<p>Pada situasi lain, lereng pengendapan yang sangat curam dapat menjadi tidak stabil. Pergerakan yang dihasilkan oleh curamnya lereng pengendapan sebagian besar memiliki komponen lateral yang besar dan, oleh karena itu, menghasilkan pergerakan material pada arah yang hampir horizontal. Perpindahan seperti itu, apabila berlangsung lambat, disebut rayapan <em>(creep)</em>. Apabila cepat, pergerakan itu dinamakan longsor <em>(slide)</em> atau nendat <em>(slump)</em>. Proses perpindahan lateral itu sendiri dapat terjadi baik pada lingkungan terestrial maupun lingkungan akuatis.</p>
<p><strong>4.5.1  Struktur Beban dan Struktur Bantal-Guling</strong></p>
<p>Peneraan vertikal berskala kecil dapat menyebabkan terbentuknya struktur beban <em>(</em><em>load cast)</em> yang telah dijelaskan di atas. Pada kasus ekstrim, dapat terbentuk <em>load pouche</em> atau <em>load ball</em>. Lidah-lidah serpih yang menembus pasir yang terletak diatas-nya menyebabkan terbentuknya struktur lidah api <em>(flame struktur)</em>. Pada beberapa kasus, “lidah” serpih itu memperlihatkan pem-balikan ke satu arah, bahkan memperlihatkan pola putaran, seolah-olah terbentuk akibat <em>lateral stress</em>.</p>
<p>Sebagian batupasir, sebagaimana juga sebagian aliran lava di bawah kolom air, memperlihatkan struktur bantal <em>(pillow structure)</em>. Dengan adanya struktur itu, pasir tampak sebagai paket-paket yang jumlahnya banyak, terpisah-pisah, dan berbentuk seperti bantal dan guling. Benda seperti itu dapat disebut “nodul semu” <em>(“pseudonodule”)</em> (Macar, 1948) dan “bantal lutut” <em>(“hassock”)</em>. Benda itu juga disebut <em>“flow roll”</em> (Sorauf, 1965). Struktur bantal-guling bukan merupakan struktur pengendapan, melainkan struktur deformasi yang terbentuk sebelum lapisan diatasnya diendapkan. Meskipun biasanya ditemukan dalam batupasir tertentu, namun struktur bantal-guling juga ditemukan dalam batugamping tertentu (yakni batugamping yang sebenar-nya merupakan pasir ketika diendapkan).</p>
<p>Struktur bantal-guling biasanya hanya mempengaruhi bagian bawah dari lapisan batuan. Individu-individu bantal dan guling memiliki diameter mulai dari beberapa centimeter hingga lebih dari 1 meter. Benda itu umumnya berbentuk bulat panjang atau elipsoid. Kadang-kadang benda itu berbentuk seperti ginjal, bahkan seperti jamur terbalik. Struktur yang bentuknya mirip dengan mangkok atau struktur cekungan <em>(basinal structure)</em> cembung ke bawah dan dalam banyak kasus sedikit miring, namun tidak rebah. Laminasi yang ada dalam bantal dan guling itu terdeformasi dan lebih kurang sejajar dengan setengah bagian bawah bantal atau guling itu. Bantal dan guling itu sebagian atau seluruhnya terpisahkan dari bantal dan guling lain. Pada bantal dan guling yang benar-benar terpisah dari yang lain, bantal dan guling itu dikelilingi oleh serpih atau lanau yang berasal dari lapisan lain yang berdampingan dengannya.</p>
<p>Bantal dan guling itu jelas bukan konkresi, bukan pula produk pelapukan mengulit bawang <em>(spheroidal weathering)</em>. Struktur itu juga bukan merupakan produk nendatan sebagaimana dikemukakan oleh beberapa ahli. Simetri dan orientasi bantal dan guling itu mengimplikasikan terjadi pergerakan vertikal (dalam hal ini pergerakan ke bawah), bukan pergerakan lateral. Kantung pasir yang berbentuk seperti cawan atau ginjal dapat terbentuk akibat tenggelamnya massa pasir ke dalam substrat yang relatif cair seperti yang ditunjukkan melalui percobaan yang dilaksanakan oleh Kuenen (1958). Penelitian lapangan akhir-akhir ini terhadap struktur bantal-guling dalam batuan Devon di New York (Sorauf, 1965) dan tempat lain (Howard &amp; Lohrengel, 1969) mendukung konsep yang menyatakan bahwa struktur bantal-guling terbentuk akibat melesaknya massa pasir ke dalam substrat lumpur; bukan akibat nendatan. Proses itu mungkin berlangsung secara tiba-tiba atau katastrofis.</p>
<p><strong>4.5.2  <em>Synsedimentary Fold</em> dan <em>Synsedimentary Breccia</em></strong></p>
<p>Sebagaimana telah dikemukakan di atas, sedimen juga dapat dikenai oleh pergerakan-pergerakan yang dipicu oleh gaya gravitasi yang memiliki komponen lateral yang besar. Disini kita hanya akan menujukan perhatian pada deformasi yang terjadi sewaktu sedimen masih berada dalam lingkungan pengendapannya. Dengan demikian, kita tidak akan membahas tentang deformasi tektonik dan deformasi lain yang berlangsung setelah itu. Nendat atau longsor itu menghasilkan lipatan, sesar, dan breksi dalam material yang dikenai oleh gaya. Karena struktur seperti itu juga dapat dihasilkan oleh deformasi tektonik, dan mungkin juga oleh <em>synsedimentary processes</em> lain, kita perlu membahas tentang kriteria yang dapat digunakan untuk membeda-kan deformasi “sedimen lunak” <em>(“soft-sediment” deformation)</em> dari deformasi tektonik. Pembedaan itu pada umumnya tidak sukar untuk dilakukan, namun ada beberapa situasi yang menyebabkan proses pembedaan itu sukar untuk dilaksanakan (Miller, 1922). Struktur yang terbentuk sebelum sedimen terkonsolidasi biasanya hanya terbatas pada lapisan tertentu, bahkan dalam kasus tertentu hanya berlangsung secara terbatas pada lapisan yang tebalnya 1 atau 2 cm. Berbeda dengan lipatan seret <em>(drag fold)</em>, struktur itu tidak memiliki kaitan apapun dengan struktur lain yang ukurannya lebih besar atau dengan pola tektonik dimana batuan itu berada. Hal lain yang menjadi pembeda adalah tidak adanya material pengisi urat, baik pada sesar mikro <em>(microfault)</em> maupun pada ruang diantara partikel-partikel breksi. Pada kebanyakan kasus, lipatan yang terbentuk berskala kecil dan umum-nya terpancung atau berakhir pada bidang perlapisan. Hal itu mengindikasikan bahwa lipatan itu pernah terbentuk, namun kemudian tererosi sebelum diendapkannya lapisan yang menindihnya. Semua struktur yang terbentuk sebelum batuannya terkonsolidasi diasumsikan terbentuk oleh komponen gaya gravitasi yang mengarah ke bawah lereng. Jika memang demikian halnya, maka struktur itu menjadi kriterion untuk menentukan arah lereng dan, oleh karena itu, harus diamati dan dipetakan dengan hati-hati. Kebenaan paleogeografi dari struktur-struktur itu telah dipaparkan oleh Kuenen (1952), Murphy &amp; Schlanger (1962), Marschalko (1963), Scott (1966), serta Hubert (1966).</p>
<p>Ada beberapa cara lain yang menyebabkan terbentuknya perlapisan deformasi. Sebagian lipatan sedimen lunak dinisbah-kan pada kandasnya gunung es, terdorongnya pesisir massa es, dsb. Meskipun deformasi sedimen lunak sering ditemukan dalam endapan <em>glaciolacustrine</em>, namun struktur seperti itu juga muncul dalam endapan dimana aksi es sangat tidak mungkin terjadi. Gaya gravitasi sering menghasilkan struktur sedimen lunak.</p>
<p>Perlipatan sedimen lunak sering terjadi pada banyak sedimen. Struktur itu banyak ditemukan dalam paket pasir-serpih yang berlapis tipis. Lipatan nendat <em>(slump fold)</em> dan breksi nendat <em>(slump breccia)</em>, di lain pihak, sering ditemukan dalam paket batugamping, terutama yang ada di sekitar terumbu.</p>
<p>Sebagaimana dikemukakan oleh Rich (1950), ada beberapa tipe <em>synsedimentary fold</em>. Salah satu varietas lipatan itu hanya berkembang secara terbatas pada satu lapisan batupasir atau satu lapisan batulanau yang tipis, baik batupasir dan batulanau silikaan maupun batupasir dan batulanau gampingan. Dalam lipatan seperti itu, stratum itu sendiri tidak terlibat; hanya laminasi internalnya saja yang terkontorsi. Struktur yang disebut perlapisan konvolut <em>(convolute bedding)</em> itu memiliki asal-usul yang belum dapat dipastikan, dan mungkin tidak disebabkan oleh nendatan. Hal ini akan dibahas pada bagian lain dari buku ini.</p>
<p>Berbeda dengan perlapisan konvolut, perlipatan nendat biasanya melibatkan lebih dari satu lapisan. Tipe perlipatan itu, yang telah dibahas dengan cukup mendalam oleh Hadding (1931), mempengaruhi banyak lapisan dan agaknya merupakan produk pengaliran massa batuan. Jika proses pengaliran berlangsung cukup lama, maka sebagian lapisan dapat terhancurkan, bahkan semua lapisan dapat terhancurkan sedemikian rupa sehingga akhirnya terbentuk konglomerat semu <em>(pseudoconglomerate)</em> dan breksi. Jika pergerakan terdistribusikan di seluruh bagian massa batuan, maka lapisan-lapisan tipis yang relatif kompeten akan terpecah-pecah menjadi fragmen tidak beraturan yang ukurannya bervariasi. Pada beberapa kasus, fragmen-fragmen itu hanya memperlihatkan sedikit pemisahan dan tidak memperlihatkan rotasi. Pada kasus lain, fragmen-fragmen itu terotasi dan terpilin sehingga bentuknya menjadi seperti kail. Fragmen-fragmen seperti itu dinamakan <em>slump overfold</em> oleh Crowell (1957). <em>Slump overfold</em> dan <em>spiral slump ball</em> itu, atau yang disebut sebagai “struktur bola salju” <em>(“snow ball structure”)</em> oleh Hadding (1931), dapat memberikan petunjuk mengenai arah longsoran. Hasilnya adalah tekstur khaotik yang, bersama-sama dengan kadar air yang tinggi, dapat memiliki mobilitas tinggi dan berevolusi menjadi aliran lumpur dan menyebabkan terbentuknya <em>“pebbly mudstone”</em> (Crowell, 1957) atau <em>tilloid</em>. Endapan itu akan dibahas lebih jauh pada Bab 8.</p>
<p>Pada kasus lain, nendatan menyebabkan terbentuknya perlipatan ketat <em>(tight folding)</em> pada lapisan yang terletak di atas suatu <em>detachment surface</em>. Pergerakan tipe <em>décollement</em> itu, di atas bidang perlapisan bawah, menghasilkan struktur yang mirip dengan <em>nappe</em>. Struktur yang disebut terakhir ini disertai dengan pelemahan, bahkan hiatus, pada <em>detachment area</em> di bagian hulu. Struktur itu sering ditemukan dalam lempung warwa dalam danau <em>proglacial</em> Plistosen (van Straaten, 1949; Fairbridge, 1947).</p>
<p>Endapan nendat dapat demikian tebal dan memiliki penyebaran yang luas. Ksiazkiewicz (1958) pernah menemukan endapan nendat yang tebalnya 55 m. Crowell pernah menemukan lapisan nendat <em>(slump bed)</em> berukuran besar dalam endapan Kapur di California. Sebagian <em>slump sheet</em> cukup tebal untuk dapat dipetakan (Jones, 1937) dan tersebar pada daerah yang luasnya beratus-ratus kilometer persegi. Sebagian besar endapan nendat yang ditemukan dalam rekaman geologi agaknya merupakan endapan bahari.</p>
<p>Nendatan dalam sedimen gampingan tidak jauh berbeda dengan nendatan dalam sedimen klastika. Struktur longsoran <em>(slide structure)</em>, yang bervariasi mulai dari kontorsi skala kecil hingga lipatan berskala besar dengan amplitudo 10–15 m serta breksi kasar dengan ketebalan 10–15 m dan menyebar pada wilayah yang luasnya beberapa ratus kilometer persegi, pernah ditemukan dalam batugamping Perm pada Guadalupe Reef complex di New Mexico (Newell dkk, 1953; Rigby, 1958). Breksi batugamping di Pegunungan Alpina berasosiasi dengan <em>graded limestone</em>, atau apa yang disebut sebagai batugamping alodapik <em>(allodapic limestone)</em> oleh Meischner (1964), dinisbahkan oleh Kuenen &amp; Carozzi (1953) pada nendatan dan longsoran pada <em>reef front</em>.</p>
<p><strong>4.5.3  Korok dan Retas Batupasir</strong></p>
<p>Di lapangan kita tidak jarang dapat menemukan korok kecil yang diisi oleh pasir, memotong bidang perlapisan, dengan panjang beberapa centimeter. Sebenarnya itu merupakan lekang kerut yang terisi oleh pasir. Korok itu kemudian bergabung dengan lapisan batupasir yang terletak diatasnya dan, setelah serpih yang terletak di bawah batupasir itu tererosi, tampak sebagai suatu sistem <em>cast</em> dari lekang kerut yang berbentuk poligonal. Itu merupakan struktur sedimen berskala kecil. Namun, jika korok itu memiliki ketebalan beberapa meter dan dapat ditelusuri keberadaannya hingga beberapa ratus meter atau bahkan beberapa ribu meter, “korok” itu sebenarnya merupakan tubuh batuan yang substansial. Korok batupasir, dan retas batupasir yang ber-asosiasi dengannya, akan dibahas panjang lebar pada Bab 5.</p>
<p><strong>4.5.4  Perlapisan Konvolut</strong></p>
<p>Perlapisan konvolut <em>(convolute bedding)</em>, yang disebut juga laminasi konvolut <em>(convolute lamination)</em> atau <em>slip bedding</em>, merupakan struktur deformasi yang masih menjadi teka-teki. Rich (1950) menamakan struktur itu sebagai kontorsi intrastrata <em>(intra-stratal contortion)</em>. Penamaan seperti itu agaknya lebih sesuai untuk memaparkan fenomena tersebut. Perlapisan konvolut memang merupakan kontorsi intrastrata dan hanya melibatkan laminasi yang ada di bagian dalam suatu lapisan, namun tidak melibatkan bidang perlapisan.</p>
<p>Perlipatan konvolut <em>(convolute folding)</em> agaknya hanya ditemukan dalam lapisan lanau kasar dan pasir halus dengan ketebalan 2–25 cm. Dalam lapisan seperti itu, baik yang disusun oleh material gampingan maupun material silikaan, terdapat himpunan lipatan yang kompleks. Individu-individu laminasi dapat ditelusuri dari satu lipatan ke lipatan lain, meskipun banyak juga ditemukan ketidakselarasan kecil. Secara umum, sinklin cenderung lebar dan berbentuk-U, sedangkan antiklin yang terletak diantara dua sinklin ketat dan memperlihatkan kehadiran puncak lipatan. Lipatan konvolut cenderung menghilang ke atas dan ke bawah lapisan. Pada beberapa kasus, antiklin tampak terpancung oleh erosi.</p>
<p>Distorsi-distorsi tersebut di atas bukan merupakan lipatan biasa karena pola bidang perlapisan tidak memperlihatkan kesinambungan puncak lapisan. Struktur itu merupakan sederetan kubah dan cekungan yang tajam. Pola itu mengindikasikan suatu sistem pergerakan vertikal yang kompleks, bukan <em>displacement</em> lateral. Geometri struktur itu, bersama-sama dengan penyebarannya yang hanya terbatas pada suatu lapisan serta hanya terjadi pada material dengan ukuran tertentu (lanau kasar atau pasir halus), agaknya mengindikasikan bahwa struktur itu terbetnuk akibat <em>internal readjustment</em> material tersebut ketika masih berada dalam keadaan likat atau hampir likat.</p>
<p>Banyak teori diajukan untuk menjelaskan struktur itu (lihat Potter &amp; Pettijohn, 1963) dan agaknya tidak satupun teori itu memuaskan semua pihak. Perlapisan konvolut umumnya berasosiasi dengan lanau dan pasir yang mengandung gelembur, dimana <em>ripple bedding</em> itu sendiri tersungkupkan, bahkan mengalami pembalikan. Hal lain yang masih menjadi permasalahan adalah perbedaan antara perlapisan konvolut yang sebenarnya dengan struktur deformasi lain.</p>
<p><strong>4.6  STROMATOLIT DAN STRUKTUR BIOGENIK LAINNYA</strong></p>
<p><strong>4.6.1  Stromatolit</strong></p>
<p>Istilah stromatolit <em>(stromatolite)</em>, yang agaknya berasal dari Bahasa Jerman <em>Stromatolith</em> (digunakan pertama kali oleh Kalkowsky, 1908, h. 68), berarti struktur laminasi dalam sedimen berukuran pasir, lanau, dan lempung yang terbentuk akibat penjebakan dan pengikatan partikel detritus oleh algamat. Istilah stromatolit ganggang <em>(algal stromatolite)</em> mungkin lebih tepat. Secara umum, material partikuler yang diikat oleh ganggang itu merupakan material gampingan, meskipun dapat juga material lain (Davis, 1968). Struktur itu bervariasi, mulai dari laminasi datar, yang perlu diamati secara seksama untuk membedakannya dari laminasi biasa, hingga berbentuk tonjolan kecil dengan ukuran dan derajat kecembungan yang beragam, hingga struktur seperti kolom yang tidak jauh berbeda dengan tumpukan mangkok terbalik, hingga bentuk-bentuk yang memperlihatkan per-cabangan. Selain stromatolit, yang merupakan struktur yang tetap atau terikat, ada juga onkolit <em>(oncolite)</em> yang mobil dan dapat bergerak bebas. Onkolit adalah struktur berornamen yang dilihat sekilas mirip dengan konkresi.</p>
<p>Selain itu ada juga struktur yang memiliki bentuk eksternal dan ukuran yang sama dengan stromatolit setengah-bola <em>(hemispherical stromatolite)</em>, namun tidak memiliki laminasi internal. Struktur itu disebut trombolit <em>(thrombolite)</em>. Istilah yang disebut terakhir ini diusulkan karena struktur itu memiliki struktur internal yang mirip dengan kumpulan partikel (Aitken, 1967).</p>
<p>Tidak mungkin bagi kita untuk membahas semua lapangan stromatologi <em>(stromatology)</em>. Penjelasan yang mendalam tentang struktur ini dapat diperoleh dari karya Hofmann (1969). Setiap ahli sedimentologi hendaknya mengenal perlapisan stromatolit <em>(stromatolitic bedding)</em> dan berbagai bentuk stromatolit-semu yang dihasilkan oleh proses-proses anorganik.</p>
<p>Penggolongan dan tatanama stromatolit tumbuh dengan cepat dan menjadi demikian kompleks. Para peneliti di masa lalu menganggap struktur ini sebagai fosil dan menerapkan nama-nama generik dan spesifik untuk setiap struktur. Waktu itu diperkirakan bahwa stromatolit dihasilkan oleh sekresi organisme dan terbentuk oleh organisme tertentu. Pendapat itu ditentang oleh beberapa ahli dan kemudian muncul konsep baru yang menyatakan bahwa algamat yang bertanggungjawab terhadap pembentukan stromatolit mungkin merupakan suatu kompleks beberapa jenis ganggang biru dan hijau-biru yang bersel satu dan berfilamen. Bentuk dan ukuran suatu stromatolit tergantung pada faktor-faktor lingkungan, bukan pada faktor-faktor genetik. Dengan demikian, nama-nama generik tidak akan sahih digunakan untuk menamakan stromatolit karena nama-nama itu hanya merujuk pada berbagai bentuk yang diasumsikan merupakan akumulasi sedimen yang terjebak dan dipandang tidak berkaitan dengan organisme tertentu. Stromatolit bukan merupakan fosil ganggang. Fosil ganggang berbeda dengan stromatolit (Rezak, 1957) karena fosil ganggang memiliki struktur rangka yang dapat dikenal, misalnya dinding sel dan organ reproduksi, sedangkan stromatolit ganggang merupakan tekstur fragmental yang berlaminasi halus.</p>
<p>Ada beberapa ahli yang mencoba untuk menggolongkan dan menamakan berbagai bentuk pertumbuhan (Hofmann, 1969; Logan dkk, 1964; Maslov, 1953; Aitken, 1967). Stromatolit ganggang bervariasi mulai dari pisolit semu berukuran kecil hingga tonjolan berbentuk biskuit atau bunga kol yang berukruan relatif besar (gambar 4-14). Konkresi-semu yang dinisbahkan pada ganggang berkisar mulai dari benda berbentuk seperti bola dengan diameter 0,5–1,0 cm hingga onkolit yang ukurannya lebih besar, agak pipih, dan memiliki <em>outer coating</em> yang lebih tidak beraturan. Pertumbuhan biasanya tidak sama di setiap sisi, kecuali pada jenjang awal. Pertumbuhan lanjut paling efektif terjadi pada sisi atas dan jika karena suatu hal onkolit itu menggelinding, maka pertumbuhan baru mungkin akan terjadi pada sisi yang berlawanan dengan sisi pertumbuhan pertama. Sebagian pisolit merupakan pisolit komposit. Maksudnya, pisolit itu disusun oleh beberapa benda yang ukurannya lebih kecil dan tumbuh bersama-sama, kemudian terselimuti pada tahap pertumbuhan selanjutnya. Inti dari struktur itu mungkin merupakan zat asing. Pada beberapa kasus, inti itu merupakan sepotong zat ganggang.</p>
<p>Kerak ganggang <em>(algal crust)</em> biasanya mengandung laminasi sederhana dan umumnya merupakan kerak berkerut yang dapat berubah secara berangsur menjadi massa noduler. Kerak itu mungkin hampir datar, pada dasarnya sejajar dengan bidang perlapisan (stromatolit tipe “Weedia”); sedikit melengkung, dengan diameter beberapa centimeter dan tinggi sekitar 1 cm; atau berbentuk setengah bola hingga seperti bunga kol dengan nilai ketinggian yang sama atau lebih besar daripada nilai lebarnya. Beberapa stromatolit berbentuk setengah bola yang lebih besar, dengan diameter beberapa decimeter, dan dapat berubah bentuknya ke atas menjadi struktur seperti bunga kol. Pada kasus lain, kolom atau jari menyebar ke dalam dua atau lebih cabang yang mengarah ke atas.</p>
<p>Sebagian struktur ganggang memperlihatkan pertumbuhan asimetris. Kepala stromatolit tidak membundar, melainkan eliptis; pemanjangan terjadi pada arah yang sejajar dengan sistem arus (Hoffman, 1967). <em>Drapeover lamination</em> juga mencerminkan pertumbuhan asimetris dan tampak lebih tebal pada sisi yang mengarah ke hulu.</p>
<p>Sebagian struktur stromatolit yang kompleks memiliki ukuran yang besar. Individu-individu stromatolit mengolom mungkin tingginya beberapa meter atau lebih. Walau demikian, setiap kolom itu kemungkinan besar tidak memiliki relief lebih dari 1 meter ketika tumbuh. Ketinggian kolom-kolom itu diperoleh akibat pertumbuhan ke atas dari struktur selama berangsungnya sedimentasi. Bioherm ganggang yang berukuran besar, dengan ketebalan hingga sekitar 18 m dan lebar 60 m, pernah ditemukan dalam batugamping Prakambrium (Hoffman, 1969).</p>
<p>Hubungan antara satu kepala stromatolit dengan kepala stromatolit lain, serta dengan sedimen yang ada disekelilingnya, bervariasi. Pada beberapa kasus, laminasi internal dari satu stromatolit dapat ditelusuri hingga mencapai batuan samping dan tampaknya berhubungan dengan kolom stromatolit lain. Pada kasus lain, tidak ada hubungan antara kolom stromatolit dan material antar stromatolit itu merupakan pasir karbonat fragmental. Kepala stromatolit jarang bersifat soliter. Secara umum, kepala stromatolit relatif berdekatan satu sama lain dan bersatu dalam suatu batuan yang dicirikan oleh satu jenis stromatolit.</p>
<p>Istilah trombolit <em>(thrombolite)</em> diusulkan oleh Aitken (1967) untuk menamakan <em>cryptalgal structure</em> yang erat kaitannya dengan stromatolit, namun tidak memperlihatkan laminasi serta dicirikan oleh <em>clotted fabric</em> makroskopis. Dilihat dari bentuk luar dan ukurannya, trombolit mirip dengan stromatolit.</p>
<p>Stromatolit pada dasarnya merupakan perlapisan yang telah terubah—perlapisan yang terubah oleh aktivitas algamat. Di bawah kondisi yang beragam, algamat menghasilkan struktur yang juga beragam. Di bawah mikroskop, satu-satunya struktur yang dapat terlihat adalah laminasi yang sejajar dengan permukaan stromatolit. Laminasi itu umumnya tipis, dengan ketebalan sektiar 1 mm atau kurang, serta ditandai oleh konsentrasi material karbonat atau material rombakan lain. Bahkan partikel lanau kuarsa juga dapat terjebak dalam laminasi itu.</p>
<p>Stromatolit dan struktur lain yang berkaitan dengannya yang dapat ditemukan dalam batugamping Prakambrium hingga resen. Kenampakan yang paling baik, dengan kelimpahan yang jauh lebih tinggi, dapat ditemukan dalam batuan yang relatif tua, khususnya batuan Prakambrium dan Paleozoikum awal. Relatif jarang ditemukannya stromatolit dalam strata Fanerozoikum akhir dinisbahkan pada penghancuran algamat oleh binatang yang bergerak menyusur dasar, misalnya keong, serta peng-hancuran laminasi ganggang oleh organisme pembuat lubang (Garrett, 1970). Diasumsikan bahwa organisme seperti itu belum ada pada Prakambrium serta tidak ada pada waktu-waktu kemudian jika salinitas atau faktor-faktor lingkungan lain menghambat atau menghancurkan biota seperti itu.</p>
<p>Asal-usul stromatolit, sebagai produk aktivitas ganggang, baru dapat dimantapkan pada beberapa tahun belakangan. Black (1933), yang melakukan penelitian di Bahama, adalah orang pertama yang dapat meletakkan dasar-dasar pengetahuan bahwa stromatolit merupakan struktur sedimen organik. Penemuan stromatolit yang terlitifikasi pada masa sekarang di Shark Bay, Australia Barat, menghilangkan keraguan mengenai asal-usul stromatolit sebagai produk aktivitas ganggang (Logan, 1961). Penelitian-penelitian akhir-akhir ini terhadap stromatolit masa kini di Bermuda dan Bahama mampu memberikan detil-detil pengetahuan mengenai perkembangan algamat dan penjebakan sedimen (Gebelein, 1969). Pengamatan-pengamatan terhadap stromatolit, baik stromatolit masa kini maupun stromatolit purba, menunjukkan bahwa strukutr itu terbentuk pada wilayah perairan yang sangat dangkal. Karena kerut-merut yang terlihat pada laminasi ganggang dinisbahkanp ada pengeringan, maka wilayah perairan itu harus sangat dangkal. Karena itu, lingkungan tersebut mungkin berupa lingkungan interpasut <em>(intertidal)</em>. Ganggang tampaknya tidak terbatasi baik oleh salinitas maupun temperatur air. Asosiasi yang erat antara stromatolit dengan batugamping berlekang-kerut, <em>flat-pebble conglomerate</em>, dan oolit juga mengindikasikan lingkungan perairan yang sangat dangkal. Ketidaksetangkupan yang diperlihatkan oleh sebagian stromatolit menyebabkan struktur itu dapat berperan sebagai indikator arus purba yang sangat baik. Kecembungan stromatolit ke arah atas juga menjadi sebuah kriterion yang baik untuk menentukan posisi stratigrafi pada paket batuan vertikal atau paket batuan yang telah mengalami pembalikan.</p>
<p><strong>4.6.2  Struktur Biogenik Lain</strong></p>
<p>4.6.2.1  <span style="text-decoration:underline;">Tinjauan Umum</span></p>
<p>Setiap ahli sedimentologi hendaknya selalu waspada karena dia mungkin menemukan struktur sedimen yang terbentuk akibat aktivitas organisme, misalnya <em>track</em>, <em>trail</em>, dan lubang galian <em>(burrow)</em>. Struktur biogenik <em>(biogenic structures)</em> sering ditemukan dalam beberapa tipe sedimen. Struktur itu muncul pada bidang perlapisan, baik bidang perlapisan atas maupun bidang perlapisan bawah, serta dapat terlihat pada bidang yang tegak lurus terhadap bidang perlapisan.</p>
<p>Meskipun telah diketahui keberadaannya sejak lama, namun pemelajaran yang sistematis terhadap struktur biogenik masih relatif baru. Sebagaimana stromatolit, para peneliti di masa lalu menganggap struktur biogenik sebagai fosil dan kemudian memberikan nama-nama generik dan nama-nama khusus untuk struktur tersebut. Sebagian struktur biogenik bahkan telah keliru disalahtafsirkan sebagai fosil tumbuhan. Berbagai penelitian yang dilakukan akhir-akhir ini berhasil menyingkapkan khuluk yang sebenarnya dari struktur itu serta memperlihatkan bahwa struktur itu, baik geometri maupun ornamentasi mendetilnya, merupa-kan rekaman aktvitias organisme. Beberapa organisme dapat menghasilkan struktur yang sama, padahal organisme-organisme itu tidak memiliki kaitan biologi sama sekali. Pengetahuan yang kita miliki mengenai struktur biogenik banyak diperoleh dari hasil-hasil penelitian terhadap struktur biogenik masa kini sejalan dengan dilakukannya penelitian-penelitian terhadap lingkung-an sedimentasi masa kini. Penelitian-penelitian pionir penting yang berkaitan dengan struktur biogenik dilakukan oleh J. Walther pada suatu stasiun penelitian bahari di Teluk Naples serta oleh Rudolph Richter pada stasiun pengamatan Senckenberg-am-Meer di Laut Utara.</p>
<p>Dalam tulisan ini hanya akan disajikan sebuah ikhtisar yang sangat ringkas mengenai struktur biogenik. Penjelasan yang lebih mendetil mengenai iknofosil <em>(ichnofossil)</em> dapat diperoleh dari karya tulis Abel (1935), Krejci-Graf (1932), Lessertisseur (1955), Häntzschel (1962), Seilacher (1953, 1964a, 1964b), serta Crimes &amp; Harper (1970).</p>
<p>Struktur biogenik berbeda dari fosil tubuh <em>(body fossil)</em> karena tidak akan terombakkan dan terendapkan-ulang. Meskipun struktur biogenik merekam aktivitas tertentu dari suatu binatang, misalnya kebiasaan membuat lubang galian atau cara makan, namun fosil itu terutama sangat bermanfaat untuk menentukan lingkungan dimana organisme itu hidup. Kumpulan “fosil jejak” <em>(“trace fossil”)</em> terbukti merupakan indeks yang sangat baik dari fasies sedimen dan kedalaman (gambar 4-15).</p>
<p>Fosil jejak juga memberikan informasi tentang laju sedimentasi dan merupakan penunjuk kadar racun di dasar suatu wilayah perairan. Fosil jejak juga terbukti sangat membantu dalam menentukan posisi stratigrafi pada lapisan-lapisan yang miring curam atau lapisan-lapisan yang telah terbalik.</p>
<p>4.6.2.2  <span style="text-decoration:underline;">Penggolongan</span></p>
<p>Fosil jejak dapat digolongkan dengan beberapa cara. Seilacher (1964a), misalnya saja, mengenal adanya lima kelas fungsional dari fosil jejak berdasarkan tingkah laku organisme pembuatnya. Kelima kelas itu adalah:</p>
<ol>
<li>Jejak istirahat <em>(resting mark; Ruhrspuren; Cubichnia)</em>, yakni jejak dangkal yang dibuat oleh organisme mobil ketika ber-istirahat di dasar perairan.</li>
<li>Jejak rangkakan <em>(crawling trail; Kreichspuren; Repichnia)</em>, yakni jejak yang dibuat oleh organisme mobil ketika bergerak secara merangkak di atas massa sedimen.</li>
<li>Jejak perlindungan <em>(residence structure; shelter structure; Wohnbauten; Domichnia)</em>, yang pada dasarnya merupakan struktur permanen, biasanya berupa lubang galian yang dibuat oleh organisme mobil atau organisme yang hidupnya agak melekat pada sedimen. Lubang itu dibuat untuk melindungi organisme pembuatnya dari predator atau dari proses pengeruk-an sedimen.</li>
<li>Struktur pencarian makan <em>(feeding structure; Fressbauten; Fodinchnia)</em>, yakni lubang galian yang dibuat oleh organisme sesil pemakan sedimen. Struktur itu umumnya memiliki pola radial.</li>
<li>Jejak rayapan <em>(grazing trail; Weidespuren; Pasichnia)</em>, umumnya berupa jejak sinusoidal atau lubang galian organisme pemakan lumpur pada atau di bawah bidang batas sedimen-air.</li>
</ol>
<p>Seseorang juga dapat menggolongkan struktur biogenik berdasarkan hubungannya dengan bidang perlapisan, geometrinya, atau berdasarkan ornamentasi atau struktur internalnya. Sebagian struktur biogenik hanya terbatas pada bidang perlapisan. Hal itu terutama berlaku untuk <em>track</em> dan <em>trail</em>. Bentuk dan pola struktur itu bervariasi, mulai dari jejak istirahat berukuran kecil, yang dibuat oleh organisme yang dapat berenang secara bebas, hingga jejak kaki dinosaurus. Struktur itu juga mencakup lekukan-lekukan menerus dan berkelok-kelok yang dibuat oleh organisme yang merayap di atas sedimen. Banyak jejak istirahat mem-perlihatkan simetri bilateral. Banyak <em>trail</em> juga memperlihatkan sifat bilateral karena binatang yang menghasilkannya memiliki simetri bilateral. Sebagian struktur biogenik bersifat kompleks sebagai hasil pergerakan anggota badan dan ekor.</p>
<p>Jejak rayapan juga merupakan struktur bidang perlapisan yang dengan pola yang beragam. Sebagian diantaranya berupa jejak sinusoidal; sebagian memperlihatkan keteraturan yang mengagumkan; sebagian berbentuk spiral; sebagian memperlihat-kan sinusoitas yang sistematis dan teratur (gambar 4-15), dan sebagian lain memperlihatkan jaringan poligonal (<em>Paleodycton</em>). Secara umum, jejak rayapan hanya terbentuk pada permukaan lumpur dan, oleh karena itu, hanya terawetkan sebagai <em>cast</em> pada bidang perlapisan bawah batulanau atau batupasir halus.</p>
<p>Struktur biogenik lain lebih jelas terlihat pada bidang yang lebih kurang tegak lurus terhadap bidang perlapisan. Sebagian struktur itu berbentuk tabung sederhana, misalnya <em>Skolithus</em>, sedangkan sebagian lain memiliki pola yang lebih kompleks. Banyak diantaranya berupa tabung berbentuk U. Lubang galian dapat tunggal maupun bercabang. Material pengisi lubang galian umumnya memiliki tekstur yang berbeda dengan batuan setempat dan dalam beberapa kasus proses pengisian ber-langsung secara berangsur dan menerus, namun dapat pula tidak berkesinambungan. Lubang galian sudah barang tentu dapat mencapai bidang batas sedimen-fluida. Pada struktur pencarian makanan, jejak-jejak pada bidang perlapisan dapat bersambung dengan lubang galian, biasanya menyebar dari lubang itu. Karenanya, struktur tersebut memiliki komponen lateral maupun komponen vertikal.</p>
<p>Sebagian besar lubang galian juga dapat terletak horizontal pada bidang perlapisan, bahkan dalam tubuh lapisan. Sebagian lubang galian melebar ke dalam hingga jarak sekitar 20 cm atau lebih, dari permukaan. Sebagian lain merupakan lubang galian dangkal.</p>
<p>Lubang galian dapat dikenal pada bidang yang memotong bidang perlapisan oleh perbedaan tekstur material pengisinya serta oleh batuan sampingnya, terutama oleh penghancuran perlapisan yang ditembusnya. Jika lubang galian cukup melimpah, hanya jejak-jejak samar dari bidang perlapisan asli saja yang masih dapat terlihat (Moore &amp; Scrutton, 1957). Batuan itu mungkin “terjungkirbalikkan” atau “terbajak” oleh orgenisme. Bioturbasi <em>(bioturbation)</em> adalah istilah yang dipakai untuk menamakan aksi tersebut, sedangkan istilah bioturbit <em>(bioturbite)</em> digunakan untuk menamakan batuan yang dikenai oleh aksi itu (gambar 4-33).</p>
<p>4.6.2.3  <span style="text-decoration:underline;">Kebenaan Geologi</span></p>
<p>Struktur biogenik sangat bermanfaat untuk menentukan urut-urutan stratigrafi dalam paket batuan vertikal atau paket batuan yang telah mengalami pembalikan (Shrock, 1948). Banyak struktur biogenik terawetkan sebagai <em>cast</em> pada bidang perlapisan bawah batupasir.</p>
<p>Struktur biogenik juga dapat memberi petunjuk mengenai laju sedimentasi. Seilacher (1962) memperlihatkan bahwa lapisan-lapisan batupasir dalam sekuen flysch pada dasarnya merupakan endapan seketika. Jika tidak demikian, lubang-lubang galian akan dapat dimulai pada level yang berbeda-beda dari lapisan itu; bukan hanya dimulai dari puncak lapisan. Batupasir pada beberapa <em>“Portege” sequence</em> Devon di Pennsylvania memiliki laminasi yang demikian halus; lapisan lain yang berasosiasi dengannya terbioturbasi. Pasir berlaminasi yang tidak terganggu diendapkan dengan sangat cepat (paling lama hanya beberapa hari), sedangkan lumpur yang banyak dikenai aksi pembuatan lubang diendapkan bertahun-tahun, bahkan mungkin berabad-abad.</p>
<p>Ketidakhadiran lubang galian dan preservasi laminasi tidak selalu mengimplikasikan sedimentasi yang cepat. Hal itu mungkin mengimplikasikan penghambatan kehidupan bentos karena kondisi beracun akibat hadirnya H<sub>2</sub>S bebas atau akibat tidak adanya oksigen. Kumpulan fosil jejak juga dapat berkorelasi dengan salinitas (Seilacher, 1963).</p>
<p>Aspek paling bermanfaat dari kumpulan fosil jejak adalah sebagai dasar penunjuk fasies. Seilacher (1964a), misalnya saja, mendefinisikan empat fasies yang masing-masing dicirikan oleh kumpulan iknofosil tersendiri. Fasies <em>Nereites</em>, mencirikan cekungan flysch atau cekungan turbidit. Fasies <em>Zoophycus</em> mencirikan lingkungan perairan-dangkal, namun tenang. Fasies <em>Cruziana</em> menempati paparan dangkal. Fasies <em>Skolithus</em> pada dasarnya merupakan fasies pesisir berenergi tinggi. Lingkungan turbidit perairan-dalam (fasies <em>Nereites</em>) terutama dicirikan oleh jejak rayapan. Hal itu berbeda dengan lingkungan pesisir turbulen yang didominasi oleh lubang galian yang dibuat sebagai tempat perlindungan atau lubang galian yang dibuat dalam rangka mencari makanan. Morfologi fosil jejak sudah barang tentu mencerminkan organisme yang bertanggungjawab terhadap pembentukannya serta adaptasi organisme itu terhadap kondisi lingkungan.</p>
<p>Pendeknya, fosil jejak merupakan sebuah alat bantu yang sangat bermanfaat bagi para ahli sedimentologi. Sebagaimana aspek-aspek batuan sedimen yang lain, fosil jejak dapat dipetakan dan digunakan untuk mendefinisikan sabuk-sabuk fasies utama (Farrow, 1966) serta untuk membantu dalam menafsirkan perubahan-perubahan kedalaman (Seilacher, 1967).</p>
<p><strong>4.7  STRUKTUR DIAGENETIK</strong></p>
<p>Ada sekumpulan struktur—konkresi, nodul, dsb—yang terbentuk akibat pelarutan dan presipitasi pasca-pengendapan. Struktur epigenetik itu akan dibahas secara mendetil pada Bab 12.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indrayaksa.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indrayaksa.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indrayaksa.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indrayaksa.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indrayaksa.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indrayaksa.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indrayaksa.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indrayaksa.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indrayaksa.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indrayaksa.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indrayaksa.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indrayaksa.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indrayaksa.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indrayaksa.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indrayaksa.wordpress.com&amp;blog=9475331&amp;post=75&amp;subd=indrayaksa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/10/20/pengertian-sedimen-pettijohn75-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eeefe58010eb16291373e35e436b2155?s=96&#38;d=identicon&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">garong...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>pengertian sedimen (pettijohn75)-3</title>
		<link>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/10/05/pengertian-sedimen-pettijohn75-3/</link>
		<comments>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/10/05/pengertian-sedimen-pettijohn75-3/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 13:58:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>garong...</dc:creator>
				<category><![CDATA[geologi]]></category>
		<category><![CDATA[sedimen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indrayaksa.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[BAB 3 TEKSTUR SEDIMEN Tekstur mencakup ukuran, bentuk, dan keteraturan komponen penyusun batuan. Tekstur pada dasarnya merupakan mikro-geometri batuan. Istilah “berbutir kasar”, “menyudut”, dan “terimbrikasi” merupakan ungkapan yang digunakan untuk mernyata-kan tekstur. Seorang ahli geologi mungkin tidak puas hanya dengan ungkapan seperti itu. Dia ingin memberikan pemerian yang lebih teliti; dia ingin tahu seberapa kasar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indrayaksa.wordpress.com&amp;blog=9475331&amp;post=73&amp;subd=indrayaksa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">
<p align="center"><strong>BAB 3</strong></p>
<p align="center"><strong>TEKSTUR SEDIMEN</strong></p>
<p align="center"><strong><br />
</strong></p>
<p>Tekstur mencakup ukuran, bentuk, dan keteraturan komponen penyusun batuan. Tekstur pada dasarnya merupakan mikro-geometri batuan. Istilah “berbutir kasar”, “menyudut”, dan “terimbrikasi” merupakan ungkapan yang digunakan untuk mernyata-kan tekstur. Seorang ahli geologi mungkin tidak puas hanya dengan ungkapan seperti itu. Dia ingin memberikan pemerian yang lebih teliti; dia ingin tahu seberapa kasar komponen penyusun suatu batuan, bagaimana bentuk sudut-sudutnya, serta arah dan kemiringan imbrikasinya. Untuk itu, dalam bab ini kita akan memformulasikan definisi-definisi yang jelas dari setiap ungkapan itu, membahas metoda pengukurannya, serta teknik-teknik analisis statistik yang dapat diterapkan pada berbagai aspek tekstur. Selain itu, dalam bab ini kita juga akan mencoba memahami arti geologi dari setiap aspek tekstur tersebut.<span id="more-73"></span></p>
<p>Beberapa aspek tekstur bersifat kompleks dan tergantung pada aspek-aspek lain yang lebih mendasar. Sebagai contoh, porositas tergantung pada pembandelaan <em>(packing)</em>, bentuk, dan pemilahan partikel penyusun batuan.</p>
<p>Berbeda dengan tekstur, yang pada dasarnya berkaitan dengan hubungan antar partikel penyusun batuan, struktur merupa-kan gejala batuan berskala besar seperti perlapisan dan gelembur <em>(ripple mark)</em>. Tekstur sebaiknya dipelajari dalam sampel genggam <em>(hand specimen)</em> atau sayatan tipis. Struktur, di lain pihak, sebaiknya dipelajari pada singkapan, meskipun ada juga struktur yang terlihat pada sampel genggam.</p>
<p>Sejak diendapkan, sebagian besar sedimen telah berbeda dengan batuan beku dan batuan kristalin lain karena memiliki rangka partikel <em>(framework of grains)</em> yang bersifat stabil dalam medan gravitasi bumi. Berbeda dengan mineral penyusun batuan beku dan batuan metamorf, yang satu sama lain berada dalam kontak menerus, kontak antar partikel sedimen adalah kontak noktah (kontak tangensial). Akibatnya, batuan sedimen memiliki rangka tiga dimensi yang terbuka. Partikel penyusun sebagian besar sedimen ditempatkan pada posisinya sebagai zat padat oleh fluida pengangkutnya, di bawah pengaruh gaya gravitasi. Partikel tersebut umumnya tidak terbentuk secara <em>in situ</em>. Karena itu, batuan sedimen dikatakan memiliki tekstur hidro-dinamik <em>(hydrodynamic texture)</em>.</p>
<p>Sedimen yang baru terbentuk memiliki porositas yang tinggi. Porositas awal dari pasir sekitar 35–40%, sedangkan porositas awal dari lanau dan lempung mungkin sekitar 80%. Salah satu perbedaan utama antara batuan sedimen dengan batuan beku dan batuan metamorf adalah bahwa batuan sedimen memiliki porositas, sedangkan batuan beku dan batuan metamorf hanya sedikit atau tidak memiliki porositas. Namun, dari waktu ke waktu, ruang pori sedimen akan mengecil hingga mendekati nol. Ruang pori sedimen mengecil karena terjadinya presipitasi mineral dalam ruang pori. Mineral yang dipresipitasikan dalam ruang pori berasal dari larutan yang ada dalam ruang pori atau larutan yang masuk kedalamnya. Tekstur presipitat kimia itu, dan tekstur yang terbentuk akibat alterasi unsur-unsur rangka sedimen, disebut tekstur diagenetik <em>(diagenetic texture)</em>. Sebagian besar komponen batuan yang memper-lihatkan tekstur diagenetik merupakan material kristalin. Tekstur diagenetik terkadang demikian pervasif sehingga tekstur awal (tekstur pengendapan) dari batuan itu tertindih atau bahkan hilang sama sekali. Walau demikian, dalam kasus-kasus umum, kemas awalnya masih terlihat sebagai relik atau <em>“ghost”</em> yang terlihat samar.</p>
<p>Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa hampir semua sedimen memperlihatkan dua kemas: kemas hidrodinamik dan kemas diagenetik. Kesimpulan ini tidak hanya sahih untuk batupasir, namun juga untuk sebagian besar batugamping. Jadi, perbedaan antara batupasir dengan batugamping sebenarnya terletak pada komponen penyusunnya, bukan pada kemasnya.</p>
<p>Banyak kemas diagenetik disusun oleh material mikrokristalin. Hal itu terjadi karena sedimen yang mengalami perubahan diagenetik itu memang berupa material mikrokristalin atau karena terjadinya degradasi pada material pembentuk rangka partikel yang semula berukuran besar. Degradasi parsial pada partikel pasir, yang prosesnya disebut <em>“greywackesation”</em>, menyebabkan terbentuknya matriks berbutir halus. Devitrifikasi <em>(devitrification)</em> partikel gelas atau <em>shards</em> juga menghasilkan produk seperti itu. Mikritisasi <em>(micritization)</em> dapat terjadi pada oolit dan sisa organisme dalam batugamping. Walau demikian, karena sedimen karbonat lebih rentan terhadap tekanan dan temperatur normal dibanding pasir, maka proses diagenetik cenderung menyebab-kan terbentuknya kemas kristalin kasar dalam batuan karbonat. Sayang sekali, tekstur sebagian sedimen, khususnya serpih, demikian halus sehingga sangat sukar dipelajari di bawah mikroskop. Pada batuan seperti itu, kita biasanya tidak dapat mem-bedakan kemas primer (kemas pengendapan) dengan kemas diagenetik. Karena itu, tidak mengherankan apabila pengetahuan kita mengenai tekstur batuan seperti itu jauh lebih sedikit dibanding pengetahuan kita mengenai batupasir atau batugamping.</p>
<p>Beberapa jenis sedimen tidak memperlihatkan tekstur hidrodinamik maupun tekstur diagenetik. Sedimen ini mungkin memliki tekstur biogenik <em>(biogenic texture)</em>, bila dihasilkan oleh organisme, atau tekstur koloform <em>(colloform texture)</em> bila dihasilkan oleh pembentukan dan koagulasi gel.</p>
<p>Dalam bab ini pertama-tama kita akan mempelajari kemas pengendapan, terutama kemas hidrodinamik yang mencirikan pasir dan lanau, baik pasir dan lanau klastika maupun pasir dan lanau karbonat. Kemudian kita akan mempelajari kemas kristalin yang terbentuk akibat diagenesis atau sebab-sebab lain.</p>
<p><strong>3.1 </strong><strong>BESAR BUTIR PARTIKEL BATUAN DETRITUS</strong></p>
<p>Besar butir partikel sedimen detritus sangat penting artinya karena merupakan variabel dasar yang digunakan untuk mem-baginya menjadi konglomerat, batupasir, dan serpih. Besar butir dan pemilahan (keseragaman butir) mencerminkan kompetensi dan efisiensi medium (agen) pengangkut. Dalam sedimen akuatis, besar butir dapat dipakai sebagai indikator untuk menentukan jarak endapan dari sumbernya. Endapan yang banyak disusun oleh partikel kasar biasanya tidak terangkut jauh. Jenis medium pengangkut dan cara pengangkutan akan mempengaruhi daya angkut dan daya pilah yang dimiliki oleh medium tersebut. Mengingat fungsinya yang cukup banyak, besar butir merupakan salah satu aspek tekstur yang perlu dipahami oleh setiap ahli sedimentologi.</p>
<p>Pemahaman yang menyeluruh tentang arti geologi dari besar butir hanya dapat diperoleh apabila:</p>
<ol>
<li>Kita memahami pengertian besar butir.</li>
<li>Kita mengetahui karakter distribusi besar butir, proses-proses yang bertanggungjawab terhadap distribusi besar butir, serta hubungan antara besar butir dengan jarak dan arah pengangkutan.</li>
</ol>
<p><strong>3.1.1  Konsep Besar Butir</strong></p>
<p>Apabila partikel penyusun sedimen klastika semuanya berbentuk bola, maka tidak akan muncul berbagai kesulitan yang berkaitan dengan masalah pengertian besar butir seperti sekarang ini. Hanya dengan menyatakan diameternya, orang sudah paham maksudnya. Kenyataannya, kita justru hampir tidak pernah menemukan partikel sedimen yang berbentuk bola; yang ada justru partikel yang tidak beraturan. Karena itu, para ahli sedimentologi dituntut untuk membuat suatu skema penggolongan yang sesuai dengan kenyataan tersebut. Jika ada yang mengatakan bahwa konglomerat <em>A</em> tersusun oleh kerikil berdiameter <em>x</em>, maka pertanyaannya adalah: Apa yang dimaksud dengan kata “diameter” dari partikel yang tidak beraturan seperti itu?</p>
<p>Pengukuran langsung diameter partikel yang tidak beraturan banyak menimbulkan masalah. Beberapa peneliti memakai istilah panjang, lebar, dan tebal untuk menyatakan ukuran partikel, tanpa menjelaskan pengertian ketiga istilah itu. Istilah diameter terpendek, diameter terpanjang, dan diameter menengah dari suatu elipsoid triaksial memang mudah dikatakan namun sukar dipraktekkan. Haruskah setiap diameter itu melalui suatu titik pusat? Haruskah kita mengkombinasikan nilai ketiga diameter itu dan kemudian membaginya untuk mendapatkan nilai diameter “rata-rata”? Atau apakah kita cukup menyatakan diameter menengahnya saja? Krumbein (1941) mengangkat pertanyaan-pertanyaan tersebut dan membuat suatu kerangka definisi operasionalnya (gambar 3-1). Definisi-definisi yang agak berbeda dari berbagai definisi yang dikemukakan Krumbein (1941), diajukan oleh Humbert (1968).</p>
<p>Dalam praktek, istilah diameter memiliki pengertian yang beragam, tergantung cara pengukurannya. Semua metoda peng-ukuran partikel sedimen didasarkan pada suatu premis, yaitu bahwa semua partikel berbentuk bola atau hampir berbentuk bola atau bahwa hasil pengukuran dinyatakan sebagai diameter ekivalen bola. Karena tidak ada kondisi faktual yang memenuhi per-syaratan itu, maka nilai besar butir yang selama ini dikemukakan orang sebenarnya tidak ada yang benar. Jadi, besar butir suatu partikel sebenarnya tidak dapat diukur. Sebagai gantinya, beberapa sifat lain dipakai untuk “mengukur” diameter dan hasilnya kemudian dikonversikan ke dalam nilai diameter. Pengkonversian dilakukan dengan memakai beberapa asumsi. Sebagian orang meng-ukur volume suatu partikel, kemudian menghitung diameter bola yang volumenya sama dengan volume partikel itu. Diameter seperti itu disebut diameter nominal <em>(nominal diameter)</em> oleh Wadell (1932). Metoda itu tidak tergantung pada densitas atau bentuk partikel. Jadi, sahih untuk dipakai. Ahli lain “menguku” diameter berdasarkan <em>settling velocity</em> partikel. Karena <em>settling velocity</em> tidak hanya tergantung pada besar butir, namun juga pada bentuk dan densitasnya, maka metoda ini hanya sahih jika densitas dan bentuk butir partikel tetap. Hasil pengukuran itu selanjutnya direduksi dan dikonversikan ke dalam harga diameter atau jari-jari dengan asumsi bahwa butirannya berbentuk bola dengan densitas 2,65 (densitas kuarsa).</p>
<p>Pada bab ini kita tidak akan membahas semua metoda pengukuran besar butir (gambar 3-2). Masalah ini telah dibahas panjang lebar dalam beberapa buku seperti yang disusun oleh Krumbein &amp; Pettijohn (1938), Dalla Valle (1943), Irani &amp; Callis (1963), Köster (1964), Müller (1967), Folk (1968), Allen (1968), dan Carver (1971). Hubungan antara konsep besar butir dengan diameter dapat dilihat pada tabel 3-1. Kita harus memahami konsep dasar besar butir ketika menafsirkan hasil-hasil analisis besar butir karena limitasi setiap metoda menyebabkan hasil analisis itu hanya memberikan suatu nilai pendekatan.</p>
<p><strong>3.1.2  Istilah-Istilah Besar Butir</strong></p>
<p>Para ahli geologi menggunakan cukup banyak istilah untuk menyatakan besar butir partikel sedimen. Beberapa ahli telah mengganti istilah-istilah yang berasal dari bahasa umum dengan istilah-istilah yang kurang dikenal. Beberapa istilah tersebut, serta modifikasinya, dapat dilihat pada tabel 3-2.</p>
<p>Istilah-istilah psefit <em>(psephite)</em>, psamit <em>(psammite)</em>, dan pelit <em>(pelite)</em> yang diambil dari Bahasa Yunani serta istilah ekivalen-nya—rudit <em>(rudite)</em>, arenit <em>(arenite)</em>, dan lutit <em>(lutite)</em>—yang diambil dari Bahasa Latin, diusulkan untuk menggantikan istilah gravel, pasir, dan lempung. Ketiga istilah yang disebut terakhir ini tidak hanya menyatakan besar butir, namun mengimplikasikan juga komposisi atau sifat lain. Istilah lempung, misalnya saja, sekarang ini memiliki arti ganda, yaitu sebagai istilah besar butir dan jenis mineral. Jika istilah lempung kemudian disepakati untuk digunakan secara terbatas hanya untuk menyatakan jenis mineral, maka kita perlu mencari istilah lain untuk menyatakan besar butir yang semula disebut lempung. Istilah yang agaknya dapat digunakan sebagai pengganti istilah lempung dalam pengertian besar butir adalah lutit; suatu istilah yang sebenarnya tidak terlalu asing bagi kita karena dipakai dalam penamaan batugamping (ingat, batugamping klastika halus disebut kalsilutit). Sebenarnya, dalam prakteknya, pemakaian istilah lempung dalam pengertian berganda seperti tersebut di atas kurang disetujui oleh para ahli. Sebagai buktinya, agaknya tidak ada ahli geologi yang setuju untuk menamakan lumpur gamping murni sebagai lempung. Dengan dipakainya istilah lutit, kita dapat menamakan sedimen seperti itu sebagai kalsilutit <em>(calcilutite)</em>. Sedimen lain yang disusun oleh partikel klastika berukuran lempung dapat disebut argilutit <em>(argillutite)</em>. Analog dengan itu, pasir karbonat murni akan disebut batugamping, bukan batupasir. Tyrell (1921) mengusulkan agar istilah-istilah yang berasal dari Bahasa Latin digunakan untuk menamakan batuan sedimen, sedangkan istilah-istilah yang berasal dari Bahasa Yunani digunakan untuk menamakan batuan metamorf yang berasal dari batuan sedimen.</p>
<p>Istilah-istilah manapun yang dipilih, setiap istilah itu kemungkinan besar akan dipersepsikan secara beragam oleh orang yang terlibat dalam suatu bentuk komunikasi. Sebagai contoh, ketika seseorang mengatakan bahwa dia menemukan pasir, orang-orang yang mendengarnya mungkin mempersepsikan pasir itu dengan besar butir yang berbeda-beda karena limit-limit kelas pasir itu sendiri memang beragam (gambar 3-3). Fakta ini mendorong kita untuk membuat pembakuan. Sayang sekali, hingga kini keinginan itu masih belum tercapai. Para ahli rekayasa, ahli tanah, dan ahli geologi masih memakai rujukan yang berbeda. Sebernarnya, jangankan kesepakatan diantara orang-orang yang disiplin ilmunya berbeda-beda, diantara ahli-ahli sedimentologi sendiri masih belum ada kesepakatan.</p>
<p>Skala besar butir yang biasa digunakan oleh para ilmuwan di Amerika Utara adalah karya J. A. Udden (1898, 1914). Udden mengembangkan suatu skala geometri dan menggunakan istilah umum untuk menamakan setiap kelas besar butir (gravel, pasir, lanau, dan lempung). Pada 1922, Wentworth menyempurnakan skala Udden dengan mempertimbangkan pendapat para ahli yang didapatkannya melalui kuestioner. Pada 1947, suatu komite ahli geologi dan hidrologi mendukung penggunaan skala dan istilah besar butir Udden-Wentworth, kecuali untuk granul <em>(granule)</em> (Lane dkk, 1947). Sejak itu, skala Udden-Wentworth digunakan secara luas oleh para peneliti di Amerika Utara. Kemudian, setelah dilengkapi dengan notasi phi yang diperkenalkan oleh Krumbein pada 1938, skala besar butir Udden-Wentworth juga banyak dipakai di tempat lain.</p>
<p>Committee on Sedimentation dari National Research Council (Amerika Serikat) telah menerbitkan sejumlah laporan tentang tatanama sedimen, termasuk didalamnya pendefinisian ulang istilah-istilah besar butir. Skala besar butir yang mereka usulkan dapat dilihat dalam tabel 3-3, sedangkan definisi-definisi baru yang mereka ajukan adalah sbb:</p>
<ol>
<li>Bongkah <em>(boulder)</em> adalah suatu massa batuan lepas yang agak membundar karena terabrasi selama terangkut dan memiliki diameter minimal 256 mm. Bongkah hasil pelapukan <em>in situ</em> disebut bongkah disintegrasi <em>(boulder of disintegration)</em> atau bongkah ekstrafolasi <em>(boulder of extrafolation)</em>. Blok <em>(block)</em> adalah fragmen batuan yang berukuran sama dengan bongkah, namun menyudut dan tidak memperlihatkan jejak pengubahan oleh media pengangkut.</li>
<li>Kerakal <em>(cobble)</em> adalah suatu massa batuan lepas yang agak membundar karena terabrasi selama terangkut dan memiliki diameter 64–256 mm. Kerakal hasil pelapukan <em>in situ</em> disebut kerakal exfoliasi <em>(cobble of exfoliation)</em>.</li>
<li>Kerikil <em>(pebble)</em> adalah suatu fragmen batuan yang lebih besar dari pasir kasar atau granul dan lebih kecil dari kerakal serta membundar atau agak membundar karena terabrasi oleh aksi air, angin, atau es. Jadi, diameter kerikil adalah 4–64 mm.</li>
<li>Akumulasi bongkah, kerakal, kerikil, atau kombinasi ketiganya dan tidak terkonsolidasi disebut gravel. Berdasarkan besar butir partikel dominannya, suatu gravel dapat disebut gravel bongkah <em>(boulder gravel)</em>, gravel kerakal <em>(cobble gravel)</em>, atau gravel kerikil <em>(pebble gravel)</em>. Bentuk ekivalen dari gravel, namun sudah terkonsolidasi, disebut konglomerat <em>(conglomerate)</em>. Seperti juga gravel, konglomerat dapat berupa konglomerat bongkah <em>(boulder conglomerate)</em>, konglomerat kerakal <em>(cobble conglomerate)</em>, atau konglomerat kerikil <em>(pebble conglomerate)</em>. <em>Rubble</em> adalah akumulasi fragmen batuan yang lebih kasar dari pasir, menyudut, dan belum terkonsolidasi. Bentuk ekivalen dari <em>rubble</em>, namun telah terkonsolidasi, disebut breksi <em>(breccia)</em>.</li>
<li>Istilah pasir <em>(sand)</em> digunakan untuk menamakan agregat partikel batuan yang berdiameter lebih dari <sup>1</sup>/<sub>16</sub>–2 mm.</li>
<li>Wentworth (1922) mengusulkan istilah granul <em>(granule)</em> untuk menamakan material yang berukuran 2–4 mm.</li>
<li>Lanau <em>(silt)</em> adalah agregat partikel batuan yang berukuran <sup>1</sup>/<sub>125</sub>–<sup>1</sup>/<sub>16</sub> mm.</li>
<li>Lempung <em>(clay)</em> adalah agregat partikel batuan yang berukuran kurang dari <sup>1</sup>/<sub>256</sub> mm.</li>
</ol>
<p>Setiap kategori itu dapat dibagi lebih jauh. Sebagai contoh, kelas pasir dapat dibedakan menjadi sub-kelas pasir kasar, pasir sedang, dsb. Istilah yang ekivalen dengan istilah-istilah tersebut adalah batupasir kasar, batupasir sedang, dsb.</p>
<p>Dalam beberapa hal, definisi-definisi di atas agak lemah karena memasukkan konsep lain, selain konsep ukuran. Kebundar-an, pengubahan besar butir (abrasi), dan media pengangkut (air, angin, dan es) sebenarnya tidak perlu diperhitungkan. Jadi, istilah-istilah itu tidak murni deskriptif; didalamnya terkandung implikasi genetik. Sebenarnya, mungkin tak seorangpun yang dapat mengikuti batasan itu. Jadi, untuk menentukan besar butir pasir, seseorang tidak perlu menentukan atau memisahkan partikel yang berasal dari batupasir tua dengan partikel yang berasal dari granit.</p>
<p>Dalam beberapa hal, tata peristilahan yang disusun oleh komite itu juga kurang lengkap. Sebagai contoh, komite itu telah menyebabkan terduplikasinya istilah blok yang sebelumnya khusus diterapkan untuk fragmen piroklastik. Selain itu, komite juga tidak mengusulkan istilah analog dari blok untuk fragmen yang diameternya kurang dari 256 mm. Hal itu tampaknya lewat dari perhatian komite. Barangkali komite itu menyetujui usul Woodford (1925) yang memperluas batasan blok, yaitu untuk fragmen menyudut, lebih kurang ekuidimensional, dan berdiameter lebih dari 4 mm. Istilah lemping <em>(slab)</em> telah diusulkan Woodford (1925) untuk menamakan fragmen pipih dengan diameter maksimum lebih dari 64 mm; istilah keping <em>(chip)</em> digunakan untuk menamakan fragmen pipih, menyudut, dan berdiameter kurang dari 64 mm; dan istilah lembaran <em>(flake)</em> dipakai untuk menama-kan fragmen pipih, menyudut, dan berdiameter maksimum 4 mm. Perhatikan bahwa definisi-definisi yang diusulkan oleh Woodford (1925) melibatkan dua sifat: besar butir dan bentuk butir. Karena itu, definisi-definisi itu juga kurang kritis.</p>
<p>Sebelum dan setelah diterbitkannya laporan-laporan Committee on Sedimentation, sebenarnya ada beberapa usulan yang diajukan untuk menyempurnakan tatanama besar butir. Sebagai contoh, Fernald (1929) mengusulkan istilah <em>roundstone</em> untuk menamakan batuan yang tersusun oleh partikel berukuran besar (bongkah, kerakal, dan kerikil). Shrock (1948b) mengusulkan istilah <em>sharpstone</em> untuk analog klastik dari <em>rubble</em>. Jadi, istilah <em>sharpstone conglomerate</em> bisa dipakai untuk menamakan breksi sedimen dan istilah <em>roundstone conglomerate</em> untuk menamakan konglomerat biasa. Dalam usulan Shrock (1948) di atas, sekali lagi kita melihat adanya dua konsep yang terkandung dalam pendefinisian istilah besar butir, yakni besar butir dan kebundaran.</p>
<p>Istilah granul yang diusulkan oleh Wentworth (1922) juga taksa. Istilah granul hingga saat ini masih dipakai untuk menama-kan presipitat kimia, khususnya yang disusun oleh silikat besi seperti granul grinalit <em>(greenalite granule)</em> dan granul glaukonit <em>(glauconite granule)</em>. Para ahli umumnya juga tidak menyetujui istilah dan batasan kelas ini. Lane Committee memasukkan material yang berukuran 2–4 mm ke dalam kerikil.</p>
<p>Pembahasan tentang masalah tatanama atau kompendia istilah besar butir dan agregatnya dapat ditemukan dalam karya tulis Bonorino &amp; Teruggi (1952) serta dalam tulisan lain, misalnya karya tulis Köster (1964).</p>
<p>Limit-limit kelas besar butir pada dasarnya bersifat arbitrer dan dipandang “benar” selama disepakati dan dilaksanakan secara konsisten oleh suatu kelompok studi sedimen. Walau demikian, Wentworth (1933) menyatakan bahwa skema peng-golongan yang diusulkannya didasarkan pada dasar “alami”. Dia berkeyakinan bahwa kelas-kelas besar butir utama berkaitan erat dengan cara pengangkutannya oleh aliran air dan dengan cara disintegrasi batuan. Bagnold (1941) menggunakan sifat dinamik dalam mendefinisikan pasir. Menurut Bagnold, limit bawah dari “pasir” merupakan ukuran butir yang <em>terminal settling velocity-</em>nya lebih kecil dibanding arus eddy naik, sedangkan limit atasnya merupakan ukuran butir yang bila terletak pada suatu bidang akan bergerak bila dikenai oleh tekanan langsung dari fluida atau dorongan butiran lain yang bergerak dalam fluida itu. Definisi yang didasarkan pada sifat dinamik ini tergantung pada khuluk fluida yang bergerak dan hanya sahih untuk kondisi aliran “rata-rata”. Lebih jauh Bagnold menyatakan bahwa pasir memiliki suatu karakter yang khas dan tidak dimiliki oleh material lain yang lebih kasar atau lebih halus daripadanya. Bagnold menamakan karakter itu sebagai daya akumulasi sendiri <em>(the power of self-accumulation)</em>, yakni kemampuan pasir untuk memanfaatkan energi yang dimiliki medium pengangkut untuk mengumpul-kan partikel-partikel pasir yang terpisah-pisah ke tempat tertentu, sedangkan tempat lain dibiarkan tidak ditutupi oleh pasir.</p>
<p><strong>3.1.3  Penggolongan Agregat Sedimen</strong></p>
<p>Bila dalam masalah pemakaian istilah individu partikel klastika telah tercapai sedikit kesepakatan, para ahli sama sekali belum sepakat dalam pemakaian istilah agregat partikel sedimen. Karena agregat alami jarang tersusun oleh fragmen yang berukuran sama, maka masalah yang timbul dalam kaitannya dengan hal ini adalah tatanama agregat yang disusun oleh campuran fragmen yang berbeda ukurannya. Sebagai contoh, meskipun definisi kerikil telah disusun demikian rinci, namun definisi gravel atau konglomerat sendiri sama sekali belum tersentuh. Berbagai pendapat telah dikemukakan oleh para ahli untuk memecahkan masalah itu. Mungkin dengan tujuan mempertahankan pemakaian istilah gravel, sebagian ahli berpendapat bahwa gravel harus mempunyai besar butir rata-rata yang jatuh pada kisaran besar butir gravel. Ahli lain berpendapat bahwa suatu endapan baru dapat disebut gravel apabila mengandung paling tidak 50% (atau angka lain) partikel yang ukurannya termasuk ke dalam kategori gravel.</p>
<p>Metoda-metoda di atas, atau metoda lain, yang digunakan untuk menamakan agregat sedimen tidak ada yang ekivalen satu sama lain dan tidak ada satupun yang memuaskan semua pihak. Sebagai contoh, suatu sedimen yang terpilah buruk dan merupakan campuran gravel kasar dengan pasir mungkin akan digolongkan sebagai pasir kasar jika harga rata-rata besar butirnya jatuh pada kisaran besar butir pasir kasar, meskipun partikel pasir hanya menyusun 10-20% tubuh sedimen tersebut. Bila suatu saat kita menemukan sedimen yang terpilah buruk secara ekstrim, berupa campuran gravel, pasir, lanau, dan lempung dengan proporsi masing-masing tidak ada yang lebih dari 50%, akan dinamakan apa batuan seperti itu? Beberapa nama khusus pernah diusulkan oleh beberapa ahli misalnya Flint dkk (1960a, 1960b) serta Schermerhorn (1966).</p>
<p>Banyak usul diajukan para ahli untuk memecahkan masalah di atas. Secara umum ada dua ancangan yang diusulkan, yakni:</p>
<ol>
<li>Mencoba membakukan tata peristilahan yang digunakan selama ini. Dengan cara ini, dukungan diberikan pada praktek pemakaian istilah-istilah tertentu dan limit-limit istilah tertentu didefinisikan kembali.</li>
<li>Membuat serangkaian batas arbitrer untuk bentuk-bentuk campuran serta mendefinisikan dan memberikan nama untuk tiap campuran itu menurut suatu kerangka pemikiran yang sistematis.</li>
</ol>
<p>Ancangan pertama cenderung pada ketidakteraturan dan tampaknya akan mendorong munculnya batas-batas dan definisi-definisi yang kurang logis. Ancangan kedua akan menyebabkan timbulnya masalah ketidaksesuaian antara seorang peneliti dengan peneliti lain. Kedua ancangan di atas dapat dilukiskan dengan masalah penamaan campuran pasir dengan gravel. Misalkan ada suatu campuran pasir dan gravel yang membentuk sistem biner yang terdiri dari dua anggota-tepi <em>(end-member)</em>, yaitu pasir dan gravel. Campuran sistem biner itu dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, kemudian memberi nama setiap kelompok itu (gambar 3-4A). Meskipun skema itu sederhana, namun ternyata kurang terpakai. Willman (1942) menyatakan bahwa sebagian besar endapan yang sehari-hari dinamakan gravel ternyata mengandung lebih kurang 50% pasir, bahkan ada juga yang mengandung pasir hingga 75%. Karena itu, dia mengusulkan skema penggolongan seperti yang terlihat pada gambar 3-4B. Jadi, yang dinamakan pasir kerakalan mengandung kerakal kurang dari 25%; gravel pasiran mengandung 50–75% pasir, dan 25–50% gravel. Menurut skema penggolongan itu, suatu endapan yang mengandung partikel berukuran gravel 25% akan disebut gravel. Karena itu, bila seseorang menyetujui klasifikasi itu, kemudian di lapangan dia menemukan endapan ter-konsolidasi yang disusun oleh 25% komponen berukuran gravel, maka dia harus menamakannya konglomerat.</p>
<p>Campuran tiga komponen seperti campuran pasir-lanau-lempung, meskipun jarang ditemukan, namun memang ada. Hingga dewasa ini banyak usaha dilakukan oleh para ahli untuk menyusun skema penggolongan campuran seperti itu (gambar 3-5). Seperti terlihat pada gambar 3-5, agregat tiga komponen dapat direpresentasikan oleh diagram segitiga sama sisi <em>(triangular diagram)</em>, dimana setiap sudut segitiga itu mewakili jenis komponen, sedangkan sisi-sisinya sebanding dengan proporsi setiap komponen. Segitiga itu selanjutnya dapat dibagi menjadi beberapa ruang, dan sebuah istilah diberikan kepadanya.</p>
<p>Sebagaimana terlihat pada gambar 3-5, hingga saat ini belum ada kesepakatan diantara para ahli geologi, oseanografi, ilmu tanah, dan rekayasa mengenai skema penggolongan campuran pasir-lanau-lempung. Sebagai contoh, istilah lempung dipakai sebagai nama agregat yang mengandung paling tidak 50% lempung (diagram A) atau minimal 80% (diagram D).</p>
<p>Untuk menggantikan sistem tiga komponen, beberapa ahli mengusulkan skema penggolongan lain yang didasarkan pada dua parameter. Sebagai contoh, Baker (1920) mendasarkan skema penggolongannya pada “besar butir ekivalei” <em>(“equivalent grade”</em>; maksudnya besar butir rata-rata) dan “faktor besar butir” (<em>“grading factor”</em>; maksudnya koefisien pemilahan). Niggli (1934), sebagaimana Baker, mengusulkan skema penggolongan yang hanya dapat dipakai bila si pemakainya mengetahui distribusi besar butir sedimen secara keseluruhan. Penentuan nama setiap jenis sedimen yang ada dalam skala itu didasarkan pada nisbah dua nilai kritis yang diperoleh dari kurva distribusi besar butir.</p>
<p>Dari seluruh penjelasan di atas, jelas sudah bahwa hingga sekarang bukan saja tidak ada kesepakatan mengenai tatanama, namun juga tidak ada satupun sistem penggolongan yang dapat digunakan tanpa melalui analisis besar butir yang lengkap. Di lain pihak, kita tahu bahwa analisis besar butir tidak mungkin, atau paling tidak sangat sukar, dilakukan pada sedimen yang sangat kompak. Karena itu, manfaat skema-skema klasifikasi itu relatif terbatas sewaktu diterapkan pada sedimen purba.</p>
<p>Meskipun secara teoritis sedimen klastika mungkin merupakan campuran dari tiga (atau empat) komponen, namun nyatanya endapan seperti itu jarang ditemukan. Sebagian besar sedimen disusun oleh satu komponen dan hanya sedikti diantaranya yang mengandung material lain. Karena itu, penyusunan skema klasifikasi tiga atau empat komponen yang rumit dapat dikata-kan tidak perlu. Kita mungkin perlu mencontoh skema klasifikasi yang disusun oleh Wentworth pada 1922 (tabel 3-4). Meskipun skema itu tidak mencakup semua tipe campuran yang mungkin ada, namun hampir tidak menemui hambatan bila diterapkan pada endapan alami, kecuali untuk jenis-jenis yang sangat spesifik. Berdasarkan analisisnya terhadap 50 hasil pengukuran Udden (1914) yang diambil secara random, Wentworth melihat bahwa hanya satu sampel (yakni sampel <em>till</em>) yang tidak sesuai dengan skema klasifikasi itu.</p>
<p>Prinsip seperti itu dipakai oleh Krynine (1948) yang mengusulkan bahwa istilah konglomerat, batupasir, dan batulanau dapat dipertahankan dan kata lain dapat ditambahkan jika memang diperlukan untuk menunjukkan adanya komponen lain dengan proporsi yang layak diperhitungkan. Sebagai contoh, suatu batupasir bisa disebut konglomeratik jika mengandung kerikil &gt; 20%; disebut kerikilan jika mengandung kerikil 10–20%; disebut lanauan jika mengandung lanau &gt; 20%; dan disebut lempungan jika mengandung lempung &gt; 20%. Demikian pula untuk batuan lain.</p>
<p>Penggolongan breksi atau agregat lain yang disusun oleh partikel menyudut didasarkan pada azas yang sama dengan usulan Woodford (1925). Dengan memakai istilah <em>rubble</em> untuk agregat fragmen menyudut yang berukuran &gt; 2 mm, kita dapat menamakan beberapa batuan sebagai berikut: breksi tersusun oleh &gt; 80% <em>rubble</em>; breksi pasiran mengandung pasir &gt; 10%; breksi lanauan mengandung lanau &gt; 10%; breksi lempungan mengandung lempung &gt; 10%. Selain itu, syarat lain yang diperlu-kan adalah tidak ada komponen lain yang proporsinya &gt; 10%. Jika kasus seperti itu muncul, maka diusulkan untuk mengguna-kan istilah breksi tanah <em>(earthy breccia)</em>. Kasus yang disebut terakhir ini dapat dipandang sebagai masalah khusus (lihat Bab 6).</p>
<p><strong>3.1.4  Distribusi Besar Butir</strong></p>
<p>3.1.4.1  <span style="text-decoration:underline;">Skala Besar Butir</span></p>
<p>Meskipun besar butir partikel sedimen membentuk suatu deret kontinu, namun para ahli menemukan bahwa deret itu perlu dan terasa bermanfaat apabila dibagi-bagi ke dalam sejumlah kelas besar butir. Skema penggolongan hasil pembagian itu disebut skala besar butir <em>(grade scale)</em>. Alasan dibuatnya skala itu adalah:</p>
<ol>
<li>Pembagian itu memungkinkan dilakukannya pembakuan tata peristilahan sedemikian rupa sehingga pemerian material sedimen dapat lebih sistematis dan, pada gilirannya, menghindarkan kita dari salah pengertian.</li>
<li>Pembagian itu memungkinkan distribusi besar butir mudah dianalisis secara statistik.</li>
</ol>
<p>Kisaran nilai besar butir yang harus dibagi sangat lebar, mulai dari besar butir lempung yang mungkin hanya sekitar 1 μm, hingga bongkah yang berukuran lebih dari 1 m. Untuk kisaran yang begitu lebar, sukar bagi kita untuk membaginya berdasarkan skala linier karena, misalnya saja, jika 1 mm digunakan sebagai rentang tiap kelas, maka akan terlihat bahwa hampir semua material yang kita kenal sebagai pasir, lanau, dan lempung akan masuk ke dalam satu kelas tersendiri, sedangkan material yang kita kenal sebagai pasir atau gravel justru akan terbaik ke dalam 999 kelas. Jadi, untuk membagi kelas besar butir harus dipakai skala geometri. Dalam skala geometri, selang kelas yang panjang diterapkan pada partikel kasar dan selang kelas yang pendek diterapkan pada partikel halus. Ketika Bagnold (1941) menerapkan skala geometri untuk membagi kelas besar butir, dia melihat bahwa skala ini memang sesuai dengan keadaan alaminya.</p>
<p>Skala alami untuk besar butir partikel sedimen adalah skala geometri. Udden telah menyadari hal itu sejak 1898. Dia memilih satu milimeter sebagai titik awal, kemudian memakai perbandingan ½ (atau 2, tergantung darimana kita melihatnya) sedemikian rupa sehingga limit-limit kelas besar butir itu adalah … ¼, ½, 1, 2, 4, 8, … (gambar 3-3). Skala Udden itu didukung oleh Wentworth (1922) dan Lane Committee dari National Research Council (1947) (tabel 3-3).</p>
<p>Skala Udden memiliki beberapa kelemahan. Skala itu kurang sesuai untuk digunakan dalam menganalisis sedimen yang ter-pilah baik, misalnya pasir gumuk, karena jumlah kelas besar butir pada sedimen tersebut terlalu sedikit untuk dapat dianalisis secara statistik. Karena itu, skala Udden perlu disempurnakan dengan cara membagi setiap kelas besar butir menjadi beberapa sub-kelas. Namun, jika skala geometri tetap dipertahankan, maka pembagian kelas itu akan menyebabkan munculnya limit-limit kelas besar butir yang merupakan bilangan irasional sehingga sukar untuk dilibatkan dalam perhitungan. Selain itu, nilai titk-titik tengah <em>(geometric mean)</em> dari setiap kelas dan sub-kelas yang merupakan salah satu unsur kuantitatif yang dilibatkan dalam perhitungan statistik, juga merupakan bilangan irasional.</p>
<p>Untuk menghindarkan munculnya bilangan irasional dan untuk menyederhanakan perhitungan statistik, Krumbein (1934) mengusulkan suatu skala lain yang disebut skala phi <em>(phi scale)</em>. Skala itu disusun berdasarkan hasil observasinya terhadap skala Udden, dimana dia melihat bahwa limit-limit kelas besar butir dalam skala Udden dapat dinyatakan sebagai pangkat dua dari dua: 4 adalah 2<sup>2</sup>, 8 adalah 2<sup>3</sup>, 16 adalah 2<sup>4</sup>, 1 adalah 2<sup>0</sup>, ½ adalah 2<sup>–1</sup>, dsb. Karena itu, dia mengusulkan pemakaian nilai eksponen (logaritma dengan bilangan dasar 2) dari nilai besar butir untuk menyatakan diameter partikel. Selanjutnya, untuk menghindarkan adanya angka negatif dalam nilai logaritma partikel halus, Krumbein mengalikan log itu dengan –1 (gambar 3-6). Jadi, <em>f</em><em> = <sup>2</sup>log diameter</em> (mm).</p>
<p>Selain skala-skala tersebut di atas, ada beberapa skala besar butir lain yang pernah diusulkan para ahli (lihat gambar 3-3). Beberapa diantaranya ada yang bersifat geometris reguler seperti skala Udden. Skala yang lain agak berbeda. Sebagai contoh, skala yang diusulkan oleh Atterberg (1905), selain bersifat geometris reguler, juga bersifat desimal dan siklitis. Dalam skala desimal, angka limit-limit kelas besar butirnya sama, hanya letak tanda komanya yang berbeda. Sebagai contoh, pada skala Atterberg, angka limit-limit kelas besar butirnya adalah … 0.02, 0.2, 2, 20, 200 … Jumlah kelas dalam skala Atterberg tidak cukup banyak untuk dapat dipakai dalam analisis statistika. Bila setiap kelas ini dibagi lagi menjadi sejumlah sub-kelas, dimana nilai limit-limit sub-kelas besar butir itu dibuat sedemikian rupa sehingga mengikuti aturan logaritmik, maka nilai limit-limit sub-kelas besar butir itu akan berupa bilangan irasional yang sukar diingat, kecuali bila dibulatkan, dan kurang sesuai untuk analisis statistik. Karena itu, dilihat dari segi-segi tersebut, skala Atterberg tidak penting. Walau demikian, skala Atterberg pernah dipakai secara luas oleh para ahli ilmu tanah dan ahli geologi Eropa.</p>
<p>Beberapa skala besar butir yang lain tidak bersifat geometris dan tidak pula linier. Skala tidak beraturan seperti itu digunakan oleh U.S. Department of Agriculture dan para ahli ilmu tanah di Amerika Serikat. Skala itu memang memberikan hasil yang memuaskan bila digunakan untuk memerikan material berbutir sedang dan halus, namun kurang sesuai bila digunakan untuk meneliti material berbutir kasar atau untuk analisis statistik.</p>
<p>Meskipun cukup banyak skala besar butir yang telah disusun oleh para ahli, namun hingga saat ini para ahli ilmu tanah, ahli teknik sipil, ahli oseanografi, dan ahli geologi masih belum sepakat untuk memakai salah satu diantara skala-skala itu sebagai skala baku. Bagi para ahli sedimentologi, suatu skala baku harus bersifat geometris agar memungkinkan dilakukannya analisis statistik. Skala Udden dan skala phi yang diturunkan daripadanya dapat memenuhi tuntutan tersebut. Karena itu, skala ini digunakan secara luas oleh para ahli sedimentologi. Skala itu dijadikan dasar untuk menentukan limit-limit kelas besar butir yang disajikan dalam buku ini.</p>
<p>3.1.4.2  <span style="text-decoration:underline;">Tampilan Distribusi Frekuensi Besar Butir</span></p>
<p>Unsur-unsur detritus dari sedimen klastika (butir pasir, kerakal, dsb), apabila disusun berdasarkan ukurannya, akan memperlihatkan distribusi yang kontinu. Maksudnya, nilai besar butir dari semua unsur itu akan dapat disusun secara berurutan, dari kecil hingga besar, dimana nilai-nilai besar butir itu hanya sedikit berbeda sedemikian rupa sehingga dapat dipandang berubah secara berangsur dan kontinu. Seperti telah diketahui, secara konvensi biasanya kita membagi distribusi kontinu itu ke dalam sejumlah kelas besar butir. Pembagian tersebut memungkinkan kita untuk membandingkan distribusi besar butir suatu tubuh sedimen dengan tubuh sedimen lain serta untuk menganalisis distribusinya.</p>
<p>Distribusi frekuensi besar butir suatu sedimen dapat ditampilkan dalam bentuk tabel (gambar 3-5) atau grafik. Tampilan distribusi frekuensi secara grafik lebih mudah ditangkap maksudnya daripada tampilan yang berupa tabel.</p>
<p>Bentuk-bentuk tampilan grafis yang sering dipergunakan adalah histogram dan kurva kumulatif <em>(cumulative curve)</em> (gambar 3-7 dan 3-8). Bentuk histogram dan kurva kumulatif yang digunakan dalam sedimentologi agak menyimpang dari bentuk umum. Karena digunakan untuk analisis besar butir, histogram dan kurva kumulatif itu umumnya memperlihatkan prosentase setiap kelas berdasarkan berat material, bukan prosentase jumlah partikel dalam setiap kelas besar butir. Selain itu, pada beberapa tahun terakhir, nilai besar butir yang dirajahkan pada sumbu-<em>x</em> biasanya berupa logaritma besar butir; bukan besar butirnya sendiri. Karena itu, lebar setiap batang pada histogram, yang merepresentasikan kisaran besar butir, dilukiskan sama, meskipun rentang kelas yang diwakilinya sebenarnya tidak sama. Cara ini mempermudah interpolasi kurva kumulatif. Selain itu, arah perubahan nilai skala dalam kedua bentuk tampilan itu bertolak-belakang dengan pola konvensional. Nilai-nilai besar butir dalam histogram dan kurva kumulatif itu menurun ke arah kanan (kita tahu biasanya suatu kuantitas dalam histogram dan kurva kumulatif konvensional bertambah ke arah kanan). Namun, “keanehan” itu justru menambah tingginya nilai praktis dari kedua gambar itu karena memungkinkan dirajahkannya kurva kumulatif dalam kertas log probabilitas (gambar 3-9). Nilai-nilai diameter atau phi dirajahkan dalam skala biasa, sedangkan frekuensi kumulatif dirajahkan pada skala probabilitas. Banyak kurva kumulatif hasil perajahan itu tampak sebagai garis lurus, bukan berbentuk “S” seperti yang biasa tampak dalam plot biasa (bandingkan gambar 3-8 dengan gambar 3-9).</p>
<p>3.1.4.3  <span style="text-decoration:underline;">Karakter Distribusi Frekuensi Besar Butir</span></p>
<p>Hasil pembandingan histogram dari beberapa sedimen yang berbeda memperlihatkan adanya kesamaan dan perbedaan. Perbedaan-perbedaan tersebut juga terlihat dalam kurva kumulatif, namun sukar untuk ditafsirkan. Udden (1914) membahas masalah ini dan memperkirakan bahwa perbedaan itu muncul akibat adanya hal-hal yang berkaitan dengan agen atau lingkungan pengendapan. Beberapa contoh variasi karakter distribusi frekuensi besar butir dapat dilihat pada gambar 3-10.</p>
<p>Ada beberapa sifat distribusi frekuensi yang penting untuk dipahami. Seperti terlihat pada gambar 3-10, diantara semua kelas besar butir itu terdapat suatu kelas besar butir yang frekuensinya lebih tinggi daripada kelas besar butir lain. Kelas itu disebut kelas modus <em>(modal class)</em>. Kelas-kelas lain memiliki frekuensi yang secara berangsur makin rendah dengan makin jauhnya letak kelas itu dari kelas modus. Walau demikian, kadang-kadang ditemukan pengecualian dimana dua atau tiga kelas besar butir yang terletak cukup jauh dari kelas modus memiliki frekuensi yang lebih tinggi dibanding kelas yang berdampingan dengan kelas modus (gambar 3-10F). Kelas seperti itu disebut kelas modus sekunder <em>(secondary modal class)</em>. Sedimen yang memiliki lebih dari satu kelas modus disebut polimodus <em>(polymodal)</em>.</p>
<p>Dengan mengamati hasil-hasil analisis yang ditampilkan secara grafis, misalnya yang terlihat pada gambar 3-10, kita dapat menemukan beberapa karakter lain, yaitu:</p>
<ol>
<li>Jumlah kelas besar butir tidak selalu sama. Dengan kata lain, sedimen dapat memiliki derajat pemilahan yang beragam. Perhatikan jumlah kelas besar butir dalam gambar 3-10A ada 5; dalam gambar 3-10D dan E ada 6; dalam gambar 3-10B dan C ada 9; sedangkan dalam gambar 3-10F ada 10.</li>
<li>Letak kelas modus terhadap kelas-kelas lain tidak selalu sama. Dengan kata lain, sedimen dapat memiliki kemencengan <em>(skewness)</em> yang beragam. Berdasarkan letak modus kelas, relatif terhadap kelas-kelas lain, distribusi besar butir sedimen ada yang setangkup (gambar 3-10A, B, C) maupun tidak setangkup atau menceng (gambar 3-10D dan E).</li>
<li>Frekuensi kelas modus, relatif dibanding frekuensi kelas-kelas lain, juga tidak selalu sama. Dengan kata lain, sedimen dapat memiliki kemancungan <em>(kurtosis)</em> yang beragam.</li>
</ol>
<p>Dari pembahasan di atas, jelaslah sudah bahwa ada empat sifat distribusi besar butir, yakni:</p>
<ol>
<li>Besar butir “rata-rata” atau kecenderungan pertengahan <em>(central tendency)</em>: mean, median, dan modus.</li>
<li>Dispersi atau “pemilahan”. Dalam istilah statistik, dispersi disebut simbangan baku <em>(standard deviation)</em>.</li>
<li>Kesetangkupan <em>(symmetry)</em> atau kemencengan <em>(skewness)</em>.</li>
<li>Kemancungan <em>(kurtosis)</em>.</li>
</ol>
<p>Penjelasan yang lebih mendetil tentang sifat-sifat tersebut, yang dapat digunakan untuk memerikan distribusi frekuensi besar butir, dapat ditemukan dalam berbagai buku ajar statistika elementer.</p>
<p>Sudah barang tentu akan sangat baik apabila kita dapat menyajikan sifat-sifat itu dalam bentuk angka. Penampilan yang ringkas seperti itu tidak hanya memungkinkan kita untuk mengatakan apakah suatu sedimen memiliki pemilahan yang lebih baik (memiliki simpangan baku yang lebih kecil) atau lebih buruk (memiliki simpangan baku yang lebih besar) dibanding sedimen lain, namun juga dapat mengungkapkan seberapa baik pemilahannya. Angka-angka seperti itu juga memungkinkan kita untuk merajahkan ukuran partikel rata-rata (atau sifat lain) terhadap jarak endapan dari sumbernya serta menyajikan hubungan antara ukuran partikel dengan jarak angkut secara kuantitatif. Demikian pula, adanya angka-angka seperti itu memungkinkan kita untuk merajahkan nilai-nilai tertentu, misalnya saja median atau parameter besar butir lain, ke dalam sebuah peta. Dalam peta seperti itu, setiap angka berkorespondensi dengan satu parameter besar tertentu yang diketahui dari sampel yang diambil pada lokasi tersebut. Setelah itu, kita dapat membuat sebuah peta kontur yang didasarkan pada angka-angka yang telah dirajahkan pada peta itu. Dengan cara seperti itu, kita akan dapat menafsirkan arah aliran atau hal lain.</p>
<p>Parameter-parameter distribusi frekuensi besar butir dapat dibaca atau dihitung dari titik-titik tertentu yang ada pada kurva kumulatif. Parameter-parameter sejenis juga dapat ditentukan dengan cara melakukan perhitungan tertentu dengan memakai data mentah. Parameter-parameter seperti itu disebut “ukuran-ukuran momen” <em>(“moment measures”)</em>.</p>
<p>Banyak usaha telah dilakukan oleh para ahli untuk menelaah distribusi besar butir dan banyak diantaranya kemudian mengajukan berbagai cara untuk menaksir parameter-parameter besar butir. Ikhtisar berbagai usaha para ahli itu, beserta hasil-hasilnya, telah disajikan secara ringkas oleh Folk (1966). Selain itu, perlu juga ditelaah karya tulis Inman (1952), Krumbein &amp; Pettijohn (1938), serta McBride (1971). Tidak mungkin bagi kita untuk membahas dan mengevaluasi semuanya disini. Secara umum, dapat dikatakan bahwa dewasa ini ada kecenderungan di kalangan para ahli untuk menggunakan nilai phi, bukan nilai diameter sebenarnya, dalam mengungkapkan karakter distribusi besar butir serta untuk menghitung parameter-parameter besar butir dari titik-titik tertentu yang ada pada kurva kumulatif, misalnya nilai-nilai kuartil (persentil 25, 50, dan 75) bersama-sama dengan persentil 10 dan 90 atau nilai-nilai persentil 5, 16, 50, 84, dan 95. Tabel 3-6 merupakan ikhtisar dari beberapa rumus yang dapat digunakan untuk menyatakan parameter-parameter besar butir.</p>
<p>3.1.4.4  <span style="text-decoration:underline;">Khuluk Matematis dari Distribusi Frekuensi Besar Butir</span></p>
<p>Udden (1914) menemukan fakta bahwa skala besar butir geometris cenderung menyebabkan terbentuknya kurva frekuensi (atau histogram) yang simetris. Dengan kata lain, apabila kita merajahkan distribusi frekuensi bukan dengan memakai nilai besar butir sebenarnya, melainkan nilai log besar butir sebagai variabel bebas, maka distribusi besar butir akan cenderung simetris. Fakta itu mendorong sebagian ahli untuk menelaah khuluk distribusi besar butir serta menentukan jenis fungsi, menyatakan fungsi itu dalam bentuk persamaan, dan mencari faktor-faktor fisik apa yang melatarbelakanginya.</p>
<p>Krumbein (1938) menyimpulkan bahwa banyak sedimen memiliki distribusi besar butir log normal dan dia menyajikan distribusi itu sebagai sebuah fungsi Gauss, di dalam distribusi mana nilai log besar butir digunakan sebagai pengganti nilai besar butir sebenarnya. Krumbein kemudian melakukan sejumlah pengujian untuk meneliti normalitas fungsi tersebut sedemikian rupa sehingga akhirnya dia dapat menemukan sejumlah persyaratan yang dapat dipenuhi oleh kebanyakan sedimen. Karakter log normal dari distribusi besar butir dapat dengan cepat diketahui dari kertas probabilitas yang telah dimodifikasi (Otto, 1939). Distribusi besar butir, yang dinyatakan sebagai prosentase berat, dikumulasikan dengan cara biasa dan kemudian dirajahkan sebagai fungsi dari log besar butir (gambar 3-9). Sedimen pada umumnya hanya memperlihatkan sedikit deviasi dari garis lurus; bahkan ada sebagian yang benar-benar muncul sebagai sebuah garis lurus. Walau demikian, harus diakui bahwa ada sedimen yang tidak memperlihatkan distribusi log normal.</p>
<p>Bagnold (1941) berkeyakinan bahwa distribusi besar butir bukan merupakan fungsi log normal, melainkan fungsi probabilitas lain. Roller (1937, 1941) mengajak para ahli untuk memperhatikan kekeliruan teoritis dan aktual dari hukum probabilitas Gauss untuk partikel kasar dan partikel halus yang ada dalam sedimen. Pada beberapa kasus, distribusi besar butir mungkin lebih mendekati distribusi partikel yang merupakan produk penghancuran random. Distribusi besar butir itu, sebagaimana diperlihat-kan oleh batubara yang dihancurkan, dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan seperti yang diajukan oleh Rosin &amp; Rammler (1934). Beberapa endapan piroklastik kasar, <em>glacial boulder clay</em> atau <em>till</em>, serta produk pelapukan residu yang diamati oleh Krumbein &amp; Tisdel (1940) memiliki distribusi yang mengindikasikan bahwa pembentukannya terjadi akibat proses penghancuran random. Kesimpulan itu didukung oleh hasil-hasil penelitian Kittleman (1964). Lihat gambar 3-11. Bahkan, distribusi besar butir dalam beberapa sedimen biasa (misalnya batupasir arkose dan batupasir kuarsa) mendekati Hukum Rosin (Dapples dkk, 1953). Walau demikian, Roller (1937, 1941) menyatakan bahwa Hukum Rosin juga memiliki beberapa kelemahan teoritis dan praktis.</p>
<p>Beberapa bukti menunjukkan bahwa banyak, jika bukan sebagian besar, distribusi frekuensi besar butir sedimen alami merupakan gabungan dari dua atau lebih distribusi diskrit. Setiap distribusi itu merupakan sebuah populasi tersendiri, dimana masing-masing mungkin merupakan distribusi log normal. Kombinasi dari sejumlah distribusi itu menyebabkan munculnya distribusi yang cenderung memiliki kemencengan tinggi, bahkan dalam beberapa kasus menyebabkan munculnya distribusi bimodus (atau polimodus). Beberapa usaha telah dilakukan oleh para ahli—misalnya Tanner (1959), Spencer (1963), dan Visher (1969)—untuk “memisahkan” kurva kumulatif dan memisahkan populasi-populasi dfskrit yang membentuk populasi total itu.</p>
<p><strong>3.1.5  Distribusi Besar Butir dan Penyebabnya</strong></p>
<p>Secara umum, penafsiran hasil analisis besar butir dilakukan dengan tiga metoda. Metoda pertama mengaitkan karakter kurva distribusi besar butir dengan hidrodinamika (dengan proses pengendapan). Metodologi ini dikembangkan oleh Udden (1914) untuk menelaah distribusi bimodus yang diperlihatkan oleh banyak sedimen sungai yang berbutir kasar, dimana modus kasar ditafsirkan sebagai produk pengangkutan traksional, sedangkan modus yang lebih halus ditafsirkannya sebagai produk pengangkutan saltasional. Penafsiran kurva-kurva distribusi besar butir dalam kaitannya dengan hidrodinamika dikembangkan lebih jauh oleh Inman (1949), Moss (1962, 1963), Friedman (1967), dan Visher (1969). Metoda kedua didasarkan pada asumsi bahwa distribusi besar butir sedimen pada dasarnya merupakan produk dari proses-proses pembentukan sedimen. Dalam metodologi ini, distribusi besar butir dinisbahkan pada batuan sumber dan distribusi itu sendiri merupakan cerminan dari proses disintegrasi batuan sumber. <em>Breakage theories</em> yang dikembangkan oleh Rosin &amp; Rammler (1934), Kolmogorov (1941), dan Tanner (1959) serta berbagai pengamatan yang dilakukan oleh Rogers dkk (1963) dan Smalley (1966) merupakan contoh dari penerapan metoda ini. Metoda ketiga adalah melakukan penelitian empiris terhadap karakter distribusi besar butir sedimen yang diambil dari berbagai lingkungan geomorfik untuk melihat hubungan, jika ada, antara distribusi besar butir dengan lingkungan pengendapan. Metodologi ini ditemukan pertama kali oleh Udden (1914), kemudian dikembangkan oleh Wentworth (1931a), Sindowski (1957), Friedman (1961, 1962), Moiola &amp; Weiser (1968), dan beberapa ahli lain.</p>
<p>Dalam tulisan di bawah ini kita akan membahas secara lebih mendetil setiap ancangan tersebut di atas dalam mempelajari distribusi besar butir sedimen.</p>
<p>3.1.5.1  <span style="text-decoration:underline;">Besar Butir dan <em>Provenance</em></span></p>
<p>Besar butir tertentu terlihat kurang terepresentasikan secara layak dalam sistem sedimen. Wentworth (1933) mengajak para ahli untuk menelaah masalah itu dan berpendapat bahwa hasil penelaahan itu akan menjadi dasar alami untuk mendefinisikan kelas-kelas besar butir. Dia menyatakan bahwa kurang terepresentasikannya kelas besar butir tertentu, dan lebih terepresentasi-kan kelas besar butir lain, terjadi akibat proses pembentukan partikel dan faktor-faktor hidrodinamika (tabel 3-7).</p>
<p>Apa buktinya bahwa kelas-kelas besar butir tertentu kurang terepresentasikan dalam distribusi besar butir sedimen? Einstein dkk (1940) menyitir hasil penelitian Nesper di Sungai Rhine, Swiss, di tempat mana material dasar sungai disusun oleh partikel dengan diameter 5–100 mm. Selain itu, diantara bongkah yang relatif besar serta pada lubuk yang relatif terlindung ditemukan pasir dengan diameter 1 mm dan material lain yang lebih halus daripadanya. Walau demikian, partikel dengan diameter 1–5 mm tidak ditemukan di sana. Para peneliti itu menyimpulkan bahwa partikel dengan diameter 1–5 mm “jarang ditemukan karena adanya pengaruh faktor-faktor geologi dan hidrolika tertentu”. Di Sungai Rhine, material kasar merupakan bagian dari beban dasar, sedangkan pasir merupakan bagian dari beban suspensi.</p>
<p>Statistik dari sekitar 1000 data analisis besar butir yang telah diterbitkan menunjukkan adanya defisiensi pada kelas granul (2–4 mm) dan pasir kasar (1–2 mm), bahkan mungkin juga pada kisaran pasir halus (<sup>1</sup>/<sub>16</sub>–<sup>1</sup>/<sub>8</sub> mm) (Pettijohn, 1940). Bukti yang menyokong kesimpulan tersebut terutama berupa fakta bahwa kelas modus sedimen jarang yang jatuh pada kelas-kelas besar butir tersebut. Kalau memang tidak terjadi defisiensi, maka hasil analisis besar butir yang ada selama ini akan memperlihatkan bahwa kelas modus juga akan sering jatuh pada kelas-kelas tersebut, sesering kelas modus yang jatuh pada kelas-kelas besar butir lain. Hasil analisis terhadap 241 sampel pasir dan gravel aluvial dari bagian selatan California (Conkling dkk, 1934) menunjukkan bahwa kelas modus hanya jatuh tiga kali pada kelas besar butir 2–4 mm. Angka itu jauh lebih kecil dibanding dengan kelas modus ½–<sup>1</sup>/<sub>4</sub> mm yang jatuh sebanyak 63 kali dan kelas modus 32–64 mm yang jatuh sebanyak 41 kali. Hasil-hasil penelitian itu didukung oleh Schlee (1957) yang meneliti gravel aluvial pada bagian hulu sungai di selatan Maryland. Dari 72 sampel alur, tidak ada satupun yang memiliki kelas modus 1–2 mm atau 2–4 mm. Distribusi besar butir komposit, yang dibuat dengan cara menyatakan nilai rata-rata dari 72 sampel tersebut, juga memperlihatkan defisiensi pada kelas-kelas besar butir tersebut (gambar 3-12).</p>
<p>Keanehan tersebut tidak hanya berlaku pada sedimen fluvial karena, sebagaimana diperlihatkan oleh Hough (1942), sedimen pesisir dan sedimen dasar teluk Buzard dan Cape Cod juga memperlihatkan defisiensi seperti itu. Hough menyatakan bahwa median dari beberapa ratus sampel jarang yang jatuh pada kelas 2–4 mm atau kelas <sup>1</sup>/<sub>16</sub>–<sup>1</sup>/<sub>32</sub> mm. Demikian pula, data distribusi besar butir komposit dari 64 sampel sedimen Massachussetts Bay yang dianalisis oleh Trowbridge &amp; Shepard (1932) menunjukkan rendahnya frekuensi pada kelas 1–2 mm. Rendahnya frekuensi itu dijelaskan sebagai kekosongan <em>(gap)</em> antara dua beban sedimen: salah satu beban diangkut oleh gelombang badai, sedangkan beban lain diangkut oleh gelombang yang lebih tenang. Perlu dicamkan bahwa sedimen pada umumnya, baik sedimen lepas pantai maupun sedimen gisik, tidak bersifat bimodus seperti sedimen fluvial yang berbutir kasar dan bahwa defisiensi kelas-kelas besar butir tertentu hanya akan terlihat apabila semua hasil analisis diamati. Tidak semua peneliti merasa yakin bahwa kelas-kelas besar butir 1–2 mm dan 2–4 mm kurang terepresentasikan. Russell (1968) meninta perhatian para ahli terhadap konsentrasi-konsentrasi pasir sangat kasar dan gravel halus pada gisik tertentu, dimana material itu hadir dalam kelimpahan yang luar biasa. Dia menyimpulkan bahwa, secara hidrodinamik, kelas-kelas besar butir itu tidak stabil dalam sungai serta cenderung terpilah dan terangkut dengan cepat menuju laut untuk kemudian terakumulasi pada gisik.</p>
<p>Sedimen eolus tampaknya memperlihatkan defisiensi pada kelas <sup>1</sup>/<sub>8</sub>–<sup>1</sup>/<sub>16</sub> mm. Keanehan itu dikemukakan oleh Udden (1914). Sebagaimana sedimen sungai yang berbutir halus, sedimen eolus jarang yang bersifat bimodus. Walau demikian, kelas modus itu jarang yang jatuh pada kelas <sup>1</sup>/<sub>8</sub>–<sup>1</sup>/<sub>16</sub> mm. Udden tidak menganalisis sebab musabab munculnya keanehan tersebut, namun dia menyatakan bahwa gejala itu mungkin tidak umum dan kita mungkin dapat menemukan endapan eolus lain yang modus kelasnya jatuh pada kelas besar butir itu sehingga apa yang semula tampak merupakan defisiensi itu sebenarnya tidak ada. Bahwa ada suatu kekosongan antara lanau dan pasir juga dikemukakan oleh Rogers dkk (1963) serta oleh Tanner (1958). Masalah itu telah dikaji lebih jauh oleh Wolff (1964). Suatu distribusi komposit yang disusun dari hasil 930 analisis besar butir memperlihatkan defisiensi pada kelas lanau kasar. Wolff mengira bahwa defisiensi itu berkaitan dengan pemakaian teknik analitik untuk lanau dan lempung yang berbeda dengan teknik analitik yang digunakan untuk pasir. Jika bukan merupakan artefak dari perbedaan teknik analisis, maka kekosongan itu mungkin muncul akibat ketidaksempurnaan sampel dan bahwa kekosongan itu mungkin akan hilang apabila sedimen lain dimasukkan ke dalam sampel yang dianalisis.</p>
<p>Ada beberapa hal yang dapat digunakan untuk menjelaskan defisiensi kelas-kelas besar butir tertentu atau paling tidak defisiensi sedimen dengan modus kelas seperti itu. Kita mungkin dapat mengasumsikan bahwa material yang berada dalam kisaran kelas-kelas besar butir itu dihasilkan oleh pelapukan dan tidak pernah diendapkan sebagai kelas modus untuk alasan-alasan hidrodinamika tertentu atau material itu hilang sewaktu terangkut karena ketidakstabilan mekanisnya. Kita juga dapat menganggap ada suatu defisiensi primer untuk kelas-kelas besar butir tertentu. Mungkin pelapukan tidak menghasilkan berbagai kelas besar butir dalam jumlah yang sama. Sukar bagi kita untuk menentukan hipotesis mana yang dengan tepat memaparkan sebab-musabab munculnya defisiensi tersebut. Jika kelas-kelas besar butir itu dihasilkan oleh pelapukan atau abrasi, apa yang menjadi sumber partikel-partikel tersebut? Faktor-faktor hidrolika mungkin dapat menghambat pengendapan partikel tersebut pada tempat-tempat tertentu, namun tidak mungkin dapat menghambat pengendapannya di setiap tempat. Mungkin partikel itu tersegregasi, sebagaimana diperkirakan oleh Russell (1968), dan kemudian diendapkan secara terpisah pula. Kita juga dapat menganggap bahwa partikel itu memang dihasilkan oleh pelapukan, namun memiliki stabilitas mekanik yang rendah sehingga kemudian terhancurkan. Kita pun tidak dapat menolak perkiraan yang menyatakan bahwa partikel itu mungkin tidak dihasilkan dalam jumlah yang cukup banyak pada lingkungan pelapukan. Hipotesis pertama telah digunakan untuk menjelaskan defisiensi pada kelas 2–4 mm (Hough, 1942). Partikel seperti itu memang dapat terbentuk akibat disintegrasi (namun tidak terbentuk akibat dekomposisi) batuan plutonik. Butiran-butiran mineral yang menyusunnya relatif besar dibanding ukuran total dari partikel tersebut. Karena itu ada sebagian ahli yang berpendapat bahwa partikel granul secara struktural memang lemah dan tidak mampu menyelamatkan diri dari aksi sungai yang keras.</p>
<p>Di lain pihak, bukan tidak mungkin bahwa proses-proses disintegrasi batuan asal menghasilkan lebih banyak partikel dengan ukuran tertentu dan relatif kurang banyak menghasilkan partikel dengan ukuran lain sedemikian rupa sehingga sejak awal memang telah ada defisiensi distribusi besar butir. Ada tiga kategori ukuran partikel yang kemungkinan besar akan terbentuk dari hancuran batuan (disini kita menujukan perhatian pada batuan sumber kristalin; untuk batuan sedimen klastika, pelapukan hanya akan menyebabkan terlepasnya partikel-partikel yang terbentuk pada fasa sedimentasi sebelumnya). Sebagian batuan secara khas menghasilkan blok sewaktu terlapukkan, sedangkan sebagian lain mengalami proses penghancuran lanjut dan menghasilkan partikel berukuran pasir. Contoh batuan yang biasanya menghasilkan blok adalah kuarsit; sedangkan contoh batuan yang biasa mengalami penghancuran tahap lanjut dan menghasilkan partikel berukuran pasir adalah batuan beku asam yang berbutir kasar dan gneiss. Produk disintegrasi yang berukuran pertengahan mungkin relatif jarang. Walau demikian, data yang ada dewasa ini masih inkonklusif; lima sampel batuan granitik yang terdisintegrasi (namun tidak terdekomposisi) yang dianalisis oleh Krumbein &amp; Tisdel (1940) terlihat paling banyak mengandung partikel 2–4 mm (gambar 3-13). Walau demikian, sebagaimana dikemukakan oleh Dake (1921) dan Smalley (1966), distribusi besar butir partikel kuarsa sangat dibatasi oleh distribusi besar butir kuarsa dalam batuan kristalin faneritik. Partikel yang berukuran lebih dari 1 mm jarang ditemukan. Blok yang dihasilkan akan menjadi material berukuran kerikil; bukan pasir. Selain itu, proses penghancuran lanjut pada umumnya tidak terjadi, kecuali apabila ada gaya-gaya yang luar biasa.</p>
<p>Dekomposisi menghasilkan partikel berukuran lempung. Karena itu, akan tampak adanya defisiensi dalam kelas besar butir lanau. Walau demikian, lanau relatif umum ditemukan dan proses pembentukannya merupakan satu masalah tersendiri. Rogers dkk (1963) memperkirakan bahwa lanau dihasilkan oleh pelepasan partikel berukuran lanau dari partikel kuarsa yang ukurannya lebih besar. Pandangan seperti itu juga dikemukakan oleh Smalley &amp; Vita-Finzi (1968) yang berpendapat bahwa proses itu paling efektif bekerja selama terjadinya pengangkutan oleh angin di daerah gurun. Penelitian eksperimental yang dilakukan oleh Kuenen (1969) mengenai pengangkutan eolus gagal untuk mendukung gagasan tersebut. Kuenen menisbahkan lanau pada pelapukan batuan berbutir halus yang banyak mengandung kuarsa. Vita-Finzi &amp; Smalley (1970) menyimpulkan bahwa <em>glacial grinding</em> bertanggungjawab terhadap ruah lanau dalam rekaman geologi. Eratnya asosiasi antara <em>loess</em>—yang terutama disusun oleh lanau—dengan glasiasi kontinental sedikit banyaknya memperlihatkan kesesuaian dengan pendapat tersebut.</p>
<p>Hingga sejauh mana komposisi besar butir dari populasi yang lebih besar mempengaruhi kurva distribusi besar butir dari sedimen tertentu? Karakter bimodus yang diperlihatkan oleh sedimen sungai berbutir kasar dinisbahkan pada defisiensi primer dalam kelas-kelas besar butir yang memisahkan kelas-kelas modus (gambar 6-2). Apakah karakter bimodus dari material itu akan dipertahankan dalam endapan yang terbentuk oleh sungai? Agaknya hal itulah yang terjadi pada kasus sedimen yang diendapkan oleh es—<em>boulder clay</em> atau <em>till</em>. Analisis <em>till</em> umumnya memperlihatkan satu atau lebih modus sekunder yang agaknya tidak bersifat random. Modus sekunder itu mungkin merepresentasikan “pembebanan” es oleh material khusus yang pernah terpilah dan terendapkan pada siklus sedimentasi sebelumnya. Es yang bergerak di atas <em>sandy outwash</em> dapat mengambil banyak material penyusun <em>sandy outwash</em> itu sehingga hasil analisis besar butir endapan es akan memperlihatkan bahwa endapan itu hanya mengandung sedikit pasir. Masalah apakah hal yang analog terjadi juga pada sedimen endapan akuatis, hal itu masih belum dapat dipastikan, meskipun sejumlah peneliti berkeyakinan bahwa hal itu juga terjadi dalam sedimen endapan akuatis. Swenson (1942) berpendapat bahwa sedimen penyusun tepi Sungai Mississippi banyak terubah oleh input dari suatu anak sungai utama, yakni Sungai Maquoketa. Curray (1960) berkeyakinan bahwa kurva distribusi besar butir dari banyak sedimen di dasar Teluk Mexico ditentukan oleh proporsi beberapa sedimen yang sebenarnya kecil kemungkinannya untuk diendapkan secara bersama-sama.</p>
<p>3.1.5.2  <span style="text-decoration:underline;">Besar Butir dan Pengangkutan</span></p>
<p>Seberapa jauh dan dengan cara bagaimana proses-proses pengangkutan mempengaruhi besar butir dan distribusi besar butir sedimen? Efek-efek pengangkutan belum dapat dipahami sepenuhnya. Konsep-konsep yang ada dewasa ini terutama didasarkan pada penalaran deduktif dan hanya didukung oleh data percobaan atau data lapangan yang jumlahnya sangat terbatas. Meskipun banyak penelitian dilakukan untuk mengetahui efek-efek pengangkutan terhadap ukuran material yang di-angkut, namun kita masih belum dapat memastikan sebab-musabab timbulnya efek-efek besar butir sebagaimana yang terlihat dalam lingkungan-lingkungan alami. Secara umum, gravel yang diangkut oleh sungai tampaknya mengalami penurunan ukuran ke arah hilir (gambar 3-14). Selain itu, karena sudut-sudut material berukuran besar makin membundar dan karena sisi-sisinya makin halus ke arah hilir, maka diasumsikan bahwa abrasi merupakan proses yang bekerja aktif selama pengangkutan dan, oleh karenanya, penurunan ukuran ke arah hilir disebabkan oleh proses penghancuran seperti itu. Hal itu mungkin ada benarnya. Namun, sebagaimana dikemukakan pada Bab 14, penurunan ukuran dalam beberapa kasus kemungkinan besar tidak hanya disebabkan oleh abrasi, namun merupakan cerminan penurunan kompetensi sungai. Penurunan kompetensi itu sendiri pada gilirannya berkaitan dengan penurunan gradien sungai ke arah hilir.</p>
<p>Pernyataan bahwa pasir dan gravel mengalami penurunan ukuran ke arah hilir selama berlangsungnya pengangkutan hampir merupakan sebuah aksioma. Pembundaran yang terlihat pada semua kecur matang mengimplikasikan terjadinya peng-hancuran dan penurunan berat.</p>
<p>Abrasi merupakan sebuah istilah umum yang berarti penghancuran atau atrisi. Dengan pengertian seperti itu, istilah abrasi dapat diterapkan pada hampir setiap proses penurunan ukuran secara mekanis. Walau demikian, sebagian peneliti mengenal adanya beberapa jenis proses penurunan ukuran dan kemudian mendefinisikan ulang istilah abrasi dalam pengertian yang lebih terbatas. Marshall (1927) menyatakan adanya tiga proses penurunan ukuran: abrasi (dalam pengertian terbatas), tumbukan <em>(impact)</em>, dan <em>grinding</em>. Abrasi adalah efek pengeratan yang dilakukan oleh suatu partikel terhadap partikel lain. Abrasi merupa-kan proses penghancuran yang berlangsung paling lambat. Tumbukan adalah pukulan suatu partikel berukuran relatif besar terhadap partikel lain yang ukurannya lebih kecil. Karena itu, tumbukan hanya memegang peranan penting jika ada perbedaan ukuran yang berarti antara partikel yang menumbuk dengan partikel yang tertumbuk. Jika perbedaan ukuran itu cukup jauh dan jika suatu sistem didominasi oleh partikel besar, maka partikel kecil akan mengalami penghancuran dalam waktu relatif singkat. <em>Grinding</em> adalah <em>crushing</em> partikel kecil sewaktu berhubungan terus menerus dengan partikel yang lebih besar daripadanya dan dikenai oleh tekanan partikel-partikel besar itu. <em>Grinding</em> merupakan proses penghancuran yang paling efektif, bahkan lebih efektif dibanding tumbukan sekalipun. Dalam <em>abrasion mill</em>, partikel pasir yang bercampur dengan gravel dalam beberapa jam akan terubah menjadi partikel lanau dan lempung.</p>
<p>Wadell (1932) menyatakan adanya empat proses abrasi: pelarutan <em>(solution)</em>, atrisi <em>(attrition)</em>, <em>chipping</em>, dan penyubanan <em>(splitting)</em>. Perbedaan diantara keempat proses itu terutama terletak pada nisbah ukuran material yang dihasilkan oleh abrasi, relatif terhadap ukuran partikel sebelum terabrasi. Modus abrasi sendiri tidak dipertimbangkan dalam penggolongan tersebut. Jika partikel hasil abrasi berukuran suboptik, maka penghancurannya disebut pelarutan. Pelarutan dapat merupakan peng-hancuran ionik atau penghancuran koloidal. Jika partikel hasil abrasi dapat dilihat, namun ukurannya kurang dari <sup>1</sup>/<sub>150</sub> kali ukuran partikel asalnya, maka penghancurannya disebut atrisi. Jika partikel hasil abrasi masih cukup besar dan terbentuk akibat hilang-nya sudut-sudut partikel asal, maka proses penghancurannya disebut <em>chipping</em>. Jika proses penghancuran itu menghasilkan fragmen-fragmen yang ukurannya lebih kurang sama, maka proses itu disebut penyubanan.</p>
<p>Atrisi normal pada gravel menghasilkan material berukuran lanau atau lempung, bukan pasir. <em>Chipping</em> dan penyubanan jarang terjadi, kecuali di bawah aliran yang sangat cepat, dimana kondisi itu memicu terbentuknya <em>spalls</em> dan <em>broken rounds</em>. Bretz (1929) mengajak para ahli untuk memperhatikan berbagai <em>broken rounds</em> dari sejumlah gravel yang ada di scabland areas, Washington. Menurut Bretz (1929), persentase kerikil dan kerakal yang dahulu membundar dan sekarang ditemukan terpecah-pecah jauh melebihi jumlah pecahan gravel yang ditemukan dalam gosong-gosong di Sungai Columbia. Dengan demikian, dia menyimpulkan bahwa gravel scabland areas diangkut oleh banjir yang luar biasa besarnya. Sekuat apapun aliran “normal” dalam sungai masa kini, namun gravel yang diangkutnya tidak akan membentuk <em>broken rounds</em>, melainkan hanya akan menyebabkan pembundaran pada gravel itu. Meskipun atrisi normal jauh lebih sering terjadi dibanding penyubanan, namun hal itu tidak berarti bahwa penyubanan jarang terjadi. Sebagai buktinya, kita bisa menemukan <em>broken rounds</em> dalam kebanyakan gravel. Proporsi <em>broken rounds</em> dalam suatu gravel mungkin tidak hanya berkaitan dengan kekuatan aliran, namun mungkin juga dengan ketahanan partikel dan proses-proses pemecahan batuan pasca-pengendapan.</p>
<p>Kuenen (1956) mencoba untuk menganalisis proses abrasi. Dia mengenal adanya tujuh proses penurunan ukuran partikel: penyubanan, <em>crushing</em>, <em>chipping</em>, <em>cracking</em>, <em>grinding</em>, pelarutan, dan <em>blasting</em>. <em>Cracking</em> adalah proses yang bertanggungjawab terhadap pembentukan <em>percussion marks</em> berbentuk bulan sabit pada permukaan kerikil. <em>Sand blasting</em> adalah penghancuran yang disebabkan oleh pasir yang menumbuk suatu kerikil yang sedang diam.</p>
<p>Hingga dewasa ini belum ada penelitian lengkap atau menyeluruh terhadap efek-efek penurunan ukuran butir terhadap parameter-parameter besar butir. Hal itu antara lain terjadi karena proses itu berlangsung secara bersamaan dengan proses pe-milahan sehingga para ahli mendapatkan kesukaran untuk memisahkan efek-efek penurunan ukuran dari efek-efek pemilahan. Sebagaimana dikemukakan oleh Marshall (1927), di bawah kondisi tertentu, beberapa partikel dikenai oleh proses penurunan ukuran yang lebih cepat dibanding partikel lain. Hal itu banyak menimbulkan perubahan dalam komposisi “campuran” asli dalam <em>abrasion mill</em>. Jika produk abrasi yang berbutir halus dipengaruhi oleh efek-efek pemilahan, maka hasilnya adalah peningkatan besar butir rata-rata dari residu dan peningkatan pemilahan (penurunan simpangan baku).</p>
<p>Para ahli juga makin lama makin tertarik pada laju penurunan ukuran dan faktor-faktor yang mengontrolnya. Sebagian aspek laju abrasi dapat dipelajari dalam <em>abrasion mill</em> dan percobaan lain yang berkaitan dengannya, namun para ahli menemukan kesulitan untuk menerapkan hasil percobaan-percobaan tersebut pada situasi alami dimana penurunan ukuran hanya sebagian (mungkin sebagian kecil saja) yang berkaitan dengan penghancuran. Sebagian besar penurunan ukuran ke arah hilir dinisbah-kan pada pemilahan.</p>
<p>Penelitian-penelitian laboratorium yang terkontrol menawarkan ancangan lain untuk memecahkan masalah itu. Percobaan-percobaan itu pertama kali dilakukan oleh Daubrée (1879) yang memberikan sumbangan pemikiran penting mengenai hal itu. Walau demikian, penelitian eksperimental seperti itu memiliki beberapa kelemahan. Pertama, penelitian itu menyederhanakan permasalahan karena tidak seorang pun yang dapat memastikan bahwa kondisi-kondisi dalam <em>abrasion mill</em> mendekati (karena yang jelas tidak sama) kondisi-kondisi sungai atau pesisir. Hasil-hasil penelitian eksperimental dapat diekstrapolasikan hingga limit-limit tertentu: karena sebagian besar penelitian <em>abrasion mill</em> dilakukan pada fragmen berukuran kerikil, maka berbagai kesimpulan yang diambil daripadanya dapat menimbulkan galat ketika diterapkan pada pasir. Sejak penelitian pionir yang dilaku-kan oleh Daubrée (1879), tidak sedikit ahil mencoba melakukan penelitian sejenis terhadap penghancuran gravel, termasuk Wentworth (1919, 1931b), Marshall (1927), Schoklitsch (1933), Krumbein (1941b), Raleigh (1943, 1944) dan Potter (1955). Lihat gambar 3-14. Penelitian-penelitian itu dilakukan dengan memakai <em>abrasion mill</em> atau <em>tumbling barrel</em>. Penelitian-penelitian ter-akhir (Kuenen, 1955, 1956, 1964; Bradley dkk, 1972) menggunakan <em>circular moat</em>, sebuah alat yang diyakini lebih mendekati kondisi sungai alami.</p>
<p>Penelitian-penelitian eksperimental tersebut di atas memperlihatkan bahwa penurunan ukuran gravel oleh abrasi dan proses-proses lain yang berkaitan dengannya merupakan fungsi dari ukuran partikel, khuluk (ketahanan) partikel, khuluk dan “kehebatan” <em>(rigor; violence)</em> aksi abrasi, ukuran dan proporsi material yang mengalami abrasi, khuluk material dasar dimana gravel bergerak (apakah berupa pasir atau gravel), serta durasi proses abrasi atau jarak abrasi.</p>
<p>Efek besar butir jelas terlihat: gravel dengan cepat terabrasi dan membundar, sedangkan pasir sangat lambat terabrasi. Bahkan, untuk partikel kerikil sekalipun, prosentase material yang hilang untuk suatu jarak pengangkutan tertentu lebih banyak terjadi pada partikel yang ukurannya lebih besar (Kuenen, 1956). Hasil penelitian itu menjadi makin kompleks pada saat diguna-kan sebuah campuran yang terdiri dari beberapa kategori besar butir, bukan material yang hanya disusun oleh satu kategori besar butir. Dalam campuran, justru partikel halus yang lebih banyak mengalami penghancuran. Hal itu mungkin terjadi karena pengaruh gaya-gaya yang diberikan oleh partikel besar terhadap partikel kecil. Sebagaimana diakui oleh semua peneliti, ketahanan <em>(durability)</em> material memegang peranan penting. Secara umum, rijang, kuarsit, dan kuarsa urat merupakan material yang paling tahan terhadap penghancuran; batuan metamorf menempati posisi kedua, sedangkan batupasir dan batugamping merupakan material yang paling lemah terhadap penghancuran (Plumley, 1948; Kuenen, 1956). “Kehebatan” aksi penghancuran juga merupakan faktor penting. Laju penghilangan massa meningkat dengan makin hebatnya aksi penghancuran. Percobaan-percobaan yang dilakukan oleh Kuenen (1956) menunjukkan bahwa abrasi sebanding dengan pangkat dua kecepatan aliran. Masalah apakah ada atau tidak ada kecepatan kritis untuk mineral atau batuan tertentu, di atas kecepatan kritis mana <em>chipping</em> dan penyubanan lebih dominan dibanding tipe abrasi lain, sebagaimana dikemukakan oleh Krynine (1942), tidak diketahui. Sebagaimana diperlihatkan oleh Kuenen (1956), khuluk permukaan dasar sungai, di atas mana gravel diangkut, juga memegang peranan penting. Penghilangan massa akan relatif rendah jika material penyusun dasar sungai berupa pasir dan akan relatif tinggi, mungkin sekitar lima kali lipat, apabila material penyusun dasar sungai berupa gravel. Efek bentuk asal dari partikel tampaknya sangat kecil. Walau demikian diketahui bahwa laju penghilangan massa menjadi menurun sejalan dengan ber-tambahnya kebundaran partikel. Pengaruh agen geologi pada penghancuran gravel lebih rendah dibanding pengaruhnya terhadap penghancuran pasir. Penelitian-penelitian eksperimental yang dilakukan terhadap <em>surf action</em> masih sangat sedikit (Kuenen, 1964). Penghancuran gravel oleh <em>surf action</em> agaknya berlangsung cepat.</p>
<p>Semua penelitian eksperimental yang dilakukan selama ini menunjukkan bahwa laju penurunan besar butir mencapai nilai tertinggi pada tahap awal proses pengangkutan dan cenderung menurun secara eksponensial sejalan dengan bertambahnya waktu dan jarak angkut (Krumbein, 1941b; Schoklitsch, 1933).</p>
<p>Penelitian-penelitian eksperimental terhadap abrasi pasir antara lain dilakukan oleh Daubrée (1879), Anderson (1926), Thiel (1940), Kuenen (1959, 1960a, 1960b), serta Berthois &amp; Portier (1957). Semua penelitian itu menunjukkan bahwa, apabila tidak terdapat partikel kasar, abrasi pasir berlangsung dengan laju yang jauh lebih rendah. Daubrée (1879), misalnya saja, menunjuk-kan bahwa partikel pasir hanya akan kehilangan massa sebanyak 0,01% per kilometer jarak angkut. Dengan menggunakan <em>circular moat</em>, bukan <em>revolving mill</em>, Kuenen (1958) menemukan fakta bahwa butiran kuarsa yang berdiameter sekitar 0,5 mm akan kehilangan sekitar 0,0001% material per kilometer jarak angkut. Hasil penelitiani itu mengimplikasikan bahwa pengangkut-an sejauh 10.000 km tidak akan menghasilkan pembundaran yang berarti pada partikel kuarsa dengan ukuran sebesar itu. Karena sungai pada umumnya memiliki panjang sekitar 1000 km, bahkan kurang dari itu, maka 10 siklus abrasi mekanis oleh sungai hanya akan menyebabkan penghilangan massa kurang dari 1%. Penelitian lain, dengan memakai <em>abrasion mill</em> (Berthois &amp; Portier, 1957; Thiel, 1940) menunjukkan penghilangan massa yang lebih besar dari itu, namun hasil penelitian itu tetap menunjukkan bahwa penurunan ukuran yang berarti pada pasir kuarsa tidak dapat dicapai oleh aksi sungai. Untuk mengubah suatu partikel pasir berbentuk kubus dengan panjang sisi 1 mm agar sudut-sudutnya berubah sedemikian rupa sehingga kubus itu berubah menjadi bola dengan diameter 1 mm diperlukan penghilangan massa sebanyak 47,5%. Padahal, penghilangan terbanyak sekalipun yang pernah dilaporkan selama ini tidak menyebabkan terjadinya penurunan besar butir dan perubahan bentuk yang berarti; paling-paling hanya menyebabkan sedikit perubahan kedua sifat itu. Foto-foto partikel kuarsa berukuran pasir yang disajikan oleh Thiel (1940), sebelum dan setelah mengalami abrasi yang setara dengan pengangkutan sejauh 5000 mil (sekitar 8333 km), mendukung kesimpulan tersebut. Foto-foto partikel kuarsa berukuran pasir yang disajikan oleh Kuenen (1958), sebelum dan setelah mengalami abrasi sejauh 248 km, juga praktis tidak memperlihatkan perubahan apa-apa. Efek-efek yang ditimbulkan oleh pengangkutan angin tampaknya beberapa kali lebih kuat dibanding efek-efek pengangkutan air (Kuenen, 1960b). Fakta itu mendorong Kuenen untuk berpendapat bahwa pembundaran partikel pasir harus dinisbahkan pada aksi angin. Partikel yang diameternya lebih kecil dari 0,05 mm sama sekali tidak terabrasi.</p>
<p>Setelah memperhatikan hasil berbagai penelitian eksperimental di atas, ada satu pertanyaan yang perlu dijawab: Apa peran-an abrasi alami dalam mengurangi atau mengubah ukuran individu-individu partikel atau dalam mengubah distribusi besar butir suatu populasi partikel? Jelas bahwa proses itu menyebabkan terjadinya perubahan bentuk, kebundaran, dan tekstur permuka-an partikel (efek-efek pengangkutan terhadap perubahan sifat-sifat tersebut akan dibahas pada sub bab 3.2). Walau demikian, penurunan ukuran yang berarti ke arah hilir sebagaimana yang teramati pada banyak sungai kemungkinan besar hanya sedikit dipengaruhi oleh abrasi. Penurunan ukuran itu sangat dipengaruhi oleh penurunan gradien dan kompetensi sungai ke arah hilir (lihat Bab 14). Pada lingkungan-lingkungan alami, partikel kuarsa agaknya tidak atau hanya sedikit mengalami penurunan ukuran akibat abrasi. Pendeknya, distribusi besar butir merupakan produk aksi hidrolik, bukan produk abrasi, dan secara umum distribusi besar butir suatu endapan merupakan warisan dari disintegrasi batuan dan bukan merupakan produk agen atau proses pengangkutan.</p>
<p>3.1.5.3  <span style="text-decoration:underline;">Besar Butir dan Proses-Proses Pengendapan</span></p>
<p>Gagasan yang menyatakan bahwa sebagian besar distribusi frekuensi besar butir merupakan campuran dari dua atau tiga populasi besar butir yang berkaitan dengan modus pengangkutan sedimen dan bahwa penafsiran kurva distribusi besar butir merupakan sebuah masalah dalam mengenal dan mengaitkan subpopulasi-subpopulasi itu dengan proses-proses hidrodinamika tertentu makin lama makin mendapatkan dukungan (gambar 3-15).</p>
<p>Ancangan ini pertama-tama diterapkan pada endapan sungai yang berbutir kasar. Khuluk bimodus terutama sering ditemu-kan dalam endapan tersebut. Pasir, di lain pihak, cenderung unimodus. Diantara beratus-ratus karya tulis yang menyajikan hasil analisis gravel sungai di California, misalnya saja, 92% diantaranya memiliki lebih dari satu modus (Conkling dkk, 1934). Sedangkan untuk kasus endapan pasir, hanya 42% saja yang memiliki modus lebih dari satu. Secara umum, gravel yang memiliki modus lebih dari satu memiliki kelas modus pada salah satu kelas gravel, sedangkan modus sekunder berada pada kelas pasir. Modus sekunder itu 4 atau 5 kelas lebih kecil daripada kelas modus utama. Dengan demikian, partikel-partikel penyusun utama endapan itu 16 hingga 32 kali lebih besar dibanding partikel sekunder. Gravel aluvial lain juga memperlihatkan sifat bimodus. Krumbein (1940, 1942a) menemukan bahwa 85% gravel endapan banjir di San   Gabriel dan Arroyo Seco bersifat bimodus. Dua puluh diantara 23 sampel gravel teras Black Hills juga bersifat bimodus (Plumley, 1948).</p>
<p>Semua data tersebut di atas digunakan sebagai dasar pemikiran adanya dua populasi yang berkorespondensi dengan dua modus pengangkutan partikel. Udden (1914) menyatakan bahwa, “… medium pengangkut… cenderung mengangkut dan meng-endapkan dua kategori besar butir, bukan satu kategori besar butir. Endapan utama yang dihasilkannya akan mengandung partikel-partikel kasar yang jumlahnya lebih sedikit dibanding kelas modus.” Dia mengasumsikan bahwa kelas modus akan terletak pada kelas partikel yang relatif halus, sedangkan kelas modus sekunder akan terletak pada kelas gravel. Sebenarnya, justru yang sebaliknya lah yang sering ditemukan.</p>
<p>Fraser (1935) berpendapat bahwa pengendapan kerakal dan pasir halus secara simultan tidak mungkin terjadi dan dia menjelaskan bahwa kecepatan arus yang mengangkut kerakal berukuran 25 cm harus menurun sebanyak 60% sebelum mampu mengendapkan partikel berukuran 1 mm. Perubahan kecepatan aliran yang drastis seperti itu kemungkinan besar tidak akan terjadi dan Fraser (1935) berkeyakinan bahwa pada satu titik waktu, sungai hanya mengendapkan partikel-partikel dengan kisaran ukuran yang terbatas dan bahwa material relatif halus yang ditemukan dalam gravel sebenarnya terbentuk kemudian melalui infiltrasi. Pendapat seperti itu juga dikemukakan oleh Dal Cin (1967), berdasarkan hasil penelitiannya terhadap gravel di Sungai Piave, Itali. Plumley (1948) juga menafsirkan material halus, yang merupakan modus sekunder dalam banyak gravel, sebagai material yang terjebak dan mengisi ruang kosong diantara partikel-partikel besar. Untuk mendukung pendapatnya itu, Plumley (1948) menyatakan bahwa jika diasumsikan bahwa ada dua fraksi besar butir dalam suatu endapan—dimana fraksi halus cukup kecil sedemikian rupa sehingga dapat menempati ruang yang terletak diantara fraksi kasar—maka fraksi halus itu akan menempati sekitar 22–32% berat dari keseluruhan endapan, tergantung pada keketatan pembandelaannya. Karena gravel alami rata-rata mengandung 20% modus sekunder dan besar butir yang berkaitan dengannya, agaknya fraksi itu memang terjebak diantara partikel-partikel kasar. Meskipun terdapat perbedaan antara bentuk gravel alami dengan partikel ideal yang berbentuk bola, meskipun dalam suatu gravel sering terdapat dua fraksi besar butir yang ukurannya jauh berbeda, dan meskipun pembandelaan endapan alami tidak memperlihatkan keteraturan geometris sempurna, namun hasil-hasil pengamatan selama ini memperlihatkan banyak kesesuaian dengan hasil-hasil kajian teoritis.</p>
<p>Sudah barang tentu distribusi bimodus dapat muncul akibat prosedur pengambilan sampel dimana material yang dikumpul-kan berasal dari dua lapisan yang berbeda, masing-masing dengan populasinya sendiri-sendiri (Bagnold, 1941). Namun banyak dsitribusi bimodus memang bukan merupakan artefak teknik pengambilan sampel sebagaimana distribusi besar butir yang diperlihatkan oleh sampel-sampel yang berasal dari satu lapisan. Kedua populasi itu tampak diendapkan pada episode peng-endapan yang sama.</p>
<p>Distribusi bimodus hanya merupakan sebuah kasus khusus dari pencampuran dua populasi, dimana pada kasus itu kedua populasi besar butir itu terpisahkan cukup jauh sedemikian rupa sehingga distribusi keseluruhan tampak bimodus. Apabila kelas-kelas besar butir dengan frekuensi yang relatif tinggi itu tidak berjauhan, maka populasi keseluruhan akan tampak unimodus. Walau demikian, populasi komposit akan tampak menceng dan distribusi frekuensi besar butir itu akan berbeda dengan log normal. Peningkatan kesadaran bahwa banyak distribusi besar butir merupakan komposit dari dua atau tiga populasi telah mendorong sebagian ahli untuk mengaitkan subpopulasi-subpopulasi itu pada modus pengangkutan sedimen yang berbeda-beda.</p>
<p>Doeglas (1946) dan Harris (1958a, 1958b) mencoba mengaitkan sifat itu dengan kondisi-kondisi pengangkutan yang ber-beda. Kemajuan besar dalam hal ini terjadi dengan diterbitkannya karya-karya tulis Moss (1962, 1963, 1972). Moss melihat adanya tiga subpopulasi yang berkaitan dengan proses sedimentasi yang berbeda-beda. Populasi-populasi itu dapat diketahui dari kurva distribusi besar butir. Bagian utama dari distribusi besar butir terletak antara persentil 20 dan 80. Populasi itu merupakan beban saltasi utama. “Ekor” kasar dari distribusi besar butir merupakan beban traksi, sedangkan “ekor” halus merupakan material suspensi yang terjebak pada ruang diantara rangka utama endapan tersebut. Sebagaimana dikemukakan oleh Moss (1962), dalam sejumlah endapan sungai yang berbutir kasar, beban traksi menjadi bagian utama dari endapan itu. Endapan-endapan itu merupakan endapan bimodus yang telah dijelaskan di atas.</p>
<p>Penelitian utama pada beberapa tahun terakhir, yang mengaitkan populasi-populasi distribusi besar butir dengan hidro-dinamika, adalah penelitian yang dilakukan oleh Visher (1969). Dia  mengasumsikan bahwa kurva distribusi besar butir dari semua sedimen klastika merupakan komposit dari tiga populasi dasar—populasi yang diangkut dengan cara traksi, saltasi, dan suspensi—dan setiap populasi itu memiliki distribusi log normal sehingga akan tampak sebagai sebuah garis lurus dalam skala probabilitas (dengan menggunakan log diameter atau notasi phi). Lihat gambar 3-15. Hubungan seperti itu diperlihatkan oleh lebih dari 2000 hasil analisis besar butir yang dilakukan pada endapan yang berasal dari lingkungan yang berbeda-beda.</p>
<p>Apa hubungan antara bentuk partikel dan kurva distribusi besar butir—kelimpahan relatif dan karakter komponen-komponen-nya—dengan lingkungan pengendapan yang ditentukan keberadaannya berdasarkan aspek-aspek morfologi? Visher ber-keyakinan bahwa karakter individu kurva distribusi besar butir memberikan dasar untuk mengenal lingkungan, namun dia juga menyatakan bahwa “setiap usaha untuk mendefinisikan secara cermat limit-limit segmen garis yang miring, titik-titik infleksi, dan persentase ketiga populasi dasar untuk setiap lingkungan pengendapan tidak mungkin dapat dilakukan.”</p>
<p>Hingga disini dapat disimpulkan bahwa beberapa ancangan untuk mencari arti dari kurva distribusi besar butir sedimen klastika memiliki kesahihan tersendiri. Faktor-faktor hidrodinamika hingga tingkat tertentu dapat dihubungkan dengan lingkungan geomorfologi. Suatu proses tertentu mungkin bekerja dominan pada suatu lingkungan, namun mungkin hanya berperan sekunder pada lingkungan lain.</p>
<p><strong>3.1.6  Distribusi Besar Butir dan Analisis Lingkungan</strong></p>
<p>Udden berkeyakinan bahwa komposisi besar butir suatu sedimen klastika dikontrol oleh kondisi hidrodinamika yang ada sewaktu sedimen itu diendapkan. Karena itu, jika sedimen purba diendapkan di bawah kondisi yang lebih kurang sama dengan kondisi pengendapan masa kini, maka pemelajaran sedimen modern akan akan mampu mengungkapkan karakter besar butir setiap tipe sedimen, dimana karakter itu selanjutnya dapat digunakan untuk mengungkapkan asal-usul endapan purba. Karena itu pula, Udden melakukan banyak “analisis mekanik”, khususnya endapan angin, dan menerbitkan pada 1914 lebih dari 350 hasil analisis mekanik bersama-sama dengan sebuah ikhtisar mengenai “hukum-hukum” yang menurut dia mengatur komposisi sedimen klastika. Wentworth (1931a) menerbitkan lebih dari 800 hasil analisis mekanik dalam bentuk grafik untuk memperluas hasil penelitian Udden. Pengamatan terhadap pola grafik yang disajikan dalam berbagai histogram yang dibuat oleh Wentworth menunjukkan bahwa pola yang berasal dari lingkungan yang berbeda juga berbeda-beda. <em>Glacial till</em> dan pasir gisik, misalnya saja, sangat jauh berbeda. Di lain pihak, beberapa sedimen yang diendapkan pada lingkungan pengendapan yang berbeda memperlihatkan komposisi mekanik yang mirip satu sama lain, misalnya pasir gisik dan pasir gumuk.</p>
<p>Ketidakmampuan untuk memisahkan lingkungan atau agen pengendapan berdasarkan pola grafik distribusi besar butir tidak menyurutkan hasrat para ahli untuk mencari sifat-sifat distribusi besar butir yang lebih samar. Keller (1945) memakai nisbah kuantitas dua kelas proksimal terhadap kelas modus—apa yang dia sebut sebagai nisbah <em>F : C</em>—untuk membedakan pasir endapan angin dengan pasir gisik. Nisbah yang diajukannya merupakan nilai taksiran dari kemencengan. Sejak itu, usaha-usaha yang lebih canggih dan menggunakan satu atau beberapa parameter besar butir dilakukan untuk membedakan pasir sungai, gisik, dan gumuk. Friedman (1961, 1962, 1967) mencoba untuk membedakan pasir gisik dan pasir gumuk dengan memakai plot kemencengan terhadap mean dan untuk membedakan pasir sungai dengan pasir gisik dengan memakai plot kemencengan terhadap simpangan baku (gambar 3-16). Penelitian yang dilakukan oleh Moiola &amp; Weiser (1968), dengan memakai ancangan yang mirip, mendukung gagasan yang dikemukakan oleh Friedman. Ahli lain juga menggunakan diagram tebar <em>(scatter diagram)</em> yang melibatkan dua variabel. Passega (1957, 1964), misalnya saja, merajahkan persentil 1, <em>C</em> (pada dasarnya ukuran paling kasar), terhadap besar butir rata-rata, <em>M</em>. Demikian pula dengan apa yang dilakukan oleh Bull (1962). Diasumsikan bahwa pola <em>CM</em> tertentu mengindikasikan proses atau agen pengendapan tertentu. Passega (1957, 1964), misalnya saja, mampu memisahkan aksi arus turbid dengan aksi arus biasa.</p>
<p>Pemakaian parameter-parameter besar butir dalam berbagai kombinasi sebagai indikator lingkungan juga pernah dicobakan oleh Mason &amp; Folk (1958), Gees (1965), Schlee dkk (1965), Kolduk (1968), Doeglas (1968), Solohub &amp; Klovan (1970), serta Buller &amp; McManus (1972). Tidak semua penulis itu berhasil memisahkan lingkungan-lingkungan pengendapan pasir dengan ancangan tersebut. Bahkan, pada beberapa kasus, ancangan itu tidak memberikan hasil apa-apa. Pada kasus lain, terjadi pertumpang-tindihan pada diagram tebar. Karena itu, hasil-hasil yang diperoleh menjadi taksa.</p>
<p>Metoda lain yang lebih canggih lagi menggunakan lebih dari dua variabel sekaligus. Teknik itu adalah analisis diskriminan <em>(discriminant analysis)</em> yang dikembangkan oleh Sahu (1964a, 1964b). Klovan (1966) memakai analisis faktor <em>(factor analysis)</em> pada sedimen Barataria   Bay, Louisiana, untuk mengisolasi faktor-faktor yang berkaitan dengan proses-proses yang mengontrol pengendapan sedimen di tempat itu: <em>surf</em>, arus dasar, dan pengendapan air tenang.</p>
<p>Pendeknya, dapat dikatakan bahwa usaha-usaha untuk mengaitkan distribusi besar butir suatu sedimen dengan lingkungan pengendapannya hanya berhasil secara terbatas. Agaknya hasil-hasil negatif muncul dari premis bahwa kurva distribusi besar butir dikontrol oleh faktor-faktor hidrodinamika dan bahwa setiap lingkungan dicirikan oleh rezim hidrodinamika yang khas. Tidak satupun diantara kedua premis itu yang sahih. Efek provenansi (maksudnya, karakter besar butir sedimen yang masuk ke dalam lingkungan pengendapan) belum diperhitungkan sewajarnya. Selain itu, proses-proses hidrodinamika yang sama dapat bekerja pada lebih dari satu lingkungan pengendapan. Dengan kata lain, lingkungan hidrodinamika dan lingkungan pengendapan seperti yang biasa didefinisikan berdasarkan geomorfologi mungkin tidak tepat sama (Solohub &amp; Klovan, 1970).</p>
<p>Terakhir, kita dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan berikut:</p>
<ol>
<li>Berbagai pengukuran (misalnya berat dan volume) dapat dilakukan terhadap individu-individu partikel atau pada agregat partikel. Pengukuran itu dapat dilakukan dengan banyak cara, misalnya dengan pengayakan, elutriasi, dan penyerapan gas. Hasil-hasil pengukuran itu kemudian dikonversikan menjadi “diameter” partikel berdasarkan asumsi-asumsi tertentu. Banyak diantara asumsi-asumsi itu hanya merupakan suatu pendekatan yang tidak terlalu dekat.</li>
<li>Distribusi besar butir yang diketahui dari hasil pengukuran itu dinyatakan dalam prosentase jumlah partikel atau prosentase berat partikel yang ada dalam setiap kelas besar butir. Kurva distribusi besar butir, baik yang didasarkan pada prosentase berat maupun prosentase jumlah partikel, memiliki bentuk yang beragam.</li>
<li>Prosedur-prosedur analitik baku dapat diterapkan dengan baik pada sedimen yang tidak terkonsolidasi, terutama sedimen masa kini. Namun, prosedur-prosedur itu tidak dapat diterapkan pada sedimen purba yang kompak. Karena itu, prosedur-prosedur tersebut memiliki manfaat yang terbatas. Demikian pula, berbagai kesimpulan yang diperoleh dari hasil penerapan prosedur-prosedur itu pada sedimen masa kini juga memiliki penerapan yang terbatas, misalnya dalam membedakan beberapa lingkungan pengendapan berdasarkan parameter-parameter tekstur.</li>
<li>Faktor pembatas lain yang lebih serius adalah alterasi diagenetik. Alterasi diagenetik dapat menyebabkan berubahnya distribusi besar butir asli. Alterasi itu muncul akibat peletisasi oleh organisme, degradasi unsur-unsur rangka batuan yang berukuran besar, rekristalisasi, dan proses lain. Karena itu, kita perlu melaksanakan berbagai prosedur analitik seperti disagregasi dan dispersi sebelum melakukan analisis sedimentasi. Distribusi besar butir serpih paling rentan terhadap perubahan diagenetik dan teknik analisis yang digunakan. Karena itu, sebagian besar analisis besar butir dilakukan pada batupasir yang tidak terlalu rentan terhadap perubahan-perubahan seperti itu.</li>
<li>Masih perlu dipertanyakan lagi apakah distribusi besar butir memang indikatif untuk agen dan/atau lingkungan tertentu atau tidak. Selain itu, kalaupun distribusi besar butir memang merupakan indikator agen dan/atau lingkungan pengendapan, namun analisis besar butir mungkin tetap tidak dapat diterapkan pada batuan purba yang telah terlitifikasi dengan baik.</li>
<li>Pendeknya, meskipun literatur mengenai disrtibusi besar butir sedimen klastika demikian banyak dan tidak sedikit usaha telah dilakukan para ahli untuk mendefinisikan besar butir, mengukurnya, dan menghitung parameter-parameter distribusi besar butir, namun input akhir yang diberikannya dalam pemecahan masalah-masalah geologi sangat mengecewakan dan tidak sesuai dengan begitu banyaknya usaha yang telah dilakukan selama ini.</li>
<li>Walau demikian, masih ada aspek besar butir yang bermanfaat. Aspek itu bahkan dapat diketahui dari batuan yang telah terlitifikasi. Aspek yang dimaksud adalah ukuran dan penyebaran ukuran kerikil terbesar yang ada dalam konglomerat, jenis fenoklas (<em>phenoclast</em>, yakni fragmen luar yang mengindikasikan bahwa fragmen itu telah diangkut jauh dari sumbernya), dan unsur-unsur rangka yang, meskipun bukan sekedar sifat besar butir, namun memiliki kebenaan geologi yang penting. Kita juga dapat melakukan penelitian terhadap bentuk, kebundaran, tekstur permukaan, dan komposisi.</li>
</ol>
<p><strong>3.2  BENTUK DAN KEBUNDARAN</strong></p>
<p>Bentuk <em>(shape)</em> dan kebundaran <em>(roundness)</em> pasir dan gravel sejak lama digunakan untuk mengungkapkan sejarah endapan dimana partikel itu berada. Bentuk khas dari kerikil yang terbentuk oleh aksi es dan angin telah lama diketahui. Efek agen-agen lain tidak terlalu jelas dan menjadi bahan perdebatan hangat. Apakah kerikil gisik lebih pipih dibanding kerikil sungai? Apakah angin menyebabkan pembundaran partikel pasir lebih efektif dibanding air? Berapa limit besar butir minimal, jika ada, yang bentuknya dapat dipengaruhi oleh aliran air? Apakah partikel kuarsa dapat mengalami pembundaran yang efektif dalam satu daur sedimentasi? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu masih belum mendapatkan jawaban konklusif. Padahal, jawaban konklusif itu akan membantu kita dalam menafsirkan sejarah geologi suatu sedimen.</p>
<p><strong>3.2.1  Bentuk</strong></p>
<p>Bentuk sebuah benda dapat digolongkan dengan banyak cara. Para ahli geometri telah mendefinisikan bentuk-bentuk reguler seperti kubus, prisma, bola, silinder, dan kerucut. Demikian pula, para ahli kristalografi telah mendefinisikan berbagai bentuk kristal. Tidak satupun diantara kedua sistem klasifikasi itu sesuai untuk diterapkan pada partikel sedimen. Bentuk partikel sedimen paling banter hanya mendekati bentuk geometris. Istilah-istilah yang digunakan untuk menyatakan kemiripan suatu partikel sedimen dengan benda geometris—misalnya prismoid, bipiramid <em>(bipyramidal)</em>, piramid <em>(pyramidal)</em>, membaji <em>(wedge-shape)</em>, atau tabuler-sejajar <em>(parallel-tabular)</em>—memang dapat dipakai (Wentworth, 1936a). Namun, penggolongan seperti itu tidak saja kualitatif sifatnya, namun juga tidak memiliki kaitan dengan sifat dinamis benda-benda itu selama terangkut. Karena itu, kita memerlukan adanya suatu indeks bentuk yang memungkinkan dilakukannya analisis matematis atau analisis grafis sedemikian rupa sehingga kita akan dapat merekonstruksikan kurva frekuensi distribusi bentuk partikel.</p>
<p>Bentuk-bentuk tertentu tidak dapat dinyatakan dengan bilangan sederhana. Sebagai contoh, kristal euhedra dari beberapa mineral berat dan bentuk kurvatur khas dari fragmen gelas vulkanik sukar untuk dinyatakan secara numerik. Bentuk khas dari <em>wind-faceted stone</em>—seperti <em>einkanter</em> dan <em>dreikanter</em> (Bryan, 1931; Whitney &amp; Dietrich, 1973)—<em>broken rounds</em> (Bretz, 1929), serta <em>flat-iron form</em> dari <em>glacial cobble</em> (Von Engelen, 1930) tidak dapat direduksi ke dalam satu angka tunggal. Walau demikian, untuk alasan yang telah dikemukakan di atas, suatu indeks numerik atau indeks kuantitatif sangat bermanfaat apabila digunakan dalam analisis bentuk partikel dan banyak usaha telah dilakukan oleh para ahli untuk menemukan indeks seperti itu.</p>
<p>Salah satu rancangan yang digunakan adalah memilih suatu rujukan baku. Rujukan yang biasa digunakan adalah sebuah bola. Bola dipilih sebagai rujukan karena: (1) bola merupakan bentuk akhir yang akan dicapai oleh banyak fragmen batuan dan mineral yang terabrasi pada jangka panjang; dan (2) bola memiliki beberapa sifat unik. Diantara semua bentuk geometris yang volumenya sama, bola memiliki luas permukaan yang paling kecil. Karena itu, dibanding benda-benda lain yang volume dan densitasnya sama, bola memiliki <em>settling velocity</em> tertinggi ketika mengendap melalui suatu fluida (Krumbein, 1942b). Lihat gambar 3-17. Karena itu pula, di bawah kondisi pengangkutan suspensional, partikel yang membundar cenderung untuk terpisah dari partikel lain yang tidak berbentuk bola, meskipun densitas dan volumenya sama.</p>
<p>Idealnya, kebolaan <em>(sphericity)</em> suatu partikel didefinisikan sebagai <em>s/S</em>, dimana <em>s</em> adalah luas permukaan suatu bola yang volumenya sama dengan partikel, sedangkan <em>S</em> adalah luas permukaan aktual dari partikel itu. Untuk partikel berbentuk bola, maka <em>s/S</em> akan berharga 1,0. Partikel lain yang tidak berbentuk bola akan memiliki nilai <em>s/S</em> yang lebih kecil dari 1,0. Karena kita akan menemukan kesukaran untuk menentukan luas permukaan partikel sedimen yang pada umumnya berukuran kecil dan tidak beraturan, maka nilai kebolaan suatu partikel dapat didekati dari nilai <em>d<sub>n</sub>/D<sub>s</sub></em>, dimana <em>d<sub>n</sub></em> adalah diameter sebuah bola yang volumenya sama dengan partikel, sedangkan <em>D<sub>s</sub></em> adalah diameter suatu bola imajiner yang dapat melingkupi partikel itu (umumnya merupakan nilai diameter terpanjang dari partikel itu) (Wadell, 1935).</p>
<p>Dalam suatu sampel pasir atau gravel, setiap partikel akan memiliki nilai kebolaan tersendiri. Walau demikian, sebagian partikel itu akan berbentuk seperti cakram (salah satu sumbunya pendek, sedangkan dua sumbu yang lain lebih kurang sama). Partikel lain mungkin berbentuk seperti batang (salah satu sumbunya panjang, sedangkan dua sumbu yang lain lebih kurang sama). Kedua bentuk itu akan memiliki nilai kebolaan yang rendah. Namun, indeks kebolaan seperti yang telah dijelaskan di atas tidak mampu membedakan kedua bentuk tersebut. Padahal, pembedaan antara kedua bentuk itu sangat penting artinya dalam penelitian tertentu, misalnya saja penelitian kemas gravel.</p>
<p>Hal itulah yang kemudian mendorong sejumlah ahli untuk mengajukan indeks kebolaan lain. Semua indeks itu melibatkan pendefinisian dan pengukuran beberapa “diameter” partikel dan pemilihan satu atau lebih nisbah untuk mengungkapkan bentuk. Zingg (1935) menggunakan nisbah <em>b/a</em> dan <em>c/b</em> (dimana <em>a</em>, <em>b</em>, dan <em>c</em> berturut-turut panjang, lebar, dan tebal partikel) untuk mendefinisikan empat kategori bentuk (gambar 3-18 dan tabel 3-8). Kategori-kategori itu—<em>oblate</em>, <em>prolate</em>, <em>triaxial</em>, dan <em>equi-axial</em>—dan hubungannya dengan indeks kebolaan Wadell diperlihatkan pada gambar 3-19.</p>
<p>Sebagian ahli juga mengusulkan ukuran lain, misalnya kepipihan <em>(flatness)</em> dan kepanjangan <em>(elongation)</em>. Sebagian besar ukuran itu dikaji ulang oleh Konzewitsch (1961), Köster (1964), Flemming (1965), Humbert (1968), dan Carver (1971). Sneed &amp; Folk (1958) mengusulkan suatu ancangan yang merupakan hasil penyempurnaan dari ancangan Zingg-Wadell dan mendefinisi-kan indeks proyeksi kebolaan maksimum <em>(maximum projection sphericity index)</em> (c<sup>2</sup>a<sup>–1</sup>b<sup>–2</sup>)<sup>1/3</sup> yang mereka lihat berkorelasi lebih baik dengan <em>settling velocity</em> dibanding kebolaan operasional yang dikemukakan oleh Wadell.</p>
<p>Kesulitan-kesulitan praktis muncul pada semua metoda pengukuran dan pengungkapan hasil-hasil pengukuran itu. Semua metoda tersebut di atas melibatkan pengukuran yang hanya dapat dilakukan pada kerikil yang bebas matriks dan sukar atau tidak mungkin diterapkan pada pasir atau pada gravel dan pasir yang telah terlifitikasi. Walau demikian, kita tetap perlu mem-pelajari proses-proses menyebabkan munculnya bentuk partikel serta arti geologinya.</p>
<p>Apa yang dapat kita katakan mengenai kebenaan geologi dari bentuk partikel pasir atau gravel? Partikel kuarsa yang ada dalam suatu endapan pasir memiliki bentuk yang beragam. Pada umumnya partikel itu cenderung membundar. Walau demikian, dalam pasir yang paling matang sekalipun, partikel kuarsa terlihat agak memanjang, dimana nisbah sumbu panjang terhadap sumbu pendek berkisar mulai dari 1,0 hingga 2,5, dengan nilai rata-rata mendekati 1,5. Wayland (1939) menunjukkan adanya kecenderungan pemanjangan kuarsa detritus pada arah sumbu-<em>c</em>. Hal itu dinisbahkannya pada abrasi yang tidak seragam dan pada perbedaaan kekerasan pada arah kristalografi yang berbeda-beda. Walau demikian, Ingerson &amp; Ramisch (1942) melihat bahwa partikel kuarsa yang berasal dari batuan beku dan batuan metamorf, bahkan granit, cenderung memanjang pada arah yang sejajar dengan sumbu-<em>c</em> (gambar 3-20). Dengan demikian, pemanjangan partikel kuarsa itu terutama ditentukan oleh bentuk asalnya. Bloss (1957) dan Moss (1966) memperlihatkan secara eksperimental bahwa kuarsa memiliki belahan prismatik dan belahan rhombohedra yang lemah sehingga partikel yang terbentuk akibat pemecahan kuarsa cenderung untuk memanjang pada arah yang sejajar dengan sumbu-c atau membentuk sudut dengan sumbu-<em>c</em>. Hal senada dikemukakan pula oleh Turnau-Morawska (1955). Dengan demikian, bentuk kuarsa detritus terutama dapat dinisbahkan pada bidang pertumbuhan atau pecahan asal. Diasumsikan bahwa kuarsa dari batuan metamorf memiliki bentuk asal yang lebih memanjang dibanding kuarsa yang berasal dari batuan beku (Krynine, 1946) dan bahwa perbedaan itu memungkinkan setiap orang untuk membedakan kuarsa yang berasal dari kedua batuan sumber itu (Bokman, 1952). Penelitian-penelitian yang dilakukan kemudian (Blatt &amp; Christie, 1963) tidak mendukung asumsi itu.</p>
<p>Secara umum diyakini pula bahwa bentuk kerikil terutama ditentukan oleh bentuk asal partikel itu. Dalam beberapa kasus, bentuk asal partikel itu sendiri dikontrol oleh struktur batuan asalnya. Walau demikian, tidak diragukan lagi bahwa beberapa agen geologi menyebabkan terubahnya bentuk kerikil dan meninggalkan jejaknya dalam partikel itu seperti pada kasus <em>eolian sandblast</em>. Apakah kesimpulan di atas dapat diterapkan pada gravel gisik dimana, menurut beberapa peneliti, <em>swash</em> cenderung menghasilkan kerikil yang lebih pipih dibanding aksi sungai? Pendapat terakhir ini didukung oleh hasil-hasil penelitian Landon (1930), Cailleux (1945), Lenk-Chevitch (1959), serta Dobkins &amp; Folk (1970). Walau demikian, pendapat itu ditentang oleh Gregory (1915), Wentworth (1922b), Kuenen (1964), dan Grogan (1945). Lihat gambar 3-21 dan 3-22. Berdasarkan hasil-hasil penelitian eksperimental dan lapangan, banyak ahli berpendapat bahwa penghancuran mekanis pada gisik tidak banyak mem-pengaruhi kepipihan gravel (Kuenen, 1964). Walau demikian, sebagaimana dikemukakan sendiri oleh Landon (1930), mungkin saja gravel terpilah sedemikian rupa sehingga gravel pipih cenderung untuk terakumulasi pada gisik. Hingga tingkat tertentu pendapat itu didukung oleh hasil-hasil penelitian Humbert (1968) yang menemukan bahwa kerikil pipih bermigrasi <em>downbeach</em>, sedangkan partikel yang lebih membundar tertinggal di belakang. Hal itu tidak mengandung pengertian bahwa kebolaan tidak terubah oleh abrasi. Namun, sebagian besar hasil penelitian yang diterbitkan selama ini—seperti karya Russell &amp; Taylor (1937a), Plumley (1948), Sneed &amp; Folk (1958), Humbert (1968), Unrug (1957), dan Dal Cin (1967)—menunjukkan bahwa pengubahan bentuk itu relatif kecil dan fakta yang memperlihatkan seolah-olah terjadi perubahan bentuk ke arah hilir mungkin disebabkan oleh pemilahan bentuk, bukan akibat perubahan bentuk. Walau demikian, Dobkins &amp; Folk (1970), yang mempelajari dan meng-ukur kebolaan dan kebundaran sejumlah besar kerikl yang ada di sungai-sungai dan pantai Tahiti, menemukan fakta bahwa kerikil gisik memiliki kebundaran yang lebih tinggi, memiliki kebolaan yang lebih rendah, dan jelas lebih <em>oblate</em> dibanding kerikil sungai, meskipun material yang diangkut oleh arus pantai dan arus sungai itu memiliki komposisi yang sama.</p>
<p>Kesimpulan-kesimpulan di atas menunjukkan bahwa bentuk mungkin merupakan salah satu faktor penting dalam proses sedimentasi dan dalam menentukan tanggapan partikel terhadap aliran. Krumbein (1942b) serta Sneed &amp; Folk (1958) menemu-kan adanya korelasi yang baik antara indeks kebolaan atau indeks bentuk dengan <em>settling velocity</em> (gambar 3-17). Berbagai penelitian eksperimental oleh Briggs dkk (1962) menunjukkan bahwa kebolaan memegang peranan yang sama pentingnya dengan berat jenis dalam mempengaruhi <em>settling velocity</em> berbagai spesies mineral berat. Selain itu, tanggapan yang diberikan oleh partikel pasir atau gravel terhadap aliran sangat dipengaruh oleh bentuk partikel itu. Menurut definisinya, partikel ekuidimensional tidak memiliki pengarahan; partikel berbentuk cakram pipih diasumsikan memiliki imbrikasi yang jelas; partikel memanjang memberikan tanggapan yang lain lagi (lihat bagian 3.4.5).</p>
<p><strong>3.2.2  Kebundaran</strong></p>
<p>Kebundaran berkaitan dengan ketajaman tepi atau sudut suatu fragmen klastika; kebundaran tidak berkaitan dengan kebola-an. Beberapa bentuk geometris yang sudut-sudutnya 90<sup>o</sup>—kubus, prisma, balok, dsb (gambar 3-18)—memiliki sudut-sudut yang tajam sehingga jari-jari kurvaturnya berharga nol. Walau demikian, kita tahu bahwa bentuk benda-benda itu berbeda sama sekali. Istilah kebundaran digunakan secara keliru dalam literatur sebagai sinonim dari bentuk (Russell &amp; Taylor, 1937a). Per-bedaan antara kedua istilah itu sangat mendasar dan hendaknya dicamkan dengan baik dan benar. Kebundaran pertama kali di-definisikan dengan jelas oleh Wentworth (1919) sebagai <em>r<sub>i</sub>/R</em>, dimana <em>r<sub>i</sub></em> adalah jari-jari kurvatur tepi partikel yang paling runcing, sedangkan <em>R</em> adalah setengah diameter terpanjang dari partikel. Wadell (1932) mendefinisikan kebundaran sebagai nisbah radius rata-rata dari kurvatur beberapa tepi partikel terhadap radius kurvatur maksimum yang dapat ditutupi oleh partikel. Karena definisi-definisi itu sukar diterapkan, akan lebih mudah untuk bekerja dengan gambar dua dimensi, yakni penampang melintang atau proyeksi partikel, bukan partikel itu sendiri yang merupakan benda tiga dimensi. Pada kasus itu, kebundaran didefinisikan sebagai radius rata-rata kurvatur sudut-sudut penampang melintang partikel dibagi dengan lingkaran terbesar yang dapat diletakkan dalam penampang partikel itu (gambar 3-23). Definisi yang disebut terakhir ini dapat dinyakan dengan persamaan:</p>
<p>dimana:   <em>r</em><sub>i</sub> adalah individu-individu radius lingkaran yang sisinya berimpit dengan sudut partikel.</p>
<p><em>R</em> adalah jari-jari lingkaran maksimum yang dapat ditutupi oleh partikel.</p>
<p><em>N</em> adalah jumlah lingkaran yang sisinya berimpit dengan sudut partikel.</p>
<p>Dengan definisi seperti itu, sebuah bola akan memiliki kebundaran 1,0. Selain itu, sebagaimana telah dikemukakan di atas, bola juga akan memiliki kebolaan 1,0. Benda lain yang tidak berbentuk bola juga dapat memiliki kebundaran 1,0, misalnya saja benda berbentuk kapsul yang pada hakekatnya merupakan sebuah silinder yang ujung-ujungnya berupa setengah bola. Berbagai bentuk modifikasi dari definisi kebundaran yang telah disebutkan di atas diajukan oleh peneliti lain. Masalah itu telah dikaji ulang oleh Köster (1964), Humbert (1968), dan Pryor (1971).</p>
<p>Seperti telah dikemukakan di atas, istilah kebundaran selama ini digunakan agak serampangan. Demikian pula dengan istilah membundar <em>(rounded)</em>, membundar tanggung <em>(subrounded)</em>, menyudut tanggung <em>(subangular)</em>, dan menyudut <em>(angular)</em>. Agar pengertiannya menjadi lebih cermat, istilah-istilah itu akan didefinisikan kembali secara kuantitatif di sini. Hal itu terutama dilakukan dengan merujuk pada nilai-nilai kebundaran yang dulu diajukan oleh Wadell (Russell &amp; Taylor, 1937b; Folk, 1955). Kelas-kelas kebundaran (tabel 3-9) tidak memiliki kisaran yang sama. Hal itu dilakukan karena kita biasanya sukar untuk membedakan partikel-partikel yang relatif membundar, apabila perbedaan kebundaran antara partikel-partikel itu relatif kecil. Di lain pihak, kita biasanya dapat membedakan partikel-partikel yang relatif menyudut, meskipun perbedaan kebundaran antara partikel-partikel itu relatif kecil. Dengan pemikiran seperti itu, Pettijohn mendefinisikan kembali limit-limit kelas kebundaran sedemikian rupa sehingga nilai tengah dari kelas-kelas kebundaran itu bersifat geometris. Powers (1953) mendefinisikan dan menamakan enam skala kebundaran sedemikian rupa sehingga limit-limit kelas kebundaran itu mendekati skala geometris dengan nisbah √2. Limit-limit kelas kebundaran itu kemudian diberi nilai <em>r</em> oleh Folk (1955) dengan cara yang mirip dengan cara Krumbein (1938) dalam memberikan nilai <em>f</em> untuk menyatakan besar butir.</p>
<p>Skala kebundaran Pettijohn (tabel 3-9 dan gambar 3-24) adalah sbb:</p>
<ul>
<li>Menyudut <em>(angular)</em> (0-0,15): sangat sedikit atau tidak ada jejak penghancuran; sudut dan sisi partikel tajam; sudut sekunder (tonjolan minor dari profil partikel; bukan sudut antar-muka partikel) banyak dan tajam.</li>
<li>Menyudut tanggung <em>(subangular)</em> (0,15-0,25): sedikit jejak penghancuran; sudut dan tepi partikel hingga tingkat tertentu membundar; banyak terdapat sudut sekunder (10-20), meskipun tidak sebanyak seperti pada partikel menyudut.</li>
<li>Membundar tanggung <em>(subrounded)</em> (0,25-0,40): jejak penghancuran cukup banyak; sudut dan sisi partikel membundar; jumlah sudut sekunder relatif sedikit (5-10) dan umumnya membundar. Luas permukaan partikel berkurang; sudut-dalam asli, meskipun membundar, masih terlihat jelas.</li>
<li>Membundar <em>(rounded)</em> (0,40-0,60): Bidang-bidang asli hampir terhancurkan seluruhnya; bidang yang relatif datar masih dapat ditemukan. Sisi dan sudut asli menjadi melengkung dan membentuk kurva yang relatif besar; hanya sedikit ditemukan sudut sekunder (0-5). Pada kebundaran 0,60, semua sudut sekunder hilang. Bentuk asli masih terlihat.</li>
<li>Sangat bundar <em>(well rounded)</em> (0,60-1,00): tidak ada permukaan, sudut, atau sisi asli; semuanya membentuk lengkungan-lekungan besar; tidak ada bagian yang datar; tidak ada sudut sekunder. Bentuk asli tidak terlihat lagi, namun dapat diperkirakan dari bentuknya yang sekarang.</li>
</ul>
<p>Apa kebenaan geologi dari kebundaran dan apa manfaat kebundaran dalam menentukan jarak, arah, dan kecepatan per-gerakan partikel sedimen? Dengan diawali oleh Daubrée (1879), banyak peneliti mencoba untuk menjawab pertanyaan tersebut, baik dengan cara melakukan penelitian lapangan maupun penelitian laboratorium. Hasil semua penelitian itu menunjukkan bahwa kebundaran partikel makin tinggi dengan makin jauhnya jarak angkut dan bahwa laju pembundaran partikel pada mula-nya tinggi, namun kemudian menurun (gambar 3-25 dan 3-26). Fakta itu, meskipun telah dinyatakan oleh Daubrée (1879), baru dapat diungkapkan secara kuantitatif oleh Wentworth (1919, 1922a, 1922b). Krumbein (1941b) adalah orang yang pertama kali memformulasikan rumus matematika yang memperlihatkan hubungan antara kebundaran dengan jarak angkut. Dia menyatakan bahwa laju perubahan kebundaran merupakan fungsi dari perbedaan antara kebundaran pada suatu titik dengan <em>limiting roundness</em>. <em>Limiting roundness</em> itu sendiri merupakan sebuah angka yang nilainya tergantung pada beberapa ukuran dari material yang mengalami pembundaran serta pada rezim sungai atau gisik tertentu. Hubungan itu dapat dinyatakan dengan persamaan:</p>
<p>dimana:   <em>R</em> adalah kebundaran pada suatu titik.</p>
<p><em>P<sub>L</sub></em> adalah <em>limiting roundness</em>.</p>
<p><em>k</em> adalah koefisien pembundaran.</p>
<p><em>x</em> adalah jarak.</p>
<p>Persamaan di atas tampaknya sesuai dengan data percobaan dan data lapangan (Krumbein, 1940, 1942a). Lihat gambar 3-27. Keraguan terhadap kesahihan persamaan itu muncul sejalan dengan diterbitkannya hasil penelitian eksperimental lain, baik yang dilakukan oleh Krumbein (1941b) sendiri, maupun hasil penelitian Plumley (1948) terhadap gravel dalam sungai-sungai di sekitar Black Hills. Proses pembundaran jauh lebih kompleks daripada apa yang tercermin dari persamaan itu. Plumley (1948) menyimpulkan bahwa perubahan kebundaran tidak hanya sebanding dengan perbedaan antara kebundaran pada suatu titik dengan <em>limiting roundness</em>, namun juga dengan pangkat sekian dari jarak angkut.</p>
<p>Baik hasil percobaan dengan menggunakan <em>abrasion mill</em> maupun hasil penelitian pada sungai alami sama-sama menunjukkan bahwa kebundaran bertambah sejalan dengan bertambahnya jarak (waktu) angkut. Selain itu, proses pembundar-an pada mulanya berlangsung cepat, namun kemudian makin lambat. Tampaknya memang ada suatu <em>limiting roundness</em> yang paling tidak sebagian diantaranya berhubungan dengan litologi. Sebagai contoh, nilai <em>limiting roundness</em> rijang lebih rendah dibanding <em>limiting roundness</em> kuarsa atau batugamping (Sneed &amp; Folk, 1958). Selain itu, pembundaran gravel berlangsung cepat. Seberapa jauh suatu partikel gravel harus terangkut agar membundar baik (0,60)? Penelitian-penelitian lapangan dan laboratorium tidak memberikan satu jawaban pasti terhadap pertanyaan itu, namun memberikan nilai pendekatannya. Peng-ubahan suatu kubus menjadi sebuah bola yang diameternya sama mengharuskan hilangnya 47,5% volume atau berat kubus itu. Jadi, mungkin dapat dikatakan bahwa penghilangan berat sebanyak <sup>1</sup>/<sub>3</sub> hingga ½ bagian akan menyebabkan partikel mencapai kebundaran maksimum; penurunan ukuran pada tahap selanjutnya tidak akan disertai dengan peningkatan kebundaran. Seperti terlihat dalam data yang disajikan oleh Krumbein (1941b), penghilangan sekitar <sup>1</sup>/<sub>3</sub> bagian berkorespondensi dengan kebundar-an sekitar 0,60 (sangat bundar). Data itu juga menunjukkan bahwa penghilangan berat pada tahap selanjutnya tidak menyebab-kan kebundaran partikel menjadi lebih tinggi. Partikel batugamping yang diteliti oleh Krumbein (1941b) mencapai nilai ke-bundaran 0,60 setelah terangkut sejauh 11,7 km. Apabila kita menggunakan hasil penelitian Daubrée yang menyatakan bahwa suatu partikel granit akan kehilangan 0,001 hingga 0,004 berat per kilometer pengangkutan, maka partikel itu akan sangat bundar setelah terangkut 84–333 km. Meskipun perhitungan itu masih sangat kasar, namun secara umum mungkin benar. Kuenen (1956b), yang melakukan percobaan terhadap pergerakan gravel dalam <em>circular flume</em>, menemukan bahwa batu-gamping menjadi sangat bundar setelah terangkut hingga jarak sekitar 50 km; gabro kehilangan berat sekitar 35–40% setelah terangkut sekitar 140 km. Kuarsa urat memperlihatkan kehilangan berat 0,001 per kilometer jarak angkut dan, oleh karena itu, akan sangat membundar setelah terangkut sekitar 300 km.</p>
<p>Plumley (1948) menemukan fakta bahwa kerikil batugamping pada dua sungai di sekitar Black Hills menjadi sangat bundar (0,60) setelah terangkut sekitar 18 dan 37 km (gambar 3-26). Kerikil kuarsit dalam gravel di daerah Brandwine, Maryland, memiliki kebundaran 0,59 (Schlee, 1957). Singkapan terdekat yang mungkin menjadi sumber kerikil itu terletak sekitar 72 km dari tempat itu. Kuarsa dalam gravel Sungai Colorado, Texas, menjadi sangat bundar setelah terangkut kurang dari 161 km, sedangkan kerikil batugamping di daerah itu telah sangat bundar ketika memasuki sungai utama (Sneed &amp; Folk, 1958). Hasil-hasil penelitian itu didukung oleh Unrug (1957) yang menemukan bahwa kerikil granit mencapai kebundaran maksimum setelah terangkut sekitar 125 km di Sungai Dunajec, Polandia. Hasil-hasil penelitian Dal Cin (1967) di Sungai Piave, Itali, juga mendukung hasil-hasil penelitian Sneed &amp; Folk (1958).</p>
<p>Dengan mengetahui bahwa pembundaran terutama diperoleh pada beberapa kilometer pertama jarak angkut, jelas sudah bahwa gravel menyudut atau menyudut tanggung tidak mungkin terangkut lebih dari beberapa puluh kilometer, atau paling jauh terangkut 16–24 km, oleh sungai. Selain itu, dengan pengecualian untuk bagian proksimal dari suatu endapan gravel, kebundar-an hanya akan memperlihatkan sedikit variasi regional. Hal itu pada gilirannya membatasi manfaat kebundaran gravel sebagai indikator arus purba.</p>
<p>Pembundaran gravel gisik telah banyak diketahui. Walau demikian, untuk kasus gravel gisik, para ahli menemukan lebih banyak kesulitan untuk menghubungkan kebundaran dengan jarak angkut (gambar 3-22). Untuk kasus itu, para ahli hanya dapat menyatakan bahwa sering gravel itu terangkut, makin bundar gravel itu. Sebagaimana gravel sungai, gravel gisik juga tampaknya memiliki <em>limiting roundness</em> tertentu.</p>
<p>Berbeda dengan kasus pembundaran gravel, semua data penelitian lapangan dan laboratorium menunjukkan bahwa pem-bundaran pasir merupakan proses yang sangat lambat. Daubrée (1879) menemukan bahwa butiran-butiran pasir hanya kelihangan 0,0001 bagian per kilometer jarak angkut. Percobaan-percobaan abrasi yang dilakukan oleh Thiel (1940) terhadap butiran-butiran kuarsa berukuran pasir menunjukkan bahwa partikel itu kehilangan 22% setelah terangkut selama 100 jam dalam <em>abrasion mill</em>. Waktu angkut itu diperkirakan setara dengan jarak angkut 5000 mil (sekitar 8333 km). Dengan kata lain, partikel kuarsa itu kehilangan sekitar 0,0001 bagian per mil jarak angkut. Marshall (1927) menunjukkan bahwa partikel berdiameter 2–3 mm mengalami penghilangan 0,005 bagian per mil jarak angkut. Kuenen (1960a), dengan memakai <em>flume</em> (bukan memakai <em>tumbling barrel</em>), menemukan angka penghilangan yang lebih rendah lagi. Kuarsa hanya kehilangan 1% berat setelah terangkut 10.000 km (Kuenen, 1958). Penghilangan itu demikian sedikit sehingga pembundaran yang diakibatkan oleh penghilangan massa itu boleh dikatakan tidak terdeteksi sama sekali. Karena sebagian besar sungai memiliki panjang kurang dari 1000 km, maka dapat disimpulkan bahwa satu kali pengangkutan sungai tidak akan menyebabkan terjadinya pembundaran pada partikel pasir. Tentu saja kesimpulan yang disebut terakhir ini hanya sahih apabila data-data yang diperoleh Marshall (1927) dan Kuenen (1958; 1960a) juga sahih adanya.</p>
<p>Pengaruh aksi eolus terhadap pembundaran pasir, seperti diperlihatkan oleh penelitian-penelitian eksperimental yang dilaku-kan oleh Kuenen (1960b), jauh lebih efektif dibanding agen akuatis dimana penghilangan massa pada partikel kuarsa 100–1000 kali lebih tinggi dibanding dengan penghilangan massa yang terjadi akibat pengangkutan akuatis untuk jarak angkut yang sama. Aksi eolus menyebabkan partikel berbentuk kubus dapat berubah menjadi bola sempurna. Hasil berbagai percobaan yang di-lakukan oleh Kuenen (1960b) menunjukkan bahwa pengangkutan fluvial sama sekali tidak efektif dalam membundarkan partikel kuarsa dan felspar. Aksi gisik mungkin lebih efektif, namun diperkirakan tidak terlalu banyak mempengaruhi rata-rata dari semua pasir. Aksi eolus merupakan mekanisme abrasi yang potensial untuk pasir yang diameternya hingga 0,1 mm; aksi eolus tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap partikel yang diameternya kurang dari 0,05 mm. Dengan demikian, pasir membundar dapat digunakan untuk mengindikasikan bahwa, dalam keseluruhan sejarah pasir itu, paling tidak sekali diantaranya pernah terangkut oleh angin.</p>
<p>Efektivitas aksi gisik terhadap pasir masih belum dievaluasi sepenuhnya. Folk (1960), yang meneliti perselingan pasir kuarsa yang membundar kurang baik dan pasir kuarsa yang membundar baik dalam Tuscarora Quartzite (Silur) di West   Virginia, menafsirkan pasir kuarsa yang membundar baik sebagai produk <em>surf action</em>. Swett dkk (1971) memperkirakan jarak angkut pasir dalam estuarium pasut memiliki nilai yang memadai untuk menyebabkan terbundarkannya partikel kuarsa, meskipun dalam laju pembundaran yang rendah sebagaimana yang dikemukakan oleh Kuenen.</p>
<p>Hasil berbagai penelitian lapangan cenderung mendukung hasil penelitian laboratorium. Penelitian klasik yang dilakukan oleh Russell &amp; Taylor (1937b) menunjukkan bahwa pasir yang diangkut oleh Sungai Mississippi yang terletak diantara Cairo (Illinois) dan Teluk Mexico, dengan jarak sekitar 1770 km, tampaknya tidak menyebabkan penurunan pasir ke arah hilir. Karena itu, mereka menyimpulkan bahwa aksi sungai tidak menyebabkan bundarnya partikel pasir dan bahwa penurunan kebundaran yang ke arah hilir sebenarnya disebabkan oleh pemecahan partikel. Penurunan kebundaran yang terlihat adalah dari 0,24 menjadi 0,18, atau sekitar 23,5%. Di lain pihak, Plumley (1948) menunjukkan bahwa pasir kasar (diameternya 1,0–1,414 mm) di Battle Creek, Black Hills (Dakota Selatan), mengalami peningkatan kebundaran 71% dari 0,21 menjadi 0,36 setelah terangkut 64 km. Walau demikian, pasir yang sama di Sungai Chayenne, Dakota Selatan, hanya mengalami peningkatan kebundaran sebanyak 5% dari 0,42 menjadi 0,44 setelah terangkut 150 mil (gambar 3-28). Kuarsa yang berukuran 0,088–0,250 mm dalam pasir Rio Grande, Argentina, tidak menunjukkan perubahan yang berarti setelah terangkut 100 km (Mazzoni &amp; Spalletti, 1972). Pasir yang terangkut di sepanjang gisik Danau Erie, sebagaimana pasir di Sungai Mississippi, mengalami penurunan kebundar-an ke arah hilir (Pettijohn &amp; Lundahl, 1943), penurunan mana agaknya berkaitan dengan aksi pemilahan. Karena kebundaran pada umumnya berkorelasi positif dengan kebolaan, maka penurunan kebolaan ke arah hilir akan disertai dengan penurunan kebundaran. Aksi pemilahan pada sungai besar yang mengalir tenang, seperti Sungai Mississippi, terus berlangsung sehingga setiap gejala peningkatan kebundaran ke arah hilir tertutupi oleh aksi pemilahan. Kemungkinan kecil saja bahwa sungai peng-angkut gravel dan bergradien tinggi di sekitar Black HIlls akan menyebabkan pembundaran partikel pasir dan bahwa Sungai Mississippi akan menyebabkan penurunan kebundaran akibat pemecahan.</p>
<p>Peranan pelarutan terhadap pembundaran kuarsa juga masih belum dianalisis secara memadai. Kuenen (1960b) ber-keyakinan bahwa efek pelarutan terhadap pembundaran partikel kuarsa dapat diabaikan karena jika pelarutan memegang peranan penting dalam pembundaran partikel kuarsa, maka partikel kecil lah yang akan terkena efek paling kuat. Di bawah kondisi tertentu, perlarutan <em>in situ</em> pada partikel kuarsa memang terjadi, terutama pada kuarsa yang ada dalam tanah. Crook (1968) secara khusus meminta perhatian para ahli terhadap efek pelarutan.</p>
<p>Perlu dicamkan bahwa apabila suatu partikel, terutama pasir kuarsa, telah membundar (0,60), maka sifat itu tidak akan hilang. Selain itu, karena pasir kuarsa umumnya akan masuk ke dalam siklus sedimentasi berikutnya, maka kuarsa membundar yang ditemukan dalam suatu endapan mungkin bukan merupakan produk siklus sedimentasi terakhir, melainkan produk siklus sedimentasi sebelumnya. Demikian juga dengan kerikil kuarsit dan kuarsa urat.</p>
<p>Banyak usaha telah dilakukan para ahli untuk menggunakan kebundaran pasir kuarsa untuk mengenal lingkungan peng-endapan, namun usaha-usaha itu kurang berhasil. Beal &amp; Shepard (1956) serta Waskom (1958) hanya menemukan sedikit perbedaan kebundaran antara tubuh-tubuh pasir masa kini yang ada dalam beberapa sub-lingkungan pada zona pesisir di Gulf Coastal Region.</p>
<p><strong>3.3  TEKSTUR PERMUKAAN</strong></p>
<p>Mikrorelief dari permukaan suatu partikel—yang tidak tergantung pada ukuran, bentuk, atau kebundaran partikel itu—disebut tekstur permukaan <em>(surface texture)</em>. <em>Polish</em>, <em>frosting</em>, <em>striation</em>, dsb termasuk ke dalam kategori tekstur permukaan. Sebagian tekstur permukaan dapat dilihat dengan mata telanjang; sebagian yang lain hanya dapat dilihat dengan mikroskop optik, bahkan sebagian lain lagi hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron. Banyak tekstur permukaan dipandang memiliki kebenaan genetik tersendiri (Krinsley, 1973). <em>Striation</em> pada kerikil endapan gletser merupakan satu contoh dari pentingnya tekstur per-mukaan. <em>Frosting</em> pada partikel pasir dinisbahkan pada aksi angin.</p>
<p>Karena suatu partikel pasir atau kerikil dapat terbentuk pada siklus sedimentasi sebelumnya, maka tekstur permukaan yang tampak pada partikel-partikel penyusun suatu endapan mungkin bukan merupakan produk aksi pengangkutan yang menyebab-kan terbentuknya endapan tersebut, melainkan produk aksi pengangkutan pada siklus sedimentasi sebelumnya. Jumlah aksi abrasi dan pengangkutan yang diperlukan untuk membentuk tekstur permukaan tidak sebanyak seperti aksi abrasi dan peng-angkutan yang menyebabkan terubahnya kebundaran, bentuk, atau ukuran partikel. Tekstur permukaan mudah terhapus dan tercetak dalam partikel sedimen. Wentworth (1922a), misalnya saja, menentukan secara eksperimental bahwa jarak angkut sekitar 560 meter dapat menghapus <em>glacial striation</em> yang semula ada pada permukaan kerikil batugamping tanpa menyebabkan banyak berubahnya bentuk kerikil itu. Bond (1954) menyatakan bahwa <em>frosting</em> pada pasir di Gurun Kalahari menjadi hilang setelah pasir itu terangkut sejauh 64 km oleh Sungai Zambesi. Dengan demikian, tekstur permukaan kemungkinan besar merupakan rekaman dari siklus pengangkutan terakhir. Walau demikian, sebagaimana karakter sedimen yang lain, pasir yang disusun oleh partikel yang asal-usulnya beragam akan mengandung partikel dengan tekstur permukaan yang juga beragam. Sebagian ahli mengasumsikan bahwa tekstur permukaan yang terbentuk pada satu siklus sedimentasi akan tertutup oleh tekstur permukaan yang terbentuk pada siklus sedimentasi berikutnya (Krinsley &amp; Funnell, 1965) sehingga suatu partikel dapat merekam beberapa episode pengangkutan.</p>
<p>Tekstur permukaan sangat beragam, namun secara umum dapat digolongkan ke dalam dua kategori. Pertama, tekstur permukaan yang berkaitan dengan kekusaman <em>(dullness)</em> atau <em>polish</em> partikel. Kedua, tekstur permukaan yang berkaitan dengan jejak-jejak pada permukaan (gejala mikrorelief) seperti <em>striation</em>, <em>percussion scar</em>, dsb.</p>
<p><strong>3.3.1  <em>Polish</em> vs. <em>Frost</em></strong></p>
<p>Istilah <em>polish</em>, atau <em>gloss</em>, yang merujuk pada kilap permukaan, adalah kualitas yang berkaitan dengan keteraturan cahaya yang dipantulkan oleh suatu partikel. Difusi cahaya menyebabkan terbentuknya permukaan yang kusam <em>(dull; matte)</em>. <em>Polish</em> diindikasikan oleh kehadiran <em>highlights</em>. Sebab musabab munculnya <em>polish</em> atau munculnya permukaan yang kusam belum dapat dipahami sepenuhnya. Kemungkinan ada beberapa hal yang menyebabkan munculnya gejala itu. <em>Polish</em> dapat terbentuk secara mekanik akibat atrisi lemah, terutama jika agen abrasi itu merupakan partikel berukuran kecil. Mekanisme itulah yang diperkira-kan merupakan penyebab terbentuknya <em>wind </em><em>polish</em> pada beberapa singkapan kuarsit dan fragmen kuarsit <em>(ventifact)</em>. <em>Polish</em> juga dapat terbentuk akibat diendapkannya suatu film yang mirip dengan kaca atau gelas seperti pada kasus <em>desert varnish</em>. Meskipun asal-usul <em>desert varnish</em> belum diketahui secara pasti, namun para ahli (a.l. Laudermilk, 1931) umumnya berkeyakinan bahwa <em>desert varnish</em> agaknya dihasilkan oleh air yang semula ada dalam batuan, namun kemudian naik ke permukaan dan menguap meninggalkan endapan yang berupa zat-zat yang relatif tidak dapat larut dalam bentuk selaput tipis yang disusun oleh silika, oksida besi, dan oksida mangan. Sebagian ahli geologi menisbahkan <em>polish</em> yang tinggi pada <em>sandblasting</em>. Laudermilk (1931) berpendapat bahwa lumut kerak <em>(lichen)</em> tertentu memegang peranan penting sebagai akumulator senyawa besi dan mangan. Pertumbuhan lumut itu terhenti setelah lapisan tipis itu, sedangkan endapan itu sendiri kemudian ditebarkan ke seluruh permukaan partikel oleh asam yang dikeluarkan dari tubuh lumut yang telah mati. Dehidrasi dan oksidasi di bawah pengaruh teriknya sinar matahari gurun juga dapat menyebabkan terbentuknya residu yang mirip dengan <em>desert varnish</em>. Hunt (1954), sewaktu memaparkan bahwa <em>desert varnish</em> merupakan gejala paling jelas di daerah kering, berpendapat bahwa gejala seperti itu juga terbentuk di daerah iklim basah dan bahwa banyak <em>desert varnish</em> yang terlihat di gurun merupakan produk dari iklim basah yang ada sebelum iklim daerah itu berubah menjadi kering.</p>
<p><em>Polish</em> yang paling menjadi teka-teki ditemukan pada beberapa kerikil yang diselimuti oleh lempung, misalnya gastrolit <em>(gastrolith)</em>, atau “batu perut” <em>(“stomach stone”)</em> dari reptil plesiosaurus purba. Kerikil yang paling terkenal adalah kerikil yang ditemukan dalam serpih bahari Kapur (Hares, 1917; Stauffer, 1945). Meskipun kerikil itu telah banyak dibahas oleh para ahli, namun para ahli masih belum mencapai kesepakatan mengenai asal-usul <em>polish</em> yang dimilikinya. Selama ini, <em>polish</em> itu dinisbah-kan pada aksi angin, abrasi dalam perut binatang, dan pergerakan-pergerakan kompaksional dalam matriks serpih.</p>
<p><em>Polish</em>, dan tentu saja <em>high p</em><em>olish</em> atau gloss, merupakan gejala istimewa. Sebagian besar kerikil memiliki permukaan yang kusam. Butiran kuarsa jarang yang memiliki <em>high p</em><em>olish</em>. Sebagian pasir, di lain pihak, memiliki karakter permukaan tertentu yang disebut <em>“matte”</em> atau <em>“frosted”</em>. Permukaan seperti itu terlihat, misalnya saja, pada partikel sangat membundar dan kaya akan kuarsit yang ada dalam Peter Sandstone (Ordovisium) di Upper Mississippi  Valley. <em>Frosted</em> pernah dinisbahkan pada abrasi eolus, bahkan pernah dipetakan dalam endapan Plistosen di Eropa oleh Cailleux (1942) yang menganggap bahwa <em>frosted surface</em> merupakan kriteria untuk mengenal aksi periglasial. Kemiripan umum antara <em>frosted surface</em> dengan permukaan gelas yang dikenai <em>sandblast</em> mendukung teori itu. Walau demikian, penelitian yang dilakukan oleh Kuenen &amp; Perdok (1962) serta Ricci Lucchi &amp; Casa (1970) menunjukkan bahwa korosi kimia <em>(chemical corrosion)</em> kemungkinan besar merupakan proses yang menyebabkan terbentuknya gejala itu. <em>Frosted surface</em> dapat terbentuk pada partikel kuarsa akibat <em>etching</em> oleh larutan HCl sangat cair dalam waktu yang relatif singkat. Partikel kuarsa dalam pasir gampingan sedikit terkorosi atau tergantikan oleh semen karbonat. Penyerangan partikel secara kimiawi seperti itu, yang menyebabkan terbentuknya <em>frosted surface</em> pada partikel sedimen (Walker, 1957), mengindikasikan bahwa tekstur itu merupakan gejala pasca-pengendapan. Walau demikian, Roth (1932) berkeyakinan bahwa <em>frosting</em> bukan merupakan produk abrasi atau pelarutan, melainkan produk pelebaran baru <em>(incipient enlargement)</em>.</p>
<p>Sebagaimana dikemukakan oleh Kuenen &amp; Perdok (1962), mikrorelief bertanggungjawab terhadap penebaran cahaya, dan kenampakan <em>frosted</em> yang dihasilkannya, mungkin disebabkan oleh beberapa proses. Gejala bertekstur kasar mungkin dapat dinisbahkan pada abrasi, sedangkan mikrorelief yang bertekstur halus (dengan ukuran 2 μm atau kurang), yang terutama ber-tanggungjawab terhadap munculnya gejala <em>frosting</em>, terbentuk secara kimia oleh kondisi basah dan kondisi kering yang berkaitan dengan pembentukan dan penguapan embun serta dengan pelarutan dan presipitasi yang berkorelasi dengannya. <em>“Chemical frost”</em> itu mempengaruhi semua partikel, termasuk lekuk-lekuknya. <em>Frost</em> bertekstur kasar yang disebabkan oleh aksi abrasi hanya mempengaruhi bagian-bagian yang menonjol dan bagian-bagian partikel yang tidak terlindung.</p>
<p><strong>3.3.2  Mikrorelief</strong></p>
<p>Mikrorelief pada kerikil dan kerakal—yang dapat dilihat dengan mata telanjang—mencakup <em>striation</em>, <em>scratch</em>, <em>percussion mark</em>, dan <em>indentation</em> atau <em>pit</em>. <em>Striation</em> adalah goresan yang terutama merupakan produk aktivitas es, umumnya es gletser, yang terbentuk pada permukaan partikel. Wentworth (1932, 1936b) memperlihatkan peranan aksi sungai subartik dalam menghasilkan kerikil yang permukaannya dihiasi oleh <em>striation</em>. Persentase <em>striated cobbles</em> dalam beberapa sungai subartik sangat tinggi. Prosentase <em>striated cobbles</em> dalam endapan sungai subartik mungkin sama, bahkan melebihi, prosentase <em>striated cobbles</em> dalam endapan gletser. Walau demikian, <em>striated cobbles</em> dalam sungai subartik tidak mengandung faset-faset yang dimiliki secara khas dimiliki oleh partikel yang dikenai oleh aksi gletser. Wentworth (1936a) mempelajari beberapa endapan morena Wisconsin yang terkenal akan kesempurnaan <em>striated stone</em> yang ada didalamnya. Dari sekitar 600 kerikil atau kerakal yang diamatinya, 40% diantaranya tidak memperlihatkan <em>striation</em> sama sekali, 50% diantaranya hanya memiliki <em>striation</em> yang samar atau hanya memiliki <em>striation</em> yang jelas pada satu sisinya saja, dan 10% diantaranya memperlihatkan gejala lain. <em>Striation</em> paling banyak terbentuk dan paling jelas terlihat dalam kerakal batugamping, sedangkan kerakal batuan silikaan dan batuan beku berbutir kasar boleh dikatakan tidak tergores sama sekali. Karena itu, tidak mengherankan apabila komponen <em>tillite</em> purba yang telah kompak hanya memperlihatkan sedikit <em>striation</em>, bahkan tidak memperlihatkan <em>striation</em> sama sekali.</p>
<p><em>Striation</em> adalah goresan sempit, lurus, atau hampir lurus yang terdapat dalam permukaan partikel yang tergores. Gejala lain yang berkaitan dengan <em>striation</em> adalah <em>bruises</em> yang lebih kasar, lebih pendek, dan lebih lebar dibanding <em>striation</em> serta umumnya memperlihatkan pola <em>en echelon</em>. <em>Nailhead scratches</em> adalah <em>striation</em> yang memiliki bagian kepala atau titik asal yang jelas. Goresan yang disebut terakhir ini cenderung lebih sempit atau sedikit meruncing dari titik itu, sedangkan ujung yang lain tidak terlalu jelas. Jika kerikil yang memperlihatkan <em>striation</em> tertanam dalam suatu matriks, maka <em>striation</em> itu cenderung sejajar dengan arah pergerakan aliran es. Dengan demikian, <em>striation</em> cenderung terletak sejajar dengan sumbu panjang kerikil.</p>
<p>Ada empat pola utama dari <em>striation</em>: (1) sejajar <em>(parallel)</em>; (2) hampir sejajar <em>(subparallel)</em>; (3) tersebar <em>(scatter)</em> atau random; dan (4) membentuk jaring <em>(grid)</em>. Jaring disusun oleh dua atau tiga sistem goresan yang saling menyilang. Pola hampir-sejajar dan random paling sering ditemukan dalam kerakal gletser. <em>Striation</em> sejajar dan hampir-sejajar cenderung terletak sejajar dengan sumbu panjang kerakal. Wentworth (1936b) menyatakan bahwa pola jaring, terutama yang disusun oleh goresan-goresan yang spasinya relatif jauh, serta <em>striation</em> yang melengkung, lebih banyak ditemukan dalam <em>ice-jam cobbles</em> dan kerakal sungai dibanding kerakal gletser.</p>
<p><em>Striation</em> (dan <em>slickenside</em>) juga bisa terbentuk selama berlangsungnya deformasi suatu batuan di bawah pengaruh tekanan. Kerikil dan kerakal yang tertanam dalam matriks yang agak halus cenderung memperlihatkan pergoresan seperti itu. <em>Striation</em> yang dihasilkan oleh pergerakan itu umumnya merupakan <em>micro</em><em>striation</em>, dimana hanya <em>striation</em> terbesar saja yang dapat dilihat dengan mata telanjang (Judson &amp; Barks, 1961; Clifton, 1965). <em>Micro</em><em>striation</em> umumnya sejajar satu sama lain dan kerikil yang memiliki <em>micro</em><em>striation</em> umumnya memperlihatkan <em>“tectonic polish”</em>. Hal itu, serta kehadiran sesar mikro <em>(microfault)</em>, merupakan aspek pembeda antara <em>striation</em> yang terbentuk pada saat berlangsungnya pengendapan dengan striation yang terbentuk akibat deformasi.</p>
<p>Lekukan melengkung yang terbentuk akibat tumbukan, dan disebut <em>percussion mark</em>, sering ditemukan pada beberapa kerikil, khususnya rijang dan kuarsit padat. Lekukan kecil itu disebabkan oleh tumbukan sebuah benda yang bergerak dengan kecepatan tinggi terhadap kerikil atau kerakal. <em>Percussion mark</em> dinisbahkan pada aksi fluvial, bukan aksi gisik (Klein, 1963).</p>
<p>Banyak kerikil memiliki lekukan di permukaannya. Lekukan-lekukan itu dapat terbentuk akibat <em>etching</em> dan pelarutan diferensial yang berasosiasi dengan ketidakhomogenan batuan. Batuan beku berbutir kasar dicirikan oleh lekukan, sedangkan batuan berbutir halus, misalnya rijang, kuarsit, dan berbagai tipe batugamping, mungkin memiliki permukaan yang mulus. Lebih umumnya lagi, istilah <em>pitted pebbles</em> diterapkan pada kerikil atau kerakal yang memiliki lekukan yang tidak berkaitan dengan tekstur batuan itu atau dengan pelapukan diferensial. Lekukan seperti itu sering ditemukan pada bidang kontak antar kerikil. Ukuran lekukan itu bermacam-macam, dengan panjang maksimum centimeter dan kedalaman 1 centimeter. Lekukan itu umum-nya mulus seolah-olah tercungkil oleh sendok. Kuenen (1942) menelaah literatur mengenai <em>pitted pebbles</em> dan masalah pem-bentukannya. <em>Pitted pebbles</em> dijelaskan sebagai produk tekanan (hipotesis ini terbukti tidak sahih) dan akibat pelarutan yang dipicu oleh adanya tekanan pada titik-titik kontak antar kerikil (Sorby, 1863; Kuenen, 1942).</p>
<p><em>Pitted pebbles</em> hendaknya tidak tertukar dengan <em>“cupped pebbles”</em>. Sisi atas dari <em>“cupped pebbles”</em> dikenai oleh aksi pelarutan dan sisi itu demikian terkorosi sehingga tidak lebih dari sebuah kerak (Scott, 1947).</p>
<p>Mikrorelief kerikil mudah dilihat dengan mata telanjang. Walau demikian, mikrorelief pada butiran pasir hanya dapat terlihat di bawah mikroskop. Karena itu, tidak mengherankan apabila mikrorelief partikel pasir merupakan hal yang relatif baru diteliti, terutama setelah adanya mikroskop elektron dan <em>scanning-electron microscope</em> (Krinsley &amp; Takahashi, 1962a, 1962b, 1962c; Porter, 1962; Wolfe, 1967; Krinsley &amp; Donahue, 1968; Margolis, 1968; Stieglitz, 1969; Krinsley &amp; Margolis, 1969; Ricci Lucchi &amp; Casa, 1970; Fitzpatrick &amp; Summerson, 1971). Penelitian-penelitian itu menghasilkan pengetahuan mengenai kehadiran sekian banyak jejak pada permukaan partikel pasir kuarsa dengan ukuran dan bentuk yang sangat beragam. Banyak usaha dilakukan oleh para ahli untuk mengaitkan pola-pola mikrorelief dengan lingkungan pengendapan. Perhatian para ahli secara khusus ditujukan pada pola-pola yang diperlihatkan dari lingkungan litoral, eolus, dan glasial. Ancangan yang digunakan adalah meng-ambil sampel lingkungan-lingkungan tersebut untuk mengetahui tekstur permukaan yang khas dari endapan pada lingkungan-lingkungan itu. Sayang sekali, partikel-partikel pasir dalam beberapa lingkungan yang telah diambil sampelnya memiliki sejarah yang kompleks karena telah terangkut oleh es atau air pada siklus sedimentasi sebelumnya. Tekstur permukaan itu, yang diperkirakan terbentuk pada lingkungan yang beragam, saling bertumpang-tindih (Krinsley &amp; Funnell, 1965). Padahal dulu diperkirakan bahwa jejak-jejak permukaan lama dapat dengan mudah terhapus selama berlangsungnya siklus sedimentasi baru. Ketidaktahuan para ahli mengenai jenis agen yang menghasilkan gejala-gejala tertentu, atau mengenai kepastian asal-usul jejak tertentu (apakah terbentuk hanya oleh satu agen atau oleh beberapa agen tertentu), serta mengenai cara khusus untuk meng-ukur atau memerikan gejala-gejala yang terlihat pada permukaan partikel telah mengurangi nilai tekstur permukaan sebagai suatu kriterion untuk mengenal agen dan/atau lingkungan pengendapan. Manfaat ancangan itu untuk batupasir purba hampir tidak diketahui sama sekali. Diagenesis tidak diragukan lagi menyebabkan timbulnya perubahan drastis pada permukaan partikel sedemikian rupa sehingga, meskipun para ahli telah memiliki kriteria lingkungan yang didasarkan pada data non-subjektif dan dapat direproduksikan, namun kriteria itu mungkin sukar untuk diterapkan pada batuan tua, terutama batupasir yang kompak, sedemikian rupa sehingga batuan itu hanya akan dapat diteliti dengan sayatan tipis.</p>
<p><strong>3.4  KEMAS DAN GEOMETRI RANGKA</strong></p>
<p><strong>3.4.1  Kemas</strong></p>
<p>Para ahli geologi sejak lama tertarik pada kemas <em>(fabric)</em> sedimen, khususnya sedimen klastika. Jamieson (1860) melakukan pengamatan terhadap imbrikasi batuan di Scotlandia. Walau demikian, penelitian kemas yang sistematis baru dimulai setelah terbitnya <em>Gefügekunde der Gesteine</em> karya Bruno Sander pada 1936. Meskipun buku itu terutama membahas tentang kemas batuan metamorf, namun isinya memberikan prinsip-prinsip dan metodologi yang sistematis dan dapat diadaptasikan pada batuan sedimen. Akhir-akhir ini, literatur mengenai kemas batuan sedimen banyak bermunculan dan telah disarikan oleh Potter &amp; Pettijohn (1963) serta Johansson (1965a).</p>
<p>Tujuan utama dari kebanyakan penelitian kemas primer sedimen klastika adalah perekonstruksian arus purba. Walau demikian, akhir-akhir ini penelitian kemas juga diarahkan untuk mengetahui proses pengangkutan sedimen. Penelitian kemas terutama dilakukan pada pasir, gravel, dan <em>till</em>.</p>
<p>Kemas juga merupakan salah satu sifat sedimen yang penting karena memiliki kaitan erat dengan sifat-sifat fisik batuan, misalnya konduktivitas termal, listrik, fluida, dan sonik.</p>
<p>Penelitian kemas dolomit dan batugamping kurang mendapat perhatian semestinya. Manfaat kemas batugamping dan dolomit diperlihatkan dengan jelas oleh Sander (1936) melalui penelitiannya terhadap dolomit dan batugamping Trias di Austria.</p>
<p><strong>3.4.2  Definisi dan Konsep</strong></p>
<p>Kemas <em>(fabric)</em>, dalam sedimentologi, diartikan sebagai hubungan ruang dan orientasi unsur-unsur kemas. Dengan pengerti-an seperti itu, istilah kemas lebih sempit dibanding istilah <em>Gefüge</em>. Istilah yang disebut terakhir ini digunakan oleh Sander (1936) untuk mencakup sifat-sifat seperti besar butir, pemilahan, porositas, dsb, yang biasanya dianggap sebagai bagian dari tekstur. Unsur-unsur kemas <em>(fabric elements)</em> suatu batuan sedimen dapat berupa kristal tunggal, partikel pasir dan gravel, cangkang binatang, atau benda lain yang biasa berperan sebagai komponen batuan.</p>
<p>Pembandelaan <em>(packing)</em> adalah “densitas” atau spasi antar unsur kemas. Suatu batuan dapat memiliki pembandelaan yang beragam, sekalipun disusun oleh unsur-unsur kemas yang berbentuk bola dan ukurannya seragam. Pembandelaan itu akan lebih kompleks lagi apabila unsur-unsur itu tidak berbentuk bola dan ukurannya tidak seragam. Meskipun pembandelaan memiliki kaitan yang erat dengan kemas, namun keduanya merupakan dua sifat yang berbeda.</p>
<p>Setiap unsur kemas yang tidak berbentuk bola akan memiliki orientasi tertentu. Jika sejumlah besar unsur kemas pada suatu batuan (misalnya sebagian besar kerikil dalam suatu gravel) memperlihatkan orientasi pada arah tertentu, maka dikatakan bahwa batuan itu memiliki <em>preferred orientation</em> atau memiliki kemas anisotrop <em>(anisotropic fabric)</em>. Kemas seperti itu dapat di-wujudkan oleh kesejajaran sumbu panjang kerikil penyusun gravel, kesejajaran graptolit dalam serpih, keseragaman orientasi cangkang moluska (misalnya sebagian besar cangkang itu cekung ke atas), dsb. Kemas seperti itu disebut kemas dimensi <em>(dimensional fabric)</em> karena kesejajaran itu muncul akibat dimensi aktual dari unsur-unsur tersebut. Jika kemas seperti itu diperlihatkan oleh kesejajaran arah kristalografi (misalnya kesejajaran sumbu-<em>c</em> kristal kuarsa), maka kemasnya disebut kemas kristalografi <em>(crystallographic fabric)</em>. Kemas dimensi dapat memiliki hubungan yang erat dengan kemas kristalografi, namun keduanya dapat pula tidak memiliki hubungan apa-apa. Pada kasus fragmen batuan atau fosil, sudah barang tentu tidak ada hubungan antara kemas dimensi dengan kemas kristalografi.</p>
<p>Dilihat dari asal-usulnya, kita dapat mengenal adanya dua tipe kemas, yakni kemas deformasi <em>(deformational fabric)</em> dan kemas aposisi <em>(apositional fabric)</em>. Kemas deformasi dihasilkan oleh <em>stress</em> eksternal yang diterima oleh suatu batuan dan ter-bentuk akibat rotasi atau pergerakan unsur-unsur kemas di bawah pengaruh <em>stress</em> tersebut atau akibat pertumbuhan unsur-unsur baru dalam <em>stress field</em>. Kemas inilah yang pada dasarnya diperlihatkan oleh batuan metamorf. Kemas aposisi terbentuk pada saat pengendapan dan merupakan kemas “primer”. Sebagian besar kemas batuan sedimen merupakan kemas aposisi. Walau demikian, kompaksi batuan sedimen, yang sebagian merupakan fenomenon deformasi, dapat menyebabkan terubahnya kemas primer. Deformasi seperti itu mungkin tertahan oleh sementasi awal. Beberapa jenjang proses pembentukan kemas dapat terekam dalam konkresi (Oertel &amp; Curtis, 1972). Kemas aposisi atau kemas primer merupakan rekaman tanggapan unsur-unsur linier (misalnya sumbu panjang kerikil) terhadap medan gaya, misalnya saja medan gravitasi bumi dan medan magnet. Sebagian besar unsur kemas yang tidak berbentuk bola cenderung untuk diam pada posisi stabilitas maksimumnya, dimana dimensi terpanjang dari benda itu akan terletak sejajar dengan bidang perlapisan, sebagai perwujudan tanggapan unsur-unsur tersebut terhadap medan gravitasi bumi. Walau demikian, posisi atau orientasi unsur-unsur itu dapat terubah akibat aliran fluida.</p>
<p>Tidak semua kemas aposisi seperti itu. Sebagian kemas aposisi merupakan kemas pertumbuhan <em>(growth fabric)</em>. Orientasi unsur-unsur pada kemas pertumbuhan merupakan hasil pertumbuhan kristal. Pertumbuhan kristal itu sendiri seringkali berkaitan erat dengan kehadiran ruang bebas di dalam batuan. Pertumbuhan kristal yang tegak lurus terhadap suatu bidang—seperti yang terlihat pada geode, urat, dsb—merupakan contoh kemas pertumbuhan. Kemas ini akan dibahas lebih jauh pada Bab 12.</p>
<p><strong>3.4.3  Unsur dan Analisis Kemas</strong></p>
<p>Hanya unsur-unsur kemas yang dimensinya tidak sama saja yang akan memberikan tanggapan terhadap aliran fluida dan akan memiliki <em>preferred orientation</em>. Sebuah unsur berbentuk bola memiliki dimensi yang seragam dan tidak akan memperlihat-kan tanggapan apapun terhadap aliran fluida. Sebuah unsur berbentuk elipsoid tiga sumbu, di lain pihak, akan memiliki orientasi dan akan memperlihatkan tanggapan terhadap aliran fluida. Aspek unsur kemas yang diukur adalah orientasi sumbu panjang (apabila unsur itu berbentuk batangan) atau orientasi sumbu pendek (apabila unsur itu berbentuk cakram).</p>
<p>Meskipun setiap komponen detritus merupakan unsur kemas yang potensial, namun hanya komponen-komponen yang dimensinya berbeda-beda saja yang dapat memberikan manfaat besar dalam analisis kemas. Partikel-partikel kerikil dan pasir merupakan unsur kemas yang posisi sumbu-sumbunya paling sering diteliti. Lembar-lembar mika, bahkan mika lempung, serta banyak material organik (ranting kayu, fragmen daun berbentuk tali) merupakan unsur-unsur kemas yang sangat bermanfaat, terutama dalam sedimen argilit. Rangka atau cangkang binatang—khususnya <em>orthocerids</em>, <em>Tentaculites</em>, cangkang bivalvia, serta gastropoda berulir banyak—umumnya memperlihatkan pengarahan dan merupakan unsur kemas yang juga sangat bermanfaat.</p>
<p>Orientasi suatu unsur kemas dinyatakan dengan “jurus” dan “kemiringan”-nya. “Jurus” atau azimuth unsur kemas adalah sudut yang dibentuk oleh sumbu-sumbu tertentu dari unsur itu dengan arah utara magnet. “Inklinasi” unsur kemas adalah sudut vertikal yang dibentuk oleh sumbu-sumbu tertentu dari unsur itu dengan bidang horizontal. Sumbu panjang kerikil dapat mem-perlihatkan <em>preferred orientation</em>. Walau demikian, kerikil tertentu, misalnya kerikil berbentuk cakram, tidak memperlihatkan <em>preferred orientation</em> atau paling banter hanya memperlihatkan orientasi yang sangat samar. Orientasi partikel-partikel yang disebut terakhir ini dikontrol oleh permukaan partikel yang luas dan datar. Nilai pendekatan untuk posisi bidang itu (yakni bidang <em>a–b</em>) dapat dinyatakan dengan azimuth dan inklinasi garis yang tegak lurus terhadap bidang tersebut. Arah itu pada dasarnya merupakan orientasi diameter terpendek (sumbu-<em>c</em>) dari kerikil itu.</p>
<p>Jika suatu kerikil dapat dikeluarkan dari matriksnya, dan diberi tanda, maka posisinya dapat diorientasikan kembali di laboratorium. Kemudian, dengan bantuan sebuah goniometer, azimuth dan sudut kemiringan sumbu panjang kerikil itu atau orientasi garis yang tegak lurus terhadap bidang proyeksi maksimumnya akan dapat diukur (Karlstrom, 1952). Jika, strata dimana kerikil itu berada telah terangkat, maka efek pengangkatan itu sudah barang tentu harus diperhitungkan sedemikian rupa sehingga data orientasi yang diperoleh sudah bebas dari pengaruh tektonik. Para pembaca yang tertarik untuk mengetahui lebih jauh teknik-teknik pengambilan sampel dan prosedur-prosedur pengukuran itu hendaknya membaca karya-karya tulis Potter &amp; Pettijohn (1963) serta Bonham &amp; Spotts (1971).</p>
<p>Data pengamatan terhadap sekitar 100 atau lebih kerikil dapat diringkaskan secara grafis dengan beberapa cara. Sebagai contoh, untuk mengetahui arah aliran es, kita dapat mengukur dan menganalisis sekian data azimuth sumbu panjang <em>till stone</em>. Nilai-nilai bacaan azimuth dapat dikelompokkan ke dalam kategori-kategori tertentu (dengan memakai interval yang sesuai, misalnya saja 20<sup>o</sup>). Setelah itu kita cari kelas modus atau nilai rata-rata hitungnya. Metoda-metoda itu mencakup analisis distribusi frekuensi “sirkuler” <em>(“circular” frequency distribution)</em> itu telah dibahas panjang lebar oleh Jizba (1971). Kita juga dapat menyajikan nilai-nilai bacaan dalam sebuah histogram sirkuler <em>(circular histogram)</em>. Nilai-nilai kemiringan partikel itu dapat ditangani dengan cara yang sama.</p>
<p>Diagram yang memperlihatkan azimuth dan inklinasi sumbu panjang suatu unsur kemas disebut <em>“petrofabric diagram”</em> (Knopf &amp; Ingerson, 1938). Posisi setiap sumbu panjang direpresentasikan oleh suatu titik dalam kertas koordinat kutub <em>(polar coordinate paper)</em>, dalam jaring kutub sama-luas Lambert <em>(Lambert equiarea polar net)</em>, atau dalam jaring Schmidt <em>(Schmidt net)</em> (gambar 3-29A). Ada tidaknya pengkonsentrasian titik-titik data dalam jaring seperti itu mengindikasikan ada tidaknya pengarah-an unsur kemas tersebut. Diagram seperti itu dapat dengan mudah dipahami apabila kita membayangkan bahwa setiap kerikil itu ditempatkan pada bagian tengah suatu bola sesuai dengan posisinya pada singkapan. Sumbu panjang (atau sumbu lain) dari kerikil itu kemudian diperpanjang hingga sumbu itu berpotongan dengan permukaan bola. Titik perpotongan antara sumbu itu dengan permukaan bola bagian bawah (“belahan selatan”) kemudian dirajahkan pada peta “kutub” dari belahan bola itu. Jadi, dalam diagram itu, orientasi suatu garis dalam ruang (misalnya saja sumbu panjang suatu kerikil) akan direpresentasikan oleh suatu titik. Sebuah bidang juga dapat direpresentasikan oleh suatu titik. Caranya adalah dengan merajahkan posisi suatu garis yang tegak lurus terhadap bidang itu. Jadi, kita dapat merajahkan orientasi suatu lapisan silang-siur dengan sebuah titik pada <em>petrofabric diagram</em>. Dengan cara itu pula, orientasi dari sekian banyak lapisan silang-siur dapat ditampilkan pada satu diagram.</p>
<p>Jika unsur-unsur linier memiliki penyebaran random, maka titik-titik yang mererpesentasikan unsur-unsur itu juga akan tersebar secara random dalam <em>petrofabric diagram</em>. Jika unsur-unsur itu memperlihatkan pengarahan, maka titik-titik yang me-representasikannya akan terkonsentrasi pada tempat-tempat tertentu. Untuk memperlihatkan penyebaran atau densitas titik-titik tersebut, kita dapat menyajikan data itu dengan garis-garis kontur. Setiap daerah yang dibatasi oleh kontur tertentu kemudian dapat diberi simbol tersendiri. Dengan demikian, dalam <em>petrofabric diagram</em>, kontur digunakan untuk menunjukkan jumlah titik data dalam setiap satuan luas (gambar 3-29B). Para ahli biasanya tidak menyatakan angka aktual dari densitas titik-titik tersebut, melainkan jumlah relatifnya (persentasenya). Satuan luas yang digunakan biasanya 1% luas keseluruhan diagram.</p>
<p>Titik-titik yang merepresentasikan sumbu unsur-unsur kemas yang berbentuk garis atau titik-titik yang merepresentasikan garis yang tegak lurus terhadap unsur-unsur kemas yang berbentuk bidang dapat membentuk zona atau sabuk dengan konsentrasi titik proyeksi yang beragam. Zona-zona seperti itu disebut <em>girdle</em>.</p>
<p>Meskipun konsep kemas dimensi dapat diterapkan pada semua sedimen klastika, termasuk beberapa tipe batugamping, namun pengukuran unsur-unsur kemas dalam batuan klastika yang kompak sukar untuk dilakukan. Imbrikasi kerikil-kerikil pipih dalam suatu konglomerat dapat dengan relatif mudah dilihat, namun apabila kita tidak dapat menandai, memindahkan, dan melakukan reorientasi kerikil-kerikil seperti itu, maka analisis kemas tidak mungkin dapat dilaksanakan pada konglomerat itu. Bidang-bidang perlapisan mungkin dapat memberikan informasi penting. Pada bidang perlapisan itu kita dapat melihat orientasi kerikil memanjang, fosil berbentuk kerucut atau fosil memanjang, serta material rombakan tumbuhan.</p>
<p>Orientasi partikel pasir dalam suatu batupasir tidak mudah untuk ditentukan. Sayatan-sayatan tipis pada arah yang tegak lurus terhadap bidang perlapisan biasanya memperlihatkan bahwa sumbu panjang partikel sejajar dengan bidang perlapisan atau, pada kasus-kasus tertentu, terimbrikasi. Sayatan pada arah yang sejajar dengan bidang perlapisan umumnya memper-lihatkan pengarahan partikel-partikel memanjang. Beberapa teknik telah dikembangkan untuk mempelajari kemas batupasir (Martinez, 1963; Nanz, 1955; Bonham &amp; Spotts, 1971).</p>
<p><strong>3.4.4  Konsep Simetri dan Tipe-Tipe Kemas</strong></p>
<p>Apabila orientasi unsur-unsur kemas dalam suatu batuan tidak beraturan, maka batuan itu dikatakan memiliki kemas isotrop <em>(isotropic fabric)</em>. Namun, apabila unsur-unsur kemas dalam suatu batuan memperlihatkan <em>preferred orientation</em>, maka dikatakan bahwa batuan itu memiliki kemas anisotrop <em>(anisotropic fabric)</em>. Meskipun pola kemas sangat beragam, namun endapan sedimen hanya memperlihatkan beberapa aturan-susunan yang sederhana. Karena orientasi suatu unsur kemas tergantung pada bentuk unsur itu, maka akan terasa bermanfaat apabila pada saat ini kita meninjau secara singkat pola-pola umum yang diperlihatkan oleh kategori-kategori utama dari bentuk butir.</p>
<p>Pola-pola umum yang diperlihatkan oleh kategori-kategori utama bentuk butir paling baik dicandra dengan merujuk pada dua bidang. Pertama, bidang horizontal yang lebih kurang mendekati bidang pengendapan <em>(surface of deposition)</em>. Kedua, bidang vertikal yang sejajar dengan arah aliran. Hal yang sangat penting artinya adalah orientasi suatu unsur kemas dan hubungan antara pola yang dihasilkan oleh populasi unsur-unsur tersebut dengan bidang-bidang rujukan tersebut.</p>
<p>Unsur kemas yang berbentuk bola sudah barang tentu tidak dapat memperlihatkan pola kemas tertentu.</p>
<p>Unsur kemas yang berbentuk batang dicandra dengan menyatakan orientasi sumbu panjangnya. Pola kemas yang dihasilkan dapat random atau isotrop (gambar 3-30A). Unsur-unsur itu juga dapat tersebar secara terbatas pada bidang horizontal tertentu, namun pola penyebaran horizontalnya bersifat random dan kutub-kutubnya membentuk suatu <em>girdle</em> (gambar 3-30B). Unsur-unsur itu juga dapat memperlihatkan kemas arus <em>(current fabric)</em> yang disebabkan oleh penyusunan-ulang pada bidang horizontal dengan kutub-kutub terletak tegak lurus terhadap arus pembentuknya (gambar 3-30C) atau sejajar dengan arus pembentuknya (gambar 3-30D). Selain itu, unsur berbentuk batang masih dapat membentuk kemas lain, namun kemas-kemas itu jarang ditemukan, misalnya saja sebagai suatu kutub tunggal di bagian tengah diagram (sumbu panjang sebagian <em>dropstones</em> yang vertikal akan memperlihatkan kemas seperti itu).</p>
<p>Orientasi unsur berbentuk cakram dapat dicandra berdasarkan pola kemas yang diperlihatkan oleh sumbu pendek yang pada dasarnya terletak tegak lurus terhadap bidang cakram. Cakram dapat terletak pada bidang perlapisan dimana sumbu pendek cakram itu terletak tegak lurus terhadap bidang perlapisan (gambar 3-30E). Unsur-unsur kemas berbentuk cakram juga dapat tersusun-ulang oleh arus dan memperlihatkan kemas imbrikasi yang miring ke hulu. Pada kasus ini, sumbu pendek tidak akan terletak di tengah diagram (gambar 3-30F).</p>
<p><strong>3.4.5  Kemas Sedimen</strong></p>
<p>3.4.5.1  <span style="text-decoration:underline;">Kemas Gravel</span></p>
<p><em>Preferred orientation</em> dalam beberapa gravel telah diketahui sejak lama. Pola susunan kerikil pipih yang seperti susunan genting dalam beberapa gravel dan konglomerat dinamakan “struktur imbrikasi” <em>(“imbricate structure”)</em> (Becker, 1893). Lihat gambar 3-32. Cailleux (1945) mempelajari kemiringan sekitar 4000 kerikil dalam formasi-formasi yang umurnya berkisar mulai dari Paleozoikum hingga resen. Hasilnya menunjukkan bahwa imbrikasi merupakan jenis kemas yang paling sering ditemukan. Dalam formasi bahari, imbrikasi itu memperlihatkan arah yang agak bervariasi, sedangkan dalam endapan sungai sudut kemiringan imbrikasi sangat seragam. Inklinasi partikel-partikel gravel endapan sungai, ke arah hulu, rata-rata berharga 15–30<sup>o</sup>; endapan bahari memperlihatkan inklinasi 2–15<sup>o</sup>. Secara umum, kerikil pipih memiliki inklinasi yang lebih kecil dibanding kerikil yang tidak terlalu pipih; partikel-partikel yang relatif besar memiliki orientasi yang lebih baik dibanding partikel yang relatif kecil. Kerikil-kerikil yang saling bersentuhan memiliki orientasi yang lebih baik dibanding kerikil-kerikil terisolir. Menurut Unrug (1957), sudut inklinasi cenderung berkurang ke arah hilir. Hal itu dinisbahkan oleh Unrug (1957) pada “pemilahan gravel yang lebih buruk ke arah hilir”. Johansson (1965b), yang melakukan penelitian paling komprehensif terhadap kemas gravel setelah Cailleux (1945), menyatakan bahwa imbrikasi merupakan indikator arus yang paling dapat diandalkan dalam endapan sungai masa kini. Inklinasi pada endapan sungai masa kini bervariasi mulai dari sekitar 10<sup>o</sup> hingga sekitar 30<sup>o</sup>. Inklinasi sebesar itu memiliki kaitan dengan kepipihan dan “kondisi-kondisi hidrodinamika”. Inklinasi yang tinggi (sekitar 40<sup>o</sup>) dalam konglomerat Keweenawan (Prakambrium) ditafsirkan oleh White (1952) sebagai akibat terkonsentrasinya kerikil pipih pada sayap-sayap lubang kerukan. Karena itu, kemiringan itu merupakan sebuah ukuran dari sudut henti <em>(angle of repose)</em>.</p>
<p>Orientasi sumbu panjang kerikil berbentuk batang tidak terlalu dipahami sebagaimana orientasi kerikil berbentuk cakram. Bahkan, para ahli menemukan fakta-fakta yang kontroversial. Kesejajaran sumbu panjang dengan arah arus telah dikemukakan oleh banyak ahli seperti Krumbein (1940, 1942a), Schlee (1957), serta Dumitriu &amp; Dumitriu (1961). Walau demikian, Twenhofel (1932), Unrug (1957), Doeglas (1962), Sedimentary Petrology Seminar (1965), serta Rust (1972) melaporkan adanya orientasi sumbu panjang yang tegak lurus terhadap arah arus. Pendapat itu ditunjang oleh hasil penelitian eksperimental yang dilakukan oleh Sarkisian &amp; Klimova (1955) serta Kelling &amp; Williams (1967). Fakta-fakta yang berlawanan itu mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor. Johansson menyatakan bahwa kerikil yang ketika diangkut selalu bersentuhan dengan substrat cenderung untuk diendapkan sedemikian rupa sehingga sumbu panjang kerikil itu tegak lurus terhadap arah arus. Di lain pihak, kerikil yang diangkut dalam medium pengangkut—misalnya dalam es gletser, aliran lumpur, dsb—cenderung sejajar dengan arah aliran karena adanya pengaruh <em>shearing stress</em> medium yang bergerak. Menurut Rust (1972), orientasi yang tegak lurus terhadap arah arus paling jelas terlihat apabila kerikil-kerikil yang terorientasi itu terisolasi pada bidang batas sedimen-fluida yang disusun oleh pasir. Orientasi itu akan menghilang sejalan dengan makin bertambah banyaknya kerikil sedemikian rupa sehingga akhirnya terbentuk orientasi yang sejajar dengan arah aliran. Kecepatan aliran tampaknya merupakan salah satu faktor yang menentukan orientasi kerikil. <em>Torrential flow</em> menyebabkan terbentuknya orientasi yang sejajar dengan arah aliran.</p>
<p>3.4.5.2  <span style="text-decoration:underline;">Kemas <em>Till</em></span></p>
<p><em>Preferred orientation</em> dari <em>till stone</em> telah lama digunakan sebagai kriterion arah aliran es (Richter, 1932, 1936; Krumbein, 1939; Holmes, 1941; Karlstrom, 1952; Harrison, 1957; Virkkala, 1960; Seifert, 1954; West &amp; Donner, 1956; Kauranne, 1960; dll). Seperti yang dapat diinferensikan dari <em>glacial </em><em>striation</em>, <em>chatter mark</em>, dan kriteria pergerakan es yang lain, partikel berbentuk batang dalam <em>ground morainal </em><em>till</em> cenderung sejajar dengan arah pergerakan es. Pada beberapa kasus, ditemukan adanya partikel yang terletak lebih kurang tegak lurus terhadap arah pergerakan es, meskipun frekuensinya jauh lebih rendah dibanding partikel yang sejajar dengan arah pergerakan es. Pada <em>morainal </em><em>till</em> lain, kemas yang terlihat mungkin kompleks. Kemas <em>till</em> secara umum merupakan alat yang bermanfaat untuk menentukan arah pergerakan es, khususnya pada saat tidak ditemukan kriteria lain (Lindsey, 1966; Halbach, 1962).</p>
<p>3.4.5.3  <span style="text-decoration:underline;">Kemas Pasir</span></p>
<p>Kemas pasir dan batupasir kurang begitu dipahami dibanding kemas gravel. Hal itu terutama terjadi karena adanya berbagai kesulitan dalam pemelajaran kemas material yang relatif halus. Banyak usaha telah dilakukan oleh para ahli untuk mengukur posisi sumbu panjang (Schwarzacher, 1951) dan sumbu panjang semu (Griffiths, 1949; Griffiths &amp; Rosenfeld, 1950) partikel membatang serta orientasi sumbu-<em>c</em> kristal (Rowland, 1946) yang didasarkan pada premis bahwa sumbu panjang partikel memiliki hubungan yang erat dengan sumbu-<em>c</em> kristal.</p>
<p>Wayland (1939) menyatakan bahwa orientasi sumbu panjang kristal kuarsa cenderung sama dengan orientasi sumbu-<em>c</em> kristal itu. Ramisch (1942) mendukung hasil-hasil penelitian Wayland (1939). Karena itu, jika partikel kuarsa yang tidak ber-bentuk bola diarahkan oleh arus dasar pada saat diendapkan, maka batupasir itu kemungkinan besar akan memperlihatkan kemas kristalografi. Analisis <em>petrofabric</em> yang dilakukan Wayland terhadap St. Peter Sandstone (Ordovisium) menunjukkan bahwa sumbu optik <em>c</em> dari kuarsa memang memperlihatkan orientasi seperti itu. Rowland (1946) mencoba untuk mengeksplorasi lebih jauh hubungan antara arah dimensi dengan arah kristalografi dalam kuarsa klastika, namun hasil-hasil penelitiannya agak kurang konklusif. Kesulitan agaknya sebagian muncul dari fakta bahwa kuarsa memiliki belahan rhombohedra dan, meskipun tidak sempurna, belahan itu cenderung menyebabkan terbentuknya fragmen-fragmen memanjang yang sumbu panjangnya sejajar dengan sumbu kristal <em>c</em> (Bloss, 1957; Bonham, 1957; Zimmerle &amp; Bonham, 1962). Hubungan antara orientasi dimensi dengan orientasi kristalografi memungkinkan kita untuk menentukan orientasi dimensi dengan menggunakan suatu fotometer pada sayatan tipis yang dipotong pada arah yang sejajar dengan bidang perlapisan (Martinez, 1958; 1963).</p>
<p>Secara umum, kemas dimensi dari kuarsa yang berkaitan dengan aliran adalah kemas yang terlihat pada sayatan yang sejajar dengan bidang perlapisan, khususnya sayatan batupasir yang bidang perlapisan horizontalnya tidak terganggu (gambar 3-32). Rajahan dari sumbu panjang semu yang terlihat pada sayatan itu umumnya memperlihatkan bahwa arah rata-rata sumbu itu sejajar atau hampir sejajar dengan arah aliran sebagaimana yang terlihat dari hasil analisis struktur bidang perlapisan bawah (Sestini &amp; Pranzini, 1965). Kesesuaian seperti itu juga ditemukan antara kemas partikel dengan <em>dielectric anisotropy</em> (McIver, 1970). Lihat gambar 3-33. Walau demikian, adanya pengecualian dari itu telah dilaporkan oleh beberapa ahli (Onions &amp; Middleton, 1968; Parkash &amp; Middleton, 1970).</p>
<p>Hubungan antara sumbu panjang semu dengan arah arus didukung oleh hasil-hasil penelitian eksperimental (Dapples &amp; Rominger, 1945). Ujung yang relatif besar dari partikel yang tidak setangkup cenderung mengarah ke hulu. Pemelajaran ter-hadap sedimen gisik, sungai, dan gumuk masa kini menunjukkan adanya kemas dimensi yang jelas pada bidang yang sejajar dengan bidang perlapisan (Nanz, 1955; Curray, 1956).</p>
<p>Sayatan tipis batupasir yang dipotong pada arah yang tegak lurus terhadap bidang perlapisan dan sejajar dengan arah arus memperlihatkan bahwa imbrikasi partikel pasir umumnya, meskipun tidak selalu, miring ke arah hulu (Sestini &amp; Pranzini, 1965).</p>
<p>Kemas pasir diketahui memiliki kaitan yang sangat erat dengan permeabilitas vektoral (Griffiths, 1949; Griffiths &amp; Rosenfeld, 1950, 1953).</p>
<p>3.4.5.4  <span style="text-decoration:underline;">Kemas Lempung dan Serpih</span></p>
<p>Partikel-partikel lempung, khususnya mineral lempung, memiliki perawakan seperti mika dan umumnya pipih (Marshall, 1941; Bates, 1958). Meskipun partikel-partikel itu diendapkan secara random, namun tekanan gravitasi dan kompaksi yang ditimbulkan oleh tekanan gravitasi itu pada akhirnya akan menyebabkan partikel-partikel terputar dan terletak pada satu bidang yang sama sedemikian rupa sehingga partikel-partikel itu akan terletak sejajar atau terletak hampir sejajar satu sama lain. Orientasi seperti itu menyebabkan porositas serpih atau lempung menjadi berkurang serta menyebabkan terbentuknya anisotropi kemas dan penyubanan <em>(fissility)</em>. Hal itu terlihat dengan jelas dari hasil-hasil analisis sinar-X yang dilakukan terhadap kemas kaolinit dari serangkaian sampel yang diambil dari suatu nodul siderit secara berturut-turut mulai dari pusat hingga bagian tepi nodul itu (Oertel &amp; Curtis, 1972). Tampaknya konkresi itu merekam sejarah kompaksi serpih yang melingkupinya. Konkresi itu sendiri terbentuk sebelum serpih yang melingkupinya terkompaksi dan pertumbuhan konkresi terus berlanjut hingga kompaksi hampir selesai. Kemas kaolinit memperlihatkan perubahan progresif, mulai dari kemas yang hampir random di bagian tengah konkresi, hingga kemas yang sangat terarah pada permukaan konkresi. Pembahasan yang lebih mendalam mengenai faktor-faktor kimia dan mekanis yang mengontrol kemas lempung disajikan oleh Meade (1964).</p>
<p>Pengamatan terhadap sayatan tipis serpih yang dipotong pada arah yang tegak lurus terhadap bidang perlapisan menunjuk-kan adanya efek-efek “kepunahan massa” di bawah nikol bersilang. Hal itu mengindikasikan bahwa lempeng-lempeng mineral lempung terletak sejajar dengan bidang perlapisan. Walau demikian, Keller (1946) menunjukkan bahwa sebagian <em>fire clay</em> disusun oleh lempeng-lempeng mineral yang tersebar secara random. Dia berkeyakinan bahwa hal itu terjadi sebagai akibat pertumbuhan lempeng-lempeng itu dalam suatu gel lempung setelah lempung itu sendiri diendapkan. Lempung seperti itu memiliki bidang belahan konkoidal hingga tidak beraturan.</p>
<p>3.4.5.5  <span style="text-decoration:underline;">Kemas Batugamping dan Dolomit</span></p>
<p>Kemas primer dari batugamping dan dolomit telah diteliti oleh Sander (1936) dan Hohlt (1948). Kemas kristalografi yang berkembang baik telah dilaporkan oleh Hohlt. Pola-pola yang diperlihatkan oleh Sander sebagian besar merupakan kemas pertumbuhan <em>(growth fabric)</em> dalam ruang pori dan bukaan lain. Kemas itu terbentuk akibat tumbuhnya deretan kristal pada dinding lubang tersebut. Kemas kristalografi kemungkinan besar tidak akan ditemukan dalam batugamping dan dolomit yang tidak dikenai <em>stress</em>.</p>
<p>Kemas dimensi juga sering ditemukan dalam batugamping dan dolomit. Kemas itu berkaitan dengan pengarahan berbagai unsur rangka yang datar (atau berbentuk seperti batang) atau cekung-cembung (Dunham, 1962). Kemas itu akan dibahas lebih jauh pada 3.4.5.6. Kemas diagenetik akan dibahas pada bagian akhir dari bab ini dan dalam Bab 10.</p>
<p>3.4.5.6  <span style="text-decoration:underline;">Orientasi Fosil</span></p>
<p>Benda organik juga memberikan tanggapan terhadap aliran. Cangkang organisme berbentuk cekung-cembung dapat ter-letak demikian rupa sehingga cekung ke atas atau cembung ke atas. Walau demikian, apabila cangkang seperti itu diangkut oleh arus, orientasinya cenderung seragam, dalam hal ini cembung ke atas. Dengan demikian, pengarahan cangkang seperti itu merupakan indeks kecepatan arus sekaligus indeks posisi stratigrafi (Shrock, 1948). Walau demikian, ada ahli yang melaporkan bahwa pada beberapa endapan yang ditafsirkan sebagai turbidit, cangkang itu cekung ke atas (Cromwell dkk, 1966). Orientasi seperti itu memang dapat dihasilkan oleh arus turbid (Middleton, 1967).</p>
<p>Fosil yang memperlihatkan pengarahan juga dapat berperan sebagai indeks arah arus. Sebagaimana dikemukakan oleh para ahli sejak lama, <em>Tentaculite</em>, koloni-koloni graptolit (Ruedemann, 1897; Moors, 1969), dan fosil lain yang bentuknya mirip dengan itu memperlihatkan gejala pengarahan pada bidang perlapisan. Chenowith (1952) menunjukkan bahwa <em>orthoceracone cephalopods</em> dan <em>high-spired gstropods</em> memperlihatkan orientasi yang baik dalam Formasi Trenton di Negara Bagian New York. Fosil-fosil itu cenderung sejajar dan tegak lurus terhadap <em>pararipples</em> yang ada dalam lapisan itu. Chenowith berkeyakinan bahwa orientasi fosil-fosil itu, yakni tegak lurus terhadap gelembur dan sejajar dengan arah arus, muncul karena terpindahkan-nya pusat gravitasi fosil-fosil itu. Untuk mendukung gagasannya itu, dia merajahkan posisi sumbu panjang dan puncak <em>(apex)</em> fosil-fosil itu (gambar 3-34). Menurut Seilacher (1960), diagram mawar yang memperlihatkan pengarahan yang berlawanan (pola “dasi kupu-kupu”) merepresentasikan orientasi cangkang detritus tegak lurus terhadap arah arus, sedangkan pola yang cenderung mengarah ke satu arah mengindikasikian orientasi yang sejajar dengan arah arus (gambar 3-35).</p>
<p>Salah satu kriteria arus purba yang paling sering ditemukan adalah “lineasi arang kayu” <em>(“charcoal lineation”)</em>. Berdasarkan asosiasinya dengan struktur sedimen lain, diketahui bahwa lineasi arang kayu itu dapat sejajar (Colton &amp; DeWitt, 1959) maupun tegak lurus (Pelletier, 1958) terhadap arah arus. Orientasi yang normal kemungkinan sejajar dengan arah arus. Walau demikian, sebagaimana kasus partikel berbentuk batang (Ingerson, 1940) dan banyak fosil berbentuk batang (Seilacher, 1960), kesejajar-an arang kayu dapat dikontrol oleh gelembur. Pada kasus itu, sumbu panjang arang kayu akan sejajar dengan arah lembah gelembur.</p>
<p><strong>3.4.6  Evaluasi Kemas Sedimen</strong></p>
<p>Sebagaimana kasus besar butir, para ahli telah banyak melakukan penelitian terhadap kemas sedimen, namun hasil-hasil penelitian itu masih belum sebanding dengan tenaga, waktu, dan biaya yang selama ini dikeluarkan. Selain itu, sebagaimana kasus besar butir, keterbatasan hasil-hasil penelitian kemas antara lain disebabkan oleh fakta bahwa teknik-teknik yang dapat diterapkan secara langsung pada gravel dan pasir masa kini tidak dapat diterapkan pada batuan yang telah terlitifikasi dengan baik. Kemas dimensi pasir juga cenderung terganggu atau terhapus oleh nendatan, deformasi, atau bioturbasi. Pergerakan-pergerakan tektonik menyebabkan tertutupnya kemas primer dan kemudian menutupinya dengan kemas deformasi. Pemelajar-an kemas terutama ditujukan pada penentuan arah arus purba. Kriteria lain yang digunakan untuk menafsirkan arus purba—lapisan silang-siur, gelembur, dan struktur bidang perlapisan bawah—lebih mudah untuk dilihat dan diukur sehingga para ahli umumnya hanya akan melakukan analisis kemas yang banyak memakan tenaga dan waktu itu apabila dia tidak menemukan kriteria lain yang dapat digunakan untuk menentukan arah arus purba.</p>
<p>Manfaat terbesar dari kemas, terutama kemas pasir, adalah membantu seseorang dalam menentukan orientasi tubuh pasir yang ditemukan dalam lubang bor. Jika ada korelasi antara kemas dengan bentuk tubuh pasir, dan jika kemas suatu <em>oriented core</em> dapat diketahui, maka manfaat kemas dalam memprediksikan trend tubuh pasir dari satu lubang tunggal sangat besar. Pengetahuan mengenai kemas sedimen juga membantu kita dalam memahami sifat-sifat geofisika yang berkatain dengan anisotropi tubuh pasir.</p>
<p><strong>3.4.7  Geometri Rangka dari Sedimen Detritus</strong></p>
<p>3.4.7.1  <span style="text-decoration:underline;">Pembandelaan</span></p>
<p>Pembandelaan <em>(packing)</em> berkaitan dengan aturan-susunan unsur-unsur rangka, dimana setiap unsur didukung dan tertahan oleh unsur lain yang berada dalam kontak tangensial <em>(tangential contact; point contact)</em> dengannya (Graton &amp; Fraser, 1935).</p>
<p>Ada beberapa alasan yang menyebabkan pentingnya pemelajaran pembandelaan. Pembandelaan tertutup <em>(close packing)</em> menyebabkan menurunnya volume dan ukuran ruang pori batuan. Karena itu, pembandelaan tertutup menyebabkan terubahnya porositas dan permeabilitas batuan. Pembandelaan “terbuka” <em>(“open” packing; “loose” packing)</em> memiliki efek yang berlawanan dengan pembandelaan tertutup. Pertanyaan mengenai proses dan agen apa yang bertanggungjawab terhadap pemunculan pembandelaan yang beragam dalam endapan gisik (sebagian terbuka dan sebagian lain tertutup) telah menjadi bahan kajian para ahli yang mempelajari endapan itu (Kindle, 1936). Meskipun kontak antar partikel pada mulanya berupa kontak noktah, namun kontak itu dapat terubah kemudian karena terjadinya pelarutan intrastrata sedemikian rupa sehingga partikel-partikel penyusun batuan menjadi makin berdekatan. Pemelajaran tentang hubungan antar partikel mampu memberikan informasi yang bermanfaat mengenai khuluk perubahan-perubahan diagenetik pasca-pengendapan.</p>
<p>Pemelajaran pembandelaan memerlukan adanya suatu definisi yang lebih cermat dari istilah pembandelaan itu sendiri. Definisi itu antara lain diperlukan untuk mengukur “ketertutupan” pembandelaan serta untuk melihat perubahan-perubahan apa yang terjadi pada pembandelaan akibat proses-proses pasca-pengendapan. Pemelajaran itu dapat diarahkan pada analisis teoritis atau eksperimental terhadap pembandelaan partikel-partikel berbentuk bola serta pengamatan yang mendetil terhadap pembandelaan agregat alami, baik dengan cara melakukan pengamatan langsung terhadap endapan alami maupun dengan melakukan penelitian eksperimental. Pembahasan yang lebih mendetil mengenai berbagai ancangan untuk meneliti pem-bandelaan dapat ditemukan dalam berbagai karya tulis ilmiah, khususnya dalam monograf yang disusun oleh Graton &amp; Fraser (1935), Fraser (1935), serta Kahn (1956a, 1956b, 1959).</p>
<p>Unsur-unsur rangka sedimen klastika kasar (gravel dan pasir) ialah butiran-butiran kerikil dan pasir yang menjadi penyusun endapan itu. Unsur-unsur klastika itu tidak berbentuk seperti bola dan memiliki ukuran yang tidak seragam. Walau demikian, pemahaman mengenai fenomenon pembandelaan dan efeknya terhadap porositas dan permeabilitas dapat diperoleh dengan mengasumsikan bahwa suatu batuan disusun oleh partikel-partikel berbentuk bola yang ukurannya seragam (pada kebanyakan sedimen klastika kasar, partikel penyusunnya memiliki bentuk yang hampir mendekati bentuk bola; sebagai contoh, pada pasir tertentu, partikel-partikel penyusunnya memiliki kebolaan rata-rata 0,80, bahkan lebih). Karena itu, penelaahan pertama hendak-nya dilakukan terhadap agregat yang disusun oleh partikel-partikel yang ukurannya seragam. Setelah itu, baru dilakukan penelaahan terhadap agregat yang disusun oleh partikel-partikel yang ukurannya tidak seragam.</p>
<p>Pembandelaan partikel-partikel berbentuk bola yang ukurannya seragam mungkin tidak beraturan, namun mungkin pula repretitif dan sistematis. Hasil penelaahan terhadap hal itu menunjukkan bahwa meskipun pada dasarnya ada enam pola pembandelaan sistematis yang berbeda, namun hanya ada satu pola pembandelaan yang paling tertutup dan paling ketat, yakni pola rhombohedra (Slichter, 1899). Pembandelaan itu memiliki porositas paling rendah. Karena pola itu juga merupakan pola pembandelaan yang paling stabil dan alami, maka agregat alami yang disusun oleh partikel-partikel yang ukurannya hampir sama pada umumnya memiliki pembandelaan rhombohedra. Sebagian besar endapan alami memperlihatkan pembandelaan yang tidak beraturan, meskipun dalam setiap endapan itu dapat ditemukan beberapa “koloni” atau “zona” dimana pembandela-annya tertutup. Pembandelaan rhombohedra dicirikan oleh suatu <em>unit cell</em> yang terdiri dari enam bidang yang melewati pusat-pusat bola yang terletak pada sudut-sudut rhombohedron; setiap sisi bidang itu memiliki panjang 2R (gambar 3-36). Pem-bandelaan rhombohedron jauh berbeda dengan pembandelaan kubus yang merupakan tipe pembandelaan sistematis yang paling “terbuka”. Pembandelaan kubus disusun oleh <em>unit cell</em> yang terdiri dari enam bidang yang sudut-sudutnya merupakan pusat-pusat bola (gambar 3-36). Dalam pembandelaan rhombohedra, porositas berharga 25,95%, sedangkan pada pem-bandelaan kubus porositas berharga 47,64%.</p>
<p>Setiap bidang yang diletakkan secara random pada bola-bola yang terbandelakan secara sistematis akan memperlihatkan adanya zona-zona zat padat dan zona-zona ruang pori. Walau demikian, ruang-ruang pori itu bukan merupakan ukuran yang sebenarnya dari luas ruang total yang memungkinkan mengalirnya fluida karena sebagian ruang pori tertutup dan tidak ber-hubungan dengan ruang pori lain. Namun, jika bidang potong itu melewati pusat-pusat bola yang ada dalam satu lapisan rhombohedra, maka zona-zona ruang pori pada bidang itu merupakan ukuran luas penampang minimal sebenarnya dari ruang pori yang yang dapat dilalui oleh fluida. Ukuran itu dapat disebut sebagai “porositas yang bermanfaat” <em>(“useful porosity”)</em>. Pada pembandelaan rhombohedra, meskipun porositasnya berharga 25,95%, namun porositas efektifnya hanya 9,30%. Perbedaan antara porositas dengan porositas efektif itu tidak mempengaruhi kapasitas sistem ruang pori untuk menyimpan fluida, namun akan mempengaruhi pergerakan fluida melalui batuan atau, dengan kata lain, akan mempengaruhi permeabilitasnya.</p>
<p>Jika sejumlah besar bola yang diameternya sama disusun secara sistematis, maka akan ada nilai diameter maksimum yang tidak boleh dilebihi oleh suatu partikel kecil berbentuk bola agar dapat melewati ruang-ruang pori yang terletak diantara partikel-partikel besar itu. Untuk pembandelaan rhombohedra, diameter kritis itu adalah 0,154<em>D</em> (dimana <em>D</em> adalah diameter partikel besar). Demikian pula, ada nilai diameter maksimum yang tidak boleh dilebihi oleh suatu partikel kecil berbentuk bola agar dapat menempati ruang-ruang pori yang terletak diantara partikel-partikel besar. Untuk pembandelaan rhombohedra, diameter kritis itu adalah 0,414<em>D</em> dan 0,225<em>D</em> (diameter kritis itu ada dua karena dalam pembandelaan tersebut ada dua tipe dan ukuran ruang pori). Konsep-konsep teoritis itu tidak dapat diterapkan begitu saja pada endapan alami karena endapan alami tidak disusun oleh partikel-partikel berbentuk bola, karena endapan alami tidak disusun oleh partikel-partikel yang ukurannya seragam, dan karena endapan alami tidak seluruhnya memiliki pembandelaan yang sistematis. Walau demikian, jika material pengisi ruang pori yang terletak diantara partikel-partikel besar memiliki diameter lebih dari 0,154 kali diameter partikel-partikel besar, maka dapat disimpulkan bahwa partikel-partikel “halus” itu tidak diendapkan setelah rangka batuan itu terbentuk, melainkan diendap-kan bersama-sama dengan partikel-partikel besar. Fakta itu akan menyebabkan munculnya distribusi besar butir bimodus seperti yang diperlihatkan oleh beberapa gravel.</p>
<p>Pada endapan baru, partikel-partikel berhubungan dengan kontak tangensial. Karena itu, suatu sayatan random yang melalui endapan itu jarang memotong titik-titik kontak tersebut. Karena itu, pada sayatan seperti itu, banyak partikel tampak tidak berhubungan sama sekali (gambar 3-37). Namun, jika kontak itu terubah sedemikian rupa sehingga luas bidang kontak menjadi bertambah, maka daerah kontak itu akan memiliki probabilitas yang lebih tinggi untuk terlihat pada sayatan random (tabel 3-10). Ketika terubah, kontak tangensial menjadi makin panjang, cekung-cembung, atau memperlihatkan sutura (gambar 3-38). Jane Taylor (1950) mempelajari kontak antar partikel dalam batupasir yang terletak pada kedalaman yang berbeda-beda dalam sumur-dalam di Wyoming. Pasir normal terlihat memiliki 1,6 kontak per butir (kemungkinan besar 0,85 kontak per butir menurut Gaither, 1953). Pada kedalaman 900 meter, pasir memiliki 2,5 kontak per butir, dan pada kedalaman 2570 meter pasir itu memiliki 5,2 kontak per butir. Data tersebut mengindikasikan bahwa batupasir mengalami “kondensasi” yang menyebabkan partikel-partikel penyusunnya lebih dekat satu sama lain dan meningkatnya kontak antar butir. Taylor menisbahkan fakta itu pada pelarutan dan presipitasi intrastrata serta pada aliran partikel-partikel kuarsa dalam wujud padat. Taylor mengajukan beberapa fakta yang diyakininya merupakan bukti adanya tekanan yang, pada gilirannya, memicu terjadinya pelarutan dan presipitasi. Fakta-fakta yang diajukannya antara lain adalah mika yang melengkung dan butiran-butiran kuarsa yang pecah. Walau demikian, aliran zat padat itu sendiri sukar untuk dibuktikan. Selain itu, sebagaimana diperkirakan oleh Waldschmidt (1943), kontak cekung-cembung yang dilihat oleh Taylor mungkin merupakan efek pelarutan. Selain kuarsa, partikel lain yang menyusun batuan mungkin likat. Deformasi partikel-partikel likat dapat menyebabkan menurunnya porositas batuan. Rittenhouse (1971) mengajukan sejumlah estimasi mengenai efek-efek kompaksi mekanik seperti itu.</p>
<p>Banyak ahli telah berusaha untuk mengukur pembandelaan. Jumlah kontak per butir merupakan salah satu ukuran atau indeks pembandelaan. Kahn (1956a) mengusulkan dua ukuran. Pertama, <em>packing proximity</em>, yang pada dasarnya merupakan jumlah kontak per butir (nisbah jumlah kontak antar butir terhadap jumlah total butiran yang terhitung pada suatu sayatan). Kedua, <em>packing density</em>, yakni nisbah panjang kontak partikel terhadap panjang total lintasan pengukuran. Indeks pembandela-an lain pernah diusulkan oleh Smalley (1964a, 1964b), Allen (1962), Emery &amp; Griffiths (1964), serta Melton (1964).</p>
<p>Sayang sekali, pemelajaran terhadap kontak antar partikel serta pengukuran pembandelaan masih agak subjektif. Hal itu antara lain disebabkan oleh ketidakakuratan atau ketidaktepatan pengamatan. Batas-batas asli antar partikel kuarsa dalam beberapa batupasir sebagian atau seluruhnya hilang karena adanya <em>secondary overgrowth</em> kuarsa serta hanya dapat dilihat dengan metoda <em>catholuminescence</em>. Kontak-kontak lain tertutup oleh matriks sedemikian rupa sehingga banyak orang sering ragu apakah pada suatu bagian batuan ada kontak antar partikel atau tidak.</p>
<p>3.4.7.2  <span style="text-decoration:underline;">Porositas</span></p>
<p>Porositas didefinisikan sebagai persentase ruang pori dalam volume total batuan. Ruang pori sendiri diartikan sebagai ruang dalam tubuh batuan yang tidak diisi oleh zat padat. Dengan demikian, porositas yang dimaksud di atas adalah ruang pori total, bukan ruang pori efektif. Ruang pori total mencakup semua ruang yang tidak terisi oleh zat padat, baik ruang yang berhubungan maupun ruang yang tidak berhubungan. Ruang pori efektif adalah ruang-ruang pori yang berhubungan satu sama lain.</p>
<p>Berbeda dengan batuan kristalin yang tidak memiliki porositas, sedimen klastika memiliki porositas. Adanya porositas itu dinisbahkan pada fakta bahwa komponen-komponen klastika, sewaktu diendapkan, tidak membentuk kontak menerus satu sama lain. Partikel-partikel penyusun sedimen klastika hanya membentuk kontak tangensial. Sistem ruang pori, selain dapat berperan sebagai tempat penyimpan fluida, juga membentuk jalur-jalur yang dapat dilalui oleh fluida. Karena itu, volume ruang pori dalam suatu batuan, kapasitas batuan itu untuk menyimpan fluida, dan kemampuan batuan itu untuk melewatkan fluida, sangat penting artinya dalam pemelajaran minyakbumi, gasbumi, garam-garam alami, dan air tanah. Karena itu, banyak ahli mencoba untuk memahami porositas dan banyak cara telah dirancang untuk mengukur porositas. Pembahasan mengenai cara-cara untuk mengukur porositas dapat ditemukan dalam berbagai manual laboratorium seperti karya Müller (1967) dan Curtis (1971). Pembahasan yang lebih mendalam mengenai porositas dapat ditemukan dalam karya tulis von Engelhardt (1960).</p>
<p>Khuluk batuan detritus yang sarang merupakan salah satu faktor dan kondisi utama yang menyebabkan terjadinya re-organisasi diagenetik. Porositas, misalnya saja, menyebabkan ketidakhomogenan penyebaran tekanan yang diberikan oleh strata yang terletak di atas suatu batuan; tekanan itu hanya diterima oleh titik-titik kontak antar partikel yang tidak begitu luas apabila dibandingkan dengan luas seluruh batuan. Hal itu pada gilirannya menyebabkan terjadinya pelarutan pada titik-titik kontak dan terjadinya presipitasi pada ruang-ruang pori. Selain itu, fluida yang menempati ruang-ruang pori merupakan medium tempat terjadinya reaksi-reaksi kimia. Fluida itu sendiri dapat bereaksi dengan unsur-unsur padat penyusun batuan. Karena terjadinya pelarutan, presipitasi, pengisian, dan perubahan-perubahan diagenetik lain, porositas suatu sedimen dapat hilang sejalan dengan bertambahnya umur batuan dan kedalaman (Füchtbauer &amp; Reineck, 1963; Füchtbauer, 1967). Makin tinggi derajat diagenesisnya, makin mirip suatu batuan sedimen dengan batuan metamorf atau batuan beku.</p>
<p>Porositas dapat dianggap sebagai sifat primer maupun sifat sekunder (Fraser, 1935). Porositas primer merupakan sebuah sifat inheren dan muncul pada saat sedimen diendapkan. Porositas sekunder terbentuk akibat perubahan-perubahan yang dialami sedimen setelah fasa pengendapan selesai, perubahan-perubahan mana menyebabkan bertambahnya porositas primer. Sedimen karbonat merupakan batuan yang paling rentan terhadap proses-proses pembentukan porositas sekunder, meskipun sebagian batupasir juga memiliki porositas sekunder sebagai hasil pelindian <em>(leaching)</em> semen karbonat yang ada didalamnya.</p>
<p>Porositas primer dari suatu sedimen dipengaruhi oleh keseragaman partikel-partikel penyusunnya, bentuk partikel-partikel itu, cara pengendapannya, pembandelaan partikel-partikel itu, serta kompaksi yang berlangsung selama dan setelah sedimen itu diendapkan.</p>
<p>Secara teoritis, ukuran aktual dari partikel-partikel penyusun batuan tidak mempengaruhi porositas. Walau demikian, fakta menunjukkan bahwa sedimen berbutir halus memiliki porositas yang lebih tinggi dibanding sedimen berbutir kasar (tabel 3-11). Fakta itu tidak mengimplikasikan adanya hubungan sebab akibat antara porositas dengan ukuran partikel penyusun batuan karena pada kasus itu ukuran partikel sendiri sebenarnya lebih berkorelasi dengan bentuk partikel; bentuk partikel itulah yang menyebabkan munculnya fenomena tersebut.</p>
<p>Keseragaman ukuran partikel merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan porositas sedimen (Rogers &amp; Head, 1961). Porositas tertinggi biasanya ditemukan pada sedimen yang disusun oleh partikel-partikel yang ukurannya sama. Masuknya partikel-partikel lain ke dalam sedimen seperti itu, baik yang ukurannya lebih besar maupun lebih kecil, akan menyebabkan turunannya porositas sedimen tersebut. Penurunan itu sendiri, hingga tingkat tertentu, berbanding lurus dengan jumlah partikel yang masuk (Gaither, 1953) hingga campuran itu dibentuk oleh fraksi-fraksi ukuran yang jumlahnya lebih kurang sama. Di lain pihak, penambahan lempung menyebabkan naiknya porositas (Füchtbauer &amp; Reineck, 1963). Walau demikian, hubungan antara distribusi besar butir dengan porositas tidaklah sederhana. Fraser (1935) dan ahli-ahli lain memperlihatkan bahwa campuran yang berbeda-beda dapat memiliki porositas yang sama.</p>
<p>Efek bentuk partikel terhadap porositas belum banyak dipahami. Secara umum, partikel-partikel yang memiliki kebolaan tinggi cenderung untuk terbandelakan dengan membentuk porositas minimum. Sebagai contoh, Fraser (1935) menemukan bahwa keseragaman ukuran pada pasir gisik dan gumuk yang dikompaksikan secara eksperimental berturut-turut memiliki porositas 38% dan 39%, sedangkan kuarsa yang ditumbuk memiliki porositas sekitar 44%. Karena kebolaan kuarsa tumbuk itu berharga sekitar 0,60–0,65 dan bahwa pasir gisik kemungkinan memiliki kebolaan sekitar 0,82–0,84, jelas sudah bahwa bentuk partikel memiliki pengaruh yang sedikit (namun terlihat) terhadap porositas. Fraser menemukan fakta bahwa efek bentuk partikel paling jelas terlihat pada kasus kerikil yang sangat pipih. Batugamping detritus tertentu, misalnya <em>coquina</em>, sangat sarang dan memperlihatkan kemas “kentang goreng” <em>(“potato-chip” fabric)</em>. Endapan seperti itu dapat memiliki porositas hingga sekitar 80% (Dunham, 1962). Demikian pula, lempung yang baru diendapkan dapat memiliki porositas hingga sekitar 85%.</p>
<p>Metoda pengendapan dan pembandelaan sangat mempengaruhi porositas. Untuk partikel-partikel berbentuk bola yang ukurannya seragam, nilai porositas pada saat pembandelaannya paling tertutup berharga 26%, sedangkan pada saat pem-bandelaannya paling terbuka berharga 48%. Pasir yang dibandelakan secara eksperimental memiliki porositas 28–36%. Walau demikian, di alam, endapan umumnya mengalami pembandelaan paling ketat dengan ruang pori minimum. Karena itu, pengaruh pembandelaan pada endapan alami cenderung rendah.</p>
<p>Efek kompaksi terhadap porositas akan dibahas pada Bab 8 dan 12. Efek kompaksi terhadap lempung dan serpih sangat besar; porositas tampaknya merupakan fungsi dari kedalaman penguburan sesuai dengan persamaan di bawah ini (Athy, 1930):</p>
<p>dimana    <em>P</em> adalah porositas.</p>
<p><em>p</em> adalah porositas rata-rata permukaan lempung.</p>
<p><em>b</em> adalah konstanta.</p>
<p><em>x</em> adalah kedalaman.</p>
<p>Porositas lempung menurun hingga menjadi sekitar 50% atau bahkan 10% setelah terkompaksi. Kompaksi pasir, di lain pihak, dapat diabaikan. Walau demikian, porositas primer dari pasir (35–45%) dapat menurun hingga tinggal beberapa persen saja akibat pelarutan dan presipitasi atau akibat pengisian ruang pori oleh material penyemen. Batupasir rata-rata memiliki porositas 15–20%. Tingginya porositas batupasir tertentu, misalnya batupasir Oriskany (Devon) di bagian tengah Appalachia, dinisbahkan pada pelindian semen karbonat yang semula ada didalamnya (Krynine, 1941).</p>
<p>3.4.7.3  <span style="text-decoration:underline;">Permeabilitas</span></p>
<p>Permeabilitas adalah sifat batuan yang memungkinkan lewatnya fluida melalui batuan tanpa menyebabkan rusaknya struktur batuan atau menyebabkan terpindahkannya partikel-partikel penyusun batuan itu. Suatu batuan dikatakan permeabel jika memungkinkan sejumlah besar fluida dapat mengalir melalui batuan itu dalam suatu rentang waktu tertentu. Suatu batuan dikatakan impermeabel jika laju pengaliran fluida melalui batuan itu sangat rendah. Sudah barang tentu laju aliran fluida melalui suatu batuan tidak hanya dipengaruhi oleh batuan itu sendiri, namun juga oleh khuluk fluida serta <em>hydraulic head</em> atau tekanan.</p>
<p>Permeabilitas suatu medium permeabel dapat dinyatakan sebagai kuantitas fluida <em>Q</em> (cm<sup>3</sup>/det) yang melalui suatu penam-pang melintang <em>C</em> (cm<sup>2</sup>) dan panjang tertentu <em>L</em> (cm). Kuantitas itu berbanding lurus dengan perbedaan tekanan, <em>P</em> (atm), pada kedua ujung sistem tersebut, dan berbanding terbalik dengan viskositas fluida <em>V</em> (centipoise). Jadi:</p>
<p>Faktor kesebandingan, <em>K</em>, adalah permeabilitas; suatu faktor yang khas untuk batuan. Koefisien permeabilitas itu disebut darcy. Suatu pasir dikatakan memiliki permeabilitas 1 darcy ketika memungkinkan lewatnya 1 cm<sup>3</sup> fluida (yang berviskositas 1 centi-poise) per detik melalui penampang batuan yang berukuran 1 cm<sup>2</sup> di bawah gradien tekanan 1 atmosfir per cm panjang batuan. Pasir masa kini memiliki permeabilitas 10–100 darcy, bahkan sebagian diantaranya lebih dari 100 darcy (gambar 3-39). Walau demikian, sebagian batupasir memiliki permeabilitas kurang dari 1 atau 2 darcy. Karena itu, permeabilitas batuan biasanya dinyatakan dalam satuan milidarcy.</p>
<p>Permeabilitas sangat penting artinya dalam pemelajaran migas dan akuifer. Karena itu, tidak mengherankan apabila banyak ahli mencoba untuk merancang berbagai teknik pengukuran permeabilitas serta menentukan faktor-faktor geologi yang mengontrolnya. Teknik-teknik pengukuran permeabilitas telah dibahas secara mendetil oleh Curtis (1971) dan Müller (1967).</p>
<p>Koefisien permeabilitas, <em>K</em>, dari pasir yang tidak terkonsolidasi dipengaruhi oleh besar butir partikel, pemilahan partikel, bentuk partikel, dan pembandelaan. Efek ukuran dan pemilahan partikel telah dipelajari secara eksperimental. Krumbein &amp; Monk (1942), misalnya saja, menggunakan <em>glacial outwash sand</em> yang diayak dan dikombinasikan untuk membentuk campuran-campuran dengan komposisi tertentu. Karena kebanyakan pasir alami memiliki distribusi besar butir log normal, campuran-campuran itu dibuat agar memiliki distribusi log normal. Campuran-campuran itu kemudian dibagi-bagi ke dalam beberapa sampel uji yang memiliki besar butir rata-rata sama, namun simpangan bakunya (pemilahannya) berbeda-beda, atau ke dalam beberapa sampel uji yang memiliki pemilahan sama, namun besar butir rata-ratanya beragam. Krumbein &amp; Monk (1942) menemukan bahwa permeabilitas berbanding lurus dengan pangkat dua diameter partikel serta berbanding terbalik dengan log simpangan baku (gambar 3-40). Dalam batupasir alami, permeabilitas tampaknya memiliki hubungan yang erat dengan besar butir: permeabilitas bertambah dengan bertambahnya ukuran partikel (gambar 3-41).</p>
<p>Bentuk partikel penyusun batuan, yang dinyatakan dengan kebolaannya, hingga tingkat tertentu mempengaruhi permeabili-tas. Hal itu mungkin terjadi karena pasir dengan kebolaan rendah cenderung memiliki porositas yang tinggi dan pembandelaan yang terbuka. Hal itu, pada gilirannya, menyebabkan pasir itu memiliki permeabilitas yang tinggi.</p>
<p>Permeabilitas juga tergantung pada pembandelaan karena, sebagaimana terlihat dalam material yang disusun oleh partikel-partikel berbentuk bola yang ukurannya sama, dimensi ruang pori (yang menentukan permeabilitas) tergantung pada tipe pembandelaan. Karena itu, setiap perubahan pembandelaan, yang akan menyebabkan bertambahnya porositas, juga akan menyebabkan bertambahnya permeabilitas. Kesimpulan yang disebut terakhir ini ditunjang oleh hasil-hasil penelitian eksperimental yang dilakukan oleh von Engelhardt &amp; Pitter (1951).</p>
<p>Secara teoritis, permeabilitas tidak memiliki hubungan apapun dengan porositas, meskipun batuan yang tidak sarang sudah barang tentu tidak permeabel. Di lain pihak, batuan yang sangat sarang belum tentu sangat permeabel. Batuan berbutir halus, meskipun sangat sarang, memiliki permeabilitas yang rendah. Hubungan antara porositas, permeabilitas, dan besar butir telah dipelajari baik secara eksperimental maupun secara teoritis oleh von Engelhardt &amp; Pitter (1951) serta dikaji secara teoritis oleh Scheidegger (1957) dan ahli-ahli lain. Sebagai suatu pendekatan, permeabilitas dapat dikatakan sebanding dengan porositas dan berbanding terbalik dengan pangkat dua luas permukaan partikel (cm<sup>2</sup>/cm<sup>3</sup>). Karena itu, makin halus partikel penyusun suatu endapan (dan dengan demikian makin luas permukaan partikel penyusunnya), makin rendah permeabilitas endapan itu. Dalam batupasir, porositas secara umum berkorelasi dengan permeabilitas. Nilai permeabilitas tampak memiliki kisaran yang lebih lebar dibanding porositas (gambar 3-42).</p>
<p>Dalam sedimen berlapis, permeabilitas pada arah yang sejajar dengan bidang perlapisan lebih tinggi dibanding permeabili-tas pada arah yang tegak lurus terhadap bidang perlapisan. Pada pasir tertentu, permeabilitas pada arah yang sejajar dengan bidang perlapisan, namun terletak pada bagian-bagian batuan yang berbeda, juga memperlihatkan perbedaan. Semuanya itu diperkirakan muncul karena adanya ketidakisotropan kemas partikel (Mast &amp; Potter, 1963; Potter &amp; Pettijohn, 1963).</p>
<h1>3.5  TEKSTUR KRISTALIN DAN TEKSTUR ENDOGENETIK LAIN</h1>
<p>Tekstur endogenetik <em>(endogenetic texture)</em>, yakni tekstur yang diperlihatkan oleh presipitat-presipitat larutan atau presipitat-presipitat yang dihasilkan oleh rekristalisasi atau alterasi material yang sebelumnya ada, sangat khas dan jauh berbeda dari tekstur eksogenetik (tekstur batuan klastika). Dalam tekstur endogenetik, mineral-mineral diendapkan pada posisi sebagaimana posisinya pada saat ditemukan; dalam tekstur eksogenetik <em>(exogenetic texture)</em>, partikel-partikel yang ada berasal dari tempat lain dan kemudian ditendapkan ke dalam kerangka batuan sebagai partikel-partikel padat.</p>
<p>Kita telah membahas tentang segala sesuatu yang kita ketahui mengenai tekstur primer batuan sedimen klastika. Sekarang kita akan membahas berbagai fakta mengenai tekstur yang dihasilkan oleh proses-proses kimia. Namun, perlu dicamkan bahwa kedua tipe tekstur itu bukannya tidak memiliki hubungan apapun. Banyak batuan sedimen memperlihatkan kedua tipe tekstur itu. Sebuah batupasir, misalnya saja, dapat memiliki tekstur eksogenetik atau tekstur klastika, namun juga mengandung semen endogenetik yang memperlihatkan kemas kristalin. Demikian pula, banyak batugamping memperlihatkan kedua tipe tekstur tersebut. Dalam banyak kasus, pasir karbonat yang diendapkan secara mekanis diikat satu sama lain oleh semen kristalin yang dipresipitasikan dari larutan.</p>
<h1>3.5.1  Tekstur Kristalin</h1>
<p>Dalam pengertian terbatas, boleh dikatakan bahwa semua batuan sebenarnya merupakan zat kristalin, termasuk lempung. Walau demikian, istilah kristalin <em>(crystalline)</em> biasanya digunakan secara terbatas untuk batuan-batuan yang memperlihatkan agregat kristal yang saling kesit <em>(interlocking aggregate of crystals)</em>, misalnya garam batu <em>(rock salt)</em>. Batuan seperti itu disebut batuan granuler kristalin <em>(crystalline granular rocks)</em> atau batuan sakaroid <em>(sacharoidal rocks)</em>. Arkose yang disemen oleh kalsit merupakan sebuah agregat kristalin <em>(crystalline aggregate)</em>, meskipun tidak dinyatakan seperti itu. Batuan yang disusun oleh unsur-unsur rangka yang berupa partikel-partikel felspar dan kuarsa, yang masing-masing jelas terlihat bersifat kristalin, tidak dikatakan memiliki tekstur kristalin melainkan memiliki tekstur klastika. Semen karbonat, di lain pihak, memiliki kemas kristalin.</p>
<p>Tata peristilahan yang diterapkan pada tekstur dan kemas kristalin dari batuan sedimen belum dibakukan. Masalah-masalah yang berkaitan dengan tata peristilahan itu telah dibahas oleh Friedman (1965) yang menyatakan bahwa banyak ahli mengguna-kan istilah yang beragam untuk menyatakan tipe kemas kristalin dalam batuan sedimen dan bahwa banyak diantara istilah-istilah itu berasal dari tata peristilahan batuan beku dan batuan metamorf. Kondisi yang memprihatinkan itu kemudian mendorong Friedman (1965) untuk mengusulkan digunakannya sekumpulan istilah khusus untuk mencandra tekstur dan kemas kristalin pada batuan sedimen. Banyak diantara istilah-istilah yang diusulkannya khusus dirancang untuk batuan karbonat. Pembatasan seperti itu tidak menguntungkan karena tekstur kristalin juga dapat ditemukan dalam gipsum, anhidrit, dan sedimen kristalin lain.</p>
<p>Disini kita akan menggunakan tata peristilahan yang biasa digunakan dalam penelitian batuan metamorf. Hal itu dilakukan karena penulis tidak ingin membebani pembaca dengan istilah-istilah baru dan terutama sekali karena diagenesis—rekristalisasi, penggantian, dan reorganisasi internal (neomorfisme)—pada hakekatnya merupakan transformasi metamorfik. Berbeda dengan definisi yang biasa dijadikan pegangan oleh para ahli petrologi, sebenarnya tidak ada batasan yang tegas antara diagenesis dengan metamorfisme. Selain itu, sebenarnya semua bentuk transformasi yang berlangsung pada fasa padat dianggap sebagai transformasi metamorfik dalam arti luas, baik yang berlangsung pada temperatur dan/atau tekanan normal maupun pada kondisi temperatur dan/atau tekanan tinggi. Tekstur yang dihasilkannya pun pada dasarnya sama karena proses-proses yang menyebabkan pembentukannya pun lebih kurang sama.</p>
<p>3.5.1.1  <span style="text-decoration:underline;">Unsur-Unsur Kristal</span></p>
<p>Komponen dasar dari kemas kristalin adalah individu-individu kristal. Jika individu-invididu kristal itu besar, maka teskturnya dinamakan tekstur makrokristalin <em>(macrocrystalline texture)</em>; jika individu-individu kristal itu kecil, maka teksturnya dinamakan tekstur mikrokristalin <em>(microcrystalline texture)</em>; jika invididu-individu kristalnya berukuran sedang, maka teksturnya dinamakan tekstur mesokristalin <em>(mesocrystalline texture)</em>. Tekstur kristalin yang demikian halus, sehingga sukar diamati sekalipun di bawah mikroskop, disebut tekstur kriptokristalin <em>(cryptocrystalline texture)</em>. Sebagian ahli telah berusaha untuk mengkuantifikasikan istilah-istilah tersebut (tabel 3-12). Beberapa istilah—misalnya saja mikrit <em>(micrite)</em>, mikrospar <em>(microspar)</em>, dan <em>sparry</em>—dipakai untuk memerikan kristalinitas batugamping. Istilah-istilah itu akan dijelaskan pada Bab 10.</p>
<p>Disini kita tidak hanya menujukan perhatian pada ukuran kristal, namun juga pada keseragaman ukuran kristal. Jika ukuran kristalnya seragam, maka kita dapat menerapkan istilah ekuigranuler <em>(equigranular)</em> untuk memerikan tekstur kristalin; jika ukuran kristalnya tidak seragam, maka kita dapat menerapkan istilah anekuigranuler <em>(inequigranular)</em>. Pada beberapa kasus, ukuran kristal tidak memperlihatkan kesinambungan (maksudnya kristal-kristal penyusun suatu batuan kristalin memperlihatkan perbedaan ukuran paling tidak satu orde) sehingga tampak adanya “komponen” dan “matriks”, dimana “komponen itu lebih besar paling tidak 1 orde dibanding “matriks”. Kristal-kristal berukuran besar seperti itu homolog dengan porfiroblas <em>(porphyroblast)</em> dalam garnet atau dengan staurolit dalam sekis sehingga dapat disebut porfiroblas atau staurolit. Perlu diketahui bahwa Friedman (1965) menamakan kristal seperti itu sebagai porfirotop <em>(porphyrotope)</em> dan Phemister (1956) menamakan kemas itu sebagai kemas porfirokristalik <em>(porphyrocrystallic fabric)</em>. Sebagian lapisan anhidrit, misalnya saja, mengandung kristal-kristal gipsum berukuran besar yang tertanam dalam matriks kristal anhidrit.</p>
<p>Ketika kristal-kristal berukuran besar tertanam dalam matriks yang disusun oleh kristal-kristal lain, maka teksturnya disebut tekstur poikiloblastik <em>(poikiloblastic texture)</em>. Friedman (1965) menamakannya sebagai tekstur poikilotopik <em>(poikilotopic texture)</em>, sedangkan Phemister (1956) menamakannya tekstur poikilokristalik <em>(poikilocrystallic texture)</em>. Kemas seperti itu dapat ditemukan dalam sebagian batupasir, ketika semen kalsit memiliki orientasi kristal yang seragam dan menyelubungi banyak butiran pasir. Kristal-kristal barit juga dapat mengelilingi butir-butir pasir seperti itu.</p>
<p>Bentuk unsur-unsur kristal dapat dicandra berdasarkan kesempurnaan muka kristal eksternal dan kesimetriannya. Kristal-kristal yang tidak memperlihatkan muka kristal disebut kristal anhedral; kristal-kristal yang memperlihatkan muka kristal yang sempurna disebut kristal euhedral; sedangkan kristal-kristal yang tidak memperlihatkan muka kristal secara lengkap disebut kristal subhedral.</p>
<p>Aspek lain yang penting untuk dicandra adalah khuluk batas antar kristal dalam agregat kristalin. Batas-batas antar unsur kristal dapat lurus <em>(straight)</em>, melengkung <em>(curved)</em>, seperti teluk <em>(embayed)</em>, berbentuk bulan sabit <em>(scalloped; cuspate)</em>, atau sutura <em>(sutured)</em>. Kebenaan batas-batas kristal itu telah dibahas oleh Spry (1969) dan pembahasan batas-batas kristal dalam kaitannya dengan kemas kristalin telah disajikan oleh Bathurst (1971) dan Folk (1965a). Karakter batas kristal dapat memberi petunjuk mengenai umur relatif mineral atau dapat digunakan sebagai kriterion pelarutan timbal balik (batas-batas mikrostilolitik), <em>replacement</em>, korosi <em>(corrosion; embayment)</em>, dsb.</p>
<p>3.5.1.2  <span style="text-decoration:underline;">Kemas Semen</span></p>
<p>Kemas semen <em>(cement fabric)</em> adakan kemas pengisi ruang pori. Dalam kaitannya dengan hal inilah kemas kristalin dari sedimen berbeda dengan kemas kristalin batuan metamorf. Ada dua kasus yang mungkin muncul. Pada kasus pertama, kerangka bersifat lembam <em>(inert)</em> dan tidak bereaksi dengan semen atau dengan larutan yang menjadi material asal dari semen. Pada kasus kedua, rangka bereaksi dengan semen dan rangka itu sendiri ikut terubah. Pada kasus rangka lembam, akan terjadi presipitasi mineral pada permukaan partikel. Mineral itu tumbuh secara bebas ke arah ruang pori. Secara umum, material yang dipresipitasikan membentuk deretan kristal yang tumbuh pada dinding ruang pori. Kristal-kristal itu cenderung tumbuh ke arah luar, menuju bagian tengah ruang pori; sebagian kristal tumbuh lebih baik dan menahan pertumbuhan kristal lain (gambar 3-43). Kristal-kristal yang tumbuh pada permukaan partikel yang berbeda-beda akhirnya akan saling bertemu dan ruang pori akan terisi seluruhnya oleh material penyemen. Pada kasus lain, mineral penyemen (kalsit atau barit) membentuk satuan-satuan kristal berukuran besar yang tidak berhubungan dengan sistem ruang pori dan semen itu kemudian mendapatkan orientasi optik dan kristal yang seragam pada suatu wilayah yang relatif luas dan yang menutupi partikel-partikel detritus. Tekstur yang dibentuk pada kasus yang disebut terakhir ini disebut tekstur poikiloblas <em>(poikiloblastic texture)</em>.</p>
<p>Ketika butiran-butiran rangka bersifat reaktif, akan terbentuk kemas semen yang berbeda. Pada beberapa kasus, butiran-butiran rangka tumbuh atau bertambah besar akibat dipresipitasikannya meterial baru pada partikel-partikel itu dari larutan pengisi ruang pori. Pada kasus ini, partikel-partikel rangka itu pada dasarnya merupakan sebuah “bibit kristal” dan menjadi inti dari kristal yang tumbuh. Proses seperti itulah yang menyebabkan terjadinya <em>“secondary enlargement”</em> pada kuarsa dan felspar, bahkan kalsit pada beberapa pasir krinoid. Dengan cara itu, semen menjadi kelanjutan optik dan kristalografi dari partikel-partikel rangka. Produk akhirnya adalah tekstur granuler kristalin. Pada kasus lain, partikel-partikel rangka terkorosi oleh semen dan sebagian diantaranya kemudian digantikan oleh material penyemen. Pada kasus-kasus ekstrim, partikel-partikel rangka yang tidak stabil terdegradasi bahkan terdekomposisi dan kemudian membentuk agregat mikrokristalin. Detritus karbonat pada banyak batugamping memperlihatkan cincin mikrit. Partikel-partikel batuan dalam sebagian batupasir menghasilkan apa yang oleh Dickinson (1970) disebut sebagai epimatriks <em>(epimatrix)</em>.</p>
<p>3.5.1.3  <span style="text-decoration:underline;">Kemas Rekristalisasi</span></p>
<p>Banyak batuan sedimen mengalami rekristalisasi di bawah kondisi tekanan dan temperatur normal. Hal itu terutama terjadi pada batuan karbonat, meskipun tidak jarang terjadi pula pada gipsum, anhidrit, bahkan pada rijang. Cangkang aragonit dan rangka organisme serta semen mengalami rekristalisasi menjadi kalsit. Perubahan gipsum menjadi anhidrit, atau sebaliknya, merupakan suatu contoh yang baik dari rekristalisasi. Tekstur mikrokristalin pada rijang juga diperkirakan terbentuk akibat neo-kristalisasi gel silika. Pada beberapa kasus, perubahan yang terjadi memang merupakan rekristalisasi murni (misalnya re-kristalisasi aragonit menjadi kalsit). Pada kasus lain, perubahan itu mencakup hidrasi dan dehidrasi (misalnya perubahan dari opal menjadi kalsedon atau perubahan gipsum menjadi anhidrit). Pada kasus yang lain lagi, ada penambahan material baru (misalnya perubahan kalsit menjadi dolomit).</p>
<p>Kristalisasi atau rekristalisasi pada <em>solid state</em> menghasilkan tekstur yang pada dasarnya merupakan tekstur “metamorf” atau tekstur kristaloblastik. Kristal-kristal yang tumbuh dengan cara itu cenderung banyak mengandung inklusi yang terkonsentrasi di bagian tengah kristal atau tersebar membentuk zona-zona tertentu dalam kristal itu. Sebagaimana pada kasus batuan metamorf, batuan yang kristalisasinya terjadi akibat perubahan-perubahan diagenetik akan memperlihatkan sisa-sisa tekstur dan struktur batuan asalnya. Sisa-sisa itu muncul karena tidak seluruhnya hancur oleh proses-proses reorganisasi pasca pengendapan. Laminasi, oolit, fosil, bahkan tekstur klastika mungkin masih dapat ditemukan dalam batuan tersebut.</p>
<p>Rekristalisasi mungkin berlangsung secara selektif (hanya melibatkan komponen-komponen tertentu), namun dapat pula pervasif (melibatkan seluruh komponen batuan). Konversi cangkang aragonit menjadi kalsit merupakan contoh dari rekristalisasi selektif, sedangkan dolomitisasi total merupakan contoh dari rekristalisasi pervasif. Meskipun rekristalisasi dapat menyebabkan berkurangnya ukuran partikel, namun proses itu pada umumnya menyebabkan bertambah kasarnya tekstur batuan.</p>
<p>Para ahli petrologi sedimen dihadapkan pada masalah-masalah yang sukar untuk dipecahkan, misalnya saja masalah per-bedaan antara epimatriks yang terbentuk akibat degradasi unsur-unsur rangka dengan matriks mikrokristalin <em>(microcrystalline matrix)</em> yang terbentuk akibat rekristalisasi lumpur yang terletak diantara partikel-partikel yang relatif besar. Matriks yang disebut terakhir ini dinamakan ortomatriks <em>(orthomatrix)</em> oleh Dickinson (1970). Semen kristalin kasar pada beberapa batugamping merupakan produk presipitasi dalam sistem pori. Walau demikian, produk yang sama juga dapat terbentuk akibat rekristalisasi lumpur yang terletak diantara komponen-komponen batugamping. Dalam kaitannya dengan batuan non-karbonat, pertanyaan-pertanyaan seperti itu telah dikaji oleh Dickinson (1970). Untuk batuan karbonat, pertanyaan-pertanyaan sejenis dikaji oleh Folk (1965a) dan Bathurst (1971). Masalah-masalah itu akan dibahas lebih lanjut pada Bab 7 dan Bab 10.</p>
<p>Pada beberapa batuan, kristal-kristal baru tidak tumbuh secara sempurna. Material baru muncul dalam bentuk porfiroblas <em>(porphyroblast)</em> berukuran besar. Pada kasus lain, mineral-mineral baru tumbuh sebagai sfelurit berukuran renik.</p>
<p>3.5.1.4  <em><span style="text-decoration:underline;">Replacement Texture</span></em><span style="text-decoration:underline;"> dan Paragenesis</span></p>
<p>Mineral-mineral yang dipresipitasikan secara kimia dan memperlihatkan tekstur atau kemas kristalin dapat terbentuk baik pada saat berlangsungnya pengendapan sedimen maupun setelah proses pengendapan sedimen itu berakhir. Mineral-mineral yang terbentuk pasca-pengendapan sedimen mungkin tumbuh pada ruang diantara komponen-komponen penyusun batuan, namun mungkin pula merupakan merupakan produk <em>replacement</em> mineral-mineral yang ada sebelumnya, baik mineral detritus maupun mineral kimia. Dengan demikian, jelas bahwa setiap usaha untuk memahami sejarah sedimen mensyaratkan kita untuk: (1) membedakan mineral detritus dengan mineral yang dipresipitasikan secara kimia; (2) menentukan umur relatif beberapa mineral yang dipresipitasikan secara kimia; dan (3) menentukan tempat pembentukan material yang dipresipitasikan secara kimia (apakah terbentuk dalam ruang antar partikel atau merupakan produk <em>replacement</em>). Untuk dapat melakukan hal-hal tersebut, setiap ahli petrologi akan memerlukan kriteria tertentu serta harus menerapkan kriteria itu dalam membaca sejarah batuan (Grout, 1932). Kriteria itu sebagian besar merupakan kriteria tekstur yang berkaitan dengan bentuk kristal, khuluk batas-batas partikel, dll.</p>
<p>Untuk memperoleh pemahaman yang menyeluruh mengenai sejarah suatu batuan, kita harus menentukan umur relatif dan paragenesis mineral-mineral yang ada dalam batuan itu. Masalah paragenesis mineral, dan masalah <em>replacement</em> yang ber-kaitan dengannya, telah menarik perhatian para ahli petrografi dan ahli mineral bijih selama beberapa dasawarsa. Para ahli yang biasa menelaah mineral bijih telah memformulasikan banyak kriteria untuk memecahkan masalah umur relatif dan <em>replacement</em> (Bastin dkk, 1931; Bastin, 1950; Edwards, 1947). Karya-karya tulis para ahli itu sangat bermanfaat bagi kita yang memerlukan adanya kriteria paragenesis untuk menentukan secara tepat paragenesis mineral. Para pembaca disarankan untuk menelaah karya-karya tulis Grout, Bastin, dan beberapa ahli lain yang menyajikan kumpulan kriteria itu dan kemudian mengevaluasinya. Kriteria tersebut akan dapat lebih dipahami apabila kita menerapkannya pada kasus-kasus nyata.</p>
<p>Sebagian besar mikrotekstur dan kontak antar mineral yang ditemukan dalam batuan beku, batuan metamorf, dan bijih juga ditemukan dalam sedimen. Hubungan relatif antara dua mineral yang saling bersentuhan antara lain ditentukan oleh kemas batuan itu. Mineral-mineral dari rangka detritus jelas terbentuk lebih dahulu dibanding mineral-mineral yang terbentuk diantara rangka detritus itu. Walau demikian, sebagian ahli bersikukuh bahwa material penyemen terbentuk bersamaan dengan mineral detritus yang diikatnya (Krynine, 1941). Mineral-mineral pengisi lubang, retakan, dan ruang pori jelas terbentuk belakangan dibanding rangka batuan. Apabila ada beberapa mineral mengisi ruang yang sama, maka umur relatif dari mineral-mineral itu ditentukan berdasarkan kontak antar mineral itu. Secara umum, mineral muda akan menempati ruang yang tidak terisi oleh mineral tua atau mineral muda itu mengantikan posisi mineral tua. Karena mineral paling tua terbentuk pada ruang kosong atau ruang yang terisi oleh fluida, maka perawakannya akan euhedral; mineral-mineral lain yang terbentuk kemudian akan mengisi ruang-ruang yang belum terisi diantara mineral-mineral tua dan, oleh karena itu, akan berbentuk anhedral. Sayang sekali, perawakan mineral bukan merupakan kriterion penentuan umur relatif yang selalu benar. Jika kristal euhedral terbentuk akibat <em>replacement</em>, mineral itu dapat terbentuk kemudian dibanding mineral lain yang ada disekelilingnya. Kuarsa euhedral yang ditemukan dalam beberapa batugamping merupakan contoh terbaik dari kasus yang disebut terakhir ini. Karena itu, kita perlu berhati-hati dalam membedakan euhedra yang terbentuk oleh pertumbuhan dalam suatu medium fluida dengan euhedra yang terbentuk akibat <em>replacement</em> dalam matriks padat.</p>
<p>Banyak kriteria dapat digunakan untuk mengenal mineral yang terbentuk akibat <em>replacement</em>. Kriteria itu antara lain kristal automorf yang memotong struktur lama, misalnya perlapisan, fosil, atau oolit. Mineral yang terbentuk akibat <em>replacement</em> mengandung inklusi material yang digantikannya. Sisa-sisa material lama yang tidak tergantikan itu dapat memperlihatkan satu orientasi kristalografi yang sama atau tersebar dalam suatu pola relik atau <em>ghost pattern</em>. Kontak teluk <em>(embayed contact)</em>, serta residu yang terisolasi oleh <em>embayment</em> yang ekstrim, merupakan indikasi dari hubungan <em>replacement</em>. Hal yang agaknya merupakan kriterion terbaik dari <em>replacement</em> adalah pseudomorfisme <em>(pseudomorphism)</em>. <em>Pseudomorphic replacement</em> pada struktur organik (fosil kayu, cangkang organisme, dsb) serta pseudomorf kristal (pseudomorf silika pada dolomit, misalnya saja) sering ditemukan dan merupakan bukti konklusif dari <em>replacement</em>. Peneliti yang cerdik akan dapat menemukan kriteria lain dan kemudian memanfaatkannya untuk menentukan umur relatif dan <em>replacement</em>. Kriteria baru itu hendaknya dievaluasi secara hati-hati dan seksama.</p>
<p>3.5.1.5  <span style="text-decoration:underline;">Kemas Urat</span></p>
<p>Urat memiliki tekstur dan struktur yang sangat beragam. Urat kuarsa telah dibahas secara mendetil oleh Adams (1920), sedangkan urat karbonat telah dibahas panjang lebar oleh Grout (1946).</p>
<p>Pada beberapa retakan, sebagian wilayahnya terisi oleh material kristalin ekuigranuler, sedangkan sebagian lain berupa lubang-lubang kosong. Urat-urat kuarsa, kalsit, dan gipsum yang seratnya berpotongan sering ditemukan di alam dan disusun oleh kristal-kristal berserat yang terletak tegak lurus terhadap dinding urat. Sebagian diantara urat itu terdeformasi. Struktur sisir <em>(comb structure)</em> mirip dengan struktur tersebut, namun tidak disusun oleh kristal berserat, melainkan oleh kristal prismatik. Di beberapa tempat, kristal itu memperlihatkan pembesaran ke arah luar (relatif dari titik asalnya pada dinding retakan). Gejala itu disebut struktur flamboyan <em>(struktur flamboyant)</em>. Struktur itu dapat berkembang lebih jauh membentuk pola radial.</p>
<p><strong>3.5.2  Oolit, Sfelurit, dan Peloid</strong></p>
<p>Banyak sedimen mengandung benda-benda yang bentuknya lebih kurang seperti bola. Benda-benda itu disusun oleh mineral yang beragam serta memiliki struktur internal yang juga bervariasi. Benda-benda yang dimaksud adalah: (1) oolit <em>(oolite)</em> atau kadang-kadang disebut juga <em>oolith</em>, ooid, atau ovulit <em>(ovulite)</em>; (2) pisolit <em>(pisolite)</em> yang kadang-kadang disebut juga oolit-semu <em>(pseudo-oolite)</em> atau oolit-palsu <em>(false oolite)</em>; (3) peloid; (4) spastolit <em>(spastolith)</em>; dan (5) sfelurit <em>(spherulite)</em>.</p>
<p>3.5.2.1  <span style="text-decoration:underline;">Oolit dan Pisolit</span></p>
<p>Suatu batuan dikatakan memiliki tekstur oolitik <em>(oolitic texture)</em> apabila batuan itu terutama disusun oleh oolit. Oolit adalah benda berbentuk bola atau hampir berbentuk bola dengan diameter 0,25–2,00 mm (umumnya berdiameter 0,5–1,0 mm) serta terbentuk akibat akresi. Benda yang bentuk dan asal-usulnya sama dengan oolit, namun diameternya &gt; 2,00 mm disebut pisolit. Meskipun oolit umumnya berbentuk bola, namun ada pula oolit elipsoidal. Oolit yang ada dalam satu batuan biasanya memiliki bentuk dan ukuran yang seragam. Batuan yang mengandung oolit memiliki umur yang beragam, mulai dari Prakambriuim sampai Holosen.</p>
<p>Oolit sejak lama telah menarik perhatian para ahli petrografi dan dewasa ini telah tersedia literatur yang banyak mengenai oolit. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai oolit ini, pembaca dipersilahkan untuk menelaah karya tulis Rothpletz (1892), Barbour &amp; Torrey (1890), Linck (1903), Brown (1914), Bucher (1918), Carozzi (1957, 1961a, 1961b, 1963), serta Monaghan &amp; Lytle (1956). Selain itu, perlu juga ditelaah berbagai makalah yang khusus membahas tentang endapan endapan oolit purba atau oolit masa kini, seperti endapan oolit yang ditemukan di Bahama (Newell dkk, 1960). Terakhir, ada beberapa makalah yang perlu dirujuk untuk mengetahui masalah tata peristilahan yang berkaitan dengan oolit (DeFord &amp; Waldschmidt, 1946; Flügel &amp; Kirchmayer, 1962).</p>
<p>Istilah oolit digunakan baik untuk benda konkresioner seperti yang telah disebutkan di atas, sekaligus untuk batuan yang terutama disusun oleh benda-benda konkresioner tersebut. Untuk menghindarkan terjadinya kerancuan, sebagian ahli memakai istilah <em>oolith</em> untuk menamakan benda-benda konkresioner seperti tersebut di atas, sedangkan batuan yang terutama disusun oleh <em>oolith</em> mereka namakan <em>oolite</em> (DeFord &amp; Waldschmidt, 1946). Walau demikian, akhiran <em>–lith</em> digunakan oleh beberapa peneliti untuk menamakan batuan (seperti pada kasus <em>biolith</em> dan <em>calcilithite</em>). Karena itu, istilah <em>oolith</em> juga taksa. Untuk benda yang sama digunakan pula istilah <em>ooid</em>, <em>ooide</em> (Kalkowsky, 1980), dan <em>ovulite</em> (Deverin, 1945). Twenhofel (1950) mencoba untuk menghindarkan masalah kerancuan tersebut dengan menggunakan istilah <em>oolite</em> untuk benda konkresioner tersebut di atas, sedangkan untuk menamakan batuan yang disusun oleh oolit digunakan kata sifat oolitik. Istilah-istilah seperti rijang oolitik <em>(oolitic chert)</em>, batugamping oolitik <em>(oolitic limestone)</em>, dsb agaknya memang memiliki pengertian yang cukup jelas.</p>
<p>Carozzi (1957) membedakan oolit dari <em>superficial oolite</em> (suatu mineral atau partikel sisa organisme yang diselimuti oleh satu lapisan konsentris). Jika jumlah lapisan konsentris itu paling tidak dua buah, maka benda itu merupakan oolit asli. <em>Superficial oolite</em> dapat tertukar dengan partikel gampingan yang mengandung cincin-cincin mikrit yang tersusun secara ketat. Dalam beberapa kasus, partikel gampingan itu merupakan produk mikritisasi periferal pada suatu butiran asli, bukan akibat penambah-an lapisan-lapisan baru sebagaimana pada kasus oolit.</p>
<p>Oolit palsu <em>(false oolite)</em> atau oolit semu <em>(pseudo-oolite)</em> adalah butiran kalsium karbonat yang tidak memiliki struktur internal. Butiran itu dapat berupa pelet kotoran <em>(fecal pellet)</em> atau <em>degraded oolite</em> yang kehilangan struktur internalnya akibat mikritisasi. Bahkan, sebagian diantaranya merupakan intraklas dari batugamping mikrit yang terhancurkan. Untuk partikel-partikel yang menimbulkan ketaksaan seperti itu McKee &amp; Gutschick (1969) menerapkan istilah peloid. Istilah ini agaknya baik digunakan untuk menamakan partikel yang mirip dengan ooilit, namun asal-usulnya tidak diketahui secara pasti.</p>
<p>Pada penampang melintang, oolit memperlihatkan struktur konsentris, radial, atau gabungan konsentris dan radial. Oolit tampaknya tumbuh dari bagian tengah ke luar. Dalam banyak kasus, pertumbuhan itu dimulai dari sebuah inti, misalnya satu butiran kuarsa atau cangkang organisme berukuran kecil. Dalam kasus lain, tidak terlihat adanya inti. Hal itu mungkin terjadi karena sayatan tidak melalui inti atau karena inti itu memang tidak ada. Dalam beberapa ooid, interupsi struktur konsentris, akibat pemotongan atau akibat erosi tubuh asalnya, dapat diikuti oleh regenerasi atau pertumbuhan baru (Carozzi, 1961a). Hasilnya adalah suatu “ketidakselarasan” antara lapisan-lapisan konsentris luar dengan lapisan-lapisan konsentris dalam. Pada ooid lain, lapisan-lapisan itu berupa material aragonit mikrokristalin yang tidak memperlihatkan pengarahan. Hanya sedikit ooid yang memperlihatkan struktur komposit. Sebagian ooid juga memiliki beberapa pusat pertumbuhan.</p>
<p>Spastolit <em>(spastolith)</em> adalah ooid yang terdistorsi (Rastall &amp; Hemingway, 1941). Sebagian ooid, terutama <em>chamosite ooid</em>, terpipihkan, terpilin, atau terubah bentuknya menjadi tidak beraturan. Sebagian besar ooid itu tebal di bagian tengah, namun menipis dan meruncing ke bagian pinggir (gejala itu disebut <em>delphinformig</em> oleh Berg, 1944). Sebagian kecil diantaranya meng-alami penipisan di bagian tengah dan penebalan di bagian pinggir (gejala itu disebut <em>knockenformig</em> oleh Berg, 1944). Distorsi pada ooid dinisbahkan pada kondisi ooid yang masih lunak sewaktu terkubur (Taylor, 1949), Karena itu, <em>chamosite ooid</em> dipandang merupakan gejala primer. Sebagian ooid gampingan memperlihatkan efek-efek <em>synsedimentary deformation</em> (Cayeux, 1935; Carozzi, 1961b). Ooid sudah barang tentu dapat dikenai pemipihan dan pemanjangan oleh gaya-gaya tektonik yang menyebabkan terdeformasinya batuan dan struktur internalnya (Cloos, 1947). Bentuk paling aneh dari ooid yang terdistorsi adalah ooid yang memperlihatkan <em>arcuate apophyse</em> serta ooid-ooid yang dihubungkan oleh <em>apohyse</em> seperti itu (Cayeux, 1935; Carozzi, 1961b). Asal-usul rantai ooid itu tidak terlalu jelas. Selain itu, rantai ooid agaknya merupakan ciri khas dari ooid non-gampingan, meskipun beberapa ahli melaporkan adanya rantai ooid yang disusun oleh material gampingan.</p>
<p>Diagenesis menyebabkan hilangnya sebagian atau seluruh struktur ooid. Rekristalisasi dapat terjadi dan menyebabkan munculnya tekstur granoblastik <em>(granoblastic texture)</em> yang mungkin mengandung jejak-jejak inklusi yang menandai struktur konsentris asli. Hal itu sering ditemukan jika ooid asal disusun oleh aragonit dan kemudian terekristalisasi menjadi kalsit. Pada kasus istimewa, bagian interior ooid menjadi satu kristal kalsit tunggal yang menempati seluruh bagian interior itu. Pada kasus lain, ooid terkonversi menjadi karbonat mikrokristalin padat (mikrit), dimana hampir seluruh struktur konsentris yang semula ada menjadi terhapus. Ooid seperti itu seringkali tertukar dengan pelet atau intraklas mikrit <em>(micritic intraclast)</em>. Salah satu modifikasi diagenetik yang menarik adalah pelarutan sebagian atau seluruh ooid, dimana hasilnya berupa ruang kosong yang kemudian terisi oleh kristal yang tumbuh mulai dari bagian tepi ruang itu ke arah dalam. Pada kasus istimewa, dapat terbentuk ooid tengah-bulan <em>(“half-moon ooid”)</em> yang terbagi atas dua bagian: bagian bawah lebih padat dan disusun oleh mikrit; bagian atas berupa <em>coarse sparry mosaic</em> (Carozzi, 1963). Modifikasi diagenetik lain melibatkan penggantian ooid asli oleh material lain, misalnya silika. Dolomitisasi merupakan tipe modifikasi diagenetik yang paling sering terjadi. Dolomit pada mulanya muncul sebagai euhedra rhombohedral dalam ooid. Rhombohedra seperti itu terletak melintang, relatif terhadap struktur konsentris, bahkan dapat memotong batas-batas ooid.</p>
<p>Sebagian besar ooid yang terbentuk pada masa sekarang disusun oleh aragonit, meskipun sebagian diantaranya terinversi menjadi kalsit sewaktu masih berada dalam lingkungan pengendapannya (Eardley, 1938). Invesi dapat menyebabkan hilangnya struktur asli dari ooid serta menyebabkan terubahnya ooid menjadi benda mikritik yang padat atau, pada kasus tertentu, terubah menjadi mosaik kalsit yang kasar. Lebih umum lagi, ooid terubah menjadi material kalsitik yang berstuktur radial. Hal itu sering ditemukan dalam batugamping oolitik purba. Di bawah nikol bersilang, baik ooid kalsit maupun ooid aragonit sama-sama terlihat padam. Pada kasus ooid aragonit, hal itu merupakan gambaran interferensi semu dari kristal sumbu-satu yang disebabkan oleh orientasi tangensial jarum-jarum aragonit, sedangkan pada kasus ooid kalsit hal itu merupakan gambaran interferensi semu dari kristal sumbu-satu yang disebabkan oleh orientasi radial dari serat-serat kalsit.</p>
<p>“Fosil” oolit juga dapat disusun oleh silika, dolomit, hematit, pirit, dsb. Sebagian diantara oolit itu terbentuk akibat <em>replace-ment</em> oolit gampingan; sebagian lain mungkin merupakan endapan primer. Sebagaimana telah dikemukakan di atas, dolomit merupakan material utama yang dapat menggantikan oolit gampingan. Silika juga dapat menjadi material pengganti oolit gampingan, baik pada saat sebelum maupun sesudah dolomitisasi. Bukti-bukti bahwa oolit silika merupakan endapan sekunder antara lain adalah pseudomorf rijang terhadap rhombohedra dolomit, <em>secondary enlargement</em> inti kuarsa detritus pada beberapa oolit yang memiliki cincin inklusi karbonat tipis pada batas antar butir, serta <em>quartz overlay</em> yang mengindikasikan penjebakan <em>(entrapment)</em> matriks gampingan pada saat berlangsungnya <em>overgrowth</em>. Bukti-bukti lain (Henbest, 1968) mencakup <em>encroach-ment</em> dari kristal-kristal kuarsa dalam struktur ooid dan <em>“hybrid” ooid</em> yang sebagian merupakan material karbonat dan sebagian lain merupakan rijang dengan bidang batas yang memotong struktur konsentris asli. Sejarah diagenetik sebagian oolit silikaan sangat kompleks (Choquette, 1955).</p>
<p>Tidak semua ooid non-gampingan merupakan produk <em>replacement</em>. Meskipun asal-usulnya belum diteliti, namun data petrologi menunjukkan bahwa ooid fosfat <em>(phosphatic ooid)</em> dan batubesi oolit <em>(oolitic ironstone)</em>, khususnya <em>chamosite ironstone</em>, merupakan endapan primer.</p>
<p>Banyak teori telah diajukan untuk menjelaskan pembentukan oolit dan pisolit. Sebagian teori menyatakan adanya intervensi organisme, baik secara langsung maupun tidak langsung, khususnya ganggang (Rothpletz, 1892). Teori-teori lain menyatakan perlunya suatu medium gel (Bucher, 1918). Teori-teori yang lain lagi mengasumsikan bahwa pisolit terbentuk akibat penggantian material detritus yang bukan oolit. Sebagian benda yang berstruktur konsentris dan berukuran relatif besar dapat dipastikan merupakan “pisolit ganggang”, suatu tipe onkolit <em>(oncolite)</em>. Sebagian benda yang berstruktur konsentris dan berukuran relatif besar, seperti yang ditemukan dalam bauksit pisolit <em>(pisolitic bauxite)</em> dan sebagian <em>feruginous laterite</em>, mungkin merupakan produk penggantian material non-oolit. Walau demikian, sebagian besar oolit gampingan dan kebanyakan oolit non-gampingan agaknya merupakan produk presipitasi langsung dari larutan dalam lingkungan yang memungkinkan partikel-partikel dapat menggelinding dengan bebas. Eratnya asosiasi antara oolit dengan partikel-patikel kuarsa detritus, adanya gejala lapisan silang-siur dalam banyak batugamping oolitik, serta pemilahan endapan seperti itu mengindikasikan akumulasi dalam suatu medium turbulen. Illing (1954), yang membahas masalah oolit gampingan, menyimpulkan bahwa pasir oolit Bahama yang terbentuk pada masa sekarang hanya ditemukan pada tempat-tempat dimana sedimen dikenai oleh aksi arus pasut yang kuat dan bahwa oolit terbentuk pada tempat-tempat dimana air laut yang relatif dingin bergerak ke dalam <em>bank</em> dangkal dan kemudian terpanaskan untuk menjadi lewat jenuh akan kalsium karbonat. Baik ganggang maupun organisme lain tidak memegang peranan apapun dalam pembentukan oolit, namun sebagian ganggang pembor mungkin memegang peranan dalam penghancurannya jika massa oolit itu tersingkap dalam suatu lingkungan “mati”, di tempat mana oolit itu tidak lagi berada dalam keadaan bergerak (Illing, 1954). Hasil-hasil pengamatan Illing dan berbagai kesimpulan yang ditariknya mendapatkan dukungan dari peneliti lain seperti Newell &amp; Rigby (1957) serta Newell dkk (1960).</p>
<p>Meskipun para ahli telah sampai pada suatu konsensus bahwa ooid merupakan produk presipitasi dalam lingkungan turbulen laut-dangkal, namun ada beberapa fakta yang kontradiktif. Freeman (1962), misalnya saja, menyatakan adanya pelet akresi <em>(accretionary pellet)</em>, yang dia sebut oolit, memperlihatkan pertumbuhan lapisan-lapisan yang pola pertumbuhannya tidak konsentris terhadap inti partikel itu. Benda yang agak tidak beraturan, tidak berbentuk bola, dan tidak memiliki permukaan licin sebagaimana oolit, namun memiliki pola pertumbuhan asimetris, seperti itu ditemukan pada wilayah-wilayah perairan-dangkal di Laguna Madre, Texas. Sebagian batugamping oolit <em>(oolitic limestone)</em> memperlihatkan kehadiran ooid yang tertanam dalam matriks mikrit. Kehadiran matriks itu jelas tidak sesuai untuk lingkungan turbulen energi-tinggi sebagaimana yang diasumsikan sebagai tempat pembentukan oolit.</p>
<p>3.5.2.2  <span style="text-decoration:underline;">Sfelurit</span></p>
<p>Istilah sfelurit <em>(spherulite)</em> digunakan untuk setiap benda berbentuk bola dan memiliki struktur radial. Beberapa benda konkresional merupakan benda sfeluritik. Banyak oolit juga sferulitik. Namun, sebagaimana telah dijelaskan di atas, struktur radial yang ada dalam oolit merupakan gejala pertumbuhan sekunder (Eardley, 1938). Istilah sfelurit dalam tulisan ini digunakan untuk menamakan benda-benda renik berbentuk hampir seperti bola dan memiliki struktur radial <em>in situ</em>. Benda-benda itu agak mirip dengan benda sferulitik yang terbentuk akibat devitrifikasi gelas sebagaimana yang biasa ditemukan dalam lava sfeluritik. Dalam batugamping, kita dapat menemukan sfelurit kalsedon dan sfelurit kalsit (Muir &amp; Walton, 1957). Berbeda dengan oolit, sfelurit memiliki permukaan yang agak tidak beraturan. Selain itu, jika pusat-pusat pertumbuhan terlalu berdekatan, maka dapat terjadi interferensi antar benda-benda itu. Jika interferensi seperti itu banyak terjadi, maka sfelurit yang sedang tumbuh itu akan membentuk polihedra dengan pembandelaan tertutup. Oolit dapat pecah, dan pecahan-pecahan itu akan menjadi inti dari oolit baru. Hal seperti itu tidak mungkin terjadi pada sfelurit. Sebagian dari yang disebut sebagai “pisolit polihedra” <em>(“polyhedral pisolite”)</em> sebenarnya merupakan sfelurit (Shrock, 1930).</p>
<h1>3.6.  KEMAS BIOGENIK</h1>
<p>Banyak fosil berperan sebagai bagian integral dari batuan sedimen. Fosil dapat berfungsi sebagai komponen minor dari batuan, namun dapat pula merupakan komponen dominan sebagaimana yang terjadi pada beberapa jenis batugamping. Tugas kita disini bukan menelaah aspek-aspek biologi (taksonomi), bentuk fosil (morfologi), atau kebenaan stratigrafinya, melainkan menelaah fosil sebagai komponen batuan. Setiap ahli petrologi hendaknya mampu mengenal fosil dalam sayatan tipis dan—berdasarkan komposisi, preservasi, dan cara fosil itu hadir dalam batuan—mengambil informasi penting mengenai asal-usul batuan dimana fosil itu berada.</p>
<p>Dalam tulisan ini kita juga tidak menujukan perhatian pada struktur berskala besar yang terbentuk secara organik. Terumbu, misalnya saja, merupakan tubuh batuan sedimen dan akan dibahas pada Bab 5. Disini kita juga tidak akan membahas berbagai jenis <em>track</em>, <em>trail</em>, lubang galian <em>(burrow)</em>, modifikasi perlapisan yang disebabkan oleh gangguan bioturbasi, atau bentuk-bentuk lapisan pertumbuhan (stromatolit) yang dinisbahkan pada organisme (struktur sedimen biogenik seperti itu akan dibahas pada Bab 4). Disini perhatian kita akan ditujukan pada fosil dan detritus fosil; pada pengenalan komponen sedimen yang berupa rangka organisme. Kita ingin mengetahui asal-usul rangka organik, yakni organisme yang bertanggungjawab terhadap fragmen-fragmen itu, apakah ganggang, foraminifera, koral, dsb.</p>
<p>Meningkatnya ketertarikan para ahli terhadap petrologi batugamping selama dua dasawarsa terakhir telah memicu banyak pertanyaan mengenai hal-hal tersebut di atas. Meskipun Sorby (1879) merupakan orang pertama yang mengungkapkan khuluk petrografi sisa-sisa organisme, namun topik itu baru menarik perhatian para ahli baru-baru ini. Pada bagian ini akan disajikan sebuah ikhtisar mengenai topik itu. Pembahasan yang lebih mendalam dapat ditemukan dalam karya tulis Majewske (1969) serta Horowitz &amp; Potter (1971).</p>
<h1>3.6.1  Komposisi dan Modus Preservasi</h1>
<p>Fosil merupakan bukti kehidupan purba. Fosil dapat terkubur sebagai sisa-sisa organisme yang tidak terubah, misalnya sebagai struktur organik yang resisten—tulang, gigi, dan cangkang. Sebagian besar cangkang dan struktur lain pada mulanya merupakan senyawa kalsium karbonat dengan kadar magnesium dan unsur-unsur minor  lain yang beragam. Cangkang dan struktur lain merupakan senyawa fosfatik, silikaan, atau <em>chitinoid</em>.</p>
<p>Sisa-sisa organik dapat terubah dengan tingkat perubahan yang beragam. Sebagian cangkang karbonat terlindi <em>(leached)</em>; sebagian lain mengalami rekristalisasi dan kehilangan struktur internalnya; tulang dan material sejenis dapat mengalami pengayaan unsur F. Sisa-sisa organik seperti selulosa dapat mengalami degradasi hebat dan dalam batuan tua hanya ditemukan dalam wujud film karbon. Hal itu juga berlaku pada jaringan tumbuhan dan sebagian <em>chitinous materials</em>. Bagian lunak tubuh binatang bahkan dapat mengalami alterasi hebat. Fosil seperti itu tidak lebih dari sekedar film karbon yang tersisa setelah kehilangan unsur-unsur volatil di bawah kondisi anaerob. Fosil tumbuhan yang mengalami karbonisasi banyak ditemukan dalam serpih yang berasosiasi dengan lapisan batubara. Banyak pula kayu yang mengalami karbonisasi ditemukan dalam lapisan serpih dan pasir. Pada beberapa kasus, sebagaimana yang terjadi pada “arang kayu” <em>(charcoal; fusain)</em> dan “bola batubara” <em>(“coal ball”)</em> (Stopes &amp; Watson, 1909), dinding sel-sel tumbuhan mengalami karbonisasi, sedangkan sel-selnya sendiri terisi oleh mineral, biasanya kalsit. Sebagian sisa tumbuhan dapat terawetkan dengan indah. Sebagian fosil graptolit terawetkan sebagai film-film karbon dalam batusabak dan serpih hitam Ordovisium.</p>
<p>Struktur organik mungkin tergantikan seluruhnya sedemikian rupa sehingga komposisi fosil sewaktu ditemukan jauh berbeda dengan komposisi asalnya. Proses penggantian seperti itu (petrifikasi) sebenarnya merupakan segregasi-segregasi mineral minor penyusun batuan sehingga memiliki kebenaan geokimia yang sama dengan konkresi, nodul, dan benda-benda lain yang mirip dengan itu. Silika, karbonat, dan sulfida besi merupakan tipe-tipe material pengganti yang sering ditemukan. Penggantian itu sendiri dapat berlangsung dengan tingkat preservasi yang cukup mendetil.</p>
<p>Dalam banyak kasus, struktur organik asli maupun struktur pengganti tidak ditemukan. Apa yang ditemukan hanya lubang bekas kehadiran struktur organik, yang disebut <em>mold</em>. <em>Mold</em> itu terbentuk akibat hilangnya struktur asal akibat pelarutan. <em>Mold</em> memperlihatkan bentuk dan ornamentasi benda asalnya. Jika <em>mold</em> itu kemudian terisi oleh material lain, maka benda yang dihasilkan oleh pengisian itu disebut <em>cast</em>. <em>Cast</em> juga dapat memperlihatkan bentuk luar (namun tidak bentuk dalam) dari fosil asli. Benda yang terbentuk akibat pengisian lubang di bagian interior fosil sering disebut <em>“cast of interior”</em>. Dalam pengertian terbatas, benda itu merupakan <em>internal mold</em>.</p>
<p>Pelet kotoran <em>(fecal pellet)</em> adalah kotoran (terutama invertebrata) yang ditemukan dalam endapan bahari masa kini dan kadang-kadang juga dalam endapan purba, dimana pelet itu telah mengalami litifikasi (Moore, 1939; Dapples, 1942). Sebagian besar pelet merupakan produk organisme pemakan lumpur sehingga pelet umumnya disusun oleh partikel-partikel lempung dan lanau yang direkatkan satu sama lain oleh zat organik. Banyak pelet lunak kemudian mengalami disintegrasi, sedangkan sebagian lain termineralisasi dan menjadi bagian integral dari sedimen. Pada beberapa kasus, sebagian besar (30–50%) endapan sedimen disusun oleh pelet. Pelet dapat tertransformasi menjadi glaukonit atau mengalami piritisasi. Pelet juga dapat menjadi bagian dalam dari akumulasi fosfat. Pelet kotoran yang paling sering ditemukan adalah pelet berbentuk telur dan ber-ukuran kecil (panjangnya 1 mm atau kurang dari itu). Pelet seperti itu banyak dilaporkan kehadirannya dalam sedimen purba, terutama batugamping. Walau demikian, benda seperti itu tidak dapat selalu diketahui asal-usulnya sebagai kotoran. Pelet yang lebih jarang ditemukan adalah pelet memanjang dengan ornamen transversal dan/atau longitudinal. Sebagian besar pelet kotoran tidak memiliki struktur internal dan dalam banyak kasus sering teridentifikasikan sebagai benda anorganik.</p>
<p>Koprolit <em>(coprolite)</em> adalah benda berukuran besar yang asal-usulnya mirip dengan pelet kotoran. Orang yang pertama-tama mengenal asal-usul koprolit agaknya Buckland (1835). Dia menemukan koprolit dalam endapan Lias di Inggris (Folk, 1965b). Literatur mengenai koprolit telah dikaji secara mendalam oleh Amstutz (1958).</p>
<p>Koprolit biasanya berwarna coklat muda, coklat tua, atau hitam, bentuknya seperti telur <em>(ovoid)</em> hingga memanjang, panjang-nya 1–15 cm, dengan permukaan yang dicirikan oleh konvolusi anular. <em>Striation</em> longitudinal atau <em>groove</em> jarang ditemukan dalam koprolit. Material berserat yang berwarna coklat dalam koprolit umumnya merupakan material fosfatik dan secara optik bersifat isotrop dengan indeks refraksi mendekati indeks refraksi kolofan <em>(collophane)</em> (1,58–1,62). Bradley (1946) menunjukkan bahwa koprolit dalam Bridger Formation (Eocene) di Wyoming kemungkinan merupakan karbonat-apatit <em>(francolite)</em>. Koprolit yang diteliti oleh Amstutz berkomposisi limonitik dengan inti sideritik, dari bagian mana limonit diperkirakan berasal. Jelas bahwa siderit itu menggantikan material asli penyusun koprolit itu. Koprolit merupakan material penyusun batuan sedimen yang relatif jarang ditemukan. Salah satu pengecualiannya adalah endapan terestrial Tersier yang banyak mengandung sisa-sisa mamalia.</p>
<p><strong>3.6.2  Petrologi Fosil</strong></p>
<p>Para ahli petrografi sering menemukan komponen-komponen granuler sedimen yang berupa sisa-sisa invertebrata, terutama dalam batugamping. Sebagian batuan terutama disusun oleh fosil tersebut. Karena itu, setiap ahli petrografi hendaknya mampu mengenal fragmen-fragmen fosil itu dan, jika memungkinkan, menentukan kategori organisme tersebut. Karena masalah ini sangat penting dalam kaitannya dengan batugamping, maka pembahasan yang lebih mendetil tentang petrologi fosil akan disajikan pada Bab 10.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indrayaksa.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indrayaksa.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indrayaksa.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indrayaksa.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indrayaksa.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indrayaksa.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indrayaksa.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indrayaksa.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indrayaksa.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indrayaksa.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indrayaksa.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indrayaksa.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indrayaksa.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indrayaksa.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indrayaksa.wordpress.com&amp;blog=9475331&amp;post=73&amp;subd=indrayaksa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/10/05/pengertian-sedimen-pettijohn75-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eeefe58010eb16291373e35e436b2155?s=96&#38;d=identicon&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">garong...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>pengertian sedimen (pettijohn75)-2</title>
		<link>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/10/05/pengertian-sedimen-pettijohn75-2/</link>
		<comments>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/10/05/pengertian-sedimen-pettijohn75-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 13:43:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>garong...</dc:creator>
				<category><![CDATA[geologi]]></category>
		<category><![CDATA[sedimen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indrayaksa.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[setelah sekian lama&#8230;. akhirnya bisa posting lagi&#8230; okeh&#8230; kita langsung aja! buat para geologist pemula, saya cuma ingin berbagi ilmu&#8230; ini lanjutan dari  pengertian sedimen (pettijohn75)-1 BAB 2 KHULUK DAN ASAL-USUL BATUAN SEDIMEN 2.1  TINJAUAN UMUM Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab 1, endapan sedimen adalah tubuh material padat yang terakumulasi di permukaan bumi atau di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indrayaksa.wordpress.com&amp;blog=9475331&amp;post=67&amp;subd=indrayaksa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>setelah sekian lama&#8230;. akhirnya bisa posting lagi&#8230;</p>
<p>okeh&#8230; kita langsung aja! buat para geologist pemula, saya cuma ingin berbagi ilmu&#8230;</p>
<p>ini lanjutan dari  <a href="http://indrayaksa.wordpress.com/2009/09/15/pengertian-sedimen/">pengertian sedimen (pettijohn75)-1</a></p>
<p style="text-align:center;">BAB 2</p>
<p align="center"><strong>KHULUK DAN ASAL-USUL BATUAN SEDIMEN<span id="more-67"></span></strong></p>
<p><strong>2.1  TINJAUAN UMUM</strong></p>
<p>Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab 1, endapan sedimen adalah tubuh material padat yang terakumulasi di permukaan bumi atau di dekat permukaan bumi, di bawah kondisi tekanan dan temperatur yang rendah. Endapan sedimen umumnya merupakan produk penghancuran batuan tua yang kemudian diangkut dan didistribusikan oleh arus air atau angin. Sebagian sedimen merupakan hasil presipitasi kimia atau biokimia dari larutan. Ada beberapa jenis sedimen yang tidak berasal dari hancuran batuan tua, misalnya batubara yang pada dasarnya merupakan residu organik yang berasal dari tumbuhan serta sedimen vulkanogenik yang berasal dari material hasil letusan gunungapi. Sedimen yang tidak berasal dari batuan tua umumnya memiliki volume yang relatif kecil dan agak jarang ditemukan.Selain itu masih ada material lain digolongkan ke dalam batuan sedimen, namun sangat jarang ditemukan, yaitu endapan material kosmik yang berasal dari ruang angkasa.</p>
<p>Seperti diketahui, para ahli geologi umumnya membedakan batuan ke dalam tiga kelompok utama, yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Walau demikian, Grabau (1904) memiliki pandangan lain mengenai penggolongan batuan. Dia membagi batuan ke dalam dua kelompok:, yakni batuan eksogenetik <em>(exogenetic rocks)</em> dan batuan endogenetik <em>(endogenetic rocks)</em> (gambar 2-1).</p>
<p><strong>Batuan eksogenetik</strong> adalah batuan fragmental atau batuan klastika. Material penyusun batuan itu merupakan partikel-partikel padat yang terbentuk akibat fragmentasi batuan tua. Partikel-partikel itu diendapkan secara mekanik. Sebagian besar batuan sedimen termasuk ke dalam kategori ini. Selain itu, batuan beku piroklastik secara struktur dan tekstur memperlihatkan banyak kesamaan dengan sedimen klastika karena memang azas aerodinamika atau hidrodinamika yang mengontrol pem-bentukan batuan-batuan itu juga sama. Karena itu, tidak mengherankan bila keduanya sama-sama memiliki tekstur granuler.</p>
<p><strong>Batuan endogenetik</strong> adalah batuan yang merupakan presipitat amorf atau kristalin dari larutan. Banyak sedimen seperti endapan garam—garam batu <em>(rock salt)</em>, gipsum, anhidrit, dsb—serta sebagian besar batuan beku termasuk ke dalam golongan ini. Batuan beku itu, sebagaimana batuan sedimen kimia, dipresipitasikan dari larutan. Hukum fasa kimia yang mengontrol pembentukan sedimen kimia dan batuan beku adalah hukum yang sama. Jadi, sebenarnya tidak ada perbedaan prinsipil antara kristalisasi garam dengan kristalisasi batuan beku. Karena itu, tidak mengherankan bila kita lihat bahwa baik andesit maupun garam batu sama-sama memiliki tekstur kristalin yang saling kesit.</p>
<p>Bila kita akan membagi batuan berdasarkan proses pembentukannya, maka klasifikasi karya Grabau lebih tepat dibanding klasifikasi tradisional sebab bila dilihat dari segi proses memang pembentukan garam batu lebih mirip dengan pembentukan diabas, bukan dengan batugamping atau serpih, dan pembentukan tuf lebih mirip dengan pembentukan batupasir.</p>
<p>Kita juga dapat membagi batuan sedimen berdasarkan provenansinya. Berdasarkan provenansi, batuan sedimen dapat dibedakan menjadi batuan intrabasinal <em>(intrabasinal rocks)</em> dan batuan ekstrabasinal <em>(extrabasinal rocks)</em>. Batuan intrabasinal adalah batuan yang tersusun oleh material yang terbentuk dalam cekungan, sedangkan batuan ekstrabasinal adalah batuan yang tersusun oleh material yang terbentuk di luar cekungan. Batuan yang tergolong ke dalam batuan intrabasinal adalah batu-an sedimen kimia dan biokimia, sedangkan batuan ekstrabasinal adalah batuan sedimen terigen atau batuan sedimen klastika.</p>
<p>Asal-usul dan pengakumulasian sedimen pada mulanya mungkin dipandang relatif sederhana. Pasir dan lumpur tampak terbentuk di daratan, kemudian terangkut melalui sungai untuk kemudian diendapkan di laut. Berbeda dengan batuan beku dan batuan metamorf, asal-usul sedimen mulanya tampaknya terbuka untuk diamati secara langsung. Kenyataannya tidak demikian. Tidak semua proses pembentukan sedimen dapat dilihat. Sebagai contoh, proses-proses diagenetik tidak dapat dilihat secara langsung. Kita juga tidak dapat melihat secara langsung arus turbid yang mengangkut dan mengendapkan sedimen. Pem-bentukan batuan kimia pada umumnya tidak pernah dapat diamati secara langsung. Dengan demikian, sebagaimana kasus batuan beku dan batuan metamorf, asal-usul batuan sedimen harus direkonstruksikan dari rekaman geologi, yaitu efek-efek yang dihasilkan oleh proses-proses yang bekerja dalam waktu yang lama. Efek-efek itu terutama berupa tekstur, struktur, dan mineralogi endapan. Karena itu, para ahli petrologi memikul tugas yang sangat berat, yakni mengamati rekaman geologi, kemudian membaca yang menyingkapkan tabir misteri yang terkandung didalamnya.</p>
<p>Sebenarnya tidak sedikit batuan sedimen yang sukar untuk dipastikan asal-usulnya: Apakah batuan-batuan itu termasuk ke dalam batuan eksogenetik atau batuan endogenetik. Kebanyakan batuan sedimen merupakan batuan eksogenetik sekaligus batuan endogenetik. Dengan kata lain, kebanyakan batuan merupakan endapan hibrid atau endapan poligenetik. Sebagaimana yang terlihat dalam gambar 2-2, material penyusun suatu sedimen dapat berasal dari hasil abrasi batuan tua, maupun hasil presipitasi kimia dan biokimia yang berasal dari air laut yang kemudian bergabung bersama-sama dengan material hasil abrasi untuk membentuk suatu tubuh endapan. Sirkulasi air tanah yang berlangsung kemudian dapat menyebabkan terendapkannya sejumlah besar mineral dalam ruang pori batuan.</p>
<p>Jenis batuan sedimen ditentukan oleh proporsi relatif dari material penyusunnya. Batuan yang terutama disusun oleh material hasil rombakan batuan tua dimasukkan ke dalam golongan batuan sedimen klastika. Contohnya adalah konglomerat, batupasir, dan batulempung. Batuan sedimen yang terutama disusun oleh material padat yang berasal dari larutan dimasukkan ke dalam kategori batuan sedimen kimia atau biokimia. Contohnya adalah batugamping, dolomit, evaporit, batubesi, fosforit, rijang, dan berbagai jenis batuan silikaan.</p>
<p><strong>2.2  KEMAS</strong></p>
<p>Dalam batuan beku dan batuan metamorf, mineral-mineral pembentuknya terletak saling bersentuhan secara menerus, membentuk tipe kontak yang disebut kontak saling kesit <em>(interlocking contact)</em>. Dalam batuan sedimen klastika, material penyusun umumnya saling bersentuhan dengan tipe kontak yang disebut kontak tangensial <em>(point contact; tangential contact)</em>. Karena memiliki geometri internal seperti itu, sedimen klastika memiliki porositas dan permeabilitas. Adanya porositas dan permeabilitas pada gilirannya memungkinkan sedimen klastika untuk menyimpan dan mengalirkan fluida. Batuan sedimen merupakan reservoar penting untuk gas alam, minyakbumi, air artesis, dan berbagai larutan garam. Porositas awal dari suatu jenis batuan sedimen mungkin cukup tinggi, namun kemudian nilai porositas itu menurun dengan terjadinya presipitasi mineral dalam ruang pori.</p>
<p>Keunikan mikrogeometri internal batuan sedimen klastika seperti yang telah disebutkan di atas muncul karena proses pembentukannya. Setiap unsur kerangka batuan sedimen klastika (butir pasir, kerikil, fragmen fosil) terbentuk di luar tempat pengendapannya, kemudian diangkut dan diendapkan secara mekanik dan menyebabkan terbentuknya kemas klastika. Meskipun sebagian batuan beku, khususnya endapan piroklastik stratiform, memperlihatkan geometri seperti endapan sedimen klastika, namun sebagian besar komponennya merupakan agregat kristalin yang terbentuk di tempat pengendapannya. Kemas sedimen seperti yang tergambarkan di atas sebenarnya bukan hanya merupakan ciri sedimen klastika, namun juga merupakan ciri dari sebagian besar batugamping. Batugamping itu, yang sebenarnya merupakan pasir dan lanau karbonat, tidak memper-lihatkan perbedaan esensil dengan pasir dan lanau klastika.</p>
<p>Karena individu-individu partikel penyusun batuan sedimen klastika tidak dan tidak dapat berada dalam kontak menerus, maka setiap tekanan yang diterima oleh batuan itu tidak akan dapat didistribusikan secara merata ke setiap sudut batuan. Tekanan yang diberikan oleh material batuan yang ada diatasnya akan diteruskan pada titik-titik kontak antar partikel yang tidak terlalu luas. Di lain pihak, dalam sistem ruang pori, fluida yang ada didalamnya hanya mendapatkan tekanan yang besarnya lebih kurang sama dengan tekanan yang dapat diberikan oleh kolom air yang terletak di tempat pengendapan itu (diasumsikan bahwa sistem pori berhubungan langsung dengan kolom air yang ada dalam lingkungan pengendapan). Di bawah tekanan yang tidak setimbang itu, pada titik-titik kontak antar partikel akan terjadi pelarutan, sedangkan dalam ruang-ruang pori akan terjadi presipitasi material hasil pelarutan itu. Dengan terus berjalannya proses presipitasi, maka akan terjadi pula proses penurunan volume ruang pori secara terus-menerus. Sejalan dengan itu, perbedaan tekanan yang diterima oleh unsur padat dan ruang pori dari endapan itu akan makin kecil sedemikian rupa sehingga sistem itu akan mendekati kesetimbangan.</p>
<p>Larutan pengisi sistem pori menjadi medium dimana reaksi-reaksi antara material hasil pelarutan komponen padat dengan larutan pengisi ruang pori tersebut berlangsung. Jika fluida yang terdapat dalam pori-pori batuan bergerak, maka material hasil pelarutan komponen padat dapat terangkut dalam bentuk larutan sehingga dapat keluar dari sistem batuan itu atau memasuki bagian-bagian lain dari sistem batuan tersebut. Mekanisme seperti itu pada gilirannya dapat menyebabkan berubahnya komposisi total dari sedimen tersebut.</p>
<p>Dari penjelasan singkat di atas, jelas sudah bahwa setiap orang yang mempelajari endapan sedimen hendaknya tidak hanya memperhitungkan komposisi komponen padat endapan sedimen, namun juga harus memperhitungkan fasa fluida sebagai bagian penting dari batuan. Sedimen yang kondisinya mendekati kondisi sewaktu diendapkan akan memiliki lebih banyak fasa cair, sedangkan sedimen dengan kondisi diagenesis (atau metamorfisme) yang lebih tinggi daripada kondisi asalnya akan lebih banyak tersusun oleh komponen padat dan makin mirip dengan sifat batuan beku dan batuan metamorf.</p>
<p>Ada sejumlah batuan sedimen yang tidak memiliki kemas klastika, yakni:</p>
<ol>
<li>Presipitat akuatis, misalnya gipsum dan anhidrit.</li>
<li>Akumulasi <em>in situ</em> seperti batubara.</li>
<li>Sedimen yang pada saat terbentuk memiliki kemas klastika, namun kemudian tertransformasi akibat rekristalisasi dan <em>replacement</em>. Contohnya adalah dolomit.</li>
<li>Sedimen yang pada saat terbentuk memiliki kemas klastika, namun kemudian terkonversikan menjadi mosaik-mosaik akibat <em>secondary enlargement</em>. Contohnya adalah batugamping kristalin (“marmer sedimenter”).</li>
</ol>
<p><strong>2.3  KOMPOSISI SEDIMEN</strong></p>
<p>Batuan sedimen berbeda dengan batuan beku karena batuan sedimen memiliki komposisi yang lebih bervariasi, meskipun ada beberapa diantaranya yang memiliki komposisi sangat sederhana. Konsentrasi unsur-unsur kimia di kerak bumi terutama ditemukan dalam batuan sedimen. Sebagian konsentrat itu merupakan produk pembersihan dan penggabungan residu pelapukan batuan tua, misalnya saja pasir kuarsa yang dapat mengandung silika &gt; 99%. Sebagian lain merupakan produk proses-proses kimia dan biokimia selektif, jika kondisinya memungkinkan. Contohnya adalah batugamping kalsium-tinggi (mengandung CaCO<sub>3</sub> &gt; 99%), garam batu, dan gipsum. Tidak ada batuan beku yang memiliki karakter seperti batuan-batuan yang disebut terakhir ini.</p>
<p>Mineral-mineral yang terbentuk pada suatu tempat, kemudian terangkut dan diendapkan secara mekanik sebagai komponen endapan sedimen, disebut mineral alogen <em>(allogenic minerals)</em>. Mineral-mineral yang terbentuk secara <em>in situ</em> pada tempat pengakumulasian sedimen disebut mineral autigen <em>(authigenic minerals)</em>. Karena itu, dalam menganalisis sedimen, kita jangan hanya mengidentifikasi jenis mineral atau hanya menghitung proporsinya, namun kita juga harus menentukan apakah suatu mineral merupakan mineral alogen atau mineral autigen. Lebih jauh lagi, kita harus menentukan apakah suatu mineral autigen merupakan <em>syndepositional authigenic mineral</em> atau <em>postdepositional authigenic mineral</em>. Dengan kata lain, kita harus membedakan mineral mana yang merupakan hasil presipitasi dalam ruang pori batuan dan mineral mana yang merupakan hasil <em>replacement</em>. Untuk dapat menentukan hal itu, kita harus melakukan penelitian terhadap tekstur partikel penyusun sedimen dengan cara mengamati sayatan tipisnya.</p>
<p>Berbeda dengan mineral batuan beku dan batuan metamorf, mineral penyusun batuan klastika bukan merupakan kumpulan setimbang. Mineral-mineral itu tidak dipresipitasikan dalam kesetimbangan satu terhadap yang lain atau terhadap fluidanya. Meskipun tidak berada dalam kondisi kesetimbangan, reaksi-reaksi kimia yang dapat menjadikan sistem itu menjadi setimbang umumnya tidak terjadi karena temperatur dan tekanannya terlalu rendah sehingga kurang mendukung terjadinya reaksi-reaksi tersebut. Komposisi mineral endapan sedimen dapat terubah jika temperaturnya bertambah dan faktor-faktor yang menghambat reaksi dapat teratasi. Hal inilah yang menyebabkan mengapa batuan sedimen dapat termetamorfosa bila terletak jauh di dalam bumi. Walau demikian, sebenarnya ada reaksi-reaksi yang masih mungkin terjadi di bawah kondisi tekanan dan temperatur yang rendah. Reaksi-reaksi yang disebut reaksi diagenetik <em>(diagenetic reactions)</em> itu terutama terjadi antara komponen detritus dengan fluida ruang pori. Dalam sedimen yang terbentuk melalui presipitasi larutan atau akumulasi biokimia, banyak diantara komponennya bersifat metastabil dan relatif mudah terubah akibat bereaksi. Tipe transformasi diagenetik yang terjadi pada komponen seperti itu adalah pembentukan garam. Pembentukan garam itu pada gilirannya akan menyebabkan terjadinya perubahan komposisi ruah sedimen tersebut.</p>
<p>Dalam sebagian besar sedimen non-klastika, mineral berada dalam kondisi setimbang. Zen (1959) menunjukkan bahwa kesetimbangan seperti itu terlihat pada sedimen di Peruvian Trench karena adanya reaksi-reaksi diagenetik di dasar laut. Kesetimbangan lain juga ditemukan dalam batuan karbonat Cumberlain Plateau di Tennessee (Peterson, 1962). Tidak diragukan bahwa kesetimbangan seperti itu juga akan ditemukan dalam garam-garam evaporit.</p>
<p><strong>2.4  KLASIFIKASI</strong></p>
<p>Klasifikasi batuan sedimen merupakan masalah yang banyak menguras pemikiran para ahli sedimentologi. Namun, meskipun telah banyak usaha dilakukan, hingga saat ini belum ada satupun bentuk klasifikasi yang memuaskan semua pihak. Karena itu, ada baiknya bila kita mencoba mengangkat masalah itu untuk mengetahui tujuan yang ingin dicapai melalui klasifikasi batuan dan mengetahui prinsip-prinsip penyusunan klasifikasi batuan sedimen. Banyak ahli tidak mengemukakan hal ini secara eksplisit, meskipun ada diantara mereka yang telah membahas filosofi yang melandasi klasifikasi batuan sedimen (Grabau, 1904; Wadell, 1938; Krynine, 1948; Pettijohn, 1948; Lombard, 1949; Rodgers, 1950; Middleton, 1950).</p>
<p>Seperti dikemukakan oleh Rodgers, masalah klasifikasi akan berbuntut panjang karena berkaitan dengan masalah tatanama atau tata istilah. Nama ilmiah menyatakan suatu kelompok atau kategori objek sehingga mengimplikasikan klasifikasi. Klasifikasi pada hakekatnya merupakan usaha untuk mengelompokkan objek ke dalam kategori-kategori tertentu, ke dalam kategori mana kemudian diberikan nama. Jadi, tujuan pertama dari klasifikasi adalah untuk memberikan nama kepada setiap kategori sedemikian rupa sehingga dalam mengemukakan suatu objek kita cukup menyatakan namanya saja; tidak perlu membuat pemerian panjang lebar tentang keseluruhan ciri objek tersebut. Hanya dengan cara seperti inilah maka komunikasi dapat menjadi lebih lancar. Karena itu, agar dapat memenuhi fungsi tersebut, suatu sistem klasifikasi dan tatanama hendaknya disepakati oleh orang-orang yang memerlukan adanya sistem tersebut.</p>
<p>Di lain pihak, sebagaimana dikemukakan oleh Grabau, presisi dalam penyusunan skema klasifikasi akan memicu peningkatan presisi pemikiran kita dan sangat bermanfaat sebagai sebuah disiplin mental. Klasifikasi merupakan suatu cara khusus untuk mengungkapkan pengetahuan kita mengenai suatu objek. Dengan demikian, penyusunan skema klasifikasi suatu objek pada dasarnya merupakan usaha untuk menyusun pengetahuan kita mengenai objek tersebut. Jadi, tujuan kedua dari klasifikasi adalah menyajikan pengetahuan kita secara sistematis.</p>
<p>Pendefinisian suatu kategori benda memerlukan pemilihan parameter-parameter pembatas. Pemilihan parameter mungkin didasarkan pada konvensi, penggunaan sehari-hari, atau berdasarkan kesepakatan diantara pemakainya. Namun, patut diingat bahwa karena genesis batuan merupakan tujuan akhir dari setiap penelitian batuan, maka parameter-parameter yang dipilih dalam menggolongkan suatu batuan hendaknya memiliki nilai genetik. Kesulitan-kesulitan yang muncul dalam menggolongkan batuan sedimen muncul karena ketidakberhasilan kita dalam mengenal perbedaan-perbedaan mendasar antara batuan klastika (batuan eksogenetik) dengan batuan kimia (batuan endogenetik). Sifat-sifat penting dari kelompok pertama bukan merupakan sifat-sifat penting dari kelompok kedua. Jadi, untuk menerapkan parameter-parameter tekstur yang sama terhadap semua batuan karbonat, yang pada kenyataannya merupakan endapan poligenetik, justru akan menyebabkan timbulnya kebingungan mengenai sejarah alaminya.</p>
<p>Batuan merupakan benda dengan sifat yang kompleks dan kita tidak mungkin (dan tidak perlu) menyusun skema klasifikasi yang didasarkan pada semua sifat sedimen. Suatu klasifikasi yang berguna cukup mendasarkan diri pada dua atau tiga sifat. Sifat-sifat lainnya diabaikan. Pertimbangan yang dipakai untuk memilih sifat-sifat yang akan dijadikan variabel klasifikasi tidak hanya sifat yang memiliki arti genetik, namun juga relevan. Memang, tidak diragukan lagi bahwa setiap sifat memiliki kebenaan tersendiri. Namun, tidak setiap sifat relevan dengan tujuan penelitian. Maksudnya, setiap sifat yang dipilih sebagai variabel klasifikasi hendaknya mudah diamati/diukur serta tidak memerlukan metoda dan peralatan yang terlalu rumit untuk mengenal-nya. Sebagai contoh, <em>magnetic susceptibility</em> memiliki arti penting genetik yang sama dengan besar butir, namun sifat kurang relevan dengan tujuan penelitian kita karena untuk mengetahui sifat itu kita perlu melakukan pengukuran-pengukuran yang rumit. Contoh lain, komposisi kimia juga penting dan berguna, namun kurang terpakai dalam klasifikasi batuan sedimen.</p>
<p>Di atas telah dikatakan bahwa setiap klasifikasi batuan didasarkan pada sifat-sifat yang penting. Masalahnya sekarang adalah: Sifat-sifat mana yang hendaknya dianggap penting? Masalah pemilihan sifat yang dipandang penting sebenarnya dipengaruhi oleh perkembangan pengetahuan. Berbagai gagasan dan penemuan baru akan mempengaruhi pemilihan kita sehingga dapat mengubah sistem klasifikasi dan tatanama yang ada. Karena itu, tidak mengherankan apabila ada suatu klasifikasi, setelah suatu selang waktu tertentu, kemudian direvisi atau diubah sama sekali. Ketidakstabilan sistem klasifikasi dan tatanama seperti itu memang dapat mengganggu studi, namun hal itu harus disambut dengan gembira karena merupakan bukti adanya kemajuan. Hal itu juga menyadarkan kita bahwa pada hekekatnya klasifikasi merupakan kodifikasi dari gagasan dan konsep yang kita miliki, sedangkan kita tahu bahwa konsep dan gagasan ilmiah selalu berubah.</p>
<p>Klasifikasi batuan sedimen bersifat tradisional dan boleh dikatakan baru berkembang. Memang telah ada usaha untuk membuat standar kuantitatif: mendefinisikan kembali berbagai peristilahan, membuat batas-batas kuantitatif, serta menghilang-kan istilah-istilah yang keliru dan tidak berguna. Usaha-usaha itu ada yang ditujukan pada sebagian jenis batuan sedimen (lihat misalnya beberapa laporan Committee on Sedimentation; Wentworth &amp; Williams 1932, tentang sedimen piroklastik; Wentworth 1936, tentang batuan klastika kasar; Allen 1936, tentang batuan klastika berbutir sedang; Twenhofel 1937, tentang batuan klastika halus; dan Tarr 1938, tentang batuan sedimen silikaan). Ada juga usaha-usaha lain yang ditujukan untuk menyusun sistem klasifikasi menyeluruh dari batuan sedimen.</p>
<p>Salah satu hal yang menimbulkan kesulitan dalam penyusunan skema klasifikasi menyeluruh dari batuan sedimen sebenar-nya sederhana, yaitu karena endapan sedimen bersifat poligenetik. Jika suatu skema klasifikasi disusun berdasarkan sifat yang memiliki arti genetik penting, biasanya skema itu hanya berguna untuk kerabat sedimen tertentu, namun kurang atau bahkan tidak berguna sama sekali untuk kerabat sedimen yang lain. Sebagai contoh, konsep kematangan <em>(maturity)</em> memang bersifat mendasar, namun hanya dapat diterapkan pada sedimen yang merupakan residu pelapukan batuan sumber dan tidak berarti bila diterapkan pada material piroklastik. Provenansi juga merupakan konsep dasar untuk memahami tekstur dan komposisi batuan klastika, namun hanya sedikit atau tidak berguna bila diterapkan pada sedimen kimia. Dari dua contoh di atas jelas sudah bahwa sukar bagi kita untuk menyusun suatu skema klasifikasi yang menyeluruh pada endapan sedimen.</p>
<p>Namun, masih mungkin bagi kita untuk membentuk skema-skema klasifikasi parsial yang dapat diterapkan pada kerabat endapan sedimen tertentu. Sebagai contoh, banyak ahli telah mencoba menyusun skema klasifikasi batupasir dan batugamping. Di lain pihak, kita juga melihat adanya skema-skema klasifikasi yang dipandang masih belum memuaskan, sesuai dengan perkembangan geologi masa sekarang, misalnya klasifikasi sedimen argilit.</p>
<p>Dalam buku ini penulis mencoba untuk membedakan batuan sedimen ke dalam kerabat-kerabat seperti yang terlihat pada gambar 2-3. Skema klasifikasi itu disusun hanya berdasarkan konvensi belaka. Untuk mengetahui skema klasifikasi parsial untuk setiap kategori sedimen itu, pembaca dapat melihatnya dalam setiap bab yang khusus membahasnya.</p>
<p><strong>2.5  VOLUME DAN MASSA TOTAL SEDIMEN</strong></p>
<p>Batuan sedimen dan batuan metasedimen diperkirakan hanya menempati sekitar 5% volume litosfir, sedangkan batuan beku dan batuan meta-beku meliputi sekitar 95% sisanya (Clarke, 1924). Di lain pihak, batuan sedimen dan metasedimen menempati 75% luas daratan, sedangkan batuan beku dan batuan meta-beku hanya menempati 25% sisanya (gambar 2-4). Dari data-data itu dapat disimpulkan bahwa sedimen merupakan batuan yang hanya menempati bagian terluar bumi yang sangat tipis. Meskipun ketebalan sedimen terkadang tampak demikian tebal, dapat mencapai ketebalan 13 km, namun ketebalan rata-ratanya di wilayah benua hanya sekitar 2,2 km (menurut Mead, 1915) atau 1,8 km (menurut Blatt, 1970). Dasar samudra ditutupi oleh sedimen dengan ketebalan yang belum dapat dipastikan. Meskipun demikian, berdasarkan taksiran-taksiran yang ada, ketebalan sedimen itu berkisar mulai dari 0,2 km (Blatt, 1970) hingga lebih dari 3,0 km (Kuenen, 1941), dengan tebal rata-rata sekitar 1 km (Garrels &amp; Mackenzie, 1971). Ketidakseragaman angka-angka yang diperoleh para ahli seperti terlihat di atas mendorong kita untuk bertanya: Mengapa hal itu bisa terjadi?</p>
<p>Volume dan massa total sedimen di muka bumi ditentukan berdasarkan cara penaksiran yang berbeda-beda. Jika diasumsi-kan bahwa semua natrium yang ada di laut diperoleh melalui pelindian <em>(leaching)</em> batuan beku primitif, maka akan terlihat bahwa kadar garam di laut dewasa ini berkorespondensi dengan dekomposisi lengkap batuan beku setebal 0,5 km (Clarke, 1924:31). Karena sejumlah natrium itu terikat dalam batuan, dan dalam garam-garam laut-dalam, maka harga di atas masih kurang tepat dan perlu dikoreksi. Hasil pengkoreksian menunjukkan bahwa ketebalan batuan beku yang terdekomposisi sehingga memenuhi garam yang ada di laut, dalam batuan sedimen, dan dalam garam-garam laut-dalam adalah 0,8 km. Selain dari batuan beku, selama batuan beku berubah menjadi batuan sedimen, volume sedimen juga bertambah karena adanya proses oksidasi, karbonisasi, dan hidrasi. Menurut asumsi Clarke (1924), volume sedimen yang terbentuk karena ketiga proses itu lebih kurang 10% dari volume total yang terbentuk dari pelindian batuan beku. Dengan demikian, volume total sedimen yang terbentuk adalah 4,4 x 10<sup>8</sup> km<sup>3</sup>. Volume sebanyak itu, bila disebarkan secara merata di seluruh permukaan bumi, akan menghasilkan lapisan sedimen setebal 735 m. Bila disebarkan secara merata di semua batur benua <em>(continental platform)</em> di bumi ini (luas batur benua lebih kurang <sup>1</sup>/<sub>3</sub> luas permukaan bumi), maka material sebanyak itu akan menghasilkan lapisan sedimen setebal 2000 m. Berbeda dengan hasil taksiran Clarke (1924), Goldschmidt (1936) menaksir bahwa volume sedimen adalah 3,0 x 10<sup>8</sup> km<sup>3</sup>. Angka itu diperoleh berdasarkan hasil taksirannya terhadap kandungan natrium dalam air laut dan sedimen. Kuenen (1941) mengoreksi data yang diperoleh Clarke (1924) dan memperoleh angka 8 x 10<sup>8</sup> km<sup>3</sup> untuk material yang terdisintegrasi tetapi tidak terdekomposisi (tuff, <em>greywacke</em>, dsb) sehingga dia memperoleh angka 13 x 10<sup>8</sup> km<sup>3</sup> untuk keseluruhan.</p>
<p>Peneliti-peneliti lain melakukan taksiran berdasarkan sudut pandang yang berbeda. Salah satu cara yang dipakai adalah menaksir luas dan ketebalan akumulasi sedimen. Salah satu contohnya adalah perhitungan Poldevaart (1955) yang disusun berdasarkan taksirannya terhadap ketebalan sedimen pada perisai benua, sabuk lipatan muda, cekungan samudra, dan paparan benua. Untuk melakukan perhitungannya, Poldevaart (1955) menggunakan nilai taksiran yang dikemukakan oleh Kay (1951) dan mengkombinasikannya dengan taksiran terhadap hasil pengukuran geofisika dan laju sedimentasi. Angka yang diperolehnya adalah 6,3 x 10<sup>8</sup> km<sup>3</sup>. Horn &amp; Adams (1966) menggunakan ancangan yang mirip dengan yang digunakan oleh Poldevaart (1955), namun menggunakan data yang berbeda. Mereka mendapatkan angka 10,8 x 10<sup>8</sup> km<sup>3</sup>. Masih dengan menggunakan ancangan yang mirip dengan Poldevaart (1955), Blatt (1970) memperoleh angka 4,8 x 10<sup>8</sup> km<sup>3</sup>. Angka yang disebut terakhir ini berkorespondensi dengan lapisan sedimen setebal 810 m untuk seluruh permukaan bumi.</p>
<p>Dengan menggunakan sejumlah asumsi mengenai densitas mineral dan porositas sedimen, atau dengan kata lain densitas ruah batuan, angka-angka di atas dapat dikonversikan menjadi nilai massa sedimen. Sebagai contoh, Poldevaart (1955) memperoleh angka 1702 x 10<sup>15</sup> metrik ton untuk massa keseluruhan sedimen yang ada di bumi, sedangkan Garrels &amp; Mackenzie (1971) memperoleh angka 3200 x 10<sup>15</sup> metrik ton.</p>
<p>Bila kita melihat angka-angka di atas, mungkin timbul pertanyaan dalam diri kita: Apakah volume atau massa total sedimen yang ada di bumi ini selalu tetap atau berubah dari waktu ke waktu? Dengan kata lain: Apakah di bumi ini terdapat suatu kesetimbangan dimana jumlah sedimen yang terbentuk selalu dikompensasikan oleh jumlah sedimen yang terhancurkan melalui proses granitisasi? Pertanyaan-pertanyaan yang menarik itu pernah dibahas oleh Garrels &amp; Mackenzie (1971) dan kita akan membahasnya kembali dalam Bab 17.</p>
<p><strong>2.6  KELIMPAHAN RELATIF SEDIMEN YANG BIASA DITEMUKAN</strong></p>
<p>Dari berbagai batuan sedimen, hanya beberapa jenis saja yang biasa ditemukan. Tiga jenis utama batuan sedimen (batupasir, serpih, dan batugamping) menempati lebih dari 90% ruah sedimen, namun kelimpahan setiap jenis batuan sedimen utama itu tidak sama. Banyak peneliti mencoba untuk menaksir kelimpahan relatif setiap jenis batuan sedimen utama itu.</p>
<p>Penaksiran umumnya dilakukan dengan dua cara: dengan metoda pengukuran langsung pada penampang geologi (tabel 2-2) dan metoda perhitungan geokimia proporsi rata-rata serpih, batupasir, dan batugamping sedemikian rupa sehingga didapat harga yang sama dengan harga volume batuan beku yang menjadi sumbernya (tabel 2-3). Pada 1907, Mead melakukan perhitungan dan menaksir bahwa proporsi serpih, batupasir, dan batugamping adalah 80, 11, dan 9. Taksiran baru yang dilakukan oleh Garrels &amp; Mackenzie (1971) terhadap data yang lebih baik, menghasilkan angka 81, 11, dan 8.</p>
<p>Hasil yang diperoleh dari pengukuran dan perhitungan cukup berbeda (lihat kembali tabel 2-2 dan 2-3). Secara umum terlihat bahwa angka untuk proporsi batupasir dan batugamping yang diperoleh dari hasil pengukuran lebih tinggi dibanding dengan nilai proporsi yang diperoleh dari hasil perhitungan. Salah satu keterangan yang dapat dipakai untuk menjelaskan hal itu adalah karena serpih, jenis sedimen yang menurut hasil pengukuran memiliki proporsi rendah, banyak terangkut ke dasar laut-dalam sehingga kurang terwakili dalam rekaman stratigrafi yang ada di wilayah benua.</p>
<p>Sekali lagi, jika kita perhatikan angka-angka di atas, mungkin timbul pertanyaan: Apakah proporsi dan dominansi jenis sedimen selalu tetap sepanjang sejarah geologi? Pertanyaan ini pernah dibahas oleh Ronov (1964, 1968) serta Garrels &amp; Mackenzie (1971). Pertanyaan yang sama akan dibahas pada Bab 17.</p>
<p>semoga bermanfaat&#8230;</p>
<p>coment nya ya&#8230; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<h2><a title="pengertian sedimen (pettijohn75)-1" rel="bookmark" href="../2009/09/15/pengertian-sedimen/"><br />
</a></h2>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indrayaksa.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indrayaksa.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indrayaksa.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indrayaksa.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indrayaksa.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indrayaksa.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indrayaksa.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indrayaksa.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indrayaksa.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indrayaksa.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indrayaksa.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indrayaksa.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indrayaksa.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indrayaksa.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indrayaksa.wordpress.com&amp;blog=9475331&amp;post=67&amp;subd=indrayaksa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/10/05/pengertian-sedimen-pettijohn75-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eeefe58010eb16291373e35e436b2155?s=96&#38;d=identicon&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">garong...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BUAT BANNER SENDIRI</title>
		<link>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/09/18/buat-banner-sendiri/</link>
		<comments>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/09/18/buat-banner-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 23:46:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>garong...</dc:creator>
				<category><![CDATA[lain-lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indrayaksa.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Gini nih cara mudah membuat banner sendiri!!! Dengan software yang sangat sederhana, kita dapat membuat banner dalam waktu singkat! Caranya juga simpel, khusus pemula. Easy GIF Animator adalah sebuah software yang sangat simple dan mudah digunakan untuk membuat dan mengedit gambar animasi GIF. Dengan Easy GIF Animator kalian dapat dengan mudah membuat gambar animasi, banner [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indrayaksa.wordpress.com&amp;blog=9475331&amp;post=57&amp;subd=indrayaksa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gini nih cara mudah membuat banner sendiri!!! Dengan software yang sangat sederhana, kita dapat membuat banner dalam waktu singkat! Caranya juga simpel, khusus pemula.</p>
<p><span style="color:#000000;">Easy GIF Animator</span><span style="color:#000000;"> adalah sebuah software yang sangat simple dan mudah digunakan untuk membuat dan mengedit gambar animasi GIF. Dengan Easy GIF Animator kalian dapat dengan mudah membuat gambar animasi, banner dan juga button dalam waktu yang singkat. <span id="more-57"></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;">kamu dapat menggunakan fitur-fitur khusus untuk menambahkan efek visual yang menakjubkan dan mempersiapkan kamu untuk mempublikasikan animasi pada halaman blog kalian. Easy GIF Animator mendukung semua jenis GIF animasi dan menyediakan kompresi tinggi dan besar untuk kualitas gambar animasi GIF. </span></p>
<p style="text-align:center;"><img title="animasi gif" src="http://f.imagehost.org/0625/animasi-motor.gif" alt="" width="350" height="220" /></p>
<p><span style="color:#000000;">Gambar diatas adalah contoh  gambar animasi GIF yang dibuat oleh software ini dan Yang perlu diingat bahwa  Easy GIF Animator dikhususkan untuk para pemula dan bukan untuk para ahli yang sudah mahir dalam dunia Design Graphics. Untuk ukuran software ini juga sangat kecil.</span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Petunjuk Install :</strong></span></p>
<ul>
<li><span style="color:#000000;">Download dan Ekstrak</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Lakukan installasi pada file setup egifan4p_full.exe</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Ketika diminta serial, isikan password tersebut yang terdapat pada file serial.txt</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Finished</span></li>
</ul>
<p>kalo mau download, tinggal klik aja link di bawah ini! gratis!</p>
<p>eits.. jangan lupa coment&#8230; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>Download : </strong></span><a href="http://facebookindo.com/redirectdownload/easyGIFanimator.html" target="_blank"><span style="color:#ff0000;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Easy GIF Animator Pro</strong></span></span></a><a title="Easy GIF Animator" href="http://facebookindo.com/redirectdownload/easyGIFanimator.html" target="_blank"><span style="color:#ff0000;"><span style="text-decoration:underline;"><strong> </strong></span></span></a></p>
<p><a href="http://www.d60pc.com/2009/05/05/easy-gif-animator-pro-49040/" target="_blank">sumber: http://www.d60pc.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indrayaksa.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indrayaksa.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indrayaksa.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indrayaksa.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indrayaksa.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indrayaksa.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indrayaksa.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indrayaksa.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indrayaksa.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indrayaksa.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indrayaksa.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indrayaksa.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indrayaksa.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indrayaksa.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indrayaksa.wordpress.com&amp;blog=9475331&amp;post=57&amp;subd=indrayaksa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/09/18/buat-banner-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eeefe58010eb16291373e35e436b2155?s=96&#38;d=identicon&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">garong...</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://f.imagehost.org/0625/animasi-motor.gif" medium="image">
			<media:title type="html">animasi gif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KODOK BANGKONG</title>
		<link>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/09/16/kodok-bangkong/</link>
		<comments>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/09/16/kodok-bangkong/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 02:06:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>garong...</dc:creator>
				<category><![CDATA[humor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indrayaksa.wordpress.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[ketawa.com<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indrayaksa.wordpress.com&amp;blog=9475331&amp;post=54&amp;subd=indrayaksa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mang Juned poe eta kadatangan tamu dulurna pak Kosim ti Jakarta, kabeneran manehna jeung pak Kosim boga budak saumuran kira-kira 5 taunan.</p>
<p>basa mang Juned keur ngobrol jeung pak Kosim di teras imah, anakna keur uplek maen koleci jeung anak pak Kosim. Keur anteng maen koleci, ujug-ujug gejlo weh aya bangkong luncat ka deukeut barudak nu keur maen koleci, atuh barudak teh rareuwaseun.</p>
<p>Anak mang Juned: &#8220;Ih, awas aya bangkong, aya bangkong&#8221;</p>
<p>Anak pak Kosim : &#8220;Idih, ada kodok, ada kodok&#8221;</p>
<p>Anak mang Juned: &#8220;Yeeh, tong di kodok, geuleuh&#8221;</p>
<p>Atuh mang Juned jeung pak Kosim nu ngadengekeun sing cakakak</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indrayaksa.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indrayaksa.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indrayaksa.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indrayaksa.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indrayaksa.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indrayaksa.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indrayaksa.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indrayaksa.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indrayaksa.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indrayaksa.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indrayaksa.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indrayaksa.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indrayaksa.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indrayaksa.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indrayaksa.wordpress.com&amp;blog=9475331&amp;post=54&amp;subd=indrayaksa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/09/16/kodok-bangkong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eeefe58010eb16291373e35e436b2155?s=96&#38;d=identicon&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">garong...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SOFTWARE GRATISAN TERBAIK..</title>
		<link>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/09/15/software-gratisan-terbaik/</link>
		<comments>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/09/15/software-gratisan-terbaik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 13:27:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>garong...</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indrayaksa.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Ini beberapa software keren gratis yang bisa kita download&#8230; kalo mau download, klik aja di nama filenya!!! selamat mencoba!! dibagi beberapa tipe software: browser Firefox 3.5.3 Internet Explorer 8.0 CometBird 3.5.2 messaging and chat Yahoo! Messenger 10.0.0.525 Beta Thunderbird 2.0.0.23 file sharing LimeWire Basic 5.3.3 Beta BitComet 1.14 Shareaza 2.4.0.0 audio dan video Winamp 5.556 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indrayaksa.wordpress.com&amp;blog=9475331&amp;post=35&amp;subd=indrayaksa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini beberapa software keren gratis yang bisa kita download&#8230;</p>
<p>kalo mau download, klik aja di nama filenya!!!</p>
<p>selamat mencoba!! <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>dibagi beberapa tipe software:</p>
<p>browser</p>
<ul>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_Firefox-122/"><img src="http://images.apphit.com/122/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />Firefox 3.5.3 </a><a href="http://www.apphit.com/download_Firefox-122/"> </a></li>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_Internet_Explorer-170/"><img src="http://images.apphit.com/170/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />Internet Explorer 8.0 </a><span id="more-35"></span></li>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_CometBird-243/"><img src="http://images.apphit.com/243/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />CometBird 3.5.2 </a></li>
</ul>
<p>messaging and chat</p>
<ul>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_Yahoo_Messenger-208/"><img src="http://images.apphit.com/208/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />Yahoo! Messenger 10.0.0.525 Beta </a><a href="http://www.apphit.com/download_Thunderbird-193/"></a></li>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_Thunderbird-193/"><img src="http://images.apphit.com/193/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />Thunderbird 2.0.0.23 </a></li>
</ul>
<p>file sharing</p>
<ul>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_LimeWire_Basic-165/"><img src="http://images.apphit.com/165/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />LimeWire Basic 5.3.3 Beta </a></li>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_BitComet-115/"><img src="http://images.apphit.com/115/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />BitComet 1.14 </a></li>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_Shareaza-169/"><img src="http://images.apphit.com/169/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />Shareaza 2.4.0.0 </a></li>
</ul>
<p>audio dan video</p>
<ul>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_Winamp-216/"><img src="http://images.apphit.com/216/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />Winamp 5.556 Full </a></li>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_K_Lite_Codec_Pack-176/"><img src="http://images.apphit.com/176/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />K-Lite Codec Pack 5.1.0 (Full) </a></li>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_MpcStar-219/"><img src="http://images.apphit.com/219/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />MpcStar 4.1 </a><a href="http://www.apphit.com/download_MpcStar-219/"> </a></li>
</ul>
<p>office and news</p>
<ul>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_Adobe_Reader-27/"><img src="http://images.apphit.com/27/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />Adobe Reader 9.1</a></li>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_Adobe_Reader-27/"> </a><a href="http://www.apphit.com/download_PDFCreator-177/"><img src="http://images.apphit.com/177/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />PDFCreator 0.9.8 </a></li>
</ul>
<p>antivirus</p>
<ul>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_AVG_Free_Edition-114/"><img src="http://images.apphit.com/114/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />AVG Free Edition 8.5.409 </a></li>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_AntiVir_Personal-38/"><img src="http://images.apphit.com/38/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />AntiVir Personal 9.0.0.407 </a></li>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_Kaspersky_Anti_Virus-150/"><img src="http://images.apphit.com/150/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />Kaspersky Anti-Virus 9.0.0.463 </a></li>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_Norton_AntiVirus-164/"><img src="http://images.apphit.com/164/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />Norton AntiVirus 16.5.0.134 </a></li>
</ul>
<p>compression and back up</p>
<ul>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_WinRAR-107/"><img src="http://images.apphit.com/107/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />WinRAR 3.90 </a></li>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_WinZip-111/"><img src="http://images.apphit.com/111/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />WinZip 12.1.8519 </a></li>
</ul>
<p>imaging</p>
<ul>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_Google_Earth-135/"><img src="http://images.apphit.com/135/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />Google Earth 5.1.3506 Beta </a></li>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_ACDSee-15/"><img src="http://images.apphit.com/15/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />ACDSee 11.0.108 </a></li>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_Adobe_Photoshop-73/"><img src="http://images.apphit.com/73/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />Adobe Photoshop CS3 </a></li>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_Picasa-192/"><img src="http://images.apphit.com/192/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />Picasa 3.1 Build 71.43 </a></li>
</ul>
<p>cd and dvd tool</p>
<ul>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_PowerDVD-182/"><img src="http://images.apphit.com/182/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />PowerDVD 9.0.1719a </a></li>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_Nero-174/"><img src="http://images.apphit.com/174/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />Nero 9.4.13.2 </a></li>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_WinDVD_Platinum-191/"><img src="http://images.apphit.com/191/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />WinDVD Platinum 9 </a></li>
<li><a href="http://www.apphit.com/download_Nero-174/"><img src="http://images.apphit.com/174/icon_16x16.png" border="0" alt="" width="16" height="16" align="absmiddle" />Nero 9.4.13.2 </a></li>
</ul>
<p>silakan mencoba&#8230;</p>
<p>enjoy it&#8230; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indrayaksa.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indrayaksa.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indrayaksa.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indrayaksa.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indrayaksa.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indrayaksa.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indrayaksa.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indrayaksa.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indrayaksa.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indrayaksa.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indrayaksa.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indrayaksa.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indrayaksa.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indrayaksa.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indrayaksa.wordpress.com&amp;blog=9475331&amp;post=35&amp;subd=indrayaksa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/09/15/software-gratisan-terbaik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eeefe58010eb16291373e35e436b2155?s=96&#38;d=identicon&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">garong...</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.apphit.com/122/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/170/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/243/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/208/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/193/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/165/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/115/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/169/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/216/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/176/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/219/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/27/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/177/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/114/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/38/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/150/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/164/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/107/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/111/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/135/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/15/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/73/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/192/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/182/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/174/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/191/icon_16x16.png" medium="image" />

		<media:content url="http://images.apphit.com/174/icon_16x16.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Dapat Uang Dari Internet!!!</title>
		<link>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/09/15/dapat-uang-dari-internet/</link>
		<comments>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/09/15/dapat-uang-dari-internet/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 03:27:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>garong...</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indrayaksa.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Zaman modern seperti ini, internet sudah menjadi suatu kebutuhan. Hampir semua orang membutuhkan akses internet. Selain gudang informasi, internet bisa manfaatkan menjadi lumbung emas kita!!!! Kita to the point aja!! Bisnis internet terhebat dapat anda dapatkan disini. yaph web ini memberikan berbagai manfaat bagi membernya! tidak diragukan lagi cara yang hebat untuk menjadikan komputer kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indrayaksa.wordpress.com&amp;blog=9475331&amp;post=28&amp;subd=indrayaksa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Zaman modern seperti ini, internet sudah menjadi suatu kebutuhan. Hampir semua orang membutuhkan akses internet. Selain gudang informasi, internet bisa manfaatkan menjadi lumbung emas kita!!!!</p>
<p>Kita to the point aja!! Bisnis internet terhebat dapat anda dapatkan <a href="http://tiny.cc/wcgib" target="_blank">disini. </a><span id="more-28"></span></p>
<p>yaph web ini memberikan berbagai manfaat bagi membernya! tidak diragukan lagi cara yang hebat untuk menjadikan komputer kita menjadi mesin uang. :9</p>
<p>apalagi membernya diberi banyak keuntungan dari bonus yang didapatnya! Satu bocoran saja! kita diberi tahu trik untuk dapat mendownload jutaan file berbagai format (video, software, film, dll) GRATIS!!!! <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>tunggu apa lagi segera klik <a href="http://tiny.cc/wcgib" target="_blank">disini</a> untuk mendapatkan keuntungan tersebut!!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indrayaksa.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indrayaksa.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indrayaksa.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indrayaksa.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indrayaksa.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indrayaksa.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indrayaksa.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indrayaksa.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indrayaksa.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indrayaksa.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indrayaksa.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indrayaksa.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indrayaksa.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indrayaksa.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indrayaksa.wordpress.com&amp;blog=9475331&amp;post=28&amp;subd=indrayaksa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/09/15/dapat-uang-dari-internet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eeefe58010eb16291373e35e436b2155?s=96&#38;d=identicon&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">garong...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>pengertian sedimen (pettijohn75)-1</title>
		<link>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/09/15/pengertian-sedimen/</link>
		<comments>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/09/15/pengertian-sedimen/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 02:57:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>garong...</dc:creator>
				<category><![CDATA[geologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indrayaksa.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[BAB 1 PENDAHULUAN 1.1  DEFINISI-DEFINISI Endapan sedimen (sedimentary deposit) adalah tubuh material padat yang terakumulasi di permukaan bumi atau di dekat permukaan bumi, pada kondisi tekanan dan temperatur yang rendah. Sedimen umumnya (namun tidak selalu) diendapkan dari fluida dimana material penyusun sedimen itu sebelumnya berada, baik sebagai larutan maupun sebagai suspensi. Definisi ini sebenarnya tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indrayaksa.wordpress.com&amp;blog=9475331&amp;post=24&amp;subd=indrayaksa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>BAB 1</strong></p>
<p align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p><strong>1.1  DEFINISI-DEFINISI</strong></p>
<p>Endapan sedimen <em>(sedimentary deposit)</em> adalah tubuh material padat yang terakumulasi di permukaan bumi atau di dekat permukaan bumi, pada kondisi tekanan dan temperatur yang rendah. Sedimen umumnya (namun tidak selalu) diendapkan dari fluida dimana material penyusun sedimen itu sebelumnya berada, baik sebagai larutan maupun sebagai suspensi. Definisi ini sebenarnya <span id="more-24"></span>tidak dapat diterapkan untuk semua jenis batuan sedimen karena ada beberapa jenis endapan yang telah disepakati oleh para ahli sebagai endapan sedimen: (1) diendapkan dari udara sebagai benda padat di bawah temperatur yang relatif tinggi, misalnya material fragmental yang dilepaskan dari gunungapi; (2) diendapkan di bawah tekanan yang relatif tinggi, misalnya endapan lantai laut-dalam.</p>
<p>Petrologi sedimen <em>(sedimentary petrology)</em> adalah cabang petrologi yang membahas batuan sedimen, terutama pemerian-nya. Di Amerika Serikat, istilah sedimentasi <em>(sedimentation)</em> umumnya digunakan untuk menamakan ilmu yang mempelajari proses pengakumulasian sedimen, khususnya endapan yang asalnya merupakan partikel-partikel padat dalam suatu fluida. Pada 1932, Wadell mengusulkan istilah sedimentologi <em>(sedimentology)</em> untuk menamakan ilmu yang mempelajari segala aspek sedimen dan batuan sedimen. Sedimentologi dipandang memiliki ruang lingkup yang lebih luas daripada petrologi sedimen karena petrologi sedimen biasanya terbatas pada studi laboratorium, khususnya studi sayatan tipis, sedangkan sedimentologi meliputi studi lapangan dan laboratorium (Vatan, 1954:3-8). Pemakaian istilah sedimentologi untuk menamakan ilmu yang mempelajari semua aspek sedimen dan batuan sedimen disepakati oleh para ahli sedimentologi Eropa, bahkan akhirnya dikukuhkan sebagai istilah resmi secara internasional bersamaan dengan didirikannya International Association of Sedimentologists pada 1946.</p>
<p>Batas pemisah antara sedimentologi dengan stratigrafi sebenarnya tidak jelas. Stratigrafi secara luas diartikan sebagai ilmu yang membahas tentang segala aspek strata, termasuk studi tekstur, struktur, dan komposisi. Walau demikian, dalam prakteknya, para ahli stratigrafi lebih banyak menujukan perhatiannya pada masalah penentuan urut-urutan stratigrafi dan penyusunan kolom geologi. Jadi, masalah sentral dalam stratigrafi adalah penentuan urut-urutan batuan dan waktu yang dicerminkan oleh berbagai penampang lokal, pengkorelasian penampang-penampang lokal, dan penyusunan suatu penampang yang dapat digunakan secara sahih sebagai wakil dari tatanan stratigrafi dunia. Walau demikian, pengukuran ketebalan dan pemerian litologi umum <em>(gross lithology)</em> masih dipandang sebagai tugas para ahli stratigrafi. Karena itu, tidak mengherankan apabila banyak pengetahuan tentang ciri khas endapan sedimen—misalnya perlapisan, perlapisan silang-siur, dan ciri-ciri lain yang sering terlihat dalam singkapan—diperoleh dari hasil penelitian stratigrafi.</p>
<p>Pemelajaran batuan sedimen tidak dapat dipisahkan dari disiplin ilmu lain. Banyak diantara disiplin ilmu itu—misalnya mineralogi, geokimia, dan geologi kelautan—memberikan sumbangan pemikiran yang berharga untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam mengenai endapan sedimen. Sedimentologi sendiri banyak memberikan sumbangan pemikiran yang berharga dalam penelitian stratigrafi dan geologi ekonomi (gambar 1-1 dan 1-2).</p>
<p><strong>1.2  SEJARAH PERKEMBANGAN SEDIMENTOLOGI</strong></p>
<p>Meskipun sedimentologi merupakan sebuah ilmu yang relatif muda, namun pengetahuan manusia tentang sedimen telah ada sejak lama. Manusia primitif mengetahui sifat dan kegunaan batuapi <em>(flint)</em> yang mereka pakai sebagai pisau, mata anak panah, dan mata tombak. Mereka juga mengetahui kegunaan praktis dari lempung sebagai bahan baku gerabah dan manfaat oker <em>(ocher)</em> sebagai zat pewarna. Sebagian tata peristilahan lama yang muncul sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan—misalnya <em>cobble</em>, <em>pebble</em>, dan <em>flint</em>—masih tetap digunakan sampai sekarang.</p>
<p>Tulisan tertua yang mengungkapkan berbagai bentuk spekulasi tentang proses sedimentasi alami dapat ditemukan dalam karya orang-orang Yunani kuno (Krynine, 1960). Walau demikian, tulisan-tulisan itu belum bisa dipandang sebagai karya ilmiah.</p>
<p>Pemelajaran batuan sedimen pada mulanya merupakan pemelajaran stratigrafi, berupa penelitian lapangan yang dilakukan untuk mengetahui geometri umum (ketebalan dan penyebaran) tubuh sedimen. Salah satu buah pikiran penting dalam per-kembangan stratigrafi dipersembahkan oleh William Smith (1815), seorang insinyur dan surveyor otodidak, melalui karyanya: peta geologi Inggris. Peta itu disusun berdasarkan hasil penelitian Smith selama bertahun-tahun dengan menempuh perjalanan sejauh 11.000 mil. Itulah tulisan pertama yang berhasil merekam penyebaran dan urut-urutan batuan sedimen di suatu daerah. Sumbangan pemikiran penting dari Smith adalah penggunaan fosil untuk korelasi. Dari penjelasan di atas kita dapat memaklumi bahwa sedimentologi berakar pada stratigrafi. Karena itu, tidak mengherankan apabila pada saat ini kita masih melihat eratnya kaitan antara stratigrafi dan sedimentologi. Para ahli stratigrafi masa lalu banyak menyumbangkan tenaga dan pikirannya dalam mengembangkan pengetahuan tentang sedimen. Pemikiran-pemikiran tersebut sebagian diwujudkan dalam bentuk tulisan, misalnya dalam buku <em>Principles of Stratigraphy</em> karya Grabau (1913) dan <em>Treatise of Sedimentation</em> karya Twenhofel (1928).</p>
<p>Pemelajaran sedimen sebagai disiplin tersendiri, terpisah dari stratigrafi, dimulai dengan terbitnya surat terbuka Henry Clifton Sorby (1879) kepada Presiden Geological Society of London yang berjudul “On the structure and origin of limestones.” Meskipun ketertarikan Sorby pada batuan sedimen telah muncul sejak 1850, namun surat tersebut dan makalahnya yang berjudul “On the structure and origin of the non-calcareous stratified rocks” (terbit pada 1880) saja yang dipandang para ahli sebagai dua tonggak penting yang menandai kelahiran sedimentologi sebagai sebuah disiplin ilmu baru. Sorby memperkenalkan studi sayatan tipis sebagai salah satu teknik penelitian batuan sedimen. Teknik itu kemudian digunakan sebagai salah satu teknik paling mendasar dalam penelitian petrologi, baik penelitian petrologi batuan sedimen, maupun penelitian petrologi batuan beku dan batuan metamorf. Karena itu, Sorby dipandang sebagai “Bapak Petrologi”. Pemikiran Sorby jauh melampaui rekan-rekan seangkatan-nya. Karyanya tentang pemakaian lapisan silang-siur dalam perekonstruksian paleogeografi tidak banyak dipahami rekan-rekannya dan baru dapat dibuktikan kesahihannya pada pertengahan abad 20.</p>
<p>Studi sayatan tipis kemudian lebih banyak dikembangkan oleh para ahli petrologi batuan beku, khususnya para ahli petrologi Jerman seperti Rosenbusch dan Zirkel. Sebaliknya, teknik itu justru agak diabaikan oleh para ahli yang menggeluti batuan sedimen. Hal itu mungkin terjadi karena generasi ahli sedimen saat itu lebih terdidik sebagai ahli stratigrafi, bukan ahli petrologi sedimen atau ahli sedimentologi. Namun, masih ada beberapa orang yang dapat dipandang sebagai pengecualian, misalnya Lucien Cayeux dari Perancis. Studi sayatan tipis batuan sedimen, yang pernah ditinggalkan, kini ini kembali mendapat perhatian yang cukup serius dari kalangan ahli batuan sedimen. Hal ini mungkin berkaitan dengan berkembangnya sedimentologi sebagai suatu cabang ilmu geologi tersendiri yang telah menghasilkan generasi baru yang benar-benar ahli dalam sedimentologi.</p>
<p>Pada akhir abad 19 serta awal abad 20, para ahli petrologi sedimen (kecuali Cayeux) lebih banyak menujukan perhatian mereka pada pemelajaran mineralogi sedimen, khususnya mineral berat (BJ &gt; 2,85). Studi mineral berat umumnya dilakukan oleh para ahli Eropa. Hasil penelitian Illing (1916), yang menunjukkan bahwa endapan sedimen dalam cekungan tertentu cenderung mengandung kumpulan mineral berat tertentu, telah mendorong munculnya apa yang disebut sebagai “korelasi mineral berat” <em>(“heavy-mineral correlation”)</em>. Kegunaan mineral berat sebagai “alat” korelasi dan penerapannya dalam korelasi bawah permukaan dalam kegiatan eksplorasi migas telah menambah daya tariknya. Puncak fasa perkembangan studi mineral berat ditandai dengan terbitnya <em>Principles of Sedimentary Petrography</em> karya Milner (1922). Buku itu pernah dijadikan rujukan oleh para ahli yang ingin mempelajari mineral detritus dalam pasir. Makin lama pemelajaran mineral berat makin kurang diminati para ahli sedimen. Hal itu terjadi karena: (1) timbulnya keraguan akan kesahihan korelasi yang didasarkan pada kehadiran mineral berat seperti yang diajukan oleh Sidowski dan Weyl; (2) adanya perkembangan baru, yakni pemakaian mikrofosil dan <em>well logs</em> sebagai alat korelasi bawah permukaan. Agaknya sebab kedua itulah yang “mengakhiri” era studi mineral berat.</p>
<p>Pada 1919, thesis master C. K. Wentworth yang berjudul <em>A Field and Laboratory Study of Cobble Abrasion</em> diterbitkan dalam <em>Journal of Geology</em>. Wentworth, yang pada waktu itu merupakan mahasiswa pasca sarjana pada University of Iowa, mengembangkan satu ancangan baru untuk meneliti material sedimen. Dia juga mampu mendefinisikan kebundaran sebagai suatu sifat fisik partikel sedimen yang dapat diukur. Kuantifikasi sifat itu mampu menggantikan penilaian subjektif yang sebelum-nya digunakan oleh para ahli sedimentologi dalam menentukan kebundaran. Lebih jauh lagi, kuantifikasi memicu munculnya data kuantitatif serta memungkinkan dilakukannya studi laboratorium terhadap proses sedimentasi, misalnya abrasi kerakal. Dengan demikian, Wentworth membawa sedimentologi untuk memasuki era pengukuran dan percobaan terkontrol. Benar, bahwa sebelumnya telah ada ahli sedimentologi yang melakukan berbagai percobaan, misalnya saja analisis besar butir yang dilakukan oleh Daubree, namun penelitian-penelitian itu tidak memberikan pengaruh yang berarti pada pemikiran para ahli sedimentologi saat itu sehingga mereka umumnya masih tetap melakukan penelitian secara kualitatif dan agak subjektif.</p>
<p>Makalah pertama karya Wentworth itu kemudian disusul oleh sejumlah makalah lain yang menunjukkan kepada semua pihak betapa bergunanya metoda tersebut dalam penelitian sedimen. Selama dua dasawarsa berikutnya, metoda kuantatif diterapkan oleh banyak ahli sedimentologi terhadap sifat-sifat sedimen yang lain. Ledakan data kuantitatif itu pada gilirannya menimbulkan kebutuhan para ahli akan adanya metoda-metoda yang memungkinkan mereka dapat mengambil intisari yang terkandung didalamnya untuk menghasilkan butir-butir pengetahuan baru. Metoda yang dibutuhkan itu telah tersedia, yakni metoda statistika yang pada waktu itu masih terus dikembangkan oleh banyak ahli statistika dan matematika.</p>
<p>Meskipun metoda pengukuran besar butir sedimen klastika (“analisis mekanik”) sudah digunakan secara luas dalam disiplin ilmu lain, khususnya ilmu tanah, namun metoda itu baru dikembangkan untuk pemelajaran sedimen pada akhir abad 19. Masuknya metoda itu ditandai dengan terbitnya karya tulis Udden (1899, 1914). Kedua karya tulis Udden itu termasuk tulisan pertama yang mencoba menjelaskan sejarah endapan sedimen berdasarkan hasil analisis besar butir (untuk mengetahui sejarah perkembangan penelitian besar butir, lihat karya tulis Krumbein, 1932). Metoda analisis dan penerapan teknik-teknik statistika untuk analisis besar butir kemudian disempurnakan dan dikembangkan lebih jauh oleh Krumbein dan ahli-ahli lain.</p>
<p>Lahirnya geokimia sebagai cabang ilmu geologi baru menyebabkan munculnya metoda dan data observasi baru mengenai berbagai hal yang banyak menarik perhatian para ahli sedimentologi. Sebagian besar penelitian geokimia pada mulanya diarahkan pada penelitian kuantitatif untuk mengetahui penyebaran unsur-unsur kimia di alam, termasuk penyebarannya dalam batuan sedimen. Lambat laun data tersebut menuntun para ahli untuk memahami apa yang disebut sebagai siklus geokimia <em>(geochemical cycle)</em> serta penemuan hukum-hukum yang mengontrol penyebaran unsur dan proses-proses yang menyebabkan timbulnya pola penyebaran unsur seperti itu.</p>
<p>Baru-baru ini, kimia nuklir <em>(nuclear chemistry)</em> menyumbangkan sebuah “jam” dan “termometer” yang pada gilirannya membuka era penelitian baru terhadap sedimen. Unsur-unsur radioaktif, khususnya <sup>14</sup>C dan <sup>40</sup>K, memungkinkan dilakukannya metoda penanggalan langsung terhadap batuan sedimen tertentu. Metoda <sup>14</sup>C, yang dikembangkan oleh Libby, dapat diterapkan pada endapan resen. Metoda <sup>40</sup>K/<sup>40</sup>Ar terbukti dapat diterapkan pada glaukonit, felspar autigen, mineral lempung, dan silvit yang ditemukan dalam endapan tua. Analisis isotop dapat digunakan untuk menentukan temperatur purba. Metoda Urey—berdasar-kan nisbah <sup>16</sup>O/<sup>18</sup>O yang merupakan fungsi dari temperatur—dapat dipakai untuk menaksir temperatur pembentukan cangkang fosil yang ada dalam endapan bahari. Meskipun “jam” dan “termometer” tersebut masih memperlihatkan kekeliruan, namun harus diakui bahwa keduanya telah memberikan kontribusi yang berarti terhadap pemelajaran sedimen.</p>
<p>Van’t Hoff adalah orang pertama yang memanfaatkan azas fasa untuk mempelajari kristalisasi larutan garam dan pem-bentukan endapan garam. Mulanya penelitian eksperimental terhadap campuran yang dapat menghasilkan kristal, terutama sistem silikat temperatur tinggi, dilakukan oleh para ahli petrologi batuan beku dan metamorf. Baru pada beberapa dasawarsa terakhir ini saja hal itu menarik perhatian para ahli sedimen. Sebagai contoh, Milton &amp; Eugster (1959) memakai ancangan itu untuk meneliti endapan non-marin dan mineral-mineral yang mencirikan Green River Formation di Wyoming dan Colorado. Zen (1959) menunjukkan bahwa azas fasa yang dikemukakan oleh Gibbs dapat diterapkan untuk menganalisis hubungan antara mineral lempung dan mineral karbonat. Hasil penelitian Zen kemudian diterapkan oleh Peterson (1962) terhadap larutan karbonat di bagian timur Tennessee. Perkembangan metoda yang relatif baru itu dapat dibaca dalam karya tulis Eugster (1971).</p>
<p>Berbagai kajian teoritis dan eksperimental tentang stabilitas mineral pada berbagai kondisi oksidasi-reduksi (Eh) dan pH dilakukan oleh Garrels dan beberapa ahli lain (lihat Garrels &amp; Christ, 1965). Penelitian aspek-aspek geokimia sedimen banyak menambah pengertian kita tentang endapan sedimen. Buku-buku yang membahas tentang topik-topik geokimia sedimen antara lain adalah <em>Geochemistry of Sediments</em> karya Degens (1965) dan <em>Principles of Chemical Sedimentology</em> karya Berner (1971).</p>
<p>Penelitian sedimen resen merupakan hal esensil untuk memahami sedimen purba. Hal itu pada hakekatnya merupakan konsekuensi logis dari teori uniformitarisme yagn dikemukakan oleh James Hutton. Dengan pengecualian untuk Walther, Thoulet, dan beberapa ahli lain, para ahli sedimen hingga beberapa tahun terakhir umumnya masih mengabaikan aspek ini. Pengetahuan kita tentang sedimen resen, khususnya sedimen bahari, sebagian besar diperoleh dari hasil-hasil penelitian oseanografi. Penelitian oseanografi pertama, dan mungkin yang paling terkenal, adalah Ekspedisi Challenger. Terbitnya laporan Ekspedisi Challenger pada 1891 menandai berdirinya oseanografi sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri. Laporan itu antara lain berisi data tentang penyebaran dan sifat sedimen bahari, khususnya sedimen yang ada di dasar laut-dalam. Ekspedisi-ekspedisi lain yang dilaksanakan dengan memakai kapal peneliti Gazelle, Meteor, Blake, dan lain-lain makin menambah data dan pengetahuan kita mengenai sedimen bahari. Selama beberapa tahun terakhir makin banyak ahli geologi yang berpendapat bahwa penelitian sedimen resen banyak membantu perkembangan sedimentologi. Stetson (dari Woods Hole) dan Shepard (dari Scripps) adalah dua ilmuwan yang banyak memberikan sumbangan pemikiran dan membangkitkan kembali ketertarikan orang terhadap endapan bahari. Sedimen delta dan litoral juga dipelajari secara intensif pada beberapa dasawarsa terakhir, khususnya oleh Fisk (di Amerika Serikat), van Straaten dkk (di Belanda), serta oleh suatu kelompok studi di Senckenberg. <em>Recent Marine Sediments</em> yang disunting oleh Parker Traks (1939) merupakan salah satu bukti makin tingginya ketertarikan para ahli geologi terhadap sedimen resen. Proyek penelitian American Association of Petroleum Geologists di Teluk Mexico, berbagai penelitian van Straaten pada beberapa dataran pasut di Belanda, penelitian-penelitian van Andel di Sungai Rhine dan Orinoco, penelitian-penelitian Kruit &amp; van Andel pada delta Rhone, serta penelitian Ginsburg pada endapan karbonat di Bahama dan Florida adalah beberapa contoh yang menunjukkan kecenderungan para ahli untuk mempelajari sedimen resen.</p>
<p>Dengan beberapa pengecualian, penelitian sedimen modern sering dilakukan tanpa mengacu pada rekaman geologi sehingga penelitian-penelitian itu gagal dalam mendapatkan informasi yang diperlukan untuk memahami rekaman geologi yang biasa dihadapi oleh para ahli geologi lapangan. Kegagalan itu terutama disebabkan karena sampel umumnya diambil dari bidang batas sedimen-fluida serta hanya aspek-aspek mineralogi dan tekstur saja yang dipelajari. Penelitian-peneliitan sedimen Holosen yang lebih berguna haruslah bersifat tiga dimensi, meliputi pengeboran yang memungkinkan diketahuinya geometri tiga dimensi dari endapan, urutan vertikal lapisan-lapisannya, serta struktur sedimen yang ada didalamnya.</p>
<p>Ancangan tiga dimensional untuk mempelajari sedimen resen mendorong orang untuk meninjau lebih jauh geometri dan penampang vertikal sedimen, baik sedimen resen maupun sedimen purba. Bentuk dan dimensi endapan pasir merupakan salah satu hal yang banyak menarik perhatian para ahli dan telah dijadikan tema simposium pada 1960 (Peterson &amp; Osmond, 1961). Demikian pula dengan morfologi terumbu modern dan purba (lihat, misalnya, Reef Issue pada <em>Bullentin AAPG</em> vol. 34, no. 2).</p>
<p>Secara historis, stratigrafi adalah ilmu deskriptif dan tidak banyak memberi perhatian pada genesis paket stratigrafi. Hukum Fasies Walther menyatakan bahwa pada tempat dimana tidak ada rumpang waktu, maka sedimen-sedimen yang bersebelahan secara lateral akan terlihat bertumpuk satu di atas yang lain dalam penampang vertikal. Sebagai hasil studi sedimen resen, konsep ini digunakan untuk merekonstruksikan model fasies yang berkaitan erat dengan proses-proses sedimentasi, misalnya transgresi dan regresi. Hukum itu memungkinkan para ahli untuk memahami mekanisme pembentukannya. Konsep model fasies mungkin merupakan satu-satunya kemajuan penting dalam analisis sedimen dalam beberapa dasawarsa terakhir. Tulisan pertama yang mengungkapkan arti penting penampang vertikal dalam perekonstruksian lingkungan disusun oleh Visher (1965), sedangkan penjelasan yang lebih elementer disusun oleh Selley (1970). Contoh yang sangat baik mengenai ancangan ini dalam stratigrafi dapat dilihat dalam makalah yang disusun oleh de Raaf dkk (1965) serta Allen (1962).</p>
<p>Penelitian-penelitian terhadap paket vertikal tidak hanya menyangkut litologi dan fosil, namun juga struktur sedimen. Kecenderungan orang untuk mempelajari struktur sedimen menyebabkan munculnya sejumlah makalah yang membahas tentang genesis struktur sedimen, penggolongannya, serta penggunaannya dalam menentukan lingkungan dan arus purba.</p>
<p>Penelitian struktur sedimen tidak hanya menarik karena dapat digunakan dalam analisis lingkungan pengendapan, namun juga dapat digunakan sebagai penunjuk sistem arus pada lingkungan tempat pengakumulasiannya. Sistem arus purba dapat direkonstruksikan dengan cara mengukur dan memetakan struktur arus, sebagaimana pernah dilakukan oleh Sorby satu abad yang lalu. Meskipun struktur arus telah diketahui sejak lama, namun pengukuran arah arus dari struktur tersebut merupakan hal baru. Hasil-hasil penelitian arus purba yang terpadu mulai dilakukan sejak dirintis oleh Hans Cloos dan murid-muridnya pada 1938. Sejak 1950, penelitian tersebut menduduki tempat tertentu dalam kerangka penelitian sedimen secara keseluruhan.</p>
<p>Kecenderungan untuk mempelajari struktur sedimen mendorong para ahli untuk memahami cara pembentukannya. Karena banyak diantara struktur sedimen itu terbentuk oleh arus, maka studi hidrodinamika proses pembentukan sedimen dan struktur sedimen kemudian mendapat perhatian khusus. Hal inilah yang mendorong terbitnya <em>Primary Sedimentary Structures and Their Hydrodynamic Interpretation</em> (disunting oleh Middleton, 1965) serta sejumlah makalah penting yang disusun oleh Allen (1969, 1970, 1971) dan beberapa ahli lain.</p>
<p>Ketertarikan pada geometri, urut-urutan vertikal, dan struktur sedimen menyebabkan terjadinya perubahan besar dalam penelitian sedimen, yakni penekanan kembali pentingnya studi mineralogi dan tekstur sedimen serta pengembangan studi struktur sedimen, geometri, dan urut-urutan vertikal. Penelitian sedimen yang dipandang sebagai bentuk fusi dari stratigrafi dan petrologi sedimen ini disebut sedimentologi (Doeglas, 1951). Bentuk studi yang baru ini pada gilirannya telah menumbuhkan kesadaran akan pentingnya studi lapangan yang selama ini kurang diperhatikan.</p>
<p>Lahirnya sedimentologi telah menyebabkan bertambah luasnya ruang lingkup studi sedimen: dari hanya sekedar studi lingkungan pengendapan menjadi studi cekungan. Analisis cekungan mengaitkan tektonik dan sedimentasi. Studi sedimentasi sekarang meliputi studi sistem arus purba, pemetaan fasies, dan perekonstruksian paleogeografi. Konsep-konsep yang di-kembangkan menekankan bahwa sistem penyebaran klastika menyebabkan terbentuknya sifat-sifat skalar dan vektoral yang dapat digunakan untuk merekonstruksikan konfigurasi cekungan, kondisi-kondisi sedimentasi, dan paleogeografi. Jadi, konsep itu menyatukan seluruh metoda dan konsep petrologi sedimen lama dengan hasil-hasil studi modern untuk memformulasikan model-model cekungan. Adanya model-model cekungan memungkinkan diperolehnya pemahaman yang lebih baik mengenai pengisian cekungan sedimen dan memungkinkan para ahli untuk membuat berbagai prediksi tentang penyebaran dan karakter sedimen, meskipun sedimen itu tidak terlihat secara langsung.</p>
<p>Bersamaan dengan perkembangan analisis arus purba, selama beberapa dasawarsa terakhir (terutama sejak akhir Perang Dunia II) terjadi juga perkembangan yang pesat dalam kuantifikasi dan pemetaan fasies. Adanya hubungan yang erat antara fasies dengan keberadaan migas telah menjadi pemicu pengembangan lebih lanjut konsep fasies. Suatu simposium yang disponsori oleh Geological Society of America pada 1948 merupakan salah satu bukti betapa tingginya ketertarikan para ahli pada studi fasies. Atlas sinoptik yang berisi peta-peta fasies Fanerozoikum di Amerika Serikat disusun oleh Sloss dkk (1960).</p>
<p>Studi cekungan sedimen, pengamatan isi dan perekonstruksian sejarahnya, telah membawa para ahli untuk sampai pada masalah evolusi benua. Hubungan antara sedimentasi dan tektonik, antara kraton dan geosinklin, serta antara sedimentasi dengan tektonik lempeng, telah menjadi masalah-masalah besar yang menarik perhatian para ahli. Ketertarikan akan kaitan antara sedimentasi dengan tektonik sebenarnya telah ada sejak lama, misalnya saja hal ini pernah menjadi topik bahasan Bertrand (1897) dan Tarcier (1937). Namun, orang baru tertarik kembali pada masalah tersebut setelah terbit karya-karya Krynine (1942, 1951), Pettijohn (1943), Ronov dkk (1969), serta Garrels &amp; MacKenzie (1971). Studi ini sangat besar pengaruh-nya terhadap pengetahuan tentang cekungan dan sejarah bumi. Masalah ini sebenarnya bukan merupakan tugas sedimentologi saja, namun semua cabang ilmu geologi. Walau demikian, dalam kaitannya dengan hal ini, sedimentologi memegang peranan penting karena merupakan ilmu yang dapat mengungkapkan rekaman peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu.</p>
<p>Dari seluruh penjelasan di atas dapat dilihat bahwa sedimentologi telah melalui empat tahap perkembangannya, yaitu:</p>
<ol>
<li>Tahap studi endapan sedimen sebagai satuan stratigrafi.</li>
<li>Pengumpulan data batuan sedimen dan pemformulasian tafsiran-tafsiran tentatif.</li>
<li>Lahirnya petrografi sedimen sebagai disiplin ilmu baru, dengan penekanan pada studi sayatan tipis sedimen purba dan analisis laboratorium mengenai tekstur dan mineralogi sedimen lepas.</li>
<li>Studi tiga dimensi sedimen dan batuan sedimen serta analisis lingkungan berdasarkan geometri, penampang vertikal, dan struktur sedimen. Perkembangan ini meliputi studi lapangan dan laboratorium sehingga lebih tepat disebut sedimentologi.</li>
</ol>
<p>Perkembangan sedimentologi sebagai cabang ilmu geologi ditunjang dengan lahirnya sejumlah perhimpunan profesional, didirikannya bagian sedimentologi pada lembaga-lembaga pemerintah, berkembangnya industri migas, serta terbitnya jurnal-jurnal profesional. Pada 1920, National Research Council membentuk Committee on Sedimentation yang pertama kali dipimpin oleh W. H. Twenhofel. Komite itu menangani penyusunan dan penerbitan <em>Treatise on Sedimentation</em> (1928, 1932), <em>Recent Marine Sediments</em> (1939), dan <em>Applied Sedimentation</em> (1950). Society of Economic Paleontologists and Mineralogists yang didirikan sebagai bagian dari American Association of Petroleum Geologists pada 1927 merupakan perhimpunan utama bagi para ahli stratigrafi (ahli mikropaleontologi) dan ahli sedimentololgi Amerika Serikat. Journal of Sedimentary Petrology yang diterbitkan sejak 1930 merupakan terbitan berkala dari perhimpunan tersebut. International Association of Sedimentologists didirikan pada 1946. Perhimpunan itu menerbitkan terbitan berkala yang diberi nama Sedimentology. Jurnal lain yang khusus menampilkan makalah-makalah sedimentologi adalah Sedimentary Geology yang pertama kali terbit pada 1967.</p>
<p><strong>1.3  NILAI EKONOMIS DARI SEDIMEN</strong></p>
<p>“Menurut data statistik yang ada saat ini, sekitar 85–90% produk mineral tahunan berasal dari mineral sedimenter dan endapan bijih&#8230;” (Goldschmidt, 1937). Kenyataan itu sudah cukup menjadi alasan untuk mempelajari sedimentologi.</p>
<p>Sedimen memiliki nilai ekonomis karena beberapa hal:</p>
<ol>
<li>Merupakan wadah tempat dimana bahan bakar fosil (migas) serta air terkandung.</li>
<li>Merupakan material bahan bakar, misalnya batubara dan serpih minyak <em>(oil shale)</em>.</li>
<li>Merupakan material baku industri keramik, semen portland, serta bahan bangunan.</li>
<li>Material tempat dimana mineral logam dan non-logam terakumulasi.</li>
</ol>
<p>Selain karena materialnya yang memiliki keempat peran di atas, sedimentologi perlu dipahami karena pemahaman tentang proses-proses pembentukan, pergerakan, dan pengendapan sedimen sangat penting artinya dalam dunia rekayasa dan geomorfologi, terutama untuk memahami dan mengantisipasi fenomena erosi pantai, pembuatan pelabuhan, manajemen dataran banjir, dan erosi tanah. Jadi, tidak salah bila dikatakan bahwa untuk menjadi ahli geologi-ekonomi, seseorang pertama-tama harus menjadi ahli sedimentologi.</p>
<p>lihat lanjutan <a href="http://indrayaksa.wordpress.com/2009/10/05/pengertian-sedimen-pettijohn75-2/">pengertian sedimen (pettijohn75)-2</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indrayaksa.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indrayaksa.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indrayaksa.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indrayaksa.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indrayaksa.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indrayaksa.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indrayaksa.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indrayaksa.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indrayaksa.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indrayaksa.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indrayaksa.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indrayaksa.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indrayaksa.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indrayaksa.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indrayaksa.wordpress.com&amp;blog=9475331&amp;post=24&amp;subd=indrayaksa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/09/15/pengertian-sedimen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eeefe58010eb16291373e35e436b2155?s=96&#38;d=identicon&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">garong...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CARA POPULERKAN BLOG KITA&#8230;</title>
		<link>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/09/15/cara-populerkan-blog-kita/</link>
		<comments>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/09/15/cara-populerkan-blog-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 00:27:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>garong...</dc:creator>
				<category><![CDATA[lain-lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indrayaksa.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Siapapun pasti ingin blog mereka populer. Tapi itupun bukan perkara yang gampang. Mungkin beberapa trik di bawah ini bisa membantu.. Perbanyaklah kawan kususnya sesama pemilik blog dan buat hubungan timbal balik yang saling menguntungkan dengan saling bertukar link. Perkenalkan blog sobat ke forum, mailing list dengan cara yang sopan di komunitas tersebut. Dan juga harus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indrayaksa.wordpress.com&amp;blog=9475331&amp;post=7&amp;subd=indrayaksa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapapun pasti ingin blog mereka populer. Tapi itupun bukan perkara yang gampang. Mungkin beberapa trik di bawah ini bisa membantu..</p>
<ol style="color:#000000;text-align:justify;">
<li>Perbanyaklah kawan kususnya sesama pemilik blog dan buat hubungan timbal balik yang saling menguntungkan dengan saling bertukar link.</li>
<li>Perkenalkan blog sobat ke forum, mailing list dengan cara yang sopan di komunitas tersebut. Dan juga harus aktif online.</li>
<li>Utamakan kualitas bukan kuantitas dalam blog sobat. Maksudnya, rancanglah situs yang menarik dan tidak membosankan mulai dari tampilan sampai dengan isi. Buatlah artikel yang orisinil, tidak copy paste. Carilah bahan dari berbagai sumber-sumber dan segera buat konten yang menarik, supaya orang lain betah di dalam blog kita. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Daftarkan blog sobat pada beberapa search engine seperti, http://google.com/addurl.htm, http://siteexplorer.search.yahoo.com, http://search.msn.com/docs/submit.aspx</li>
<li>Buatlah artikel ataupun karya tulis lainnya, tambahkan link yang menuju blog sobat di dalam artikel tersebut dan publikasikan sesuai pada tempatnya. Bisa di mailing list atau situs yang membolehkan artikel sobat di muat. Bayangkan jika dari sana akan menyedot pengunjung yang banyak karena tertarik dengan artikel sobat.</li>
</ol>
<p>semoga bermanfaat ya&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indrayaksa.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indrayaksa.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indrayaksa.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indrayaksa.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/indrayaksa.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/indrayaksa.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/indrayaksa.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/indrayaksa.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indrayaksa.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indrayaksa.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indrayaksa.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indrayaksa.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indrayaksa.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indrayaksa.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indrayaksa.wordpress.com&amp;blog=9475331&amp;post=7&amp;subd=indrayaksa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indrayaksa.wordpress.com/2009/09/15/cara-populerkan-blog-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eeefe58010eb16291373e35e436b2155?s=96&#38;d=identicon&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">garong...</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
